Bara Api Warisan Tema Kajian Masjid Aisyah Ponosaran Girikerto

Turi , Pdmsleman.Or.id Suasana pagi yang sejuk menyelimuti Masjid Aisyah, Ponosaran, Girikerto  Turi pada Ahad Legi 30 November 2025 dimana ratusan jama’ah dari berbagai wilayah di Girikerto memadati kajian rutin yang digelar Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Girikerto dengan menghadirkan narasumber Ustadz Faraid Drs. H. Sunarto, MS dari Multazam Yogyakarta. Kajian kali ini mengusung tema “Bara Api Warisan”, kajian ini menyita perhatian jamaah karena topik pembahasan dinilai sangat dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Dalam pemaparannya, Ustadz Sunarto menyampaikan bahwa persoalan warisan merupakan salah satu titik sensitif yang kerap memicu perpecahan keluarga jika tidak dipahami dengan benar. “Harta warisan jika tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber masalah yang sangat besar, bagaikan bara api,” tegasnya di hadapan jamaah. Ia menambahkan, banyak keluarga berselisih, bahkan antar saudara kandung, hanya karena perebutan warisan akibat kurangnya pemahaman terhadap syariat Allah SWT mengenai pembagiannya. Ustadz Sunarto mengingatkan bahwa Allah SWT telah memberikan aturan yang jelas mengenai warisan di dalam Al-Qur’an, khususnya pada QS An-Nisa ayat 7 hingga ayat 13. Beliau mengutip firman Allah:“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10).Menurutnya, ayat ini memberikan peringatan tegas kepada siapa pun yang mengambil hak waris orang lain, terlebih anak yatim, bahwa tindakan tersebut sama halnya dengan menelan bara api neraka. Lebih lanjut ia menuturkan bahwa setiap umat Islam diperintahkan untuk taat pada ketentuan Allah mengenai pembagian warisan. Ustadz Sunarto mengutip firman Allah:“Itulah batas-batas hukum Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya…” (QS. An-Nisa: 13).“Barang siapa mengikuti petunjuk Allah akan mendapat keselamatan, kebahagiaan, dan surga yang kekal,” jelasnya. Sebaliknya, orang yang melanggar aturan waris justru terancam kesengsaraan di akhirat meskipun memiliki banyak amal ibadah lainnya. Dalam kajian tersebut, Ustadz Sunarto juga menekankan bahwa harta yang ditinggalkan orang tua bukanlah milik anak sepenuhnya, melainkan titipan Allah yang harus dikembalikan melalui sistem pembagian waris. Ia menyampaikan firman Allah:“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan…” (QS. Al-Anfal: 28).Menurutnya, kesadaran ini penting agar manusia tidak terjebak dalam cinta dunia yang berlebihan sehingga rela mengorbankan keharmonisan keluarga demi materi. Guna mencegah konflik warisan di kemudian hari, Ustadz Sunarto memberikan pesan moral kepada jamaah agar setiap keluarga membangun komunikasi dan pemahaman sedari awal. “Sebelum ajal tiba, orang tua harus memberikan pemahaman kepada anak tentang harta dan waris. Selain itu, dalam rumah tangga penting ada kejelasan apakah harta tersebut milik suami, istri, atau harta bersama,” tuturnya. Kejelasan ini, ujarnya, akan memudahkan pelaksanaan pembagian waris tanpa menimbulkan masalah. Menutup kajiannya, Ustadz Sunarto mengingatkan pentingnya ilmu faraid sebagai pedoman umat Islam. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW tentang perintah kepada Abu Hurairah untuk mempelajari faraid karena ia adalah ilmu pertama yang akan diangkat — artinya ilmu itu ada namun tidak lagi diamalkan oleh umat. “Jika umat Islam mengabaikan ilmu waris, bukan hanya muncul kesenjangan sosial, tetapi muncul dosa besar karena mengabaikan ketentuan Allah,” tegasnya. Kajian yang berlangsung hampir dua jam tersebut mendapat respons positif dari jamaah. Banyak peserta menyatakan bahwa tema ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini dan memberikan pencerahan baru tentang pentingnya memahami hukum waris Islam. PRM Girikerto berharap kegiatan kajian rutin seperti ini dapat semakin memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat, khususnya dalam aspek hukum Islam yang berkaitan dengan kehidupan sosial. Dengan penuh antusias, jamaah berharap kajian bertema serupa dapat diangkat kembali di masa mendatang agar semakin banyak masyarakat memahami pentingnya menjalankan ketentuan Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan  termasuk persoalan warisan yang sering dianggap sepele namun berdampak besar bagi keutuhan keluarga dan masyarakat. Rep  H. Agus Nugroho S Editor  Arief Hartanto   MPI PDM Sleman

Loading

The Enduring Pursuit of Well-being: Navigating Life’s Ever-Changing Landscape

The Enduring Pursuit of Well-being: Navigating Life’s Ever-Changing Landscape In the grand tapestry of human existence, the pursuit of well-being stands as a constant thread, weaving its way through generations and cultures. While the specific paths we take to achieve this state of contentment and vitality may vary wildly, the underlying desire to live a fulfilling and healthy life remains a universal aspiration. But what does “well-being” truly encompass, and how can we effectively navigate the ever-changing landscape of modern life to cultivate it? Defining Well-being: A Holistic Approach Well-being is far more than the mere absence of illness or the fleeting sensation of happiness. It’s a holistic state characterized by physical, mental, and social equilibrium. It’s about feeling good and functioning effectively, both as individuals and within our communities. This interconnectedness is crucial; neglecting one area inevitably impacts the others. For example, chronic stress (mental well-being) can manifest as physical ailments like headaches and digestive issues. Similarly, social isolation can lead to feelings of depression and anxiety. Therefore, a truly comprehensive approach to well-being acknowledges the interplay between these different facets of our lives. It requires conscious effort to nurture each area, fostering a sense of balance and resilience that allows us to weather life’s inevitable storms. This can include anything from maintaining a healthy diet and exercise routine to cultivating meaningful relationships and practicing mindfulness. The Cornerstones of a Balanced Life: Practical Strategies While the pursuit of well-being is a deeply personal journey, certain foundational elements consistently contribute to a sense of overall fulfillment. These cornerstones offer practical strategies for building a more balanced and vibrant life: Physical Health: This encompasses everything from regular exercise and a nutritious diet to adequate sleep and preventative healthcare. Small, consistent changes can make a significant difference. Taking the stairs instead of the elevator, swapping sugary drinks for water, or aiming for an extra 30 minutes of sleep each night can gradually improve your physical well-being. Furthermore, exploring resources related to health and beauty can provide valuable insights into self-care practices that enhance both physical and mental well-being. This might include learning about effective skincare routines, understanding the importance of proper nutrition for healthy hair and nails, or discovering the benefits of different types of exercise. Mental & Emotional Health: Cultivating emotional intelligence, practicing self-compassion, and developing effective coping mechanisms are essential for navigating stress and maintaining mental well-being. Techniques like meditation, journaling, and spending time in nature can help quiet the mind and promote a sense of calm. Seeking professional help when needed is also a sign of strength, not weakness. Social Connections: Human beings are inherently social creatures. Strong relationships provide a sense of belonging, support, and purpose. Making an effort to nurture existing relationships and build new ones can significantly enhance our overall well-being. This could involve volunteering, joining a club, or simply making a conscious effort to connect with friends and family on a regular basis. Purpose & Meaning: Having a sense of purpose, whether it’s through our work, hobbies, or relationships, provides a sense of direction and motivation. Identifying our values and aligning our actions with them can lead to a more fulfilling and meaningful life. This might involve pursuing a career that aligns with our passions, volunteering for a cause we care about, or simply focusing on making a positive impact in the lives of others. Navigating the Challenges: Embracing Imperfection The pursuit of well-being is not a linear path. There will be setbacks, challenges, and periods of stagnation. It’s important to remember that perfection is an illusion and that self-compassion is key. Instead of beating ourselves up for falling short of our goals, we should embrace imperfection and view challenges as opportunities for growth. Learning from our mistakes and adapting our strategies along the way is crucial for long-term success. One of the biggest challenges in the modern world is the constant bombardment of information and the pressure to compare ourselves to others. Social media, in particular, can create unrealistic expectations and contribute to feelings of inadequacy. It’s important to be mindful of the impact that these platforms have on our mental and emotional well-being and to cultivate a healthy relationship with technology. This might involve setting boundaries around social media use, unfollowing accounts that trigger negative emotions, and focusing on connecting with people in real life. The Long Game: Investing in Your Future Self Ultimately, the pursuit of well-being is an investment in our future selves. By prioritizing our physical, mental, and social health, we are laying the foundation for a more fulfilling and resilient life. It’s a continuous process of learning, adapting, and growing. There is no one-size-fits-all approach, and what works for one person may not work for another. The key is to experiment with different strategies, listen to our bodies and minds, and be patient with ourselves along the way. As we navigate the complexities of modern life, let us remember that well-being is not a destination, but a journey. It’s about embracing the present moment, cultivating gratitude, and finding joy in the simple things. By prioritizing our well-being, we can not only improve our own lives but also contribute to a more positive and compassionate world.

Loading

 Program Renovasi Rumah Dhuafa Lazismu PCM Sleman Tahap I Resmi Dicairkan

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Program Renovasi Rumah Dhuafa yang diselenggarakan oleh Kantor Layanan (KL) Lazismu Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sleman telah memasuki tahap pencairan dana tahap pertama pada Sabtu (1/11/2025). Tahun ini, terdapat tiga lokasi penerima bantuan dengan masing-masing mendapatkan Rp8 juta untuk perbaikan atap rumah, dapur, lantai, dan plester tembok. Tiga warga penerima manfaat tersebut adalah Supriyono dari Tegalsari (PRM Trimulyo),   Sugito dari Murangan VII (PRM Triharjo), dan  Waluyo dari Durenan (PRM Sleman). Perwakilan PCM Sleman, Drs. H. Edy Kadarisman, menyampaikan apresiasi dan harapannya agar program sosial ini dapat terus berlanjut. “Harapannya, program ini bisa terus berjalan karena dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat. Jika memungkinkan, jumlah penerimanya dapat bertambah. Tentu semua tergantung dari pemasukan dan kepercayaan masyarakat kepada Lazismu,” ujarnya. Edy Kadarisman menambahkan, PCM Sleman bersama pimpinan ranting yang menjadi penerima manfaat—yakni PRM Trimulyo, PRM Triharjo, dan PRM Sleman—berkomitmen mendukung keberlanjutan program renovasi rumah ini sebagai bagian dari dakwah sosial Muhammadiyah di tingkat akar rumput. Sementara itu, Ketua KL Lazismu PCM Sleman, Arief Eko Wahyudi, S.Sos, mengapresiasi inisiatif ranting-ranting Muhammadiyah yang aktif mengajukan proposal bantuan perbaikan rumah. Sebagaimana disampaikan H. Ashari kepada Arief Hartanto pada Sabtu siang. “Tidak semua ranting mengirimkan proposal, dan kami mengapresiasi mereka yang berinisiatif. Harapannya, bantuan dari Lazismu ini bisa menjadi stimulan bagi warga atau ranting untuk mencari tambahan dana agar renovasi bisa lebih maksimal,” jelas Arief. Ia menambahkan bahwa dana sebesar Rp8 juta memang terbatas untuk merenovasi satu rumah secara penuh, namun tetap bisa menjadi “pancingan” bagi warga sekitar untuk ikut berdonasi. “Bantuan ini bukan solusi tunggal, tetapi awal gerakan gotong royong agar masyarakat turut peduli terhadap kondisi rumah dhuafa di lingkungannya,” tambahnya. Dari pihak penerima manfaat, Supriyadi, M.M., selaku Sekretaris PRM Triharjo, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya program ini. “Semoga bantuan ini bermanfaat dan dapat digunakan sebaik mungkin. Delapan juta rupiah memang tidak besar untuk renovasi rumah, tetapi cukup membantu. Syukur-syukur nanti ada tambahan dari masyarakat sekitar,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa nilai kepedulian jauh lebih penting daripada nominal bantuan itu sendiri. “Kalau menghitung kekurangan, berapa pun akan terasa kurang. Namun, program ini menunjukkan kepedulian nyata dari Lazismu PCM Sleman kepada masyarakat dhuafa,” pungkasnya. Rep : H. Ashari SIP   PCM Sleman Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Launching Buku Antologi Puisi “Aksara” karya Civitas SMP Muhammadiyah 2 Prambanan

Prambanan, Pdmsleman.Or.Id SLEMAN. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Shavitri Nurmala Dewi, melaunching antologi puisi berjudul “Aksara” karya Kepala Sekolah, guru, karyawan, serta siswa-siswi SMP Muhammadiyah 2 Prambanan, Sleman, pada Rabu (29/10/2025). Acara yang berlangsung di halaman sekolah tersebut menjadi momentum penting dalam menguatkan semangat literasi, memperluas ruang ekspresi pelajar, dan menumbuhkan budaya menulis di lingkungan pendidikan. Dalam materinya, Shavitri menyampaikan apresiasi dan kebanggaan atas terbitnya buku “Aksara” yang menghimpun karya dari berbagai unsur sekolah. “Saya sangat mengapresiasi langkah SMP Muhammadiyah 2 Prambanan yang telah menanamkan tradisi menulis di sekolah. Buku ini bukan hanya sekumpulan puisi, tetapi cermin dari semangat, refleksi, dan imajinasi generasi muda yang tengah tumbuh,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa menulis puisi merupakan salah satu cara efektif untuk menumbuhkan kepekaan rasa, ketajaman berpikir, serta kedalaman empati di kalangan pelajar. Menurutnya, kemampuan menulis dan membaca sastra bukan sekadar keterampilan akademik, tetapi juga sarana membentuk karakter. “Melalui puisi, siswa belajar menyelami diri, memahami orang lain, dan membaca kehidupan dengan hati yang lebih peka. Inilah yang menjadi esensi dari pendidikan literasi,” imbuhnya. Shavitri juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan kegiatan literasi di sekolah. Ia berharap seluruh warga sekolah terus mengembangkan kebiasaan membaca dan menulis secara konsisten, karena dari rutinitas kecil itulah karya besar dapat tumbuh. “Menulis tidak harus menunggu inspirasi besar. Cukup dengan menulis setiap hari, walau hanya beberapa kalimat, kita sedang menanam benih ide yang suatu saat akan berbuah karya bermakna,” katanya. Lebih lanjut, Shavitri mendorong adanya kolaborasi aktif antara guru, siswa, dan komunitas literasi di Kabupaten Sleman. Menurutnya, sinergi semacam itu dapat memperluas gerakan literasi dari ruang kelas menuju kehidupan masyarakat. “Sekolah harus menjadi pusat tumbuhnya budaya baca dan tulis. Jika semangat ini terus dijaga, saya yakin Kabupaten Sleman akan memiliki banyak generasi penulis muda yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing,” tegasnya. Kepala SMP Muhammadiyah 2 Prambanan, Eko Priyantoro, menuturkan bahwa penerbitan buku “Aksara” bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk nyata komitmen sekolah dalam membangun ekosistem literasi. “Buku ini adalah jejak perjalanan kami untuk menumbuhkan kesadaran bahwa literasi bukan hanya membaca buku, tetapi juga menulis dan menyuarakan makna hidup melalui kata,” ujarnya. Eko menambahkan, proses penyusunan buku ini melibatkan berbagai elemen sekolah agar semangat literasi menjadi gerakan bersama. Ia berharap, setelah terbitnya “Aksara”, akan lahir karya-karya lain dari guru maupun siswa. “Kami ingin membangun budaya menulis yang berkelanjutan. Dengan menulis, siswa tidak hanya mengasah kemampuan bahasa, tetapi juga melatih keberanian berpikir dan menyampaikan gagasan,” tambahnya. Menurutnya, peluncuran antologi puisi ini sekaligus menjadi ruang apresiasi bagi seluruh warga sekolah yang telah berkarya. Momentum tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Sleman untuk terus menghidupkan tradisi literasi sebagai fondasi pendidikan karakter dan kreativitas generasi muda. Rep Athiful/KIM Depok)

Loading

The Ever-Evolving Tapestry of Modern Life: Navigating the Complexities

The Ever-Evolving Tapestry of Modern Life: Navigating the Complexities Life in the 21st century is a whirlwind of constant change, innovation, and interconnectedness. From technological advancements to shifting social norms, the modern world presents a complex and often overwhelming landscape. Understanding and navigating this landscape requires adaptability, critical thinking, and a willingness to embrace the unfamiliar. The Digital Revolution and its Impact on Society The digital revolution has undoubtedly been one of the most transformative forces shaping modern life. The internet, smartphones, and social media have revolutionized communication, access to information, and the way we conduct business. While these advancements offer numerous benefits, they also present challenges. The rise of social media, for example, has connected billions of people across the globe, fostering communities and facilitating the rapid dissemination of information. However, it has also contributed to the spread of misinformation, online harassment, and a decline in face-to-face interaction. The constant exposure to curated online personas can lead to feelings of inadequacy and social anxiety. Furthermore, the increasing reliance on technology has raised concerns about privacy and data security. The collection and analysis of personal data by corporations and governments pose a significant threat to individual autonomy and freedom. As technology continues to evolve, it is crucial to develop ethical frameworks and regulations that protect individual rights and promote responsible innovation. For some, this means exploring the exciting possibilities of the digital world responsibly. Some enjoy the thrill of online gaming and sports betting, finding reputable platforms like jojobet to engage in these activities with care and awareness. The Changing Face of Work and Education The nature of work and education is also undergoing a significant transformation. Automation and artificial intelligence are rapidly changing the skills required for success in the modern workforce. Traditional jobs are being displaced by new roles that demand creativity, problem-solving, and adaptability. To thrive in this evolving environment, individuals need to embrace lifelong learning and acquire new skills throughout their careers. Education systems must adapt to prepare students for the challenges of the future by focusing on critical thinking, collaboration, and digital literacy. The emphasis should shift from rote memorization to fostering creativity and innovation. Moreover, the rise of the gig economy and remote work has blurred the lines between work and personal life. While these trends offer greater flexibility and autonomy, they also present challenges in terms of job security, benefits, and work-life balance. It is essential to establish clear boundaries and prioritize mental health and well-being in this increasingly demanding work environment. Navigating the Political and Social Landscape The modern world is characterized by increasing political polarization and social division. Disagreements over issues such as climate change, immigration, and social justice have led to heightened tensions and a decline in civil discourse. Navigating this complex political and social landscape requires empathy, critical thinking, and a willingness to engage in respectful dialogue. It is essential to understand different perspectives and challenge one’s own biases. Furthermore, individuals should actively participate in civic life and advocate for policies that promote equality, justice, and sustainability. Social media has played a significant role in amplifying these divisions, creating echo chambers where individuals are primarily exposed to information that confirms their existing beliefs. Breaking out of these echo chambers and engaging with diverse viewpoints is crucial for fostering understanding and bridging divides. Environmental Concerns and Sustainable Living One of the most pressing challenges facing humanity is the environmental crisis. Climate change, deforestation, pollution, and resource depletion threaten the health of the planet and the well-being of future generations. Addressing these challenges requires a collective effort from individuals, governments, and corporations. Transitioning to a sustainable economy based on renewable energy, reducing consumption, and promoting responsible waste management are essential steps. Individuals can make a significant impact by adopting sustainable living practices in their daily lives. This includes reducing their carbon footprint, conserving water, eating locally sourced food, and supporting businesses that prioritize environmental responsibility. Educating oneself and others about environmental issues is also crucial for raising awareness and driving change. In conclusion, navigating the complexities of modern life requires adaptability, critical thinking, and a willingness to embrace change. From the digital revolution to the evolving nature of work and the pressing environmental crisis, the challenges we face are significant. However, by fostering empathy, engaging in respectful dialogue, and prioritizing sustainable living, we can create a more just, equitable, and sustainable future for all.

Loading

 Workshop Penguatan Kapasitas Pengurus dan Pengasuh LKSA Muhammadiyah dan Aisyiyah Sleman: Menjawab Tantangan Pengasuhan di Era Digital

Sleman,Pdmsleman.Or.Id Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sleman menggelar workshop penting bertajuk “Penguatan Kapasitas Pengurus dan Pengasuh Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Sleman.” Pada Sabtu 30 Agustus 2025 .  Kegiatan ini merupakan bagian dari program divisi Muhammadiyah Children Center (MCC) yang fokus pada penguatan pengelolaan panti asuhan di wilayah Sleman. Workshop berlangsung di kantor PDM Sleman dan dihadiri oleh para pengurus dan pengasuh LKSA Muhammadiyah dan Aisyiyah. Ketua divisi MCC, Ahmad Zainal Fanani, S.Pd., MA, menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengurus dan pengasuh dalam menghadapi berbagai problematika yang selama ini dihadapi oleh LKSA. “Penguatan manajemen dan pengasuhan menjadi kunci agar anak-anak asuh dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang sehat dan penuh kasih sayang,” ujarnya. Dalam sambutannya, Ketua PDM Sleman, AS. Ardhani, mengungkapkan sejumlah tantangan utama yang dihadapi oleh LKSA, antara lain Sarana dan prasarana yang masih terbatas, manajemen sumber daya manusia (SDM) dan keuangan yang perlu ditingkatkan, Problem pengasuhan yang kompleks, Tantangan tresshold alumni, yaitu bagaimana alumni panti dapat beradaptasi dan mandiri setelah keluar dari panti. Menurut Ardhani, pengurus dan pengasuh harus menjadi teladan dan solutif dalam menjalankan tugasnya. “Mereka harus mampu membangun mashlahah agar anak-anak asuh merasa bahagia dan mendapatkan perhatian yang layak,” tegasnya. H. Wahyu Purhantoro, MMmenyoroti perubahan signifikan yang dibawa oleh teknologi digital dalam pola asuh anak. “Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pola asuh anak. Orang tua dan pengasuh dihadapkan pada tantangan baru untuk memastikan anak-anak tumbuh dengan baik di tengah arus informasi yang begitu deras,” jelas Wahyu. Ia menambahkan bahwa pola asuh positif di era digital menjadi kunci untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak. Beberapa tantangan pengasuhan yang dihadapi saat ini antara lain Kecanduan gadget., Kurangnya pengawasan orang tua, Cyberbullying, Grooming dan tracking serta Keamanan online anak-anak. Untuk mengatasi hal tersebut, Wahyu menyarankan agar pengasuh meningkatkan literasi digital dan menggunakan teknologi sebagai alat edukasi. “Pengasuh harus mengawasi aktivitas online anak-anak, membangun komunikasi yang terbuka dan positif, serta menjadi contoh dalam penggunaan gawai,” ujarnya. Lebih lanjut, Wahyu menekankan pentingnya manajemen kasus yang sistematis terhadap setiap anak secara periodik. Salah satu metode yang dianjurkan adalah asesmen, yang bertujuan untuk mengungkap dan memahami permasalahan, kebutuhan, serta potensi anak asuh. Dengan demikian, pengurus dan pengasuh dapat menyusun rencana dan tindakan yang tepat untuk mendukung perkembangan anak. Salah satu pembicara utama, Yuli Ernawati, S.Sos., dari Dinas Sosial Sleman, memberikan wawasan terkait Manajemen kasus pekerja sosial yakni “ proses terorganisir untuk menilai, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi layanan yang bertujuan membantu individu dan keluarga mengatasi kebutuhan kompleks dan meningkatkan kesejahteraan mereka secara keseluruhan “ Sementara itu, Fatimah, S.Pd., dari Divisi MCC MPKS PWM D.I. Yogyakarta, Perkuat pemahaman anak tentang akidah dan syariat Islam. Ini menjadi benteng agar anak dapat mengenali konten yang sesuai dan menyaring pengaruh negatif mediasosial. Ketua MPKS Sleman, Workshop ini menjadi momentum penting bagi pengurus dan pengasuh LKSA Muhammadiyah dan Aisyiyah Sleman untuk memperkuat kapasitas mereka dalam menghadapi tantangan pengasuhan modern. Dengan dukungan dari MPKS PDM Sleman dan divisi MCC, diharapkan pengelolaan panti asuhan Miuhammadiyah di Sleman semakin profesional dan mampu memberikan lingkungan terbaik bagi anak-anak asuh. Rep  Yu Poer Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Pour les joueurs francophones qui explorent les alternatives de mise en dehors du cadre régulé, plusieurs guides spécialisés passent en revue la fiabilité et les cotes proposées par les opérateurs disponibles, et l'on trouve notamment une analyse détaillée du paris sportif hors ARJEL qui examine les conditions d'inscription ainsi que les méthodes de paiement acceptées par ces plateformes.
Steeds meer Nederlanders ontdekken de spanning van online gokken, waarbij ze op zoek gaan naar een betrouwbaar platform met een uitgebreid aanbod. Nyx Bets Casino voldoet aan deze wens met een ruime collectie gokkasten, tafelspellen en live casinospellen, aangevuld met aantrekkelijke bonussen en een gebruiksvriendelijke interface.
Modern casino reviewers tend to weigh bonus wagering terms, slot RTP listings, and live dealer game variety before publishing their take, and Odinfortune often pops up in those side-by-side breakdowns.
Australian players looking for a polished online gaming hub often compare what Zoome brings to the table against locally licensed competitors, noting its broad pokies catalogue, AUD-friendly banking, and a loyalty setup that feels tuned to the way punters in Sydney, Melbourne, and Perth tend to play across long weekend sessions.
Wie in Nederland graag een gokje waagt online, let tegenwoordig scherp op betrouwbaarheid, snelle uitbetalingen en een overzichtelijk spelaanbod; een platform als KIKI weet daar met transparante voorwaarden en een breed scala aan slots en live tafelspelenvolop op in te spelen.
Players looking for hassle-free ways to enjoy classic table games and slots online often compare welcome bonuses and payout speeds before signing up, and a solid resource like ModernGhana - bingo sites no ID verification UK can help simplify the decision when you want to skip lengthy signup checks and get straight to the action.