Seyegan, Pdmsleman.Or.Id Pada Sabtu, 8 Maret 2025 bertempat Masjid Mrincingan Seyegan digelar acara pertemuan antar cabang MKS ( Majelis Kesejahteraan Sosial ) Pimpinan Daerah dan Pimpinan Cabang se-Sleman untuk memperkuat tali silaturahmi dan kepedulian sosial terhadap sesama, terutama bagi lansia terutama di bulan Ramadhan penuh berkah ini. Disamping itu juga sekaligus bersilaturahmi ke Griya Lansia Al Kautsar Seyegan dan pentasyarufan paket ramadhan berbagi ke lansia dhuafa dan yatim sejumlah 17 paket dana Rp.750.000/ MKS cabang Acara dimulai pada pukul 07.30 dan berlangsung hingga 11.00, dihadiri oleh Ketua PDA ( Pimpinan Daerah Aisyiyah) Kabupaten Sleman, Hj Hanik Rosyada MA, serta Dra. Hj Aminah Masykur dan Hj Dwi Putriyanti serta perwakilan dari LAZISMU ( Lembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh) Sleman beserta takmir masjid setempat dan segenap tamu undangan. Salah satu momen yang paling ditunggu adalah pemaparan program Griya Lansia oleh Fajar Retnowati yang menuturkan “ Aisyiyah berupaya bagaimana lansia tidak hanya tetap terjaga kesehatannya tetapi juga bagaimana lansia tetap aktif, produktif, dan membawa manfaat bagi sekitarnya”. Puncak acara ditandai dengan penyerahan bantuan simbolis oleh Hj Aminah Masykur.Pentasarufan dana santunan lansia dhuafa ke 17 cabang berupa dana stimulan per cabang Rp 750.000 serta Bedah buku panduan daycare lansia ‘Aisyiyah bersama Dr. Sri Handayani . Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban mereka, terutama menjelang bulan Ramadhan yang penuh berkah. “Semoga bantuan ini dapat memberikan kebahagiaan dan harapan baru bagi terutama bagi lansia yang membutuhkan,” ungkap Ibu Aminah. Reportase Noor Kasihati MKS PDA Sleman Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
Yogyakarta, Pdmsleman.Or.Id Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., mengingatkan pentingnya membangun peradaban Islam yang moderat dan maju. Hal ini sejalan dengan tema yang diangkat pada Pengkajian Ramadan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah 1446 H yaitu “Pengembangan Wasathiyah Islam Berkemajuan: Tinjauan Teologis, Ideologis, dan Praksis”. Hal ini ia sampaikan dalam pidato iftitahnya pada pembukaan dalam Pengkajian di Jakarta tepatnya di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, MA., Gedung Cendikia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Kamis (06/03/2025). Pengkajian Ramadan ini merupakan yang kedua kalinya di selenggarakan di UMJ. Haedar mengatakan konsep wasathiyah islam berkemajuan telah menjadi arus utama pemikiran islam di Indonesia. Salin itu juga menjadi isu penting yang disuarakan dalam berbagai forum internasional. Pada tahun 2018 telah lahir Deklarasi Bogor yang menegaskan prinsip wasathiyah, yaitu bersikap moderat (tawasut), adil (i’tidal), toleran (tasamuh), musyawarah (syura), melakukan reformasi untuk kemaslahatan bersama (islah), serta menawarkan inisiatif mulia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (futuwah). Salah satu prinsip utama dalam Deklarasi Bogor adalah penerimaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (muwathanah) dan penghargaan terhadap kewarganegaraan. Konsep wasathiyah memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an. Seperti yang dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 143 yang menegaskan agar umat Islam tidak berlebihan dalam beragama. Seperti penjelasan Imam Al-Qurthubi dalam “Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an” Makna “Ummatan Wasathan” menjelaskan bahwa istilah “wasath” berarti adil dan terbaik. Umat Islam disebut sebagai umat yang adil dan pilihan karena mereka ditempatkan di posisi tengah, tidak berlebihan seperti umat Nasrani yang mengagungkan nabi mereka secara berlebihan, dan tidak meremehkan seperti umat Yahudi yang menentang nabi mereka. “Wasathiyah Islam Berkemajuan bukan sekadar sikap moderat dalam beragama, tetapi juga memberikan solusi yang terbaik dari posisi tengah. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah menerapkan prinsip ini dalam praktik kehidupan bermasyarakat,” ujarnya. Haidar juga mengatakan Muhammadiyah juga menaruh perhatian besar terhadap peran perempuan dalam kehidupan sosial. Melalui Aisyiyah, Muhammadiyah mempelopori pendidikan dan pemberdayaan perempuan, serta mendorong keterlibatan mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam prinsip keorganisasian, Muhammadiyah menekankan pentingnya amal usaha yang berbasis ibadah. Usaha yang dilakukan tidak boleh sekadar berjalan alami, tetapi harus dikelola dengan sistem yang baik agar terus berkembang dan memberikan manfaat bagi umat. Hal ini selaras dengan perintah dalam Surah Ali Imran ayat 104 yang menekankan pentingnya dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar. Rangkaian kegiatan Pengkajian Ramadan PP Muhammadiyah 1446 H akan berlangsung selama tiga hari mulai Kamis hingga Sabtu (6-7/03/2025) dengan menghadirkan narasumber yang akan membahas topik-topik seputar Pengembangan Wasathiyah Islam Berkemajuan. Turut hadir Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Dr. (H.C.) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M., Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., Menteri Kelautan dan Perikanan RI Ir. Sakti Wahyu Trenggono, MM., IPU, dan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) BPN RI Nusron Wahid, SS., M.Si., Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni, Ph.D., Ketua Senat sekaligus Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah Prof. Dr. Masjitoh, M.Ag.
Sleman, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menggelar program tahunan Mubaligh Hijrah sebagai bagian dari penguatan dakwah di bulan Ramadan. Kegiatan yang berlangsung pada 26-27 Februari 2025 di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya (BBPPMPVSB) Sleman ini diikuti oleh 312 peserta dari berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Acara yang dipandu oleh Ustaz Qaem Aulassyahied ini juga dapat disaksikan secara daring melalui kanal YouTube GreenFaith Indonesia. Sebagai tradisi yang telah berjalan lebih dari tiga dekade, Mubaligh Hijrah bertujuan membekali kader dai agar mampu membawa risalah Islam yang rahmatan lil alamin serta menghidupkan dakwah hingga ke tingkat ranting Muhammadiyah.Dalam sambutan pembukaannya, Ketua Majelis Tabligh PWM DIY, Ustaz Miftahulhaq, S.H.I., M.S.I., menegaskan bahwa program ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari misi dakwah yang berkelanjutan. “Islam adalah agama yang membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi semua. Melalui Mubaligh Hijrah, kita ingin memastikan bahwa nilai-nilai Islam yang damai dan inklusif semakin tersebar luas,” ujarnya. Dr. H. Yayan Suryana, M.Ag., anggota Majelis Tabligh PWM DIY, menyoroti tiga poin utama dalam Mubaligh Hijrah. Pertama, sebagai strategi dakwah khas Muhammadiyah yang perlu dikembangkan lebih luas. Kedua, sebagai ajang pembekalan bagi kader Muhammadiyah agar ilmu yang diperoleh dapat diamalkan dalam kehidupan nyata. Ketiga, sebagai laboratorium kader, tempat para peserta memperoleh pengalaman langsung dalam berdakwah, sehingga terbentuk dai-dai tangguh untuk masa depan. Menjawab Tantangan Dakwah di Era Modern Sesi pembekalan diisi oleh berbagai narasumber kompeten. Ustaz Drs. Yusuf A. Hasan, M.Ag., menekankan pentingnya komunikasi efektif dalam berdakwah, dengan menghindari bahasa multitafsir dan menyesuaikan pesan dengan audiens. Lebih lanjut, Ustaz Yusuf menjelaskan bahwa dalam komunikasi terdapat empat unsur utama yang harus diperhatikan, yaitu Source (Da’i), Message (Pesan), Channel (Ketepatan dalam penyampaian), dan Receiver (Mad’u). Keempat unsur ini harus selaras agar komunikasi dalam dakwah tidak hanya berdampak secara kognitif, tetapi juga secara afektif dan behavioral, yang pada akhirnya dapat membentuk perilaku yang lebih baik di tengah masyarakat. Sementara itu, Dr. Setyadi Rahman, M.P.I., membahas fiqih dan praktik ibadah, menyoroti perlunya strategi implementasi agar ilmu yang diajarkan benar-benar diterapkan dalam masyarakat.Dalam pemaparannya, Setyadi menjelaskan secara rinci mengenai tata cara mandi janabah, tata cara pengurusan jenazah, dan tata cara shalat. Ia menekankan bahwa pemahaman yang benar dalam praktik ibadah sangat penting bagi seorang mubaligh agar dapat menyampaikan bimbingan yang tepat kepada masyarakat. Ramadan Hijau: Aksi Nyata untuk Keberlanjutan Salah satu sorotan dalam Mubaligh Hijrah tahun ini adalah penguatan konsep Ramadan Hijau, yang dipaparkan oleh Hening Parlan, Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah. Konsep ini mengajak umat Muslim untuk menghubungkan ibadah puasa dengan keberlanjutan lingkungan. “Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga membangun kesadaran akan tanggung jawab kita terhadap bumi,” ungkap Hening. Bunda Hening, demikian sosok ini kerap disapa, mengingatkan bahwa puasa seharusnya menjadi waktu untuk refleksi dan introspeksi. Ia juga menekankan pentingnya mengurangi sampah plastik, menghemat energi, dan mengedukasi masyarakat tentang gaya hidup berkelanjutan. “Kita harus menyadari bahwa setiap tindakan kita, sekecil apapun, memiliki dampak pada lingkungan. Sebagai umat Muslim, kita memiliki tanggung jawab untuk merawat bumi, yang sering kita sebut sebagai Ibu Bumi,” tambah peraih penghargaan Planet World 2024 dari Kedutaan Inggris ini. Dalam sesi diskusi, Hening Parlan juga mengungkapkan tantangan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Dari perubahan iklim yang ekstrem hingga pencemaran yang merusak ekosistem, ia menekankan bahwa umat Muslim perlu lebih proaktif dalam mengintegrasikan ajaran Al-Qur’an dengan tindakan nyata. “Sekitar 70% umat Muslim di Indonesia menyadari adanya perubahan iklim, tetapi hanya sedikit yang mengambil langkah konkret untuk mengatasinya,” ungkapnya. Hening yang juga merupakan Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia ini menekankan bahwa para mubaligh harus menjadi agen perubahan yang mampu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. “Kita harus mengajarkan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Setiap tindakan kecil, seperti menghemat air dan listrik, dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara kolektif,” tegasnya. Acara ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana para peserta berbagi pengalaman dan berdiskusi tentang tantangan dakwah di era modern. Dengan semangat keislaman yang kuat, PWM DIY berharap Mubaligh Hijrah terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi umat.
Eskamuga, Gamping, Pdmsleman.Mu.Or.Id SMK Muhammadiyah Gamping menggelar Kirab Budaya dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-270 Daerah Istimewa Yogyakarta serta menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan 1446 H. Acara ini berlangsung pada Rabu, 26 Februari 2025, dengan titik start dari SMK Muhammadiyah Gamping dan menempuh rute sepanjang 3 kilometer melalui Jalan Wates. Kirab Budaya ini diikuti oleh sekitar 400 peserta, yang terdiri dari siswa, guru, serta berbagai elemen masyarakat. Salah satu daya tarik utama dalam kirab ini adalah 15 gunungan yang dibuat secara kreatif oleh para siswa. Gunungan tersebut menjadi simbol semangat dan kebersamaan dalam melestarikan budaya di lingkungan sekolah. Dalam sambutannya, Kepala SMK Muhammadiyah Gamping, Asarika Fajarini, ” kami mengapresiasi seluruh siswa yang telah berpartisipasi dalam pembuatan gunungan dan dalam pelaksanaan kirab”. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kreatifitas siswa, tetapi juga sebagai wujud kepedulian sekolah terhadap budaya lokal. Sementara itu, perwakilan dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gamping, Maryono, juga turut memberikan sambutan. Ia menegaskan bahwa “Muhammadiyah tidak menolak budaya selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, terutama yang berhubungan dengan klenik”. Maryono kemudian secara resmi mengibarkan bendera start sebagai tanda dimulainya kirab. Kirab Budaya ini disambut dengan antusias oleh masyarakat sekitar. Sepanjang perjalanan, peserta kirab menampilkan berbagai atraksi yang mencerminkan kekayaan budaya Yogyakarta. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya semakin tumbuh di kalangan generasi muda, khususnya siswa SMK Muhammadiyah Gamping. Reportase Dwitoro PCM Gamping Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
Berbah, Pdmsleman.Or.Id Bertempat di SD Muhammadiyah Bulu Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Berbah, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Berbah beserta Lazizmu Berbah didukung Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah Jogotirto menyelenggarakan kegiatan pengajian rutin Jum’at Legi sekaligus pengajian Songsong Ramadhan 1446 H bertempat di halaman SD Muhammadiyah Bulu Caren Jogotirto, Berbah, Sleman DIY pada hari Jumat 28 Februari 2025. Acara pengajian di mulai pukul di 13.30 berakhir 15.00. Sebelumnya acara dimulai jamaah mendapatkan suguhan pertunjukan dari Guru dan murid SD Muhammadiyah Bulu.Kepala SD Muhammadiyah Bulu Endah Rahmawati melantunkan lagunya Rosa Tak Kan Berpaling Darimu.Sedangkan murid SD Muhammadiyah Bulu menampilkan hapalan Surat Pendek , angklung dan pencak Silat Tapak Suci Putra Muhammadiyah Wildan dan Burhan. Pada pertunjukan tersebut keduanya berhasil mematahkan besi dragon dengan sisi telapak tangannya. Wildan dan Burhan merupakan peraih juara 2 dan 3 pada kejuaraan Tapak SuciPDM Sleman Competition 2 bulan Februari 2025.Acara dibuka dengan membaca Basmalah dilanjutkan pembacaan Al Qur’an Oleh H. Ahmad Zainudin dilanjutkan menyanyikan mars Muhammadiyah dan Aisyiyah dipandu oleh Siti Eny Nurjanah. Ketua PCM Berbah H. Ahmad Muhajir Hanifi merasa bangga dengan penampilan guru dan murid SD Muhammadiyah Bulu yang sangat memukau“Semoga amal usaha Muhammadiyah terutama SD Muhammadiyah Bulu semakin baik semakin besar dan bermanfaat bagi masyarakat” Selanjutnya Muhajir menyampaikan bahwa hari ini ada pemeriksaan kesehatan cek tensi, gula darah asam urat dari PKU Berbah dibantu oleh SMP Muhammadiyah 1 Berbah, cek gratis untuk tensi darah. Adapun amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang lain berupa Lazismu juga telah menyediakan paket beras untuk zakat fitrah, juga paket beras untuk fidiyah bagi yang berhalangan puasa Ramadhan karena uzur.Disampaikan juga PCM Berbah mempunyai beberapa program diantaranya hari bermuhammadiyah yaitu pengajian rutin Jumat Legi dan pengajian triwulan Ahad pon setiap tiga bulan sekali yang diperkirakan sekitar 1000 jamaah.” Harapannya semoga Muhammadiyah semakin besar dan berkembang sehingga kemanfaatan semakin dirasakan masyarakat” harap Muhajir. Dalam tausiyahnya Ustadz Surahmat An Nashih,SAg,MSi yang juga sebagai ketua PCM Mantrijeron, kota Yogyakarta memberikan pengertian tentang masuknya bulan Ramadhan adalah dimulai adalah terbenamnya matahari di ufuk barat hari terakhir bulan Sya’ban. Karena penggalan Islam mengikuti peredaran bulan , maka pergantian hari dimulai dengan matahari tenggelam diufuk barat“Berbeda dengan penanggalanb Masehi yang mengikuti peredaran matahari, maka perpindahan hari pada penanggalan Masehi pada jam 12.00” jelas Ustadz Surahmat. Sebagai dalil untuk melakukan ibadah puasa menurut Ustadz Surahmat termaktub dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah 183 yang artinya Hai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa“Menurut ayat tersebut bahwahanya orang beriman yang diperintah berpuasa dengan tujuan menjadi orang yang bertaqwa” Sedangkan dalam SurahAl Baqarah 186 yang artinya Dan apabila hamba hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan borang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada Ku agar mereka memperoleh kebenaran. “Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa keberadaan Allah dengan hambanya sangat dekat.” Ketika orang dalam kondisi keimanan menurun dapat diartikan bahwa orang tersebut sedang jauh dengan Allah” terang ustadz Surahmat. Adapun ciri orang yang deket dengan Allah orang tersebut selalu bersabar dan selalu bersyukur.Adapun orang yang jauh dengan Allah kehidupannya selalu gelisah.“Salah satu cara untuk menjaga kedekatan dengan Allah dengan ngijabahi Allah yaitu meningkatkan keimanan dengan menjalankan semua perintah Allah serta menjauhi semua yang dilarang” pungkas nya. Reportase Kusnadi KIM Berbah Editor Arief HArtanto MPI PDM SLeman