![]()
Author Archives: Arief Hartanto
Peran MDMC DIY dan FORPAM Sleman Siapkan Dukungan Kesehatan dan Ambulans Antisipasi Pergerakan Massa 1 September 2025
Yogyakarta, Pdmsleman.or.Id Menyambut aksi damai yang direncanakan berlangsung pada tanggal 1 September 2025, berbagai pihak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan koordinasi intensif untuk mengantisipasi pergerakan massa. Salah satunya adalah rapat posko dukungan kesehatan yang digelar di kantor Dinas Kesehatan DIY pada 31 Agustus 2025, pukul 13.00 hingga 16.00 WIB. Dalam rapat tersebut, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC/ Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) DIY) diminta menyiapkan tim kesehatan yang siap siaga selama aksi berlangsung. Menurut Fauzi salah satu pengurus MDMC menyampaikan dalam rapat tersebut, “MDMC diminta menyiapkan tim kesehatan dengan peran strategis, termasuk rumah sakit rujukan di wilayah kota, Bantul, dan Sleman, serta tim evakuasi dan EMT (Emergency Medical Team) yang lengkap dengan obat-obatan,” ujarnya. Sedangkan Rumah sakit rujukan yang disiapkan meliputi PKU Kota, PKU Gamping, PKU Bantul, dan PKU Sleman. Selain itu, MDMC juga menyiapkan 10 armada ambulans dan 10 personil pengendali operasi posko induk yang berlokasi di Kepatihan. Pos kesehatan akan didirikan di tiga titik strategis, yaitu Hotel Garuda, Hotel Ibis, dan Kepatihan. Apel petugas dijadwalkan pukul 08.00 WIB di Kepatihan. Seluruh kegiatan posko dukungan ini berada di bawah koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY dan Dinkes DIY. Untuk mengoptimalkan koordinasi, Demit SAR Muh selaku koordinator tim MDMC ditunjuk secara resmi. Selain itu, rapat koordinasi juga melibatkan FORPAM Sleman, Ambulancemu, dan MPKU. FORPAM Sleman bertanggung jawab menyiapkan personil dan armada ambulans untuk standby di Polresta Sleman dan sebagai backup di Kepatihan serta DPRD DIY. “Penanggung jawab FORPAM Sleman adalah Darojat NA, dengan Sigit Y sebagai koordinator lapangan,” jelas Komandan FORPAM Sleman, H. Darojat. FORPAM Sleman menginstruksikan seluruh titik layanan (TL) ambulans di Sleman untuk mengikuti arahan dari MDMC PWM DIY dan berkumpul di Puskesmas Sleman bersama Dinkes Sleman. Apel bersama akan dilaksanakan pukul 07.00 WIB di Masjid Gede Sleman. Jalur komunikasi pergerakan TL akan dikoordinasikan oleh koordinator lapangan. Dalam edaran resmi yang diterima redaksi, FORPAM Sleman menegaskan lima hal mendasar yang harus dipatuhi oleh seluruh petugas ambulans selama bertugas, yaitu Memakai dan membawa identitas diri seperti KTP, SIM, serta seragam FORPAM biru atau identitas TL, mengikuti arahan dari MDMC PWM, posko, kepolisian, dan TNI, menggunakan alat pelindung diri (APD) standar, termasuk helm, sepatu, celana panjang non-jeans, baju panjang, masker, kacamata, dan sarung tangan, membawa logistik dan perbekalan pribadi yang cukup serta memastikan kondisi armada dalam keadaan prima dan siap bertugas. Sigit Gita, korlap Ambulanmu Sleman, menambahkan, “Kami berkomitmen untuk bergerak satu komando dan siap memberikan pelayanan kesehatan serta evakuasi cepat selama aksi berlangsung. Keselamatan peserta aksi dan petugas menjadi prioritas utama kami.” Koordinasi yang matang antara MDMC, FORPAM Sleman, Dinkes DIY, dan BPBD DIY ini diharapkan dapat meminimalisir risiko dan memastikan kesiapsiagaan dalam menghadapi pergerakan massa yang diperkirakan akan berlangsung damai namun tetap membutuhkan pengamanan dan dukungan medis yang optimal. Alhamdulillah antisipasi atas pergerakan massa kali ini tidak ada insiden yang berdampak dan dengan kesiapan yang terorganisir dan sinergi antar lembaga, aksi damai 1 September 2025 di DIY diharapkan berjalan lancar dan aman. #JagaJogja #Jogjaaman #Aksidamai #JogjaIstimewa #MDMCDIY #Forpam #AmbulanMU
![]()
Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pesantren Al Hadharah Islamic Boarding School PCM Turi Sleman
![]()
Pandangan Dan Seruan Moral Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta
Terkait Aksi Massa dan Seruan Perdamaian di Yogyakarta
![]()
Tabligh Akbar dan Peletakan Batu Pertama Pondok Pesantren Al Hadharah Islamic Boarding School Ngentak Turi
Turi, Pdmsleman.or.Id Ahad, 31 Agustus 2025 / 8 Rabiul Awal 1447 Hijriyah sebuah sejarah lahir dengan diadakanyya rangkaian tabligh Akbar dan Peletakan Batu Pertama Pondok Pesantren Al Hadharah Islamic Boarding School (AHIBS) bertempat di Ngentak Bangunkerto Turi Sleman Yogyakarta.Gagasan pendirian pondok pesantren ini adalah untuk menjaga tradisi keilmuan Islam di Indonesia, dimana pesantren merupakan tempat yang sentral dalam melahirkan generasi terbaik zaman ini. Ditambahkan dengan tantangan pergaulan bebas dan ketergantungan kepada gadget menjadi alasan mendasar akan perlunya Pendidikan pesantren.Dalam tabligh Akbar pagi ini, taushiyah disampaikan oleh Ustadz H. Agus Taufiqurrohman, M.Kes., Sp.S., selalu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengapresiasi atas inisiasi pembangunan pesantren ini mengapresiasi atas inisiasi pembangunan pondok pesantren tersebut. Ia mendorong agar pondok itu bisa sesuai dengan ciri khas Muhammadiyah.Ketua PCM Turi Bambang Rahmanto menyampaikan bahwa pondok pesantren ini milik PCM Turi yang akan menjadi pusat keunggulan untuk pengembangan Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK),”Hadir pula dalam kesempatan Sekretaris Daerah Sleman Susmiarto MM, Panewu Turi Joko Susilo MM, Dewan Pakar Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah, Prof. Suyanto beserta segenap tamu undangan sekitar 1.200 orang.H. M. Taufik, Lc., M.Pd selaku salah satu pendiri Pondok pesantren Al Hadharah Islamic Boarding School (AHIBS) Yogyakarta menyampaikan berharap hadirnya lembaga ini menjadi Lembaga Pendidikan Pesantren yang berkomitmen Membangun generasi Rabbani, berakhlak mulia dan berwawasan global.Pondok pesantren ini dibangun di atas tanah wakaf milik Giyat seluas 1203 m2 yang telah diserahkan kepada PCM Turi.Bersama tabligh Akbar dan Peletakan Batu Pertama ini, sekaligus peristiwa launching Penerimaan Santri Baru Tahun Pelajaran 2026/2027 . Arief Hartanto
![]()
Workshop Penguatan Kapasitas Pengurus dan Pengasuh LKSA Muhammadiyah dan Aisyiyah Sleman: Menjawab Tantangan Pengasuhan di Era Digital
Sleman,Pdmsleman.Or.Id Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sleman menggelar workshop penting bertajuk “Penguatan Kapasitas Pengurus dan Pengasuh Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Sleman.” Pada Sabtu 30 Agustus 2025 . Kegiatan ini merupakan bagian dari program divisi Muhammadiyah Children Center (MCC) yang fokus pada penguatan pengelolaan panti asuhan di wilayah Sleman. Workshop berlangsung di kantor PDM Sleman dan dihadiri oleh para pengurus dan pengasuh LKSA Muhammadiyah dan Aisyiyah. Ketua divisi MCC, Ahmad Zainal Fanani, S.Pd., MA, menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengurus dan pengasuh dalam menghadapi berbagai problematika yang selama ini dihadapi oleh LKSA. “Penguatan manajemen dan pengasuhan menjadi kunci agar anak-anak asuh dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang sehat dan penuh kasih sayang,” ujarnya. Dalam sambutannya, Ketua PDM Sleman, AS. Ardhani, mengungkapkan sejumlah tantangan utama yang dihadapi oleh LKSA, antara lain Sarana dan prasarana yang masih terbatas, manajemen sumber daya manusia (SDM) dan keuangan yang perlu ditingkatkan, Problem pengasuhan yang kompleks, Tantangan tresshold alumni, yaitu bagaimana alumni panti dapat beradaptasi dan mandiri setelah keluar dari panti. Menurut Ardhani, pengurus dan pengasuh harus menjadi teladan dan solutif dalam menjalankan tugasnya. “Mereka harus mampu membangun mashlahah agar anak-anak asuh merasa bahagia dan mendapatkan perhatian yang layak,” tegasnya. H. Wahyu Purhantoro, MMmenyoroti perubahan signifikan yang dibawa oleh teknologi digital dalam pola asuh anak. “Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pola asuh anak. Orang tua dan pengasuh dihadapkan pada tantangan baru untuk memastikan anak-anak tumbuh dengan baik di tengah arus informasi yang begitu deras,” jelas Wahyu. Ia menambahkan bahwa pola asuh positif di era digital menjadi kunci untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak. Beberapa tantangan pengasuhan yang dihadapi saat ini antara lain Kecanduan gadget., Kurangnya pengawasan orang tua, Cyberbullying, Grooming dan tracking serta Keamanan online anak-anak. Untuk mengatasi hal tersebut, Wahyu menyarankan agar pengasuh meningkatkan literasi digital dan menggunakan teknologi sebagai alat edukasi. “Pengasuh harus mengawasi aktivitas online anak-anak, membangun komunikasi yang terbuka dan positif, serta menjadi contoh dalam penggunaan gawai,” ujarnya. Lebih lanjut, Wahyu menekankan pentingnya manajemen kasus yang sistematis terhadap setiap anak secara periodik. Salah satu metode yang dianjurkan adalah asesmen, yang bertujuan untuk mengungkap dan memahami permasalahan, kebutuhan, serta potensi anak asuh. Dengan demikian, pengurus dan pengasuh dapat menyusun rencana dan tindakan yang tepat untuk mendukung perkembangan anak. Salah satu pembicara utama, Yuli Ernawati, S.Sos., dari Dinas Sosial Sleman, memberikan wawasan terkait Manajemen kasus pekerja sosial yakni “ proses terorganisir untuk menilai, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi layanan yang bertujuan membantu individu dan keluarga mengatasi kebutuhan kompleks dan meningkatkan kesejahteraan mereka secara keseluruhan “ Sementara itu, Fatimah, S.Pd., dari Divisi MCC MPKS PWM D.I. Yogyakarta, Perkuat pemahaman anak tentang akidah dan syariat Islam. Ini menjadi benteng agar anak dapat mengenali konten yang sesuai dan menyaring pengaruh negatif mediasosial. Ketua MPKS Sleman, Workshop ini menjadi momentum penting bagi pengurus dan pengasuh LKSA Muhammadiyah dan Aisyiyah Sleman untuk memperkuat kapasitas mereka dalam menghadapi tantangan pengasuhan modern. Dengan dukungan dari MPKS PDM Sleman dan divisi MCC, diharapkan pengelolaan panti asuhan Miuhammadiyah di Sleman semakin profesional dan mampu memberikan lingkungan terbaik bagi anak-anak asuh. Rep Yu Poer Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
![]()
Jejaring AmbulanMU Sleman dan RS PKU Muhammadiyah Sleman Tingkatkan Penanganan Gawat Darurat dan Keselamatan Lalu Lintas
Sleman,Pdmsleman.Or.Id Dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penanganan gawat darurat serta pemahaman tertib berlalu lintas, Ambulanmu Sleman bekerja sama dengan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sleman menggelar kegiatan pelatihan dan gathering yang berlangsung di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sleman pada Sabtu 30 Agustus . Acara ini diikuti oleh para relawan ambulan dan tenaga medis yang mengenakan seragam FORPAM Sleman abu-abu biru lengkap dengan rompi wilayah dan identitas tim lapangan (TL). Direktur RS PKU Muhammadiyah Sleman, dr. Safiqulatif Abdillah, MMR., Sp.PA, yang diwakili oleh Manajer Pelayanan dr. Ihsan, menyampaikan komitmen rumah sakit dalam memberikan layanan kemanusiaan terbaik. “Ambulan merupakan garda terdepan dalam layanan kesehatan pra rumah sakit sehingga harus berdaya dan memiliki keilmuan yang mumpuni,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pihak rumah sakit akan memberikan pelatihan stabilisasi dan ambulasi pasien secara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Sambutan dari FORPAM Sleman disampaikan oleh Ndan Darojat “ kami memberikan apresiasi tinggi kepada para relawan ambulan yang telah standby di titik aksi pada malam sebelumnya dan juga menyampaikan terima kasih atas undangan dan fasilitas yang diberikan oleh RS PKU Muhammadiyah Sleman, yang sangat mendukung kelancaran kegiatan ini”. Salah satu materi penting yang disampaikan dalam pelatihan adalah tentang keselamatan berkendara (safety driving) oleh Ipda Jarot Windarto dari Unit Kamsel Satlantas Polresta Sleman. Ia menekankan bahwa “biasanya kecelakaan berawal dari pelanggaran,” sehingga penting untuk menjunjung tinggi etika berlalu lintas. Ipda Jarot juga menjelaskan berbagai jenis sirine yang digunakan ambulan, antara lain sirine Hi-Lo untuk menjemput pasien, yelp 1 untuk membawa pasien dalam kondisi stabil, yelp 2 untuk pasien urgent, dan sirine panjang yang digunakan saat membawa jenazah. Selain itu, Gugun dari Jasa Raharja Kanwil DIY memberikan informasi penting mengenai titik rawan kecelakaan di wilayah DIY, yang paling tinggi berada di daerah Depok. Ia juga menyampaikan bahwa biaya ambulan dari tempat kejadian perkara (TKP) ke rumah sakit maksimal sebesar Rp 500.000,- akan dicover oleh Jasa Raharja dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi masyarakat yang membutuhkan layanan ambulan dalam kondisi darurat. Materi terakhir disampaikan oleh dr. Briliant dari RS PKU Muhammadiyah Sleman yang membahas teknik stabilisasi pasien dan penilaian jalan nafas. Penanganan yang tepat pada tahap awal ini sangat krusial untuk menyelamatkan nyawa pasien sebelum tiba di rumah sakit. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis para relawan dan tenaga medis, tetapi juga memperkuat sinergi antara Ambulanmu Sleman dan RS PKU Muhammadiyah Sleman dalam memberikan layanan kesehatan yang cepat, tepat, dan aman. Dengan pelatihan berkelanjutan dan pemahaman tertib berlalu lintas, diharapkan angka kecelakaan dan kesalahan penanganan pasien dapat diminimalisir. Sebagai garda terdepan dalam layanan kesehatan pra rumah sakit, ambulan dan relawan harus selalu siap dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Kegiatan seperti ini menjadi langkah strategis untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang profesional dan humanis di Sleman. Rep : Juang Mahrom AmbiulanMU Tempel Editor Arief Hartanto MPI PDM SLeman
![]()
Pernyataan Sikap PP Muhammadiyah Terkait Aksi Massa, Seruan Dialog dan Kedamaian
![]()
Konferensi Mufasir Muhammadiyah III Digelar, Rumuskan Gagasan Penafsiran Al Qur’an yang Kontekstual Berkemajuan
Yogyakarta, Pdmsleman.Or.id Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Konferensi Mufasir Muhammadiyah III pada Kamis–Ahad (28-31/08) di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Forum strategis ini diselenggarakan sebagai upaya mempercepat penyusunan Tafsir at-Tanwir. Tafsir ini merupakan sebuah karya monumental Muhammadiyah yang ditargetkan rampung pada tahun 2027 sekaligus bertepatan dengan seratus tahun Majelis Tarjih dan Tajdid.Dengan mengusung tema “Mewujudkan Tafsir at-Tanwir Muhammadiyah sebagai Landasan Gerak Pemikiran Tajdid yang Responsif dan Dinamis untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta”, konferensi ini menghadirkan para mufasir Muhammadiyah dari dalam dan luar negeri. Tujuannya tidak semata memperkuat jejaring mufasir, tetapi juga merumuskan gagasan penafsiran al-Qur’an yang kontekstual, moderat, dan berkemajuan. Dalam Khutbah Iftitah, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menegaskan bahwa urgensi utama penyusunan tafsir ini bukan hanya untuk kepentingan internal Muhammadiyah, melainkan juga kontribusi besar bagi khazanah tafsir al-Qur’an di dunia Islam. Menurutnya, Tafsir at-Tanwir akan menjadi panduan umat memahami al-Qur’an secara utuh sebagai sumber nilai Islam yang membimbing manusia membangun peradaban khairu ummah. “Lewat tafsir ini kita bisa menghadirkan Islam yang mencerahkan, yang bukan hanya relevan bagi umat dan bangsa, tetapi juga memberi rahmat bagi kemanusiaan semesta,” ujarnya pada Kamis (28/8). Haedar juga menyinggung isi Tafsir at-Tanwir jilid pertama yang mengulas epistemologi dan kosmologi al-Qur’an, khususnya penafsiran atas QS Al-Baqarah ayat 29–30, sebagai kunci penting dalam merelasikan ajaran ilahi dengan realitas kehidupan. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Hamim Ilyas, menjelaskan bahwa konferensi ini menjadi sarana seleksi sekaligus penguatan kapasitas mufasir Muhammadiyah. Dari 89 naskah tafsir yang masuk, sebanyak 51 terpilih untuk dipresentasikan dan disempurnakan melalui forum ini. “Konferensi Mufasir ini bertujuan menjaring penulis Tafsir at-Tanwir yang kompeten, sekaligus memperkuat kolaborasi dalam penulisan 30 juz secara sistematis,” jelasnya.Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan Seminar Nasional yang menghadirkan Menteri Agama, Nazaruddin Umar, yang menekankan pentingnya memahami al-Qur’an secara kontekstual dan transformatif. Menurutnya, al-Qur’an bukan hanya kitabullah tetapi juga kalamullah, sebuah himpunan makna yang luas seperti halnya bangunan yang tersusun dari beragam elemen. Ia menyayangkan masih banyak kalangan yang memahami al-Qur’an secara kaku dan tekstual, sehingga sulit menghadirkan tafsir alternatif yang dinamis. “Kelemahan umat kita hari ini adalah sangat paham masalah fikih, tapi tidak paham usul fikih. Mereka ibarat memanjat sebuah pohon, namun berpegang pada ranting rapuh ketimbang batang yang kokoh,” tegasnya. Di sinilah pentingnya mengembangkan tafsir yang tidak berhenti pada tataran tekstual, melainkan menuntun umat pada pemahaman yang transformatif. Senada dengan itu, Din Syamsuddin, dalam paparannya mengangkat tema “Manhaj Tafsir al-Qur’an Transformatif”, menekankan perlunya metode penafsiran yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga keotentikan pesan al-Qur’an. Selain itu, konferensi juga menghadirkan Parallel Session pada Jumat-Sabtu (29/30-08) yang menjadi ruang bagi para peserta untuk mempresentasikan sekaligus menyempurnakan naskah tafsir yang mereka tulis. Dalam forum ini, para pemakalah tidak hanya menyampaikan gagasannya, tetapi juga diuji argumentasinya oleh para pakar agar lahir penafsiran yang kokoh secara metodologis. Peserta konferensi ini meliputi pimpinan Majelis Tarjih dan Tajdid, para mufasir Muhammadiyah, serta penulis terpilih dari call for paper. Melalui forum ini diharapkan lahir jejaring mufasir yang solid, bertambahnya penulis Tafsir at-Tanwir yang berkompeten, serta tersusunnya strategi penulisan 30 juz secara sistematis, termasuk rencana penyelesaian juz 25–30. Setelah seluruh sesi selesai, pada Sabtu (30/08) konferensi akan ditutup dengan rapat pleno yang merangkum hasil diskusi sekaligus merumuskan tindak lanjut penyusunan Tafsir at-Tanwir ke depan. Konferensi Mufasir Muhammadiyah III menandai langkah penting bagi Muhammadiyah dalam mempercepat penyusunan Tafsir at-Tanwir. Melalui forum ini, para mufasir dihimpun untuk memperkuat kerja kolaboratif sekaligus memastikan lahirnya tafsir al-Qur’an yang relevan dengan kebutuhan umat dan tantangan zaman
![]()
H. Nasirun Resmi Dilantik Sebagai Wakil Ketua IV BAZNAS Kabupaten Sleman Periode 2022–2027
Sleman,Pdmsleman.Or.Id H. Nasirun Wakil Ketua PDM Sleman mendapatkan amanat diangkat sebagai Wakil Ketua IV BAZNAS Kabupaten Sleman dalam rangkaian acara pelantikan pejabat Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sleman periode 2022–2027 pada Kamis (28/8/2025) di Aula Parasamya Setda Kabupaten Sleman. Nasirun resmi dilantik sebagai Wakil Ketua IV BAZNAS Kabupaten Sleman, menggantikan Khayatun Listinganatil Masruroh, S.Sos., yang kini bertugas sebagai ASN di Kemenag Sleman. Bupati Sleman, H. Harda Kiswaya, dalam sambutannya menyampaikan ” selamat kepada pejabat yang baru dilantik menegaskan pentingnya peran BAZNAS dalam mengelola zakat secara amanah”. Turut hadir dalam acara Bupati Sleman, H. Harda Kiswaya, S.E., M.Si., Wakil Bupati Danang Maharsa, S.E., jajaran pejabat Setda Kabupaten Sleman, Forkopimda Kabupaten Sleman, dan Kankemenag Kabupaten Sleman. H. Nasirun dalam kesempatan itu menyampaikan kepada Arief Hartanto “ ini adalah amanat yang sangat berat namun jika diniatkan dengan ibadah Insya Allah kami akan berusaha bekerja sebaik mungkin dan semoga Allah memberikan kekuatan dengan harapan memberikan hasil yang maksimal dengan menggunakan peraturan syariat agama dan perundang-undangan yang berlaku “. Pimpinan Baznas Sleman 2022-2027 yang baru terdiri dari Ketua, Drs. H Kriswanto, MSc Waka 1, dr. H Andung Prihadi S, M.Kes, Waka 2, Muhaimin, M.Pd Waka 3, H. Muhyi Darmaji, M.Pdi dan Waka 4, H. Nasirun, S.A.P. Dengan formasi baru ini, BAZNAS Sleman diharapkan dapat lebih optimal dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Sleman. Pelantikan ini juga menjadi momentum penting bagi BAZNAS Sleman untuk memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga keagamaan, dan masyarakat luas.
![]()