SEMARAK MILAD MUHAMMADIYAH KE-113 PCM BERBAH

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Berbah dalam rangka menyemarakkan Milad Muhammadiyah ke-113 adakan kegiatan Khitanan Masal yang akan dihelat pada Ahad, 22 Juni 2025 mendatang. Ketua Pelaksana Zuhud Zuliyadi menyampaikan bahwa persiapan sudah mencapai 80%. Hal itu dikemukakan pada rapat koordinasi yang dilaksanakan pada Rabu, 18 Juni 2025 di SD Muhammadiyah Semoya Tegaltirto Berbah yang juga akan menjadi lokasi hajatan. Semua seksi diminta menyampaikan laporannya tentang progress kesiapannya, harapannya agar pada hari h nanti tidak banyak mengalami hambatan.Tim Medis PKU Muhammadiyah Berbah, dr. Maskur Junaidi menyatakan siap dengan lima dokter dan limabelas perawat sebagai pelaksana utama khitanan.Warsito, penanggungjawab seksi perlengkapan, menginformasikan bahwa identifikasi kebutuhan sudah dilakukan, layout lokasi dan petunjuk arah, dari meja pendaftaran, ruang edukasi, ruang tindakan, kamar mandi, sound system, dll. siap. Termasuk dua ambulance.Fadlan Mahadi, tokoh setempat, mengingatkan bahwa lokasi sekolah tidak termasuk jalan sekitar, untuk itu segera koordinasi dan sinergikan dengan pemangku lingkungan (dukuh), takmkir Masjid dan tetangga sekolah terutama untuk kepentingan parkir, dan pengaturan alur lalulitas.PCA siap dengan 500 dos snek dan nasi box. Hadir dalam acara ini selain panitia: PCM, PCA, KOKAM, PKU Muhammadiyah Berbah, PRM & PRA Tegaltirto dan AMM Tegaltirto. (M.A. Sanusi, KIM Berbah).

Loading

Haji Kloter 67City Tour Menelusuri Jejak Sejarah dan Budaya Islam di Makkah

Makkah, Pdmsleman.Or.Id Selasa, 17 Juni 2025, jamaah haji Kloter 67 memulai hari mereka dengan penuh semangat di Masjidil Haram. Shalat subuh berjamaah menjadi pembuka yang khusyuk, diikuti dengan kajian subuh yang dipimpin oleh Ustadz Uki Sukiman. Dalam kajian tersebut, Ustadz Uki membahas serapan istilah agama Islam dalam budaya Jawa, menjelaskan bagaimana istilah seperti “ndilalah” dan “berkatan” mencerminkan nilai-nilai keberkahan dan kebaikan dari Allah SWT. “Kita perlu memahami bahwa budaya dan agama saling berinteraksi, dan istilah-istilah ini adalah jembatan antara keduanya,” ungkap Ustadz Uki. Setelah kajian, jamaah haji Kloter 67 melanjutkan perjalanan mereka dengan citytour ke tempat-tempat bersejarah di Makkah dan sekitarnya. Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Jabal Rahmah, tempat di mana Nabi Adam dan Hawa bertemu kembali setelah diturunkan dari surga. Momen ini menjadi sangat emosional bagi jamaah, yang merasakan kedekatan dengan sejarah awal umat manusia. Jamaah juga mengunjungi Masjid Mas’ar Haram, tempat di mana Nabi Muhammad SAW bermalam di Muzdalifah. “Setiap tempat yang kami kunjungi membawa makna yang dalam, mengingatkan kami akan perjalanan spiritual Nabi,” kata salah satu jamaah, Ibu Siti. Sumur Zubaidah, yang dibangun oleh Zubaidah binti Ja’far, istri Khalifah Harun Al-Rasyid, juga menjadi salah satu tujuan. Sumber air ini sangat penting bagi masyarakat Makkah, dan jamaah merasa terhubung dengan sejarah yang kaya di tempat ini. Selain itu, mereka juga mengunjungi Wadi Mubashir di Mina, lokasi di mana jamaah haji melakukan beberapa ritual penting. Perjalanan tidak berhenti di situ. Jamaah haji Kloter 67 juga mengunjungi tempat-tempat bersejarah lainnya, seperti tempat penyembelihan Nabi Ismail AS, Jabal Tsur yang memiliki Gua Tsur tempat persembunyian Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq saat hijrah, serta Jabal Nur yang memiliki Gua Hira, tempat di mana Rasulullah SAW menerima wahyu pertama. “Setiap langkah di tempat-tempat ini membuat kami semakin bersyukur atas kesempatan untuk menjalankan ibadah haji,” tambah Imam Subarkah . Di akhir citytour, jamaah haji mengunjungi Pasar Kakiyah, pusat belanja oleh-oleh yang populer di kalangan jamaah haji dan umrah. Di sini, mereka dapat membeli berbagai macam oleh-oleh, seperti kurma, air zam-zam, dan souvenir lainnya.   Dengan kegiatan keagamaan dan citytour yang padat ini, jamaah haji Kloter 67 tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran akan sejarah dan budaya Islam, tetapi juga memperoleh pengalaman spiritual yang mendalam selama menjalankan ibadah haji. Semua kegiatan citytour dipandu oleh PCIM Arab Saudi Rep H. Imam Subarkah Jama’ah KBIHU Aisyiyah

Loading

Reportase Kegiatan Hari ke-26 Jamaah Haji Kloter 67  

Makkah, Pdmsleman.or.Id Pada hari ke-26, tepatnya Senin, 16 Juni 2025, jamaah haji Kloter 67 memulai hari mereka dengan melaksanakan kegiatan dan ibadah pribadi. Hari ini menjadi momen penting bagi mereka untuk memperdalam pemahaman agama dan menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah haji. Di siang hari, jamaah haji mengikuti kajian jelang shalat Dzuhur yang dipandu oleh Ustadz Uki Sukiman. Dalam kajian tersebut, Ustadz Uki menjelaskan tentang pentingnya memahami makna dan hikmah di balik surat Al-Fatihah. “Surat Al-Fatihah adalah landasan ibadah kita. Memahami maknanya akan meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT,” ungkap Ustadz Uki. Penjelasan ini diharapkan dapat memberikan pencerahan bagi jamaah haji untuk lebih mendalami ibadah mereka. Setelah kajian, pada sore harinya, jamaah haji melanjutkan kegiatan dengan mengikuti silaturrahim bersama Ketua KBIHU Aisyiyah melalui zoom meeting. Pertemuan ini menjadi wadah bagi jamaah untuk membahas berbagai kegiatan selama ibadah haji, termasuk laporan dan evaluasi. Silaturrahim ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kerjasama dan komunikasi dalam menjalankan ibadah haji. “Kegiatan ini adalah kesempatan bagi kita untuk saling berbagi pengalaman dan memperkuat tali persaudaraan,” kata Ketua KBIHU Aisyiyah dalam pertemuan tersebut. Selain kegiatan keagamaan, jamaah haji juga mengikuti pelatihan kesehatan yang dipandu oleh Bapak Prima Aditama. Dalam sesi ini, mereka melakukan “selous push up” yang bertujuan untuk mengurangi nyeri otot dan menurunkan risiko diabetes hingga 52%. Pelatihan ini sangat bermanfaat, terutama bagi jamaah yang mungkin mengalami kelelahan setelah menjalani berbagai aktivitas ibadah. “Menjaga kesehatan selama ibadah haji sangat penting. Dengan melakukan latihan fisik, kita dapat menjaga stamina dan kesehatan tubuh,” jelas Bapak Prima Aditama. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh jamaah haji Kloter 67 ini menunjukkan komitmen mereka untuk tidak hanya fokus pada ibadah spiritual, tetapi juga menjaga kesehatan fisik. Dengan memahami makna ibadah dan menjaga kesehatan, diharapkan jamaah dapat menjalani ibadah haji dengan lebih baik dan maksimal. Secara keseluruhan, hari ke-26 ini menjadi momen yang penuh makna bagi jamaah haji Kloter 67. Mereka tidak hanya memperdalam ilmu agama, tetapi juga menjaga kesehatan fisik agar dapat menjalankan ibadah dengan optimal. Rep Imam Subarkah Jama’ah Haji KBIHU Aisyiyah

Loading

Donor Darah Muhammadiyah Turi, Aksi Kemanusiaan Berkemajuan

Turi, Pdmsleman.Or.Id Dalam rangka meningkatkan kepedulian sosial dan kesehatan masyarakat, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Turi bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Turi menggelar kegiatan donor darah di Gedung Dakwah Muhammadiyah Ngablak pada 16 Juni 2025. Acara yang berlangsung pada malam hari ini dihadiri oleh 29 peserta yang antusias untuk berkontribusi dalam aksi kemanusiaan ini. Ketua PCM Turi, Bambang Rahmanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan donor darah ini merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat kesehatan yang telah diberikan. “Insyaallah, kegiatan ini akan memberikan manfaat bagi umat, terutama untuk diri pendonor, dengan aksi donor darah secara rutin,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan komitmen PCM Turi untuk tidak hanya berfokus pada kegiatan keagamaan, tetapi juga pada kegiatan sosial yang dapat membantu sesama. Suwadi S.IP, Ketua PMI Turi, juga memberikan apresiasi atas kerjasama yang terjalin antara PCM Turi dan PMI Turi. “Kami mengucapkan terima kasih atas kerjasamanya untuk kemanusiaan. Donor darah adalah salah satu cara terbaik untuk membantu mereka yang membutuhkan, dan kami berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut di masa mendatang,” ungkapnya. Suwadi menekankan pentingnya kolaborasi antara organisasi masyarakat dan lembaga kesehatan dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya donor darah. Dari 29 peserta yang terdaftar, kegiatan ini berhasil mengumpulkan 23 kantong darah. Setiap kantong darah yang berhasil dikumpulkan akan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan transfusi darah, terutama dalam situasi darurat. Sementara itu Sigit Cemara yang juga penggiat kemanusiaan di AmbulanMU Turi yang menjadi peserta rutin menambahkan “ Kegiatan donor darah ini tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima darah, tetapi juga bagi para pendonor. Donor darah secara rutin dapat membantu menjaga kesehatan jantung, mengurangi risiko kanker dan meningkatkan produksi sel darah merah. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi pendonor untuk berkontribusi langsung dalam menyelamatkan nyawa orang lain”. Acara ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar untuk lebih aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya donor darah semakin meningkat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antar anggota PCM Turi dan PMI Turi, serta masyarakat umum yang peduli akan kesehatan dan kemanusiaan.

Loading

Membaca “Shadaqallahul ‘Azhiim” Setelah Tilawah: Antara Kebiasaan dan Ketentuan Syariat

Oleh: Yayan Suryana Sudah menjadi pemandangan umum dalam kehidupan keagamaan umat Islam di Indonesia bahwa setiap kali seseorang mengakhiri bacaan Al-Qur’an, maka ia menutupnya dengan ucapan shadaqallahul ‘azhiim (صدق الله العظيم), yang berarti “Maha Benar Allah Yang Maha Agung.” Kalimat ini dilafalkan dengan khidmat dan bahkan seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual tilawah Al-Qur’an. Namun, pertanyaannya: apakah memang ada tuntunan syar’i untuk membaca kalimat ini setiap kali selesai membaca Al-Qur’an? Merujuk kepada penjelasan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid I halaman 16, persoalan ini patut ditinjau dari sudut dalil yang mendasari, serta konteks ayat yang sering dijadikan rujukan. Banyak orang yang mendasarkan kebiasaan membaca shadaqallahul ‘azhiim pada firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 95: “Qul shadaqallah…” (Katakanlah: Benar [apa yang difirmankan] Allah). Namun, jika ayat ini ditelaah dengan cermat dalam konteks turunnya dan hubungan antar ayat (munasabah), maka dapat disimpulkan bahwa ayat tersebut bukanlah perintah untuk selalu membaca kalimat “shadaqallahul ‘azhiim” di akhir setiap bacaan Al-Qur’an. Ayat itu merupakan bantahan terhadap klaim kaum Yahudi yang menuduh Nabi Muhammad SAW menyimpang dari ajaran Nabi Ibrahim, khususnya dalam soal makanan halal dan pengalihan kiblat. Artinya, perintah “Qul shadaqallah” dalam ayat itu adalah bagian dari konteks argumentatif terhadap pihak yang mengingkari kebenaran risalah Nabi. Dengan demikian, menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk membaca “shadaqallahul ‘azhiim” setiap kali selesai membaca Al-Qur’an tidaklah tepat secara syar’i. Tidak ada riwayat atau tuntunan dari Rasulullah SAW maupun para sahabat yang menunjukkan bahwa mereka secara konsisten membaca kalimat tersebut setelah tilawah. Bahkan, tuntunan yang jelas justru berlaku untuk bacaan ta’awwudz sebelum membaca Al-Qur’an (QS. an-Nahl: 98) dan anjuran untuk mendengarkan dengan seksama saat Al-Qur’an dibacakan (QS. al-A’raf: 204). Fatwa: Boleh, Tapi Tidak Ditetapkan Berdasarkan pertimbangan dalil dan praktik generasi awal Islam, maka hukum membaca “shadaqallahul ‘azhiim” setelah membaca Al-Qur’an adalah boleh (mubah) — selama tidak diyakini sebagai bagian dari syariat atau kewajiban yang harus dilakukan setiap kali tilawah. Kalimat tersebut memiliki makna yang benar, sebagai bentuk pembenaran atas firman Allah, namun tidak bisa dijadikan bagian dari struktur ibadah yang tetap. Apabila kalimat ini dijadikan kebiasaan baku, bahkan hingga dianggap sebagai bagian dari ritual keagamaan yang harus diikuti, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk  penambahan dalam ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi SAW. Dalam hal ini, posisi Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid pun tegas, bahwa amalan ibadah harus memiliki dasar dari Rasulullah SAW, dan tidak cukup hanya dengan alasan kebiasaan baik atau makna yang benar. Penegasan Akhir Ikrar bahwa Allah Maha Benar adalah keyakinan dalam hati setiap Muslim yang membaca dan mengimani Al-Qur’an. Akan tetapi, menjadikan kalimat shadaqallahul ‘azhiim sebagai bagian wajib dalam setiap penutupan tilawah adalah sesuatu yang tidak berdasar. Islam telah mengatur bentuk dan tata cara ibadah secara detail, dan karenanya, setiap tambahan tanpa dalil dapat menggeser kemurnian syariat. Dengan memahami hal ini, kita diajak untuk menjaga keseimbangan antara ekspresi iman dan kepatuhan pada tuntunan Nabi SAW. Membaca “shadaqallahul ‘azhiim” boleh dilakukan sebagai ungkapan pribadi, namun tidak perlu dijadikan rangkaian tetap dalam bacaan Al-Qur’an. Ibadah terbaik adalah yang sesuai dengan sunnah, bukan hanya yang disukai oleh tradisi. Wallahu a‘lam bish-shawab.

Loading