Yogyakarta, Pdmsleman.Mu.Or.id (MJE) bukan hanya menjadi simbol eksistensi organisasi, melainkan juga menjadi ruang hangat untuk mempererat tali silaturahmi antara para kader dan warga Muhammadiyah. Hal ini diungkapkan oleh Eko Asyafiq, salah satu kader dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Prambanan, yang menekankan pentingnya pertemuan tersebut sebagai momentum penguatan persaudaraan dan ideologi. Menurut Eko Asyafiq, setiap pertemuan di MJE menyimpan makna yang lebih dalam daripada sekadar rutinitas organisasi. “Di balik setiap pertemuan, terajut semangat persaudaraan, penguatan ideologi, dan ikhtiar bersama untuk terus berkontribusi bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa MJE berperan sebagai wadah strategis untuk memperkokoh nilai-nilai Muhammadiyah sekaligus menggerakkan langkah kolektif dalam berbagai bidang sosial dan kemanusiaan. Muhammadiyah sendiri hadir bukan hanya sebagai sebuah gerakan sosial keagamaan, tetapi juga sebagai keluarga besar yang senantiasa menumbuhkan semangat kebersamaan di antara anggotanya. Kunjungan ke MJE menjadi bukti nyata bahwa organisasi ini terus menjaga dan memperkuat jaringan internalnya demi mencapai tujuan bersama. Kehangatan dan kekompakan yang terjalin dalam setiap pertemuan di MJE mencerminkan nilai-nilai luhur yang diusung Muhammadiyah, yakni persaudaraan, pengabdian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat luas. Dengan semangat tersebut, Muhammadiyah terus berupaya memberikan dampak positif tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi bangsa dan kemanusiaan secara umum. Sebagai penutup, Eko Asyafiq menegaskan bahwa MJE bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang yang menginspirasi dan memotivasi seluruh kader Muhammadiyah untuk terus berjuang bersama. “Muhammadiyah hadir bukan hanya sebagai gerakan, tetapi juga sebagai keluarga besar yang selalu menumbuhkan semangat kebersamaan,” tutupnya. Dengan demikian, kunjungan di MJE menjadi simbol kuat bahwa Muhammadiyah tetap eksis dan relevan dalam menghadapi tantangan zaman, sambil terus mempererat ikatan persaudaraan dan memperkuat ideologi yang menjadi landasan perjuangan mereka. Muhammadiyah hadir bukan hanya sebagai gerakan, tetapi juga sebagai keluarga besar yang selalu menumbuhkan semangat kebersamaan. #mje4 #muhammadiyah Rep : #eko_asyafiq86 Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman.
Pdmsleman.Or.Id Penulis: Yayan Suryana, Wakil Ketua PWM DIY. Muhammadiyah Jogja Expo (MJE) ke-4 kembali digelar di Jogja Expo Center (JEC) pada tanggal 12–14 September 2025. Gelaran ini bukan sekadar pameran produk, melainkan sebuah ikhtiar dakwah Muhammadiyah yang menempatkan sektor ekonomi sebagai pilar penting gerakan Islam berkemajuan. Dengan menghadirkan ratusan pelaku UMKM, Muhammadiyah ingin menunjukkan bahwa dakwah tidak cukup berhenti pada mimbar, tetapi juga menyentuh sendi-sendi kehidupan nyata, termasuk ekonomi. MJE#4 adalah bentuk nyata komitmen Muhammadiyah untuk mengangkat harkat UMKM menjadi kekuatan ekonomi umat yang tangguh. Di tengah tantangan globalisasi dan derasnya arus persaingan pasar, UMKM terbukti menjadi tulang punggung ketahanan ekonomi nasional. Maka, dengan memberdayakan UMKM, Muhammadiyah sebenarnya sedang membangun benteng ekonomi umat agar tidak hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Ekonomi sebagai Pilar Dakwah Bagi Muhammadiyah, ekonomi bukanlah urusan sampingan, tetapi pilar dakwah yang penting. Sebab, tanpa kekuatan ekonomi, umat Islam akan selalu terbelakang dan mudah dipinggirkan. Gerakan ekonomi jamaah menjadi nadi yang menghidupkan semangat kemandirian sekaligus memperkuat posisi umat dalam percaturan sosial, politik, dan budaya. Namun, semangat ekonomi jamaah bukanlah semata-mata mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya. Orientasinya bukan akumulasi harta, melainkan menolong sebanyak-banyaknya orang melalui penyediaan barang dan jasa yang bermanfaat. Konsep keuntungan dalam ekonomi jamaah hanyalah ungkapan rasa terima kasih dari konsumen atas jasa dan produk yang diterima, bukan tujuan akhir dari usaha itu sendiri. Inilah nilai lebih dari semangat ekonomi Muhammadiyah: mengubah paradigma dari sekadar profit-oriented menuju compassion-oriented. Keuntungan bukan dilihat dari angka, melainkan dari seberapa besar nilai tolong-menolong, kepedulian, dan kebermanfaatan yang lahir dari sebuah aktivitas ekonomi. Dengan demikian, setiap rupiah yang berputar tidak hanya menguntungkan individu, tetapi juga memberi maslahat bagi banyak orang. Kiai Ahmad Dahlan pernah menegaskan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Kalimat ini menjadi inspirasi bahwa gerakan Muhammadiyah, termasuk dalam bidang ekonomi, bukan untuk kepentingan diri atau kelompok, melainkan untuk memajukan umat dan menolong sesama. MJE sebagai Dakwah Jamaah dan Inovasi MJE#4 menjadi ruang dakwah jamaah yang unik. Melalui expo ini, masyarakat diajak mengenal lebih dekat kreativitas cabang dan ranting Muhammadiyah yang berkemajuan. Ada yang bergerak di bidang kuliner, fashion, kerajinan tangan, hingga teknologi. Semua menghadirkan karya nyata yang menunjukkan bahwa dakwah bukanlah wacana kaku, melainkan praktik inovasi yang dinamis dan adaptif terhadap zaman. Dakwah yang ditampilkan melalui MJE#4 bersifat inspiratif. Kehadiran para pelaku usaha Muhammadiyah yang kreatif memberi pesan kepada umat bahwa dakwah sejati memang membutuhkan inovasi, keberanian, dan kesungguhan. Hanya dengan cara itu, Islam tetap relevan dan mampu merespons kebutuhan masyarakat lintas generasi. Lebih jauh, Muhammadiyah melalui MJE menegaskan pentingnya kolaborasi. Di era ekonomi modern, tidak ada satu kekuatan pun yang bisa berjalan sendirian. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, perbankan, maupun komunitas usaha lain adalah wujud komitmen Muhammadiyah untuk kemajuan bangsa. Kolaborasi inilah yang akan melahirkan sinergi besar dalam membangun kemandirian ekonomi umat. Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, pernah menegaskan bahwa gerakan ekonomi Muhammadiyah harus maju dengan cara pandang Islam yang mendasari visi bisnis. “Bukan hanya untuk mencari keuntungan, tetapi berbasis pada nilai-nilai Islam dan kemaslahatan untuk umat”. Pesan ini sejalan dengan semangat MJE#4 yang menempatkan nilai sosial sebagai roh dari aktivitas ekonom. Pesan ini sejalan dengan semangat MJE#4 yang menempatkan nilai sosial sebagai roh dari aktivitas ekonomi. Ekonomi Jamaah untuk Bangsa Di tengah semangat kolaborasi ini, Muhammadiyah tetap menjaga marwahnya sebagai gerakan dakwah. Artinya, keterlibatan dengan berbagai kekuatan ekonomi bukan semata-mata untuk kepentingan bisnis, melainkan untuk memperkuat basis dakwah kemanusiaan. Muhammadiyah ingin memastikan bahwa ekonomi tumbuh tidak hanya menghasilkan pertumbuhan angka, tetapi juga menghadirkan keadilan dan kebermanfaatan bagi seluruh lapisan ummat. MJE#4 juga bisa dibaca sebagai respon Muhammadiyah terhadap tantangan kemiskinan dan kesenjangan sosial. Dengan mengangkat UMKM, Muhammadiyah tidak hanya membuka ruang pasar, tetapi juga membangun mentalitas kemandirian. UMKM yang diberdayakan berarti memberi peluang kerja, membuka lapangan usaha, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sektor ekonomi besar yang sering kali tidak ramah pada rakyat kecil. Selain itu, expo ini menjadi momentum untuk menanamkan nilai entrepreneurship Islami. Nilai ini menekankan integritas, kejujuran, dan keberpihakan pada kemanusiaan dalam setiap aktivitas usaha. Jika nilai ini terus dikembangkan, Muhammadiyah bisa melahirkan ekosistem ekonomi jamaah yang tidak hanya berdaya saing tinggi, tetapi juga berkarakter Islami. Masyarakat yang hadir di MJE#4 bukan sekadar penonton, melainkan bagian dari ekosistem dakwah ekonomi. Dengan membeli produk UMKM, mereka ikut serta dalam gerakan tolong-menolong, menghidupkan usaha kecil, sekaligus memperkuat ekonomi umat. Inilah dakwah yang membumi, di mana setiap interaksi ekonomi menjadi ladang amal jariyah. Kegiatan ini juga menjadi contoh konkret bagaimana dakwah bisa menjelma menjadi ruang publik yang hidup. Tidak hanya ceramah dan pengajian, tetapi juga expo, pameran, bazar, dan forum bisnis. Semua itu adalah bagian dari strategi dakwah kultural Muhammadiyah yang semakin penting di era disrupsi. MJE#4 akhirnya bukan hanya tentang Muhammadiyah, tetapi tentang bangsa. Dengan memperkuat UMKM, Muhammadiyah telah ikut menyokong fondasi ekonomi nasional. Dengan menanamkan nilai tolong-menolong, Muhammadiyah telah mengajarkan bahwa ekonomi sejati adalah ekonomi yang berpihak pada kemanusiaan. Karena itu, gelaran MJE#4 perlu dipandang sebagai laboratorium dakwah berkemajuan. Ia mengajarkan kita bahwa dakwah tidak bisa hanya berbicara, tetapi harus memberi solusi nyata. Dakwah tidak hanya berbicara tentang akhirat, tetapi juga menata dunia. Dan dakwah tidak hanya untuk jamaah Muhammadiyah, melainkan untuk seluruh umat manusia.*
Yogyakarta, Pdmsleman.Or.Id Yogyakarta Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan pentingnya peran orang tua, sekolah, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan pengasuhan anak di era digital. Hal ini disampaikan Wamen Fajar saat menjadi pembicara kunci dalam acara Takshow Parenting dengan tema “Menjadi Orangtua Cerdas di Era Digital: Bijak Mengasuh Kuat Membimbing di Era Digital” pada rangkaian acara Muhammadiyah Jogja Expo, Sabtu (13/09/2024). Kegiatan tersebut dihadiri oleh ratusan pelajar dari mulai PAUD hingga SMA, para orang tua, pegiat pendidikan, dan penggerak UMKM se-DIY “Dulu kita mengenal pepatah Arab al-ummu madrasatul ula, seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Sekarang, selain ibu, gawai juga telah menjadi ‘sekolah’ pertama anak-anak. Jika tidak didampingi dengan bijak, gawai bisa menjadi sumber masalah dalam tumbuh kembang anak kita,” ujar Wamen Fajar. Wamen Fajar yang juga merupakan Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengungkapkan, riset menunjukkan hampir 33 persen anak usia 0–6 tahun di Indonesia sudah terpapar gawai, dengan rata-rata penggunaan mencapai 7 jam 20 menit per hari. Penggunaan berlebihan ini berdampak pada kesehatan mental, gangguan tidur, perubahan pola hidup, dan bahkan masalah kesehatan fisik seperti pada kesehatan mata, gigi, dan obesitas. “Dengan tantangan yang tidak mudah ini, kami di Kemendikdasmen di bawah kepemimpinan Pak Menteri Abdul Mu’ti sedang memperkuat layanan konseling di sekolah dan penguatan peran guru BK. Pendidikan berkualitas tidak akan terwujud jika anak-anak kita mengalami masalah mental akibat pola pengasuhan yang tidak adaptif,” jelas Wamen Fajar. Selain itu, Wamen Fajar menekankan pentingnya authoritative digital parenting, yaitu pola asuh tegas tetapi penuh kehangatan, serta kolaboratif parenting yang melibatkan sekolah, orang tua, masyarakat, dan lingkungan sosial. “Orang tua harus membuat kesepakatan yang jelas dengan anak tentang penggunaan gawai, memberi teladan, menyediakan family time, dan mendorong aktivitas fisik serta interaksi teman sebaya. Hal ini kami coba terapkan di rumah dengan anak-anak ” ungkap Wamen Fajar saat menceritakan pengalamannya dalam membangun komitmen penggunaan gawai dengan ananda tercinta di rumah. Dalam paparannya, Wamen Fajar juga mengajak orang tua untuk menghidupkan kembali kebiasaan bercerita dan mendongeng kepada anak agar mereka bisa tidur cepat, sebagai bagian dari program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang diluncurkan Mendikdasmen Abdul Mu’ti. “Banyak orang tua kini jarang mendongeng. Padahal, mendongeng bukan sekadar hiburan, tetapi sarana menanamkan nilai-nilai dan mempererat ikatan emosional. Di sisi lain, mendongeng bisa menemani anak agar tidur lebih cepat” sebut Wamen Fajar. Menurut Wamen Fajar, menghadapi era digital bukan hanya soal membatasi gawai, tetapi juga mengubah pola pikir orang tua agar lebih terbuka dan senantiasa mau belajar. “Peran orang tua di era digital memang berat. Tetapi dengan kesadaran bersama dan kolaborasi semua pihak, kita bisa menyiapkan generasi yang sehat secara mental, berkarakter, dan berkeadaban,” pungkas Wamen Fajar. Turut mendampingi Wamen Fajar, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Muhammad Ikhwan Ahada, Sekretaris PWM DIY Arif Jamali,Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) DIY Widiastuti, Direktur PAUD Kemendikdasmen Nia Nurhasanah, dan Tenaga Ahli Wakil Menteri Fahmi Syahirul Alim.
Sleman, pdmsleman.Or.Id Review Mata Kuliah Landasan Ideologi Muhammadiyah Dosen Ustadz Andy Putra Wijaya, M.S.I. Oleh : Pamuji Sri Subekti, Mahasiswa SIM Angkatan 1 Muhammadiyah kini berusia 112 tahun (per November 2024). Sebagai sebuah gerakan, Muhammadiyah mampu menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi besar di dunia. Muhammadiyah menjadi organisasi terbersar ke-4 di dunia dan menjadi organisasi terkaya di dunia. Perkembangan ini tentu tidak lepas dari kuatnya dasar ideologi Muhammadiyah yang ditanamkan pada kader-kadernya. Sehingga kader Muhammadiyah memiliki pedoman sebagai petunjuk arah gerakan Muhammadiyah dalam mewujudkan cita-citanya. Salah satu dasar ideologi Muhammadiyah termaktup dalam dokumen Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM). Pada awal pemerintahan Orde Baru sekitar tahun 1966-1968, terjadi perubahan keadaan social, politik, dan keagamaan di Indonesia. Situasi ini menuntun para pemimpin Muhammadiyah mengambil langkah solutif. Muhammadiyah memandang perlu mengambil langkah untuk penyelamatan pergerakan agar Muhammadiyah tidak dibubarkan dan perjuangannya terhenti. Maka pada tahun 1968 dibuatlah rumusan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (KCHM). Kemudian pada saat Tanwir Muhammadiyah tahun 1969 di Ponorogo, dokumen tersebut disahkan. Dalam perjalanannya KCHM ini dibagian depan ditambah kata Matan, sehingga menjadi MKCHM. MKCHM memiliki peran penting dalam membimbing Muhammadiyah untuk tetap relevan terhadap perkembangan kehidupan dan memberikan arah bagi umat Islam dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dokumen MKCHM berisi lima point pokok yang dapat dikategorikan kedalam tiga kelompok. Penjelasan singkatnya sebagai berikut. Penjelasan diatas adalah penjelasan singkat dari pokok-pokok isi MKCHM. Untuk isi lengkap dokumen MKHCM bisa didapatkan dari berbagai sumber, diantaranya pada link https://muhammadiyah.or.id/matan-keyakinan-dan-cita-cita-hidup-muhammadiyah/ .
Sleman, Pdmsleman.Or.Id Muhammadiyah Jogja Expo (MJE) ke-4 kembali digelar sebagai hajatan besar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2025. Acara yang berlangsung di Jogja Expo Center (JEC) pada 12-14 September 2025 ini menjadi ajang inovasi dakwah dan syiar Muhammadiyah dalam membangun ekosistem dakwah yang progresif dan inklusif. MJE tidak hanya menampilkan produk-produk unggulan UMKM warga Muhammadiyah, tetapi juga menjadi wadah bagi program-program unggulan dari jamaah cabang, ranting, dan masjid. Khusus untuk wilayah Kabupaten Sleman, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman melalui koordinasi Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Masjid (LPCRPM) telah menyiapkan 10 stand yang akan menampilkan berbagai potensi terbaik dari cabang, ranting, dan masjid unggulan. Menurut US Prawoto S.Ag, Ketua LPCRPM PDM Sleman, “Kesepuluh stand tersebut terdiri dari PCM Prambanan, PCM Minggir, PCM Kalasan, PCM Berbah, PCM Godean, PCM Sleman, PRM Margakaton, PRA Perumnas CC, PRA Sumberarum, dan Masjid Al Kautsar Mrincingan Seyegan.” Ia menambahkan, “Kami mengajak seluruh warga Muhammadiyah di wilayah Sleman untuk berbondong-bondong menghadiri perhelatan MJE dan mengunjungi stand PDM Sleman nomor 41 sampai 50.” Prawoto menegaskan bahwa keikutsertaan PDM Sleman dalam MJE #4 ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sinergi antar elemen Muhammadiyah di tingkat daerah. “Melalui stand-stand ini, kami ingin menunjukkan keberagaman dan kekuatan dakwah Muhammadiyah yang tidak hanya berfokus pada aspek keagamaan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi dan sosial masyarakat,” ujarnya. Muhammadiyah Jogja Expo sendiri merupakan event tahunan yang telah menjadi agenda penting PWM DIY dalam memperkuat jaringan dakwah dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) warga Muhammadiyah. Selain pameran produk UMKM, MJE #4 juga menghadirkan berbagai kegiatan menarik seperti seminar, talkshow, hiburan budaya, dan presentasi produk unggulan. Acara ini terbuka untuk umum dan diharapkan dapat menarik ribuan pengunjung dari berbagai kalangan. Dengan persiapan matang dan dukungan penuh dari berbagai pihak, PDM Sleman optimis bahwa kehadiran mereka di MJE #4 akan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan Muhammadiyah di DIY. “Kami siap menyambut dan melayani pengunjung dengan berbagai produk dan program unggulan yang kami bawa,” pungkas US Prawoto. Rep US Prawoto S.Ag LPCRPM PDM Sleman Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
MJE #4: Acara Tiga Hari Penuh Inspirasi dan Hiburan Yogyakarta, 10 September 2025 – Muhammadiyah Jogja Expo (MJE) ke-4 akan segera digelar mulai Rabu, 10 September 2025. Proses loading in peserta dimulai pukul 07.00 WIB pada tanggal 10 September hingga Jumat, 12 September pukul 07.00 WIB. Peserta pameran wajib menggunakan Loading Pass untuk akses masuk selama proses loading in. ID Card peserta pameran akan diberikan saat loading in dengan ketentuan dua ID Card per booth. Berikut jadwal lengkap kegiatan MJE #4 yang berlangsung selama tiga hari: Hari Pertama – Jumat, 12 September 2025 Hari Kedua – Sabtu, 13 September 2025 Hari Ketiga – Minggu, 14 September 2025 MJE #4 menjanjikan rangkaian acara yang kaya akan edukasi, budaya, dan hiburan. Seluruh masyarakat diundang untuk hadir dan meramaikan acara ini.
Pdmsleman.Or,Id Shalat bukan hanya sekadar ritual ibadah, tetapi juga sebuah madrasah (sekolah) kehidupan yang mengajarkan kita tentang kedisiplinan Bagaimana tidak? Dalam shalat, kita terikat dengan waktu-waktu yang telah ditentukan secara pasti. Dari Subuh hingga Isya, kita diajarkan untuk tepat waktu, tidak boleh terlambat. . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Quran: …إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا… *Artinya:* “…Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103) Kedisiplinan yang kita latih dalam shalat ini adalah modal utama bagi seorang pemimpin Seorang pemimpin harus disiplin dalam menggunakan waktu, menepati janji, dan memprioritaskan tugas-tugasnya. Ia tidak boleh menunda pekerjaan atau mengabaikan tanggung jawabnya. Karena itu, shalat mengajarkan kita untuk menghargai waktu dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Shalat Madrasah: Latihan Menjadi Pribadi Amanah Selain disiplin, shalat juga melatih kita untuk menjadi pribadi yang amanah (dapat dipercaya). Setiap gerakan, setiap bacaan, dan setiap rukun dalam shalat adalah amanah dari Allah yang harus kita tunaikan dengan benar dan khusyuk. Jika kita menunaikan shalat dengan sempurna, berarti kita telah berhasil menjaga amanah tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: > أَيَّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ الْمَكْتُوْبَةُ فَأَحْسَنَ وُضُوْءَهَا وَخُشُوْعَهَا وَرُكُوْعَهَا، كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ مَا لَمْ يَأْتِ كَبِيْرَةً، وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ. *Artinya:* “Siapa saja yang mendapati waktu shalat wajib, lalu ia menyempurnakan wudhunya, khusyuknya, dan ruku’nya, maka itu akan menjadi penebus dosa-dosa yang telah lalu selama ia tidak melakukan dosa besar. Itulah waktu yang selalu ada.” (HR. Muslim) Dengan menjaga amanah dalam shalat, seorang pemimpin akan terbiasa menjaga amanah yang lebih besar, yaitu amanah kepemimpinan. Ia akan bertanggung jawab penuh atas rakyatnya, tidak akan melakukan korupsi, dan akan senantiasa jujur dalam setiap tindakan dan perkataannya. Shalat yang khusyuk akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah, sehingga ia tidak berani berkhianat. Kesimpulan Shalat adalah tiang agama dan juga tiang pembentukan karakter. Melalui shalat, kita dilatih untuk menjadi pribadi yang disiplin dan amanah. Karakter inilah yang sangat dibutuhkan oleh para pemimpin bangsakita saat ini. Maka, marilah kita senantiasa menjaga shalat kita dengan sebaik-baiknya. Jadikan shalat sebagai momen untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri. Dengan shalat yang baik, Insya Allah, kita akan menjadi generasi penerus yang berkarakter, yang siap memimpin bangsa menuju masa depan yang lebih baik, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Nashrum minallahi wafathun qariib H. Arif Munajat S.Pd. Majelis Tabligh PDM Sleman
Gamping, Pdmsleman.Or.Id SMK Muhammadiyah Gamping menyelenggarakan Pengajian Taman Surga dalam rangka Milad ke-17 sekaligus peletakan batu pertama pembangunan Masjid Baabul Ilmi tahap I, pada hari Sabtu, 6 September 2025 bertepatan dengan 14 Rabiul Awal 1447 H. Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah ini dimulai pukul 07.00 WIB dan dihadiri lebih dari 400 orang jamaah. Kepala SMK Muhammadiyah Gamping, Asarika Fajarini, S.S., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada seluruh jamaah yang hadir. “Alhamdulillah, kami bersyukur atas usia SMK Muhammadiyah Gamping yang telah menginjak 17 tahun. Terimakasih atas kehadiran dan doa bapak-ibu jamaah. Kami memohon dukungan, baik moril maupun materiil, khususnyadalampembangunan Masjid Baabul Ilmi yang memerlukan dana sebesar Rp 984.750.000. Semoganiatbaikinimendapatridha Allah SWT,” ujarnya. Lebih lanjut disampaikan bahwa sekolah telah membuka pendaftaran peserta didik baru gelombang inden tahun ajaran 2026/2027. Pengajian diisi tausiyah oleh Ustadz Drs. H. Hamdan Hambali, Wakil KetuaPimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, yang mengajak jamaah untuk turut berperan aktif dalam pembangunan masjid. “Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat. Oleh karena itu, mari kita sisihkan sebagian rezeki kita sebagai amal jariyah. InsyaAllah setiap rupiah yang kita keluarkan akan mengalir pahalanya hingga akhirat,” tegasnya. Pada kesempatan tersebut, panitia mengumumkan bahwa telah terkumpul donasi awal sebesar Rp 45.314.000 dari jamaah dan para donatur. Bagi masyarakat yang berkeinginan menyalurkan infaq dapat melalui: Bank BPD DIY Syariah No. Rekening: 806 211 000836a.n. Mushola SMK Muhammadiyah Gamping. Acara ditutup dengan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Baabul Ilmi sebagai symbol dimulainya proses pembangunan. Selain itu, panitia juga menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan gratis serta servis sepeda motor gratis bekerjasama dengan Yamaha Sumber Baru Motor, yang mendapat apresiasi tinggi darimasyarakat. Rep Dwi Sumartono Gamping Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman