INJURY TIME

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 9)Tiga hari sebelum hari H, tepatnya di Hari Ahad, Kang Darojad memberi undangan. Mengumpulkan perwakilan kordes dan Tim IT se TPC di Sleman Barat. Tempatnya di SMK Muhammadiyah 1 Moyudan. Saya mengutus 9 orang perwakilan tim IT dan kordes ke acara itu. Saya sendiri tidak bisa hadir. Pada waktu yang sama, ada undangan ke Aula PWM DIY. Saya membersamai Ketua PCM Minggir. Acara penerimaan hadiah pemenang Stand terbaik di ajang MJE 3. Dimana, PCM Minggir dinobatkan sebagai juara 2 Stand terbaik tingkat DIY. Acara di Moyudan itu khusus tentang bimtek IT. Terutama terkait dengan strategi penggunaan aplikasi Relawan Syauqi ketika nanti akan digunakan di hari H. Saya bisa membayangkan betapa pentingnya penguasaan aplkasi Relawan Syauqi itu. “Mas, bagaimana sebetulnya strategi penggunaan aplikasi Relawan Syauqi tersebut ?”, tanya saya ke Mas Fathan, salah seorang kordes dan sekaligus pakar IT di PCM Minggir. Mas Fathan menerangkan dengan rinci dan runtut. Alhamdulillah, saya sedikit lega. Paling tidak, tentang aplikasi Relawan Syauqi kita sudah bisa kuasai. Sehari sebelumnya, saya dapat undangan ke PDM Sleman. Mengambil dana amunisi untuk saksi Syauqi. Alhamdulillah. 50 % amunisi untuk saksi sudah di tangan. “Bagaimana dengan sisanya yang 50% lagi ?”, batin saya. Pak Ketua TPC SQ lalu berinisiatif. Kami maraton. Setelah dari PWM DIY, maka diundanglah semua ketua PRM, ketua PCA, perwakilan RRA, kordes dan relawan. Membalas hal yang sangat penting. Yakni : mencari solusi mendapatkan sisa 50% lagi dana untuk saksi. Pun, bagaimana menyiapkan konsumsi ketika hari H serta mendistribusikannya sampai ke saksi di semua TPS. Sekakigus juga konsumsi untuk petugas yang berjaga di Posko Ngloji. Alhamdulillah, rapat koordinasi itu menghasilkan point point yang sangat positif. Nampaknya, semuanya sudah terkondisi dengan baik. Hari terus berganti. Tibalah saat hari H – 1. Entah mengapa. Semakin mendekati hari H, saya masih saja khawatir. Padahal, sepertinya, semuanya sudah “in line’. Bergerak senada seirama. Berjalan searah dan segaris. Formasi komplit. Pekerjaan sudah terbagi dan terdelegasikan dengan cukup matang. Satu lagi, sayapun sudah bisa menguasai aplikasi Relawan Syauqi itu. Sepertinya masih ada satu hal yang mengganjal. Tapi entah apa ? Ketika itu, kami sekeluarga baru saja “nderekke” Budhe nya anak anak. Mengantar ke Stasiun Tugu. Budhe nya anak anak “nglegakke” berkunjung ke rumah Jogja. Sekalian ngantar Fadhli, anak mbarep saya, mudik ke Jogja. Ia mudik sekalian mau nyoblos. Di sela perjalanan pulang, tiba tiba HP saya bergetar. Ada WA masuk. “Assalamualaikum wrwb. Pak Dwi, nyuwun pangapunten sanget. Niki kula badhe mundur saking saksi Syauqi nggih Pak ?”, isi WA nya. “Wa alaikum slm wrwb. O nggih pak. Niki sinten nggih ?”, tanya saya. “Kula Pak Fauzan. Saksi TPS 07. Sembuhan Kudul. Nyuwun ngapunten estu nggih Pak. Niki ndilalah omten acara mendadak sing mboten saget diwakilkan”, jelasnya. Saya seperti tersentak. “Mungkin inilah jawaban kegelisahan saya”, saya sedikit berbisik. Rupanya, Mas Antok mengerti dengan perubahan saya. Sambil pegang kemudi, ia bertanya : “Ana apa e Cak ?”. “Wah iki lho. Ana saksi sing tiba tiba mundur. Padahal ming kari sedina iki je”, kata saya. “Sapa sing mundur ?”, tanyanya. “Pak Fauzan. TPS 07. Sembuhkan Kidul”. Suasana hening. Tapi tidak lama kemudian, “Ngene wae. Anak lanang kuwi dikon ngganteni dadi saksi. Piye ? Eh, Fadhli, kamu mau jadi saksi kah ?”, tanya Mas Antok. “Saksi apa, om ?”, jawab Fadhli. “Saksi DPD Syauqi. Kamu cuma duduk dan memantau di TPS saja. Lumayan dapat uang transport. Akhirnya, Fadhlipun bersedia. Bimtek pun dilakukan di dalam mobil. Yang membimtek : ibunya. Sampai di rumah, saya sengaja memberi info lewat Group Saksi SQ Minggir. Saya sebutkan bahwa uang transport Saksi Sauqi akan dicairkan besok. Setelah saksi menyerahkan berkas C1 Hasil suara DPD Syauqi. Tiba – tiba, Group WA itu langsung ramai. Banjir komentar. Saya sempat membaca beberapa komentar. “Alhamdulillah. Terima kasih pak”, tulis seorang saksi. Tapi, ada juga yang berkomentar bernada unik. “Wah, seandainya separoh bisa cair malam ini kan lumayan. Bisa untuk nyicil kebutuhan lain lain”, katanya. Pun, ada juga komentar lain. Yang senada. Setelah membaca beberapa komentar, HP saya letakkan. Saya mengalihkan perhatian ke lain aktivitas. Selama hampir satu jam saya mencuci tumpukan pakaian menggunung. Yang sudah beberapa hari tertunda. Rupanya, selama saya tinggal, suasana di group “sempat menghangat”. Beberapa komentar tidak sempat saya baca. Rupanya beberapa chat yang “hangat” itu sudah dihapus. Ada dua komentar yang mendominasi. Salah satunya komentar Mas Yoga dan salah seorang saksi. Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang njapri saya : “Nyuwun sewu Mas Dwi. Wah, niki wau group e rada panas Pak. Nanging, sak niki sampun adem kok”, “Wah nggih e. Niki wau kula tinggal umbah umbah. Jebul kathah komentar sing mpun dihapus. Onten napa e Mas ?”, “Mboten onten napa napa kok Mas. Sing jelas niki wau mpun adem”, jelasnya. “O nggih. Alhamdulillah”, sambung saya. Tiba-tiba, ia melanjutkan komentar : “Mas, nyuwun sewu. Mas Yoga itu di Tim SQ posisine dados napa nggih ?” Saya sempat tercekat beberapa saat. Tapi kemudian : “Mas Yoga itu relawan senior”, tegss saya. Akhirnya, kegelisahan saya terjawab sudah. Justru di saat saat akhir menjelang hari H. Saat “injury time” seringkali menjadi masa masa mendebarkan.(*) Minggir, 23 Feb. 2024.Bada Maghrib, Uwik DS.

Loading

FORMASI KOMPLIT

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 8) Satu hari setelah bimtek di SMP Muhammadiyah 1 Minggir, saya sengaja ingin menjajagi seberapa jauh pemahaman para saksi terhadap bimtek tersebut. Saya lalu menanyakannya lewat group saksi SQ Minggir. “Bapak Ibu, Mas Mbak saksi SQ, bagaimana apakah sudah paham mengenai tugas dan peran saksi SQ besok itu ?”. “Wah, belum e Pak !”, jawab salah seorang Ibu. “Saya kemarin tidak ikut bimtek pak. Saya masih masuk kerja”, sela seorang Mbak. “Pak, kapan ada bimtek lagi ? Saya mau ikut!”, tanya seorang Bapak. Bagi saya, cukup sudah keterangan beberapa saksi tersebut. Tambahan lagi, masih ada saksi yang memang pada bimtek pertama tidak bisa hadir. Oleh karena bersamaan ikut acara Hari Aisyiyah di UMY. Setelah berkoordinasi dengan tim TPC, maka kami putuskan untuk mengadakan bimtek susulan. Acara bimtek kedua bisa terlaksana di kediaman salah seorang kordes. Acara berjalan lancar. Dihadiri oleh Mas Afif dan Mas EnKa dari TPD SQ. Setelah bimtek kedua, saya mencoba untuk melakukan kros cek di daftar hadir bimtek. Saya menemukan beberapa fakta. Ternyata, masih ada sekitar belasan saksi yang belum mengikuti bimtek. Baik bimtek pertama maupun kedua. Ini terus terang membuat saya khawatir. Akhirnya, kami memutuskan untuk melakukan bimtek pungkasan. Alias bimtek terakhir. Tempat di Wisma Ngloji. Waktunya : 2 hari sebelum hari H. Acaranya : selain pemantapan terakhir, juga penyerahan surat tugas dari TPW Syauqi untuk para saksi SQ. Acara tersebut begitu penting bagi kami. Pun bagi saksi dan juga bagi PCM dan PCA Minggir. Oleh karena itu, acara bimtek terakhir itu kami bagi menjadi 3 sesi. Sesi 1 (08.00 – 09.00) : rakor bersama antara kordes, PCM, PCA dan relawan. Sesi 2 (09.00 – 11.00), bimtek IT saksi Sendangarum, Sendangsari dan Sendangrejo. Sesi 3 (13.00 – 15.00), bimtek IT saksi Sendangagung dan Sendangmulyo. Ada satu hal yang membuat saya dag dig dug. Jujur, sampai titik terakhir, saya sebetulnya belum bisa menggunakan aplikasi Relawan Sauqi itu. Padahal, target saya adalah sebelum acara bimtek pamungkas, semua saksi harus punya akun sendiri sendiri. Sehingga pada saat bimtek terakhir itu nanti, semua saksi sudah bisa mengisi data data dan mengirimkan foto foto, seolah olah adalah data dan foto perolehan suara Syauqi. Beberapa saat, saya memutar otak. Akhirnya ketemu. Saya harus minta bantuan anak muda yang paham IT. Maka, malam harinya, saya meminta salah seorang saksi Syauqi untuk ke rumah saya. Namanya Nadya. Siswa kelas 3 SMAN Seyegan. Saya minta dia untuk mendaftarkan akunnya para saksi itu. Nadya datang bersama seorang cowok kecil. Yang ternyata adalah adiknya. Siswa kelas 3 SMPN 1 Minggir. Cowok kecil itu namanya Azmi Adil. Di tangan mereka berdua, akhirnya semua akun saksi bisa didaftarkan. Tiba – tiba, sebuah ide muncul dari otak liar saya. “Kenapa tidak sekalian saja kakak beradik itu saya jadikan tim IT. Toh mereka sudah teruji ?”, batin saya. Kedua anak itu saya jadikan tim IT di Sendangagung. Mendukung tugas Mbak Atiin sebagai kordes di sana. Belakangan, akhirnya saya putuskan juga tim IT untuk yang lain. Untuk Sendangsari, saya mendapatkan Mbak Hilma Tsani sebagai tim IT. Mendukung Mbak Nur Faizun sebagai kordes. Sendangrejo, saya mendapatkan Mas Ali Akbar sebagai tim IT. Yang nanti akan bertandem dengan Mas Nur Sahid sebagai kordes. Sendangarum, saya mendapatkan Mas Fajarudin sebagai tim IT. Tandem dengan Mas Irfan Nugroho sebagai kordes. Dan terakhir, saya dan anak saya, Raihan menjadi tim IT Sendangmulyo. Yang nanti akan bahu membahu dengan Mas Fathan sebagai kordes. Alhamdulillah, akhirnya saya telah mendapatkan formasi Tim TPC SQ yang komplit. Tinggal mengujinya di hari ketika bimtek pamungkas. Dan, hari ketika bimtek terakhir itupun datang. Saya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran. Perkiraan saya meleset. Acara molor lebih satu jam. Padahal, Mas Afif dari Tim IT TPD sudah on time. Datang sebelum jam 08.00. Padahal, Mas Afif pada hari itu juga, jam 09.00 harus memberikan bimtek di Godean. Kepadanya, saya sampaikan permintaan maaf sebesar besarnya. Sudah mengurangi jatah waktunya untuk teman teman di TPC Godean. Kekhawatiran saya bertambah lagi. Ternyata pada acara sesi ke 3, tidak ada tenaga tim IT yang muncul. Semuanya sudah pulang. Tinggal saya dan Nadya. Akhirnya, dengan mengerahkan segenap kemampuan, sayalah yang menyampaikan bimtek IT untuk saksi Sendangagung dan Sendangmulyo. Tentu, dengan baju yang basah kuyub. Gemrobyos peluh dan keringat. Lha apa tumon, gak paham IT kok ngasih bimtek IT. Untung ada mbak Nadya. Yang bisa sedikit membantu. Mengurangi rasa malu saya.(*) Minggir, 23 Feb. 2024.Bada Jumatan. Uwik DS.

Loading

KORDES

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 7)Akhirnya, sayapun harus mengulangi pekerjaan. Yakni meminta saksi Syauqi untuk melengkapi data NIK dan sekaligus alamatnya. “Lhoh kok dimintai data lagi Pak. Tempo hari kan sudah ?”, bantah salah seorang saksi. ‘Oh ya. Memang sudah. Tapi ini ada yang kurang. NIK nya belum ada”, jelas saya. “Kalau tidak ada NIK nya, nnti njenengan gak bisa dibuatkan akun. Kalau gak ada akun, njenegan nanti tidak bisa mengisi aplikasi relawan Syauqi”, terang saya. “O nggih pak. Siap. Segera saya kirim foto KTP saya saja sekalian”, jawabnya. Awalnya, saya japri satu per satu. Tapi kemudian saya ingat pesan Mas EnKa. Bahwa di struktur tim pemenangan Cabang itu ada yang namanya kordes (koordinator desa). “Itu bisa dimintai bantuan”, jelasnya. Maka, saya jadi ingat kordes. Tapi, saya juga bingung. Kira kira siapa yang patut dan layak menyandang predikat kordes itu. Tentu juga nanti akan terlibat lebih jauh dalam lanjutan rangkaian pengamanan suara Syauqi ini ? Maka, saya putuskan :Kordes Sendangrejo : Pak Agus SantosaKordes Sendangarum : Pak SatidjoKordes Sendangsari : Pak WagiyoKordes Sendangmulyo : Pak Nur HidayatKordes Sendangagung : Pak Sardi Tapi, belakangan, saya malah tidak enak hati. “Mosok saya nanti arep nyuruh nyuruh bapak bapak senior PRM itu. Apa nggak kuwalat saya nanti ?”, pikir saya. He he he. Saya tidak kurang akal. Supaya tidak “kuwalat”, maka saya carikan tenaga muda yang lebih lincah untuk mendampingi bapak bapak senior itu. Maka, saya angkat Mas Roman Taufan sebagai kordes Sendangrejo. Mas Muhammad Afif, kordes Sendangarum, Mbak Atiin Nur Halimah, kordes Sendangagung. Mbak Nur Faizun, kordes Sendangsari. Dan Mas Fathan, sebagai kordes Sendangmulyo. Belakangan, posisi kordes Sendangarum dan Sendangrejo harus dikoreksi. Karena, saksi Syauqi tidak boleh merangkap jadi kordes. Dikawatirkan nanti akan kewalahan. Mas Roman Taufan adalah saksi TPS 30 di Sendangrejo, merangkap kordes Sendangrejo. Sedangkan Muhammad Afif adakah saksi di TPS 13 di Sendangarum, juga merangkap kordes Sendangarum. Maka, Mas Roman Taufan dicabut. Dan digantikan oleh Mas Nur Sahid. Sedangkan Mas Muhammad ‘Afif digantikan Mas Irfan Nugroho. Sendangsari, saya carikan kordes baru. Yakni : Mbak Nur Faizun. Sehingga lengkaplah sudah, posisi kordes di Minggir, yakni : Sendangrejo :Bp. Agus Santoso*Nur Sahid Sendangarum :Bp. Satidjo*Irfan Nugroho Sendangsari :Bp. Wagiyo*Nur Faizun Sendangagung :Bp. Sardi*Atiin Nur Halimah Sendangmulyo :Bp. Nur Hidayat*Fathan Dalam prakteknya, ternyata ada banyak kejadian unik dan menarik, selama proses revisi nama saksi dan NIK nya tersebut. Berikut adalah beberapa contoh : “Assalammu ‘alaikum wrwb. Pak Dwi”, tanya seorang saksi. “Wa alaikum slm wrwb”. “Pak, yang di group saksi SQ Minggir itu nama saya keliru pak”, sambungnya. “Yang mana Mbak ?. Saya mendapatkan datanya dari kordes Mbak” kata saya. “Sugianti, Pak”, katanya. “Kalau gak salah kemarin sudah ada revisi dari pak Kordes. Jadinya Sugiyanti”, jelas saya. “Justru itu Pak. Sebetulnya yang awal sudah betul. Terus direvisi oleh kordes. Malah jadi salah”, “Baik. Baiklah. Jadi, yang benar yang mana ini ?”, tanya saya. “Sugianti. Gak pakai “y” pak !”. Ada yang memberi komentar kepada saya, begini : “Nyuwun pangapunten Pak Dwi, menawi nama kula dipun ralat kados pundi pak? Kirang apostrof. kedahipun : Muhammad ‘Afif”, “Oh ya Maaf. Nanti segera saya ralat Mas ‘Afif”, balas saya. “Matur nuwun Pak Dwi”, sambungnya. Ada pula yang protes karena gelarnya keliru. Ada yang alamatnya keliru. Dan lain lain. Setelah saya cek satu persatu. Ternyata yang paling banyak belum ada NIK nya adalah saksi dari Sendangrejo. Anda pasti paham. Siapa nama kordesnya ?😃😃👃👃(*) Minggir, 22 Feb. 2024Uwik DS.

Loading

BANYAK BOLONG

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 6)Saya terus memonitor group TPD DPD SQ. Bahkan, bila mana diperlukan, saya sesekali mengubungi tim TPD SQ. Kalau tidak ke Mas EnKa, ya Kang Darojad. Setelah dirasa sudah cukup, maka tahap berikutnya, kami merencanakan acara Bimtek Saksi SQ. Jadwal sudah kami tetapkan. Yakni, Hari Ahad, 28 Januari 2024. Bertempat di SMP Muhammadiyah 1 Minggir. Alhamdulillah, acaranya berlangsung antusias. Jumlah saksi yang datang lebih dari 75%. Ada sebagian saksi yang tidak datang. Itupun karena mereka mengikuti acara Hari Aisyiyah di Sportorium UMY. Yang waktunya bersamaan. Nampak juga beberapa person dari TPD SQ. Ada Kang Darojad, Mas EnKa, mas Azis dan Mas Afif (dua nama terakhir adalah yang mewakili Tim IT TPD). Awalnya saya pede. Tapi akhirnya berubah jadi sedikit kecewa. Perkiraan saya meleset. Ternyata, masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Itu karena keterbatasan saya mengenai teknis dan tahapan dalam urusan persiapan proses pemungutan suara itu. Saya sama sekali buta tentang hal itu. Bimtek Saksi Syauqi dibagi 2 (dua) tahapan.Tahap pertama, bimbingan dan pemantapan tentang fungsi dan tugas saksi Syauqi. Tahap kedua, bimbingan teknis IT (bimtek IT). Yakni bimbingan kepada saksi terkait dengan cara dan penggunaan Aplikasi Relawan Syauqi. Yang fokusnya adalah cara pengisian dan pengamanan jumlah suara Syauqi melalui aplikasi yang tersambung ke web. Di saat awal, acara tersebut berjalan biasa saja. Namun ketika memasuki sesi bimtek IT, barulah suasana jadi heboh. Muncullah berbagai komentar dan pertanyaan dari para saksi. Berikut hanya sebagian kecil saja komentarnya : “Mas, HP kula kok mboten saget ?”. “Mas, nggen kula kok ming mubeng mubeng terus ?” “Mas, ngajarinnya jangan cepet cepet. Diulangi dari awal Mas ?”. Dan ada beberapa lagi. Di sisi lain, ketika bimtek IT berlangsung, barulah ketahuan bolongnya. “Pertama :”, yang jelas, setiap saksi harus punya dan membawa HP yang mendukung. Pun, sudah terisi kuota yang cukup. Nyatanya, ketika bimtek berlangsung, ada banyak HP yang kuotanya tidak mencukupi. Ada juga HP yang fasilitasnya terbatas Bahkan ada juga saksi yang tidak membawa HP. Saya mendekati seorang bapak. Yang sedari tadi nampak diam. Atau malah bingung. Kebetulan saya kenal dengannya. “Pripun Pak Sanijo ? Kok mendel mawon ? HP ne pundi ?”, tanya saya. “HP kula rusak Pak Dwi. Tapi mangkih pas Hari H, kula ajeng tumbas HP”, katanya. “Lha njenengan paham dereng kalih bimtek e niki wau ?”, sambung saya. “Nggih dereng pak. Tapi tenang mawon Pak Dwi. Mangkih nek mpun gadhah HP, kula yakin. Ngoten niku saget kula pelajari”, jelas Pak Sanijo. “Tenane Pak ?”, balas saya. “Lho estu Pak. Tenang mawon”, katanya. “O nggih. Nggih …”. “Kedua :”, setelah memastikan kelengkapan HP, tahap berikutnya, saksi harus bisa menginstal “aplikasi Relawan Syauqi”. Lalu, diajari cara menggunakannya. Untuk bisa menggunakan aplikasi ini, saksi harus punya nomer akun sendiri sendiri. Data dari setiap akun akan menerangkan nama saksi, nomer TPS dan alamat TPS di mana saksi akan bertugas. Ternyata, untuk mendapatkan atau mendaftarkan nomer akun, maka data dari masing masing saksi haruslah lengkap. Nama lengkap, NIK dan alamat domisili saksi. Di sinilah saya baru paham. Kenapa waktu itu mas EnKa bilang : data saksinya harus lengkap, termasuk NIK nya sekalian. Saya baru sadar. Data saksi hampir semua tanpa NIK. Bahkan beberapa nama saksi ternyata hanya nama panggilan. “Wah, berarti data saksi belum beres ini. Masih jadi PR”, batin saya. Akhirnya, tim IT TPD memberikan jalan keluar. Proses pengisian aplikasi Relawan Syauqi dengan melalui akunnya koordinator TPC. Salah satunya akun saya. Dan, proses uji coba penggunaan aplikasi Relawan Syauqi mulai dicoba oleh para saksi. Hasilnya : lha wong saya saja, sebagai koordinator juga bingung, apalagi saksi !(*) Klaten, 22 Februari 2024.Di sela sela makan siang. Uwik DS.

Loading

JAWABAN SAKSI

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 5)__ Saya sedikit lega. Paling tidak, target pertama sudah tercapai. Beberapa saat kemudian, Kang Darojat (salah satu punggawa TPD SQ mengirim pesan : “Perwakilan Tim IT TPC SQ yang berada di Sleman Barat supaya merapat ke Sego Welut Godean. Keperluan rapat koordinasi progress perkembangan TPC SQ di wilayah Sleman Barat”. Malam itu, saya mengajak anak saya : Raihan ke Godean. Beberapa TPC juga nampak hadir. Dari Godean, Gamping, Seyegan, Moyudan, Tempel dan Minggir. Selain Kang Darojad, hadir pula Mas EnKa, pak Ari dari TPW dan beberapa orang lagi, yang saya masih belum kenal. Pak Ari dari TPW menegaskan beberapa hal terkait strategi pemenangan. Antara lain pentingnya saksi di TPS, peran Tim IT, kordes dan koordinator TPC SQ. Dari rakor terbatas itu saya juga bisa mengetahui tentang progres masing masing TPC. Alhamdulillah, Minggir termasuk salah satu TPC yang sudah terpenuhi 100% rekruitmen saksi TPS nya. Dari hasil diskusi panjang lebar itu, saya mendapat tambahan keterangan tentang beberapa nama nama petugas dalam struktur pemenangan DPD Syauqi. Di samping “saksi”, ada juga “kordes”, “tim IT”, “admin IT, “koordinator TPC”, “saksi PPK”, dll. Saya berusaha menanyakan apa tugas dan tanggung jawab dari masing masing nama petugas itu. “Langkah pertama : setelah rekruitmen saksi TPS, maka njenengan harus membuatkan Group WA untuk semua saksi TPS tersebut. Ini semata mata untuk memudahkan koordinasi ke depan”, jelas Mas EnKa. Berbekal materi dari Sego Welut Godean itu, saya lalu membuatkan group untuk menampung saksi saksi yang 117 orang itu. Saya harus memastikan bahwa nama nama saksi yang sudah disodorkan, benar benar memang siap dan bersedia menjadi saksi Sauqi. Setelah itupun, saya harus mengelompokkan nama saksi itu ke kelompok rantingnya masing masing. Setelah nama yang bersangkutan memang betul betul bersedia, maka saya segera mendata kelanjutannya. Menuliskannya ke dalam format seperti di bawah ini : Format redaksinya saya buat sangat sederhana, tapi harapannya bisa efektif. Nama : …NIK. : …Alamat : …No TPS : …Alamat TPS : … Ternyata, bukan perkara mudah untuk memastikan kesiapan mereka. Berbekal nomer WA dan namanya, maka nomer nomer itu saya japri satu per satu. Ada kalanya lancar. Ada kalanya direspon dengan semangat. Ada kalanya juga bikin senyum dan ketawa. Di bawah ini sekedar contoh, yang responnya sangat positif.* Saya : “Assalamualaikum wrwb.Mas Roman Taufan, njenengan diusulkan oleh PRM Sendangrejo utk jadi saksi DPD Syauqi Suratno. Bersedia ya Mas?”, Roman : “Wa alaikum salam, nggih Insha Allah Pak. Saya : “Nuwun Mas Roman”.👍🏾👍🏾🙏🏻* Atau yang berikut ini : Saya : “Assalammu’ alaikum wrwb. Mbak Nadia. Saya dapat info dari Sekretaris Cabang. Katanya Mbak Nadia mau jadi saksi Syauqi ?” Nadia : “Ya pak. Boleh ya Pak ?”. Saya : “Sangat boleh !”. Nadia : “Sekalian mau cari pengalaman baru Pak”. Saya : “Wah cocok itu. Pas sekali”.* Namun, ada juga yang responnya seperti di bawah ini : Saya : “Assalammu ‘alaikum wrwb. Mas Yusuf”. Yusuf : “Wa alaikum slm wrwb”. Saya : “Saya dapat info dari ketua PRM. Katanya Mas Yusuf bersedia untuk jadi saksi Syauqi ?”. Yusuf : “Maaf Pak. Syauqi itu apa ya Pak ?”.* Bahkan ada juga jawaban yang modelnya seperti ini : Saya : “Assalammu ‘alaikum wrwb. Mas Suroso”. Suroso : “Wa alaikum slm wrwb. Nggih pak !”, Saya : “Mas, nenengan kula usulke dados Saksi Syauqi nggih ? Kersa mboten ?”. Suroso : “Wah mboten pak. Liyane mawon”, Saya : “Lho… tek na pripun ?”. Suroso : “Kula tak ngarit mawon !”.* Pertanyaan saya :“Kira kira, kalau misalkan Anda direkrut menjadi saksi, jawaban type yang mana, yang Anda akan berikan ?”.(*) Minggir, 21 Februari 2024.Menjelang sore. Uwik DS.

Loading

117 SAKSI

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 4.Berbekal intensnya berkomunikasi dengan Mas EnKa, saya mulai paham bagaimana strategi tim Pemenangan Syauqi. Saya jadi paham. Betapa pentingnya peran saksi pada setiap TPS. Bukan hanya untuk membantu meringankan dan memudahkan salah satu tahap dari sekian tahap dalam rangkaian strategi pemenangan. Melainkan juga dalam rangka untuk memastikan dan mengamankan suara Syauqi. Maka, saya putuskan bahwa target pertama harus terpenuhi. Yakni : mencari 117 nama calon saksi Syauqi. Saya betul betul berharap kepada bapak bapak Ketua PRM se Minggir itu. Yakni : Belakangan, Ketua PRM Sendangmulyo mendelegasikan tugas kepada Pak H. Nur Hidayat. Sedangkan Ketua PRM Sendangarum mengutus Bapak Satidjo, BA sebagai wakilnya. Sementara itu, Pak Ketua PRM Sendangagung mengirimkan data nama nama calon ke Mas Antok Bekelan. Untuk kemudian dikirim ke saya. Sedangkan untuk PRM Sendangsari dan Sendangrejo, terpaksa berjibaku. Gerilya sendiri mencari nama calon saksinya. Ternyata, bukan perkara mudah untuk mencari 117 nama calon saksi itu. Kendala utamanya adalah, pasti calon saksi tersebut akan bertanya : “Ana amplope ora ?”. “Duite pira ?”. “Benar benar sebuah tantangan”, pikir saya. Yang paling awal menyetor nama calon saksi adalah Pak Satidjo. Maklumlah, Sendangarum hanya ada 13 TPS. Saya bisa membayangkan Pak H. Sardi pasti sedikit kesulitan untuk mencari nama calon saksi. Selain luasnya areal, pun karena jumlah TPS nya paling banyak : 33 TPS. Pak Agus Santosa nampak terlalu pede. Beliau mengirimkan datanya diurutan kedua. Salah satu datanya adalah ini : Coba Anda lihat redaksi kalimatnya. Lengkap dan jelas. Cerita dari Pak Wagiyo agak beda. Saya juga bisa membayangkan bagaimana pak Wagiyo merekruit calon saksi. Pastilah ia akan ditanya tentang amplop itu. Beberapa kali, Pak Wagiyo kontak saya. “Wah, iki piye Pak Dwi. Aku dha ditakoni amplope pira e?”, katanya. Sayapun berdiplomasi : “Pokoke mangkih angsal uang transport Pak !’. “Isine pira ?”, sambungnya. “Pokokmen ana !”, jelas saya. Selepas membalas WAnya, saya menunggu respon Pak Wagiyo. Beberapa saat tidak ada balasan. Mudah mudahan Pak Wagiyo paham. Atau malah tambah mumet. Wk wk wk. Dua hari kemudian, Pak Wagiyo kirim data nama saksi. “Itu dua nama untuk saksi TPS pak”, tulisnya. “Oke. Nuwun Pak. Tapi masih kurang 4 nama lho !”, jawab saya. “Cukup itu saja Pak !”, jawabnya. “Maksudnya gimana ?”. “Untuk Sendangsari cukup itu saja namanya. Ini sudah mumet saya”, tambahnya. “Kita mumet sama sama Pak !”, sambung saya. Sebetulnya, saya juga tidak tega. Dalam hati, saya berketetapan, bagaimanapun, untuk Sendangsari, saya harus ikut andil. Sebagai sama sama dari Sendangsari. Saya harus putar otak. Akhirnya ketemu juga. Tiba tiba, saya melihat istri saya yang sedang duduk, selepas Sholat Maghrib. Saya dekati dia. “Sampeyan tak dadekno Saksi Syauqi ya ?”, bujuk saya. Diluar dugaan, ternyata pertanyaannya sama : “Amplope pira ?”, katanya. Saya kaget. Tapi juga malah ketawa. “Lha kok malah ngguyui lho !”, jelasnya. “Aku ngerti arah pertanyaane sampeyan. Wis, pokoke onok amplope. Tak jamin wis”, jelas saya. “Aku gelem. Tapi aku njaluk nang TPS kene. Nek adoh, aku emoh !”, jelasnya. “Wah berat iki. Ya wis. Sampeyan ndik TPS kene wae. TPS 02. Jetis Depok”, sergah saya. Akhirnya, melalui perjalanan berliku, 117 nama calon saksi Syauqi itu sudah ada di tangan saya. Alhamdulillah.(*) Minggir, 20 Feb. 2024. Uwik DS.

Loading

NYICIL AYEM

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 3). Praktis, saya tidak mendapatkan apa apa selama acara Bimtek Saksi di SMK Muhammadiyah 1 Sleman itu. Ups, ada ding. Di sana, saya kenal dengan salah satu tim IT DPD. Namanya : Nur Khoirudin. Lebih dikenal dengan nama : EnK@. Mas EnKa lah yang memasukkan saya dalam group tim TPD DPD SQ Sleman. Suatu saat, lewat Group itu, saya mendapatkan undangan. Untuk mengikuti Bimtek lagi. Acara berlangsung di Aula PDM Sleman. Bimtek yang kedua ini lebih difokuskan ke Bimtek Bagian IT. Dalam undangan disebutkan : harap mengutus 1 tenaga IT yang nanti akan memback up IT di TPC masing masing. Saya mencoba berfikir keras. Siapa kira kira tenaga IT yang bisa dikirim ke Aula PDM Sleman. Saya mencoba mencari sosok yang tepat. Lama berfikir. Belum juga menemukan nama yang tepat. Alternatif terakhir, kalau nanti mentok sudah tidak ada nama, saya harus siap untuk mewakili ke PDM. Kendati kemampuan IT saya jauh dari mencukupi. Otak liar saya masih berputar. Tiba-tiba, terbersit sebuah nama. Orang yang sangat saya kenal. Karena begitu dekatnya dengan saya. Namanya : Raihan Widya Ahmad. Ia adalah anak kedua saya. “Ahh…semoga saja cocok”, batin saya. Setelah saya dekati, akhirnya, ia bersedia. Tapi, ia minta ditemani ke PDM. Karena takut merasa terasing. Maka, kami berdua berangkat ke PDM. Yang menyampaikan bimtek, saya sudah kenal : Mas EnKa. Ternyata, bimteknya sama persis dengan bimtek yang pertama itu. Nampak, Raihan langsung bisa mengikuti bimteknya. Alhamdulillah, “nyicil ayem”. Selepas bimtek kedua, saya lebih intens berkontak dengan Mas EnKa. Lewat Mas EmKalah saya mulai dan mencoba membaca. Apa dan bagaimana strategi pemenangan Tim SQ ini. Suatu saat, Mas EnKa meminta semua koordinator TPC SQ untuk mengirim data saksi Syauqi. Yang akan menjaga semua TPS di masing masing Cabang. Segera saya mencari info : berapa jumlah TPS di Minggir. Ternyata jumlahnya 117 TPS. Jadi, saya butuh 117 orang saksi. “Hmmm, pekerjaan yang tidak ringan ini”, pikir saya. Saya berkoordinasi dengan tim koordinator TPC SQ. Ketua TPC akhirnya memutuskan untuk mengadakan rapat koordinasi. Yang diikuti oleh Tim TPC SQ, perwakilan PCA, ketua PRM, ketua PRA, sekoci Aisyiyah, LazisMu dan beberapa relawan. Dalam kesempatan tersebut, saya menyampaikan progres terkait perkembangan TPD Syauqi di Daerah dan Wilayah. Saya sampaikan bahwa tahap pertama kita harus mencari calon saksi Syauqi untuk berjaga di semua TPS yang ada di Minggir. Pak Ketua TPC langsung merespon. Beliau segera meminta ketua PRM se Minggir untuk mengirimkan sejumlah nama calon saksi, sesuai dengan jumlah TPS di masing masing wilayahnya. Dalam rapat koordinasi tersebut didapati bahwa ternyata Ibu Ibu Aisyiyah juga sudah mulai bergerak. Mereka mulai gerilya ke jamaah masing masing. Tapi, sayangnya gerakan itu masih sporadisBelum terkoordinir. Oleh karena itu, saya meminta kepada Mas Antok agar semua yang hadir pada pertemuan rakor itu untuk dibuatkan group WA tersendiri. “Lho, kan wis tak gawekke group. Kuwi lho, Group Tim TPC DPD SQ Minggir 2024. Njenengan rak ya wis mlebu group kuwi. Mengko, njenengan sisan tak dadekke Admin”, kata Mas Antok. “O ngono ya. Oke. Tak tunggu”, balas saya. Setahap demi setahap, langkah demi langkah, TPC SQ Minggir sudah mulai bisa berkoordinasi. Sampai tahap ini, pekerjaan sudah mulai terasa menantang. Saya menemui beragam temuan. Kondisi di ranting yang satu, berbeda dengan ranting yang lain. Ada ranting yang langsung cepat merespon dan memberi jawaban. Ada pula ranting yang lambat memberi jawaban. Ternyata semua itu tergantung juga dari kondisi ranting masing masing. Ada ranting yang hanya punya 13 TPS. Dan ada pula ranting yang punya 33 TPS. Pelan tapi pasti, TPC SQ Minggir sudah mulai mendapat kiriman nama calon saksi. Namanya dikirim via WA. Formatnya : Nama : nomer WA : no TPS : Alamat TPS. Simple sekali. Yang dari Sendangmulyo, Pak Nur Hidayat, menuliskan nama mana saksi pada secarik kertas. Lalu difoto. Kemudian dikirimkan ke saya melalui WA. Tidak butuh waktu lama, akhirnya semua TPS di Minggir sudah terisi nama calon saksi Syauqi. Alhamdulillah, nyicil ayem.(*) Minggir, 20 Februari 2024.Di sela rintik hujan Uwik DS.

Loading

BANDA NEKAD

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 2) Awalnya, saya babar blas nggak paham. Saya belum pernah sekalipun terlibat dalam urusan kepanitiaan dalam pemilihan umum. Ups, salah ding. Pernah jadi panitia KPPS di TPS 02 di dusun saya, Jetis Depok, Sendangsari, Minggir. Itu sudah lama sekali. Mungkin 10 atau 15 tahun lalu, saya lupa. Sekian tahun kemudian … Bertempat di Masjid Al Umar Parakan Wetan. Ketika itu ada acara Pengukuhan Pengurus dan anggota Majelis PCM Minggir. Selepas acara, bertiga (pak Ngadimin, saya dan Mas Antok), kami ngobrol sambil menunggu selesai totalnya acara. “Ini kita diamanahi pimpinan PDM, untuk segera membentuk TPC (Tim Pemenangan Cabang) DPD Syauqi”, kata pak Ngadimin. “Mangga kita langsung saja pilih dan tentukan”, sambungnya. Akhirnya, langsung ditentukan. TPC Syauqi Minggir, ketuanya : H. Ngadimin, S.Pd. M.Pd. Sekretaris : M. Sugiyanto dan Bendahara : Dwi Sumartono. Maka, dikirimkanlah ketiga nama tersebut ke TPD Sleman. Di atas namakan koordinator TPC SQ Minggir. Belakangan, terjadi pergeseran tugas. Bendahara dipegang Mas Antok. Dan saya, lebih fokus ke administrasi dan kesekretariatan. Beberapa pekan kemudian, TPD meminta perwakilan TPC SQ Minggir untuk mengirim 3 nama sebagai wakil untuk dijadikan saksi SQ. Mas Antok mengirimkan 3 nama : Saya, Fajarudin dan Jemingin. Beberapa hari kemudian, ada undangan dari TPD untuk mengikuti Bimtek Saksi. Bertempat di SMK Muhammadiyah 1 Sleman. Yang bisa hadir : hanya saya seorang. Fajarudin tidak bisa datang. Bersamaan ada kegiatan. Jemingin juga ada kegiatan. Mantenan. Di undangan dituliskan : sebaiknya saksi membawa laptop. Masalahnya, saya gak punya lap top. Pun, waktu itu HP saya juga rusak. Lengkaplah sudah. Apakah saya mundur ? No way ! Pantang ! Bonek !. Saya pinjam HP nya istri saya. Sampai di lokasi, saya clingak ckinguk. Sama sekali tak ada yang saya kenal. Pas giliran bimtek, semua mulai mengeluarkan bawaannya. Lap top dan HP. Ternyata, HP yang saya bawa memorinya terbatas. Tidak bisa untuk menginstal aplikasi Relawan Syauqi. Akhirnya, ya sudah. Saya hanya duduk manis. Sambil bolak balik menyeruput kopi panas. Habis segelas, tambah lagi. Demikian seterusnya. Sampai selesai acara. Esok harinya, ketika ketemu mas Antok. “Piye hasile bimtek wingi ?”, tanyanya. “Panas tur legi. Mantab”, jawab saya. ” Lhah ! …. Apane sing legi ?”, sergahnya. “Kopine !” “Piye ta ?” “Lha bimteknya pakai HP. Atau lap top. HP ku rusak. HP ne bojoku memorine ora mencukupi. Dadi ya ming meneng wae aku “, jelas saya. Salahe milih aku. Wong jelas aku ora nduwe HP. Malah dikon melu Bimtek”. Ancen bonek tenan arek iku. Minggir, 19 Februari 2024. pukul 12.06 WIB. Bertepatan dg selesainya Rekap Suara di Aula Kecamatan Minggir. (Uwik DS)

Loading

MARWAH

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 1)Seorang saksi TPS tiba-tiba mengangkat tangan. Dia, seorang ibu muda. “Pak Dwi. Dari penjelasan njenengan tadi, berarti kami juga harus ikut kampanye nggih ?, tanyanya. “Ya betul Ibu. Nanti semua saksi Syauqi akan dibekali dengan 1 berkas DPT (Data Pemilih Tetap) sesuai TPS nya masing masing. Dari DPT itu nanti Njenengan bisa membacanya. Memilih dan kemudian memilah. Kira kira mana yang berpotensi untuk memilih Syauqi”, jelas saya. “Golek tiyang pinten niku Pak ?”, tanya seorang Bapak. “Minggir niku angsal target 5.300 suara. Dibagi 117 TPS. Dados rata rata per TPS niku = 45 suara. Dibulatkan 50 suara”, sambung saya. ” Waduh. Abot niku Pak Dwi !”, sergah Bapak tadi. “Lha kok saget abot Pak ?”, tanya saya. “Lha wong kampunge kula niku kathah sing mboten kenal Muhammadiyah je”, jelasnya. “Tenang mawon Pak. Sami nggen kula. Kampunge kula niku 90 % penduduke Katholik. Tapi, kula yakin Insha Allah angsal. Bismillah”, jelas saya. “Tapi Pak, biasanya orang orang itu akan bertanya : ana amplope ora ? Duwite pira ?”, sergah Ibu yang pertama tadi. “Nggih leres niku Pak”, tambah yang lain. Untuk beberapa saat, saya sempat tercekat. Tapi kemudian, “Sampai sejauh ini, kami di TPC SQ Minggir belum bisa menjawab hal tersebut nggih Bu”, jelas saya. Saya lalu mempersilakan Bapak Ketua TPC SQ Minggir untuk memberikan penjelasan. Pak H. Ngadimin dengan lugas lalu berkata : “Ibu bapak, Mbak dan Mas saksi Syauqi semua. Bismillah, kita niatkan semua ini sebagai ibadah karena Allah SWT. Dan ini adalah ikhtiar kita sebagai warga persyarikatan Muhammadiyah. Ini adalah jihad Muhammadiyah”, terangnya. “Kita ini mengajak untuk mencari wakil kita. Wakil dari Muhammadiyah untuk duduk di DPD RI. Dan kita tidak pakai amplop ataupun duit”, jelas pak Ketua. “Bilang saja terus terang. Kalau ada yang tanya : endi amplope ? Atau, pira duite ?. Jawab saja : ora ana amplope. Ora ana duite”, sambungnya. “Saya kembali mengingatkan. Bahwa amplop itu adalah termasuk suap. Dalam ajaran agama kita, yang menyuap dan yang menerima suap nanti sama sama masuk neraka”, pungkasnya. “Begitu nggih Bapak Ibu, Mas Mbak ?” tanya pak ketua. Sejenak ruangan hening. Saya menangkap ada nuansa ragu di antara mereka. “Bapak Ibu, Mas Mbak. Anda semua gak perlu bimbang. Njenengan sedaya pede mawon”, jelas saya. “Kula yakin. Panjenengan sedaya niki rak nggih asline Minggir ta nggih ?. Lahir, alit, ageng, ngantos sak niki rak nggih teng Minggir ta. Dados panjenengan sedaya tamtu sampun kenal kalih tangga kiwa tengene. Njenengan mestine saget metani si A, si B, si C dan seterusnya”, jelas saya. “Lha nanti kalau tidak ada amplopnya, terus senjata kita apa Pak Dwi ?”, tanya seorang pemudi. “Begini. “Pertama”, Anda semua nanti akan kami beri berkas DPT, sesuai TPS masing masing. “Kedua”, Anda akan disangoni Alat Peraga Kampanye (APK). Bentuknya : kalender, stiker, fotonya Pak Syauqi dan ada beberapa yang lain. Nanti APK itu bisa Anda bawa. Lalu kasihkan ke orang orang yang dijadikan target”, jelas saya. “APK itu boleh Anda bawa. Stok APK sangat cukup untuk kebutuhan Anda semua. Jadi Anda tidak usah ragu nggih Bapak Ibu, Mas Mbak ?”, tanya saya. Tiba tiba, seorang Ibu perwakilan dari Aisyiyah mengangkat tangan. ” Insha Allah nanti sekoci Aisyiah juga akan ambil peran Pak Dwi. Dan perlu diketahui dari sekian banyak saksi Syauqi ini beberapa adalah juga Tim Sekoci Aisyiyah. Jadi nanti kita akan bantu untuk kampanye ke jamaah kita”, jelasnya. “Matur nuwun sanget Ibu. Atas bantuan dan dukungannya”, jelas saya.* Itu adalah gambaran suasana sebelum bimtek saksi Syauqi di Wisma Ngloji, sepekan sebelum Pemilu. Alhamdulillah. Di saat saat yang genting, selalu saja ada jalan keluar. Di banyak kesempatan, peran Ibu memang tidak bisa dianggap kecil. Barangkali, perannya tidak nampak. Tapi keberadaanya sungguh dirasakan. Inilah ikhtiar kita bersama. Untuk menunjukkan Marwah Muhammadiyah.(*) Minggir, 18 Februari 2024.Uwik DS.

Loading

Aisyiyah Minggir, Membangun Organisasi Perempuan Mewujudkan Risalah Perempuan Berkemajuan Melalui Pelatihan Administrasi

Minggir, Pdmsleman.Or.Id Organisasi Aisyiyah, yang dikenal sebagai sebuah wadah perempuan berkemajuan, menegaskan tekadnya untuk menggerakkan organisasi melalui berbagai kegiatan sesuai dengan hasil musyawarah program Rapat kerja. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah dengan menggelar Pelatihan Administrasi Organisasi untuk Mewujudkan Risalah Perempuan Berkemajuan pada hari Jumat, 28 Rajab 1445 H, bertepatan dengan 9 Februari 2024, di SMP Muhammadiyah 2 Minggir. Hj. Ras Haryani, dalam laporan panitia, menyatakan bahwa “ acara ini diikuti oleh 52 anggota pimpinan dari cabang dan ranting. Tujuan dari pelatihan ini adalah agar anggota memahami tata aturan yang berlaku dalam organisasi Aisyiyah dan mengimplementasikannya dalam kegiatan organisasi”. Selanjutnya, Hj. Hanik Rosyada M.Pd Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Sleman, memberikan motivasi kepada peserta bahwa anggota pimpinan Aisyiyah memiliki tugas dan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan melalui laporan. “ Mari kira bersama-sama membangun frekuensi dan persepsi yang sama dalam menjalankan administrasi organisasi sebagai salah satu indikator dari keteraturan organisasi”. Atika Nalattamma, wakil sekretaris Aisyiyah Sleman, menjelaskan secara rinci materi Kesekretariatan, termasuk tata aturan persuratan, logo, stempel, pengkodean, dan pengarsipan. Sementara itu, Dwi Putriyanti, Bendahara Aisyiyah Sleman, memaparkan materi Keuangan dengan cermat, termasuk contoh lembar keuangan dan cara membukukan serta melaporkan keuangan harian, bulanan, dan tahunan. Peserta pelatihan menunjukkan antusiasme yang tinggi, sehingga dialog dan interaksi berlangsung aktif hingga menjelang waktu Dhuhur. Kontributor  Hj. Hanik R M.Pd, PDA Sleman  Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading