Membudayakan Kalender Hijriyah Perlu Perjuangan

Moyudan, Pdmsleman.Or.IdMemasuki tahun baru Hijriyah Masjid Al Falah menggelar pengajian yang berlangsung pada hari Kamis ( 26/6/2025 ) bertempat di Masjid Al Falah, Sombangan, Sumbersari, Moyudan, Sleman.Pengajian yang dihadiri ratusan jamaah Masjid Al Falah, Anggota dan Pengurus Pimpinan Ranting Muhammadiyah ( PRM) beserta Pimpinan Aisyah ( PRA) Sombangan Raya.Sudiyono ketua takmir Masjid Al Falah dalam sambutannya, mengucapkan terimakasihnya kepada seluruh hadirin yang telah memenuhi undangan. Selanjutnya Ia menyampaikan kegiatan yang telah dilaksankan oleh takmir masjid diantaranya, majlis Al Kahfi, pengajian bapak-bapak setiap malam Jum’at.” Selain itu TPA, dan insya allah ibu-ibu akan mengembangkan budaya kita dengan hadroh.” Tambahnya.Selanjutnya Sudiyono mengajak jamaah dalam memperingati tahun baru Hijriyah untuk mengajak semua keluarga untuk bersama-sama mrmakmurkan masjid.Pada kesempatan yang sama Agus Sartono Dukuh Sombangan dalam memberikan sambutannya menyampaikan apresiasi kepada takmir yang sudah menyelenggarakan pengajian untuk memperingati tahun baru Islam. Selanjutnya Ia juga menuturkan bahwa sewaktu dia masih kecil Masjid Al Falah tidak pernah absen menyelenggarakan peringatan Hari Besar Islam. “Saya sangat merindukan kegiatan tersebut bisa terulang waktu ini.” Ungkapnya.Sedangkan tausiah disampaikan oleh Ustadz Wargiyono. Dalam tausiahnya Ustadz Wargiyono menjelaskan bahwa tahun Hijriyah adalah merupakan tahun Umat Islam. Tahun Hiriyah dihitung sejak Nabi Muhammad SAW Hijrah dari Malah ke Madinah. Sebuah perjuangan umat Islam yang memerlukan tekad, kekuatan, tenaga dan niat yang ikhlas.” Alhamdulillah hari ini kita semua masih bisa menuangkan kalimat yang diridhai Allah, dengan syukur, istihgfar, tahmid dan tahlilan dengan ikhlas.” Tuturnya.Lebih lanjut Ustazd Wargiyono memaparkan Hijriyah berarti pindah dan berubah. Pindah dari tempat yang kurang baik menuju tempat yang lebih baik.” Berubah dari perilaku yang kurang baik menjadi yang lebih baik.” Tambahnya.Lebih lanjut Ia mengajak jamaah untuk membudayakan tahun baru Hijriyah untuk melakukan puasa Asyura.” Asyura artinya hari ke sepuluh, maka kita dianjurkan untuk melaksanakan puasa Asyura di hari ke sepuluh di bulan Muharam.” Tandasnya.Lebih lanjut Wargiyono mengupas keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-sehari. “Semoga kita semua termasuk orang yang ittiba’ kepada Rasulullah dan bisa meneladani dalam kehidupan sehari-hari.” Pungkasnya.( Sugiyanto)

Loading

MDMC dan LLHPB Resmi Membuka Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah & ‘Aisyiyah ke-3 di Tawangmangu

Tawangmangu,  Pdmsleman.Or.Id Lebih dari 2.000 relawan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dari berbagai penjuru tanah air pada 26 Juni 2025 berkumpul dalam pembukaan Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah & ‘Aisyiyah ke-3 yang digelar di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Acara ini dibuka secara resmi oleh sejumlah tokoh nasional dan daerah, sebagai bentuk penguatan sinergi dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana. Acara pembukaan dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah Komjen Pol (Purn) Drs. Ahmad Luthfi, Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. Turut hadir pula Ketua MPR RI Dr. Ahmad Muzani yang memberikan orasi kebangsaan serta Konsul Jenderal Australia sebagai mitra strategis Muhammadiyah dalam aksi kemanusiaan. Dalam sambutannya, Prof. Abdul Mu’ti menyatakan pentingnya peran relawan Muhammadiyah dalam membangun kesadaran kebencanaan. “Kami merasa bangga dengan keberadaan MDMC. Di Kementerian, kami memiliki perhatian serius terhadap isu kebencanaan karena Indonesia adalah negara rawan bencana. Ada tiga pondasi penting yang kami junjung: fikih kebencanaan, kesiapsiagaan, dan komitmen membangun sistem pendidikan yang adaptif terhadap risiko,” ujarnya. Seremonial pembukaan ditandai dengan pemukulan kentongan secara simbolik oleh para pejabat tinggi yang hadir, termasuk Ketua MDMC PP Muhammadiyah dan Ketua LLHPB PP ‘Aisyiyah. Momentum penting lainnya adalah pengukuhan Pelajar Tangguh Bencana dan Sekolah Model SPAB Muhammadiyah, melalui pemberian Pataka dan penyematan hasduk pelajar oleh Mendikdasmen, didampingi oleh pimpinan nasional. Dalam sambutannya, Ketua MDMC PP Muhammadiyah Budi Setiawan menegaskan bahwa Jambore ini bukan sekadar pertemuan seremonial, tetapi ajang konsolidasi dan penguatan relawan. “Kami ingin memperkuat struktur, keterampilan, dan jejaring relawan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dari pusat hingga ranting. Melalui Jambore ini, kami belajar, berbagi, dan mempererat tekad kemanusiaan,” jelasnya. Gubernur Jawa Tengah menyampaikan apresiasi kepada Muhammadiyah atas kontribusinya dalam membangun kekuatan kebencanaan di masyarakat. “Anda semua adalah garda terdepan ketika bencana datang. Kami atas nama Pemerintah Provinsi menyampaikan terima kasih atas pelatihan kekuatan relawan secara sistemik,” ucapnya. Sementara itu, Sekretaris Utama BNPB menegaskan pentingnya menjaga kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana. “Kami mengucapkan selamat dan terima kasih kepada relawan yang tidak kenal lelah melayani masyarakat terdampak. MDMC dan LLHPB adalah bagian dari kekuatan masyarakat sipil yang dirindukan kehadirannya oleh warga,” ujarnya. Selain seremonial pembukaan, kegiatan Jambore ini juga diisi dengan sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan oleh Ketua MPR RI, serta berbagai kegiatan pelatihan, simulasi, seminar kebencanaan, dan penanaman pohon sebagai bentuk kontribusi relawan terhadap pelestarian lingkungan. Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah & ‘Aisyiyah ke-3 ini diharapkan menjadi momentum memperkuat semangat tangguh, jejaring kolaboratif, dan dakwah kemanusiaan lintas generasi dan wilayah.

Loading

Jamaah haji Kloter 67 SOCKunjungi Masjid Quba dan Jabal Uhud

Madinah, Arab Saudi -Pdmsleman.Or.Id Hari ke-36, Kamis, 26 Juni 2025/1 Muharram 1446 H Jamaah haji Kloter 67 SOC melanjutkan kegiatan keagamaan di Kota Suci Madinah. Berikut adalah rangkuman kegiatan pada hari ini: 1. Shalat Subuh di Masjid Nabawi: Jamaah haji Kloter 67 SOC melaksanakan shalat subuh berjamaah di Masjid Nabawi, yang merupakan salah satu masjid tersuci di dunia Islam. 2. Kunjungan ke Masjid Quba: Pukul 06.30, jamaah berangkat ke Masjid Quba, sambil mendengarkan fadhilah dan keutamaan shalat di Masjid Quba. Jamaah juga diberikan penjelasan tentang keutamaan antara Jum’at satu dengan lainnya dan umrah satu dengan lainnya. 3. Kunjungan ke Kebun Kurma: Setelah selesai kunjungan di Masjid Quba pukul 07.30, jamaah menuju ke kebun kurma. Di sana, jamaah diberikan penjelasan tentang keutamaan kurma Ajwa Aliyah dan Ajwa Madinah. 4. Kunjungan ke Situs Khandaq: Pukul 08.55, jamaah keluar dari kebun kurma menuju ke situs Khandaq, atau Perang Ahzab, di mana Allah menurunkan pasukan yang tidak kelihatan berupa angin. 5. Kunjungan ke Masjid Qiblatain: Jamaah juga mengunjungi Masjid Qiblatain, di mana terjadi peristiwa pertama kali saat shalat Ashar untuk menghadap Ka’bah. 6. Kunjungan ke Bukit Uhud: Pukul 09.20, jamaah sampai di Bukit Uhud, sebagai bentuk balas dendam kaum Quraish yang tidak terima atas kekalahan di perang sebelumnya. 7. Perjalanan Pulang ke Hotel: Setelah melakukan kunjungan ke beberapa tempat bersejarah, jamaah melakukan perjalanan pulang ke hotel. 8. Kegiatan Ibadah Shalat Fardhu di Masjid Nabawi: Selanjutnya, jamaah melakukan kegiatan ibadah shalat fardhu di Masjid Nabawi, yang merupakan kesempatan untuk meningkatkan iman dan takwa. Dengan kegiatan-kegiatan ini, jamaah haji Kloter 67 SOC dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman spiritual mereka, serta mendapatkan kesempatan untuk beribadah di tempat-tempat yang bersejarah di Kota Suci Madinah. Semoga kegiatan-kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi jamaah haji. Rep: H. Imam Subarkah, Jama’ah KBIHU AisyiyahEditor: Arief Hartanto, MPI PDM Sleman

Loading

BERITA HARIAN KEGIATAN HAJI KLOTER 67 SOC

Madinah, Arab Saudi, Pdmsleman.Mu.Or.Id Hari ke-35, Rabu, 25 Juni 2025/29 Dzulhijjah 1446 H,  Jamaah haji Kloter 67 SOC melanjutkan kegiatan keagamaan di Kota Suci Madinah. Berikut adalah rangkuman kegiatan pada hari ini: 1. Shalat Subuh di Masjid Nabawi: Jamaah haji Kloter 67 SOC melaksanakan shalat subuh berjamaah di Masjid Nabawi, yang merupakan salah satu masjid tersuci di dunia Islam. Setelah shalat, jamaah melakukan kegiatan pribadi masing-masing. 2. Memasuki Roudhoh: Bagi jamaah haji perempuan, kesempatan memasuki Roudhoh diberikan setelah shalat subuh. Jamaah dapat melakukan ibadah dan berdoa di tempat yang mulia ini. 3. Kegiatan Mandiri: Setelah shalat subuh dan memasuki Roudhoh, jamaah haji melakukan kegiatan mandiri sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing. 4. Shalat Dzuhur di Masjid Nabawi: Jamaah haji Kloter 67 SOC melaksanakan shalat dzuhur berjamaah di Masjid Nabawi, yang merupakan kesempatan untuk meningkatkan iman dan takwa. 5. Shalat Ashar di Masjid Nabawi: Jamaah haji juga melaksanakan shalat Ashar berjamaah di Masjid Nabawi, yang merupakan salah satu waktu yang tepat untuk beribadah dan berdoa. 6. Shalat Maghrib dan Isyak di Masjid Nabawi: Jamaah haji Kloter 67 SOC melaksanakan shalat Maghrib dan Isyak berjamaah di Masjid Nabawi, yang merupakan kesempatan untuk menutup hari dengan ibadah dan berdoa. 7. Istirahat: Setelah melakukan kegiatan keagamaan sepanjang hari, jamaah haji melakukan istirahat untuk memulihkan tenaga dan stamina. Dengan kegiatan-kegiatan ini, jamaah haji Kloter 67 SOC dapat meningkatkan iman dan takwa mereka, serta mendapatkan pengalaman spiritual yang berharga di Kota Suci Madinah. Semoga kegiatan-kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi jamaah haji. Rep: H. Imam Subarkah, Jama’ah KBIHU Aisyiyah

Loading

Meriah! Dihadiri Tokoh Nasional, Jambore Relawan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Tegaskan Komitmen Resiliensi Bangsa

Karanganyar, Pdmsleman.Or.id Jambore Nasional ke-3 Relawan Muhammadiyah-‘Aisyiyah resmi dibuka dengan penuh semangat dan antusiasme tinggi. Kegiatan akbar yang diselenggarakan oleh Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) ini dibuka langsung oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, di Wonder Park Lawu Resort, Tawangmangu, Karanganyar, Kamis (26/6). Mengangkat tema “Memperkuat Ketangguhan Menuju Indonesia yang Berkemakmuran”, kegiatan tersebut akan berlangsung hingga Ahad (29/6). Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai jenis bencana yang terus mengancam wilayah Indonesia. Ketua LRB PP Muhammadiyah/MDMC, Budi Setiawan, menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya kembali Jambore Nasional ini. Ia mengingatkan bahwa kegiatan serupa pernah dilaksanakan pada 2015 di Banten dan 2017 di Malang. “Dan sekarang, kita laksanakan di Karanganyar,” ujar Budi saat menyambut para tamu undangan, di antaranya Bupati Karanganyar Rober Christanto, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, serta Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto. Menurut Budi, jumlah peserta kali ini melampaui target yang ditetapkan. “Target kami semula 1.000 peserta, namun yang hadir lebih dari 1.300 relawan dari seluruh Indonesia,” ungkapnya bangga. Ia menilai tingginya animo peserta menunjukkan semangat kuat untuk menjadi relawan yang tangguh dan siap siaga. “Ini menunjukkan bahwa relawan Muhammadiyah-‘Aisyiyah benar-benar memiliki semangat Tumbuh, Tangguh, dan Utuh,” tegasnya. Budi juga menambahkan, keberadaan relawan Muhammadiyah-‘Aisyiyah di lapangan terbukti cepat dalam merespons bencana. Meski dengan keterbatasan, para relawan tetap hadir dan berkontribusi tanpa pamrih. Bupati Karanganyar, Rober Christanto, turut mengapresiasi kehadiran para relawan. Ia menganggap kegiatan ini mampu membangkitkan semangat kerelawanan masyarakat, khususnya di wilayah Tawangmangu. “Saya berharap warga Karanganyar juga tergerak menjadi relawan yang bertanggung jawab,” ucapnya. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyebut bahwa relawan Muhammadiyah-‘Aisyiyah telah membuktikan kontribusinya dalam berbagai peristiwa bencana, termasuk saat erupsi Gunung Merapi tahun 2010. “Saya mendukung penuh kegiatan Jambore Nasional ini. Peran Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam penanggulangan bencana sangat luar biasa,” katanya. Sementara itu, Kepala BNPB Suharyanto menegaskan bahwa Indonesia berada di kawasan rawan bencana karena terletak di jalur ring of fire. Karena itu, kesiapsiagaan menjadi faktor utama untuk mengurangi risiko. “Jumlah bencana memang tak bisa dikendalikan, tapi dampaknya dapat diminimalkan dengan kolaborasi dan kesiapsiagaan,” tegasnya. Suharyanto juga menekankan pentingnya kerja sama berbagai sektor dalam upaya penanggulangan bencana. “Kolaborasi lintas sektor adalah kunci keberhasilan,” tandasnya. Selain pembukaan resmi, acara Jambore Nasional ini juga dimeriahkan dengan Tabligh Akbar oleh Ustaz Adi Hidayat. Tak hanya itu, turut pula dilakukan pengukuhan Pelajar Tangguh Bencana serta peluncuran Sekolah Model SPAB Muhammadiyah. Berbagai perlombaan juga digelar untuk menambah semarak acara.

Loading

Luncurkan KHGT, Langkah Muhammadiyah untuk Dunia Islam

SLEMAN. Pdmsleman.Or.Id Persyarikatan Muhammadiyah resmi memperkenalkan Kalender Hijriah Global Tunggal atau KHGT, sebuah inovasi penting dalam penanggalan Islam yang menerapkan prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia. Bertempat di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Sleman, Yogyakarta, pada Rabu (25/06), peresmian turut dihadiri tokoh-tokoh penting dari dalam dan luar negeri, dan menandai momentum bersejarah bagi umat Islam dan peradaban dunia. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa peluncuran KHGT merupakan komitmen Muhammadiyah dalam berkhidmat untuk peradaban dunia Islam secara lebih luas. “Hari ini adalah hari bersejarah. Muhammadiyah menghadirkan KHGT untuk menegaskan peran dan posisinya di tengah globalisasi yang tak terelakkan,” ujar Haedar. Agama Islam, ujarnya, adalah agama kosmopolitan yang mengandung nilai-nilai universal, rahmatan lil ‘alamin, yang ditujukan untuk seluruh alam. Haedar menambahkan, bahwa Islam telah berhasil menembus batas-batas geografis dan budaya, dari Jazirah Arab hingga Eropa, Balkan, Rusia, Asia Timur, dan Asia Tenggara. Oleh karena itu, Haedar meyakini bahwa KHGT menjadi sebuah keniscayaan mutlak guna mewujudkan persatuan dunia Islam yang selama ini terkendala oleh perbedaan penanggalan. “KHGT adalah keniscayaan mutlak untuk mewujudkan persatuan dunia Islam,” tegasnya. Menurutnya, KHGT bukan sekadar sebuah agenda astronomi atau teknis penanggalan biasa, melainkan wujud nyata dari semangat Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kalender ini merupakan langkah maju yang penting untuk membayar utang peradaban Islam yang sudah terlalu lama tertunda. “Kita harus mulai berubah, mengubah ijtihad kita agar dan demi hutang peradaban kita. Saya yakin kita akan terus memperkenalkan KHGT, mari bersatu untuk satu hari, untuk satu tanggal yang sama, bagi seluruh kawasan dunia Islam,” ajak Haedar. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hamim Ilyas, mengungkapkan bahwa KHGT merupakan hasil kajian mendalam dan keputusan yang diambil dalam Musyawarah Nasional Muhammadiyah ke-32 pada Februari 2024. “Dengan KHGT, Muhammadiyah ingin melunasi utang peradaban. Selama 14 abad sejarah Islam, belum ada sistem kalender Islam yang berlaku secara global dan unifikatif. KHGT hadir untuk mewujudkan kesatuan waktu bagi umat Islam di seluruh dunia,” jelas Hamim. Hamim menandaskan, bahwa KHGT berlandaskan tiga prinsip utama, yaitu keseragaman hari dan tanggal di seluruh dunia untuk menandai awal bulan baru, penggunaan hisab atau perhitungan astronomi sebagai metode utama penentuan waktu yang memungkinkan peramalan jauh ke depan, dan kesatuan matlak, yakni pandangan bahwa seluruh permukaan bumi merupakan satu zona waktu dalam kalender Islam. (Athiful/ Depok)

Loading

Penyerahan SK LPA: Bukti Serius Muhammadiyah dalam Dakwah Sosial

Depok, Pdmsleman.Or.Id — Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Lembaga Kesejahteraan Sosial Muhammadiyah ‘Aisyiyah (LKSMA) sukses menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-II yang berlangsung selama tiga hari 26–28 Juni 2025 di PPSDM Kemendikdasmen, Jl. Raya Parung – Ciputat KM 19, Serua, Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat.Mengangkat tema “Transformasi Amal Usaha Sosial Muhammadiyah dalam Penguatan Isu Keluarga dan Komunitas”, kegiatan ini diikuti oleh sekitar 60 pimpinan MPKS Wilayah Muhammadiyah, lebih dari 190 pimpinan LKSMA se-Indonesia, serta ratusan simpatisan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Kota Depok.Rakernas ini menjadi ajang konsolidasi dan refleksi nasional terhadap arah gerakan sosial Muhammadiyah, sekaligus menegaskan peran penting keluarga dan komunitas sebagai basis utama dalam pengasuhan anak, difabel, dan lansia.Salah satu momen penting dalam Rakernas tahun ini adalah penyerahan Surat Keputusan Menteri Sosial RI tentang Lembaga Pengasuhan Anak (LPA) yang dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Sosial RI, Drs. KH. Saifullah Yusuf. SK tersebut diserahkan kepada dua amal usaha Muhammadiyah bidang sosial, yaitu: LKSA Panti Bayi Sehat Muhammadiyah, Bandung dan LKSA Darul Ilmi, DepokPenyerahan SK ini merupakan pengakuan resmi dari pemerintah terhadap peran strategis Muhammadiyah dalam mendorong praktik pengasuhan alternatif berbasis keluarga dan komunitas, bukan hanya berbasis institusi panti.KH. Saifullah Yusuf dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi atas konsistensi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam mengembangkan layanan sosial yang adaptif dan progresif.Sementara itu, Jasra Putra, Wakil Ketua MPKS PP Muhammadiyah sekaligus Komisioner KPAI, menyampaikan keberhasilan model pengasuhan alternatif yang telah dilakukan di LKSA Panti Bayi Sehat Bandung.“Selama tujuh tahun terakhir, uji coba pengasuhan berbasis keluarga dilakukan terhadap 15 keluarga. Hasilnya, sangat positif. Anak-anak bisa diasuh dalam lingkungan keluarga, meskipun bukan keluarga inti. Respons dari keluarga dan masyarakat sangat baik,” ungkap Jasra Putra.Model ini diyakini mampu menghadirkan pendekatan pengasuhan yang lebih manusiawi, berkelanjutan, dan sesuai dengan perkembangan psikososial anak. Muhammadiyah, menurut Jasra, siap untuk mereplikasi model ini ke lebih banyak wilayah sebagai bagian dari strategi besar transformasi AUM Sosial. Muhammadiyah berkomitmen untuk menjadikan keluarga dan komunitas sebagai pilar utama pengasuhan YAPI (Yatim, Piatu, Yatim-Piatu), difabel, dan lansia, dengan menekankan nilai kemandirian, kemitraan strategis, dan inovasi.

Loading

Masjid Nabawi, Raudhoh dan Makam Rasulullah SAW

Madinah, Arab Saudi, Pdmsleman.or.Id Pada hari Selasa, 24 Juni 2025, atau bertepatan dengan 26 Dzulhijjah 1446 H, Jamaah Haji Kloter 67 SOC melanjutkan rangkaian kegiatan keagamaan mereka di Kota Suci Madinah. Hari ke-34 perjalanan haji ini dipenuhi dengan berbagai aktivitas yang tidak hanya memperkuat iman, tetapi juga memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi setiap jamaah. Kegiatan dimulai dengan shalat Subuh berjamaah di Masjid Nabawi, salah satu masjid tersuci dalam Islam. Suasana khusyuk dan penuh kekhusyukan menyelimuti jamaah saat mereka melaksanakan ibadah ini. Masjid Nabawi, yang didalamnya berada makam Nabi Muhammad SAW, menjadi tempat yang sangat istimewa bagi setiap muslim. Shalat berjamaah di masjid ini merupakan salah satu keutamaan luar biasa. Setelah melaksanakan shalat, jamaah haji diberikan pengenalan lingkungan Masjid Nabawi. Pengenalan ini mencakup sejarah masjid, keutamaannya, serta berbagai tempat penting yang ada di dalamnya. Pengetahuan ini sangat penting bagi jamaah, agar mereka dapat lebih memahami dan menghargai setiap sudut masjid yang mereka kunjungi. Selanjutnya, jamaah haji Kloter 67 SOC melakukan ziarah ke Makam Baqi, pemakaman terbesar di Madinah. Di sini, mereka mengenang para sahabat Nabi Muhammad SAW . Makam Baqi menjadi tempat mengenang di mana banyak sahabat yang berjuang untuk menyebarkan ajaran Islam dimakamkan. Ziarah ini memberikan kesempatan bagi jamaah untuk merenungkan perjalanan hidup dan pengorbanan para sahabat dalam menegakkan agama. Setelah ziarah, jamaah mendaftar untuk masuk ke Roudhoh, area yang sangat diidamkan di dalam Masjid Nabawi menggunakan aplikasi Nusuk. Roudhoh, yang terletak di antara mimbar dan makam Nabi, diyakini sebagai salah satu taman surga di bumi. Jamaah yang berhasil mendaftar kemudian melakukan kunjungan ke Roudhoh untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, diikuti dengan doa sesuai dengan keinginan masing-masing.  Tidak ketinggalan, jamaah haji Kloter 67 SOC juga melakukan ziarah ke Makam Rasulullah SAW, serta makam Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar Bin Khattab. Ziarah ini merupakan bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada para pemimpin umat Islam yang telah memberikan teladan dalam kehidupan beragama. Dengan mengunjungi makam-makam ini, jamaah diingatkan akan pentingnya meneladani akhlak dan perjuangan para sahabat dalam menyebarkan ajaran Islam. Melalui serangkaian kegiatan ini, jamaah haji Kloter 67 SOC tidak hanya meningkatkan iman dan takwa mereka, tetapi juga mendapatkan pengalaman spiritual yang berharga di Kota Suci Madinah. Setiap momen yang dilalui menjadi pelajaran berharga yang akan terus dikenang sepanjang hidup mereka. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat ikatan spiritual jamaah dengan Allah SWT dan menambah kecintaan mereka terhadap ajaran Islam. Rep: H. Imam Subarkah, Jama’ah KBIHU AisyiyahEditor: Arief Hartanto, MPI PDM Sleman

Loading

KHGT: Bukti Peradaban Islam Berkemajuan

Oleh: Yayan Suryana*  sleman, Pdmsleman.Mu.Or.Id Hari ini, Pimpinan Pusat Muhammadiyah meluncurkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), sebuah ikhtiar besar yang tidak hanya menjawab amanat Muktamar, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam membangun peradaban Islam berkemajuan. KHGT menjadi bukti konkrit bahwa umat Islam mampu menyatukan komitmen spiritual, kecanggihan intelektual, dan visi global dalam satu sistem penanggalan yang ilmiah, rasional, dan berakar pada tradisi Islam yang otentik. Dalam sejarah umat Islam, kalender Hijriyah memang lebih dari sekadar alat ukur waktu. Sebagaimana ditegaskan oleh Nurcholish Madjid, sistem penanggalan komariah memiliki karakteristik khusus. Ia lahir dari realitas kosmik yang kasatmata, yakni penampakan rembulan (hilal). Keistimewaannya terletak pada sifatnya yang alami dan universal. Seperti kata Cak Nur, manusia sejak awal mengenali siklus waktu dari perubahan bentuk rembulan, dari sabit hingga purnama. Maka tidak mengherankan, bulan dalam bahasa Arab disebut “syahr” yang bermakna “yang nampak”, sebab dimulai dari terlihatnya bulan sabit. Lebih dari itu, al-Qur’an menegaskan fungsi spiritual dari sistem komariah,  bahwa “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, itu adalah penanda waktu bagi manusia dan ibadah haji” (QS. al-Baqarah: 189). Artinya, sistem waktu dalam Islam dirancang bukan demi kepentingan duniawi semata seperti pertanian, melainkan demi penyatuan ritme ibadah umat Islam lintas ruang dan waktu. Di sinilah letak keadilan dan keunikan sistem ini. Ibadah seperti puasa dan haji tidak terkungkung oleh musim, tetapi berputar di seluruh musim dalam siklus 30 tahun, menjamin keadilan geografis dan iklim bagi seluruh umat Islam di bumi. KHGT hadir sebagai jawaban atas fragmentasi kalender Islam yang selama ini menjadi sumber ketidaksatuan umat dalam menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, dan bahkan hari-hari penting lainnya. Di tengah dunia yang semakin terintegrasi secara teknologi dan informasi, umat Islam membutuhkan integrasi spiritual melalui kesatuan waktu. KHGT adalah ikhtiar Muhammadiyah untuk mempersatukan umat dalam dimensi yang paling mendasar, yaiti waktu ibadah. Tanpa kesatuan waktu, kesatuan umat hanya akan menjadi ilusi. Lebih jauh, KHGT juga merupakan manifestasi kecanggihan ilmu pengetahuan Islam. Dengan metode hisab hakiki kontemporer yang dipadukan dengan prinsip ijtihad, KHGT tidak hanya berpijak pada langit, tetapi juga pada akal sehat manusia. Ia menjembatani tradisi dan modernitas, teks dan konteks, syariah dan sains. KHGT adalah proyek peradaban, bukan sekadar agenda organisasi. Nurcholish Madjid juga menyoroti bagaimana kalender matahari yang diadopsi oleh dunia modern cenderung bersifat geografis dan eksklusif terhadap musim. Jika umat Islam mengikuti sistem itu, maka akan terjadi ketimpangan. Misalnya, umat Islam di belahan bumi selatan akan terus-menerus berpuasa di musim panas, sementara di utara di musim dingin. Standar waktu dalam menjllankan ibadah yang berbasiskan rembulan ini menghapus ketidakadilan itu. Maka dalam kerangka ini, KHGT menjadi simbol keadilan dan inklusivitas Islam sebagai agama universal. Peluncuran KHGT hari ini bukan hanya peristiwa seremonial, tetapi adalah momen sejarah. Ini adalah langkah monumental Muhammadiyah dalam mengambil tanggung jawab global demi menyatukan umat. KHGT menjadi salah satu pilar peradaban Islam yang menjunjung ilmu, keadilan, dan persatuan. KHGT bukan hanya simbol kemajuan, tetapi menjadi bukti bahwa Islam mampu menghadirkan solusi visioner untuk dunia yang sedang mencari arah dan makna. Allah mengingatkan dalam firmannya:  Dan demikian (pula) Kami jadikan kamu umat yang wasath (adil dan seimbang), agar kamu menjadi saksi atas (segala perilaku) manusia…”(QS. al-Baqarah: 143) Muhammadiyah Melalui KHGT, sedang menunjukkan saksi peradaban itu. Wallahu a’lam bish-shawab. Salam Yansur.  )*Penulis adalah Wakil Ketua PWM DIY. 

Loading

Parenting Ortu Kelas 7 dan 8 SMP Muhammadiyah 2 Godean

Godean, Psmsleman.Or.Id Seorang Ibu harus dihormati suami bahkan sampai disebut 3 kali oleh Nabi Muhammad SAW karena seorang Ibu itu berjasa yaitu saat hamil, dan kemudian menyusui. Jadi seorang suami harus berterima kasih kepada istri dan seorang istri harus berterima kasih kepada suami. Bahkan dalam setiap harinya sebelum tidur harus menyampaikan ucapan terima kasih dan mohon maaf kepada suami dan sebaliknya.  Hal ini kalau bisa anak mengetahui terhadap keharmonisan seorang suami istri agar seorang anak tenang belajarnya. Selanjutnya seorang anak itu akan merasa kangen terhadap orang tuanya. Jangan sampai problem keluarga atau cekcok suami istri anak mengetahuinya, maka dibiasakan agar anaknya diberikan kenyamanan sehingga tenang untuk belajar. Ada 5 hal yang harus dilakukan orang tua dan anak yaitu pertama berbakti kepada Allah dan kepada orang tua, kedua, pranatan atau aturan diikuti baik Al Qur’an atau hadist, ketiga, bekerja harus dilakukan dengan rajin, keempat kerukunan terus dilakukan dan dijaga, cecongkrahan atau perpecahan agar dihindari.Pendengaran dan penglihatan itu 90 persen berpengaruh terhadap belajar anak. Kita tunjukkan kebanggaan dan kebahagiaan sekolah di SMP Muhammadiyah 2 Godean.  Demikian beberapa strategi dalam menjalin hubungan keharmonisan keluarga sangat penting untuk kita lakukan jelas Ustadz Drs. H. Sukirman, MA dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman dalam Parenting bagi ortu siswa kelas 7 dan 8 SMP Muhammadiyah 2 Godean pada Selasa, 24 Juni 2025 di Komplek Masjid At Tauchid SMP Muhammadiyah 2 Godean beralamat di Sembuh Kidul Sidomulyo Godean Sleman.  Selain itu disampaikan oleh kepala sekolah SMP Muhammadiyah 2 Godean Wahdan Arifudin, S.Pd dalam sambutan pengantarnya menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran dan kebersamaan selama ini untuk terus bersama-sama menyiapkan putra-putri calon penerus bangsa dengan pembiasaan yang kuat dan penguatan karakter bagi murid untuk masa depan menjadi generasi sholeh dan sholihah.  “Kita merasa senang karena disatukan dalam sekolah berbasis agama dan Muhammadiyah karena Insya Allah putra putri yang belajar di SMP Muhammadiyah 2 Godean akan menjadi generasi penerus dan calon pemimpin yang akan lebih maju dan memiliki pondasi agama yang kuat kelak pasti akan sukses dengan pembiasaan ilmu umum dan penguatan agama berupa sholat duha, dzikir, doa, tadarus, sholat dzuhur dan asar serta penguatan karakter lain akan mampu menghadapi dinamika masa depan.” tegas Wahdan. Rep  H. Wahdan A   SMP Mugo MPI PDM Sleman

Loading