Gelar Penguatan GEDSI, ‘Aisyiyah Dukung Media Perkuat Jurnalisme Inklusif

Yogyakarta, pdmsleman.Or.Id-  “Wartawan merupakan pilar keempat dalam membangun negara yang demokratis. Ketika banyak pihak tidak pernah membahas isu disabilitas yang terpinggirkan dan perempuan yang tertindas, jurnalis justru hadir untuk menyuarakan penderitaan tersebut.” Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah dalam kegiatan Mainstreaming GEDSI di Media “Mengembangkan Jurnalisme Inklusif” pada Rabu (6/8/25). Dalam kegiatan yang diikuti oleh 95 jurnalis ini, Tri menyampaikan bahwa ‘Aisyiyah, sebagai organisasi yang memiliki kepedulian yang sama terhadap kelompok rentan dan isu-isu ketidakadilan, menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu disuarakan. “‘Aisyiyah ingin menggandeng teman-teman jurnalis agar bersama-sama membangun tatanan yang lebih setara dan adil bagi semua pihak,” ucapnya Lebih lanjut Tri berharap agar melalui kegiatan ini juga dapat terjalin kerja sama antara ‘Aisyiyah dengan rekan-rekan media dalam mengangkat berbagai isu ketidakadilan gender, disabilitas, dan inklusi sosial. “Suara jurnalis lebih nyaring dan lantang untuk mewakili mereka yang tidak mampu bersuara, menyuarakan kebenaran adalah tugas mulia yang telah diemban oleh teman-teman jurnalis.” Dalam kesempatan tersebut Tri menunjukkan bahwa diskriminasi bisa dialami oleh siapa saja dan dimana saja. “Diskriminasi sangat berkonteks dan tidak tunggal, bisa individu, kelompok, hingga negara terkait kebijakan-kebijakan yang diterapkan, hal ini tergantung pada dimana kita tinggal.”  Oleh karena itu menurut Tri, penting untuk bisa memastikan bagaimana memberikan kesempatan yang sama bagi semua dengan berbagai identitasnya. “Karena sebenarnya kelompok marginal inilah yang masih belum mendapatkan akses, manfaat, dan kontrol terhadap sumberdaya yang ada sehingga harapannya pembangunan kita adil, setara, inklusif, dan berkelanjutan,” tegasnya. Niki Alma Febriana Fauzi dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menyampaikan bahwa realita masih menunjukkan bahwa sebagian umat Islam masih memandang perempuan dan kelompok disabilitas sebagai kelompok marginal sehingga masih terjadi diskriminasi, pelecehan, ketidakadilan sosial yang dialami. Islam sendiri disampaikan oleh Niki adalah agama yang membawa rahmat bagi semua. “Rahmah ini termasuk kepada kelompok difabel, perempuan, kelompok rentan lainnya,” ucap Niki. Hal ini termuat pada berbagai ayat Qur’an maupun hadits-hadits Nabi.  Oleh karena itu menurut Niki, Muhammadiyah ‘Aisyiyah mencoba melakukan ijtihad isu-isu GEDSI agar masyarakat bisa melihat bahwa islam mempunyai pemikiran progressif. Untuk mendukung hal tersebut Niki mengharapkan peran jurnalis untuk dapat memberikan kontribusi dalam isu-isu GEDSI dengan menggaungkan atau menulis reportasi yang menggunakan perspektif GEDSI. Apalagi jika diberikan sentuhan keagamaan karena sebagian masyarakat Indonesia disebut Niki masih mendengarkan isu dengan perspektif keagamaan.  Sonya Hellen, Jurnalis Senior dari KOMPAS menyebut bahwa ada tiga pilar yang menjadi kekuatan jurnalis di lapangan untuk menguatkan jurnalisme inklusif yakni keberagaman perspektif, representasi yang adil, serta menghindari streotip dan bias.  Kemudian Sonya menyampaikan cara praktis dalam implementasi GEDSI dalam jurnalisme yakni pertama, bahasa yang respectful. “Terminologi bahasa yang kita pakai harus sesuai, tepat, dan tidak merendahkan karena kita sering terjebak di situ,” ucapnya. Kedua, Representasi berimbang yang memastikan semua kelompok mendapat porsi yang adil dalam narasi dan kutipan narasumber. Ketiga, dari objek ke subjek, Posisikan kelompok marjinal sebagai aktor bukan sekedar penerima bantuan, mereka juga punya hak untuk bicara. “Karena itu supaya kita tidak terjebak, maka jurnalis perlu persiapan sebelum meliput,” ucapnya. Jurnalis perlu melakukan riset latar belakang dengan mempelajari konteks sosial budaya dan sejarah kelompok yang akan diliput. Siapkan pertanyaan yang respectful, hindari yang sensitif dan tidak menghakimi, pastikan keamanan dan privasi narasumber, terutama kelompok rentan. Sonya juga mengajak rekan jurnalis untuk dapat menyajikan berita yang membuka kebenaran di balik berita. “Jika kita merasa aneh atas suatu kejadian, cari tahu behind the storynya, rumusnya cuma itu, cari tahu peristiwa dan latar belakang orang itu, anda akan tahu kebenaran.”  Menurut Sonya, jika hanya meliput peristiwanya, kita tidak akan tahu kebenarannya termasuk dalam jurnalisme inklusif ini. “Kalian akan temukan kebenarannya kalau kalian mundur satu dua langkah ke belakang, oleh karena itu jika menjadi jurnalis jangan liputan di laptop doang, kerja jurnalis adalah kerja otak dan kaki, kerja otak untuk selalu skeptif, tapi kemudian di balik rasa penasaran itu, disikap skeptif itu harus kita cari kebenarannya.” Menurut Sonya, mencari kebenaran tidak berhenti di balik laptop, perlu berjalan dan mencari orang-orang yang akan memberikan kita kebenaran. Rep (Suri) 

Loading

Tapak Suci SMP Muhammadiyah 1 Depok Sabet 4 Medali di Kejuaraan Padmawidya Cup 2025

Depok, Pdmsleman.Or.Id SMP Muhammadiyah 1 Depok kembali menunjukkan taringnya di dunia olahraga bela diri dengan prestasi yang membanggakan. Dalam ajang bergengsi Padmawidya Cup 2025, kontingen Tapak Suci dari sekolah ini berhasil meraih total empat medali, yang terdiri dari dua medali emas dan dua medali perak. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi sekolah, tetapi juga menjadi inspirasi bagi siswa-siswa lainnya untuk terus berprestasi. Kejuaraan Padmawidya Cup 2025 diselenggarakan pada tanggal 23-24 Juni 2025 di Gedung IPHI, Ngaglik, Sleman. Kompetisi ini diikuti oleh berbagai perguruan pencak silat dan klub dari seluruh Kabupaten Sleman, yang menampilkan bakat-bakat muda dalam cabang olahraga pencak silat. Ajang ini bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada para pesilat pemula, sekaligus menjadi sarana untuk mengasah kemampuan dan menambah pengalaman bertanding. Dari total medali yang diraih, dua medali emas berhasil disumbangkan oleh siswa-siswa berbakat SMP Muhammadiyah 1 Depok. Fayyisa Galfa dari kelas 8A berhasil meraih juara pertama dalam kategori Tarung, sementara Ananda Nikolas dari kelas 9B juga meraih juara pertama dalam kategori Seni Tunggal. Kedua prestasi ini menunjukkan bahwa siswa-siswa tersebut tidak hanya memiliki kemampuan teknik yang baik, tetapi juga mental juara yang patut dicontoh. Selain itu, dua medali perak juga berhasil diraih oleh Angger Ridho Wicaksono dari kelas 9D dan Muhammad Fajar dari kelas 9A. Angger meraih juara kedua dalam kategori Seni Tunggal, sedangkan Fajar meraih juara kedua dalam kategori Tarung. Capaian ini menunjukkan bahwa meskipun tidak meraih medali emas, mereka tetap menunjukkan performa yang sangat baik dan layak diacungi jempol. Prestasi yang diraih oleh kontingen Tapak Suci SMP Muhammadiyah 1 Depok ini tidak lepas dari semangat, kedisiplinan, dan kerja keras para siswa. Latihan yang intensif dan bimbingan dari pelatih yang berpengalaman menjadi kunci keberhasilan mereka. Para siswa tidak hanya dilatih dalam teknik bertarung, tetapi juga diajarkan tentang pentingnya mental yang kuat dan sikap sportif dalam setiap pertandingan. Abidin Fuadi, Kepala SMP Muhammadiyah 1 Depok pada  Senin 4 Agustus 2024 mengungkapkan rasa bangga dan apresiasi terhadap prestasi yang diraih oleh siswa-siswanya. Ia berharap, prestasi ini dapat menjadi pemantik semangat bagi seluruh siswa untuk terus berkarya dan berprestasi di bidang yang mereka geluti. “Kami berharap, keberhasilan ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi menjadi motivasi bagi siswa-siswa lainnya untuk terus berlatih dan berprestasi,” ujarnya. Kejuaraan Padmawidya Cup 2025 ini juga menjadi ajang silaturahmi antar pelajar dan pelatih dari berbagai perguruan pencak silat untuk berkompetisi  meningkatkan kualitas dan prestasi pencak silat di tingkat pelajar. Dengan pencapaian yang membanggakan ini, SMP Muhammadiyah 1 Depok semakin menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan potensi siswa di bidang olahraga, khususnya bela diri. Semoga prestasi ini menjadi awal dari kesuksesan yang lebih besar di masa depan. Rep  NHC Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Majelis Hukum Dan HAM  PCA Moyudan Bersama Majelis Dasmen Gelar Work Shop Bullying, Kekerasan dan Trafficking

 Moyudan. Pdmsleman.Or.id  Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Cabang Aisiyah (PCA) Moyudan bersama Majelis Dasmen PCA menggelar Sosialisasi Bullying, kekerasan, dan trafficing, bagi Guru Paud, TK dan perwakilan orang tua siswa Paud. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (2/8/2025) bertempat di Aula Kalurahan Sumberagung, Moyudan, Sleman.             Pada kesempatan tersebut Ketua Penyelenggara Eni Purwaningsih S.H., S.Pd  yang juga ketua Majelis Hukum dan HAM PCA Moyudan mengutarkan bahwa diselenggarakannya kegiatan tersebut merupakan sebuahn upaya untuk membekali para guru, pengasuh PAUD dan Wali Murid PAUD yang bernaung di bawah bendera Muhammadiyah dalam mengantisipasi terjadinya bullying, kekerasan maupun trafficing terhadap murid. Untuk itu kami mengambil tema’ Bersama Guru Lindungi Anak Dari Bullying, Kekerasan dan Trafficing’.             Karena Guru maupun pengasuh merupakan orang tua ke dua dari peserta didik, maka perlu tahu dan mengerti cara mengatasinya, sehingga jalannya pendidikan sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tua dan seluruh stake holder. “Pada Sosialisasi ini kami menghadirkan Ibu Titi Pratiwi Widyaningsih, S.Psi. sebagai narasumber.” Ungkapnya.              Lebih lanjut Eni menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bekerjasama dengan Puspa Kasengsem ( Keluarga Sejahtera yang Sembada ) Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman. “Kami harapkan peserta untuk bisa mengikuti dengan baik, kalau ada permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan sehari-hari saat menjalankan tugas, nanti bisa untuk berkonsultasi.” Pungkasnya.             Titi Pratiwi Widyaningsih sebagi narasumber memaparkan bahwa bullying adalah tindakan agresif yang biasanya dilakukan seseorang untuk mengintimidasi atau mendominasi orang lain yang dinilai lebih lemah. Perilaku penyimpangan sosial ini dapat terjadi di mana saja, mulai dari lingkungan sekolah hingga lingkungan kerja. Seseorang yang dianggap lemah sering kali menjadi target bully. Dalam kegiatan sehari-hari, orang yang di-bully akan merasa kesulitan dalam mempertahankan dan melindungi dirinya sendiri.             Lebih lanjut Titi Pratiwi mejelaskan bahwa keinginan untuk melakukan bullying tidak muncul dengan sendirinya. Faktor penyebabnya dapat berasal dari lingkungan keluarga, sosial, maupun dari diri sendiri. Adapun beberapa penyebab seseorang melakukan bullying diantaranya anak melihat orang tua sering bertengkar, Pola asuh orang tua yang kurang sehat, merasa brendah diri. “ Faktor lainnya adalah  sulit bersosialisasi, cemburu dengan orang lain, ingin dierima dalam pergaulan, pengaruh dari game atau tontonsn yang tidak sesuai dengan usianya.” Tambahnya.             Terdapat beberapa jenis bullying yang perlu diperhatikan dalam kehidupan sosial anak maupun orang dewasa, seperti bullying secara fisik, lisan, sosial, hingga di internet yang  biasa disebut dengan cyberbullying. Selanjutnya Titi Pratiwi juga menjelaskan cara mencegah bullying yaitu orang tua perlu mengambil peran aktif untuk mengatasi tanda-tanda perlakuan bullying yang ada pada anak. Adapun caranya untuk mencegah terjadinya bullying bagi anak  yang harus  dilakukan yaitu  orang tua harus lebih dekat dengan anak., orang tua harus mengajari anak cara mengendalikan stress. “ Beirkutnya adalah orang tua harus mengawasi penggunaan gawai pada anak dan mendisiplinkan anak tanpa kekerasan.” Pungkasnya. (Sugiyanto PCM Moyudan )

Loading

Ketua PDM Sleman Sampaikan Tausiah Pada Pengajian FK PRM Sumbersari

Moyudan, Pdmsleman.Or.Id             Forum Koordinasi Pimpinan Ranting Muhammadiyah (FK PRM) Sumbersari menggelar pengajian rutin setiap Ahad Pahing. Pada pengajian Ahad Pahing (3/8/2025) bertempat di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman,  menghadirkan H. Harjaka, S.Pd,.S.Ag,. M.A. Ketua PDM Sleman.             Dalam pengajian yang mengambil tema ‘Kebangsaan dan Hikmah Kemerdekaan’ tersebut Harjaka mengawali tausiahnya mengutip penggalan nasehat Raden Ngabehi RanggaWarsita, seorang Pujangga Keraton Kasunanan Surakarta yang hidup pada masa Sunan Pakubuwono V hingga Paku Buwono VII.             Ki Rangga Warsita lahir pada 14 Maret 1802 dan meninggal pada tanggal   24 Desember 1873. Ia merupakan Pujangga besar Tanah Air, beliau mengungkapkan kalimat yang  sangat menyentuh. Kalimat tersebut samai saat ini masih sangat fmilier kita dengar. “Besuk bakal tumeka samijine jaman, Jaman mau wis padha keblinger. Kang bener  dianggep salah, kang salah dianggep bener,. Kepara kang salah dibaleni nganti mati-matian. Jaman mau diarani jaman edan, lamun ora nedan ora bakal keduman. Ananging mangertia sejatine, sak beja bejane wong ngedan isih luwih beja wong kang eling lan waspada. Wong kang jujurbakale makmur. Becik ketitik ala ketara iku bakal dadi kasunyatan.             Apa yang disebutkan Ki Rangga Warsita tersebut menggambarkan situasi kekinina yang menimpa Bangsa Indonesia, banyak orang melakukan kejahatan yang merugikan negara tidak mendapatkan hukuman semestinya. Tetapi sebaliknya orang yang tidak bersalah yang ingin memperbaiki negeri ini malah mendapatkan hukuman.             Selanjutnya Harjoko mengajak kepada Anggota Muhammadiyah untuk tetap dan selalu waspada dalam menghadapi segala situasi tersebut.” Kita jangan ikut larut dan mengikuti arus, tetapi harus bisa menyaring sebagi wujud dari Amar Ma’ruf Nahi Munkar.” Tandasnya             Lebih lanjut Harjaka mengutip Hadist yang diriwayatkan oleh As Dailami dari Ibnu Abbas RA. Dalam hadist itu disebutkan ada 3 macam orang sebagi perusak agama yaitu orang pintar yang jahat, penguasa yang dzalim, dan orang yang berijtihad (berfatwa) tetapi bodoh. : Dari Sabda Nabi tersebut dikettahui bahwa kehancuran agama dimulai dari perilaku buruk ketiga golongan tersebut.:Tandas Harjaka.             Ia Juga menambahkan bahwa orang-orang pandai yang berlaku jahat jika berkolaborasi dengan penguasa yang dzolim akan menghasilkan kepemimpinan yang tidak amanh. Selain itu juga akan menghasilkan produk-produk dan praktik hukum yang merugikan dan menyengsarakan rakyat. “Apalagi jika ditambah ijtihad yang tidak berdasarkan keilmuan yang memadai, makas akan menghasilkan praktik keagamaan yang menyimpang dan mendorong masyarakat jauh dari ajaran agama yang benar.” Imbuhnya.             Ketiga golongan tersebut diuraikan dengan cukup menarik yang dibingkai dengan metode dakwah dengan memadukan anatar materi keagamaan dan penyampaian budaya Jawa melaui tembang Macapat. “ Tembang Macapat seperti mijil, kinanthi, sinom hungga Pocong memiliki makna yang dalam sebagi nasehat bagi manusia, kita harus tetap memperhatikan pakem tembang  sepert guru gatra,guru wilangan, dan guru lagu.” Pungkas Harjaka.             Pada pengajian teesebut dihadiri rausan jamaah selain itu nampak hadir Ketua PCM Moyudan H.Abu Hanifah S.Ag.M.A,Penasehat PCM Moyudan Dr,H. Zainuddin Akhid, dan beberapa pengurus PCm, PCA Moyudan. (Sugiyanto / Anton RW PCM Moyudan )

Loading

Nuri Adhariyatun terpilih menjadi Ketua IGABA Cabang Seyegan periode  2025-2029

Seyegan, Pdmsleman.Or.Id Ikatan Guru ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Cabang Seyegan menggelar Musyawarah Cabang ( Muscyab) pada hari Sabtu 2 Agustus 2025 di Gedung TK ABA Margokaton I Susukan I Margokaton Seyegan Sleman DIY. Diikuti oleh 52 orang guru TK ABA se kapanewon Seyegan, musyawarah digelar secara khidmat.  Turut hadir dalam acara pembukaan Muscyab di antaranya Pengurus IGABA Daerah Kabupaten Sleman, Penilik PAUD Kapanewon Seyegan, Ketua IGTKI Kapanewon Seyegan, Ketua Himpaudi Seyegan , jajaran Pimpinan Cabang  Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Seyegan serta perwakilan tokoh masyarakat setempat.  Gelaran Muscyab diawali dengan ceremony pembukaan dilanjutkan pembacaan Laporan Pertanggungjawaban dari Pengurus IGABA Seyegan periode 2019-2024 yang disampaikan oleh  Nardiyati, S.Pd.AUD sebagai Ketua dan Ika Wulandari, S.Pd.AUD sebagai Sekretaris. Setelah pertanggungjawaban diterima oleh seluruh anggota dilanjutkan sidang komisi yang terbagi menjadi tiga komisi yaitu komisi organisasi, komisi program kerja dan komisi rekomendasi. Setelah dihasilkan mufakat, dilanjutkan pemilihan formatur oleh semua anggota yang hadir. Terpilih 7 orang formatur dan ditetapkanlah peraih suara terbanyak dengan total 42 suara yaitu Nuri Adhariyatun, S.Pd AUD sebagai Ketua dan Novita Rakhmawati, S.Pd. sebagai Sekretaris untuk periode 2025-2029. Dalam sambutan perdananya, Nuri menyampaikan harapan bahwa ” kepengurusan IGABA Seyegan yang baru membutuhkan dukungan dan kebersaman agar  tumbuh menjadi wadah organisasi yang solid dan membawa kemajuan untuk TK ABA di Seyegan”.REp  Dhian Navitri/  Seyegan Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

1400 Peserta Ikuti Jalan Sehat Milad Ke-62 SD Muhammadiyah Dadapan: Menyemai Akhlak Menuai Prestasi

 Turi, pdmsleman.Or.Id Milad yang ke-62, SD Muhammadiyah Dadapan Wonokerto Turi Sleman diperingati dengan menggelar serangkaian acara   penuh makna. Dengan tema “Menyemai Akhlak Menuai Prestasi, MuDa Berkemajuan”, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat dan prestasi di kalangan siswa. SD Muhammadiyah Dadapan, yang didirikan pada 1 Agustus 1963, telah menjadi salah satu lembaga pendidikan yang berkomitmen untuk mencetak generasi yang berakhlak mulia dan berprestasi. Menurut Kepala Sekolah Rahayu Sulastriningsih S.Pd,  Dalam rangkaian acara Milad kali ini, panitia telah menyiapkan berbagai kegiatan menarik, termasuk lomba mewarnai untuk tingkat TK A dan TK B yang dilaksanakan pada 26 Juli 2025 dimana lomba ini diikuti antusias tinggi oleh murid-murid dari Kapanewon Turi dan sekitarnya. Sebagaiana dituturkan kepada Arief Hartanto pada Ahad siang. Puncak acara Milad berlangsung Ahad 3 Agustus 2025  di Lapangan Dadapan, dihadiri oleh   Sekda Kabupaten Sleman Susmiarto MM, H. Arif Mahpud  Sekretaris PDM Sleman, serta perwakilan dari Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Turi Lanang Tanu Prihantoro, S.Si,, Lurah Wonokerto Riyanto Sulistyo S. E, Ketua PCM Turi Drs Bambang Rahmanto, PCA Turi beserta jajaran menambah semarak acara.  Acara dimulai dengan   dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Sang Surya. Sekda Sleman, Susmiarto MM dalam sambutannya  “Kami berharap acara ini dapat menjadi inspirasi bagi siswa untuk terus berprestasi dan berakhlak  kharimah”   Komite sekolah  Bambang Krismanto, S.Sos, mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama menjaga semangat kebersamaan dan prestasi. “Milad ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebagai refleksi untuk terus berbenah dan berinovasi dalam pendidikan,” ungkapnya. Ketua PCM Turi Drs Bambang Rahmanto berharap “ Dengan milad ke 62, insya Allah SD Muhammadiyah Dadapan semakin maju dan berkembang”. Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan pelepasan balon sebagai simbolis pembukaan jalan sehat. Kegiatan jalan sehat ini diikuti oleh sekitar 1.400 peserta, menunjukkan antusiasme yang luar biasa dari siswa, orang tua, dan masyarakat umum,  tidak hanya untuk kesehatan, tetapi juga untuk mempererat tali silaturahmi antar warga sekolah dan masyarakat. Selain jalan sehat, acara ini juga diisi dengan pembagian hadiah lomba dan doorprize. Hadiah utama berupa seekor kambing dan mesin cuci menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta. Kegiatan Milad SD Muhammadiyah Dadapan ke-62 ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan dan akhlak siswa. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk orang tua dan masyarakat, diharapkan SD Muhammadiyah Dadapan dapat terus berkontribusi dalam mencetak generasi yang berprestasi dan berakhlak mulia. Dengan semangat “Menyemai Akhlak Menuai Prestasi”, SD Muhammadiyah Dadapan siap melangkah lebih maju, menjadikan pendidikan sebagai fondasi untuk masa depan yang lebih baik. Acara ini berlangsung dengan aman dengan back up pengamanan acara dan sepanjang rute jalan sehat dari 12 personil KOKAM Turi. Rep Rahayu S. SPd. SD Muda Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

 Arif Jamali Muis, M.Pd Staf khusus Kemendikdasmen RI,  Empat Hal agar sekolah Unggul

Sleman Staf khusus Kemendikdasmen RI, Arif Jamali Muis, M.Pd menyampaikan dihadapan kepala sekolah SMP/MTs Muhammadiyah se – D.I. Yogyakarta pada workshop Penguatan Leadership bagi Kepala Sekolah, Sabtu, 2 Agustus di Kaliurang Sleman. “Tidak boleh ada sekolah favorit tapi semua sekolah harus menjadi favorit, Semua sekolah harus bermutu Pola pikir agar 4 hal ini bisa dilaksanakan, adalah growth mindset, sekolah maju itu bisa maju karena dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang memiliki pola fikir bertumbuh atau growth mindset, bukan pola fikir stagnan atau fix mindset. Sekolah negri itu harusnya semua anak tertampung di sekolah negri, jika tidak tertampung maka alternative di sekolah swasta. Ini konstitusi negara untuk menyediakan layanan pendidikan dan ini tidak mampu shg sekolah swasta menjadi alternative. Nah, di sekolah SD sudah muncul bahwa sekolah swasta menjadi alternative. Kepala sekolah itu harus menggembirakan sekolah dan tentu bagi guru karyawan. Evaluasi dan refleksi menjadi alam pikiran dalam growth minset. Ada 4 (empat) hal berfikir growth mindset agar sekolah unggul. Pertama, sekolah unggul itu jika pembelajarannya bermakna dan adaptif sehingga dalam proses pembelajaran mengandung unsur berkesadaran, bermakna dan menggembirakan sehingga disebut deep learning atau pembelajaran mendalam. Muncul AI sehingga mesin pencarian yg ada akan terus mencari misal dengan chat GPT, meta, scholar. Sebelumnya pembelajaran yang dilakukan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan dengan metode deep learning itu sudah diwujudkan dalam kajian wal ashri dan al maun. Kajian Wal Ashri sampai diajarkan 7 atau 8 bulan. Pembelajaran mendalam itu realeted dalam kehidupan dan realita kehidupan dalam anak. KH Ahmad Dahlan menyampaiakan apakah orang-orang sekitar Kauman ini sudah diwujudkan ajaran Wal Ashri dan Al Maun dalam kehidupan. Pembelajaran mendalam menjadi DNA nya Muhammadiyah. Kedua, Ekosistem harus mendukung, Kerjasama membuat ekosistem menjadi hal utama, hindari konflik dalam sekolah. Sekolah harus berkolaborasi dengan PDM dan PWM. Jangan sampai sekolah hanya menjadi sarana mencari uang tetapi menjadikan infaq itu sebagai sarana  sebagai amal yang akan menambah amal sholeh berlipat-lipat. Di jenjang universitas atau perguruan tinggi itu juga membina sekolah-sekolah Muhammadiyah dan dibranding dengan baik. Sekolah yang sudah maju juga harus membina sekolah lain agar lebih maju dengan branding. Ekosistem ini harus berjalan dan perlu analisa kebutuhan dengan jumlah lulusan, terkait jarak jika perlu ada regrouping sekolah. Regrouping itu jadi menyakitkan, jika sekolah itu menjadi ada karena dari bawah munculnya namun semangat saat ini mulai mengendur. Ketiga, Tendik yang kompeten dan sejahtera. Setiap murid yang datang itu malaikat untuk meningkatkan derajat. Guru harus kompeten, terus belajar dan disejahterakan. Tugas persyarikatan itu untuk mengkoneksikan agar bisa disentralkan. Tugas PCM itu mensejahterakan sekolahan, menggerakkan sekolah-sekolah. Bukan sentralisasi tapi konsolidasi, ketika ada kelebihan dana bisa dipinjamkan sekolah yang membutuhkan. Keempat, Sarana prasarana memadahi. Perlu analisa sekolah mana yang akan mendapat revitalisasi. Buat proposal agar mendapat persetujuan dari para direktur. Ini sebagai usaha agar sarana prasarana memadahi. Demikian empat upaya yang harus dilakulan. Semoga diberi kemudahan dan kelancaran serta barokah. Aamiin. Bravo SMP/MTs Muhammadiyah se D.I. Yogyakarta !!! Rep H. Wahdan Arifudin S.Pd  KS SMPM 2 Godean  MPI PDM Sleman Editor   Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Workshop Penguatan Leadership Kepala SMP/MTs Muhammadiyah se-DIY di Kaliurang

Pdmsleman.Or.Id Mengusung tema “Kolaborasi, Sosial Emosi dan Inovasi untuk Sekolah/Madrasah Unggul Berkemajuan”, Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta mengelar acara Workshop Penguatan Leadership Kepala SMP/MTs Muhammadiyah se- Daerah Istimewa Yogyakarta di Kaliurang pada Sabtu – Ahad, 2 Agustus 2025. Dalam sambutan pembukaan workshop, Achmad Muhamad, M.Ag, ketua Majelis  Dikdasmen dan PNF PWM D.I. Yogyakarta menyampaikan beberapa hal diantaranya pentingnya silaturahmi, apalagi sebagai seorang kepala sekolah harus banyak ber-silaturahmi. “Kegiatan workshop ini menjadi program majelis Dikdasmen dan PNF PWM DI. Yogyakarta sebelumnya dengan Diksuspala (Pendidikan Khusus Kepala sekolah), harapannya agar benar-benar menjadikan kegiatan ini menjadi kepala sekolah yang visioner, bergerak dan menggerakkan sekolah menjadi lebih manfaat bagi Muhammadiyah dan masyarakat.” Dengan tema workshop ini diharapkan semangat silaturahmi tanpa kolaborasi itu basa-basi. Harus ada semangat ta’awun. Kepala Sekolah itu butuh inovasi sebagaimana seorang Kyai Haji Ahmadi Dahlan. Ahmad Muhammad menyampaikan, apa yang perlu dilakukan pada saat itu oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan yakni menghadirkan kajian Al Maun maka muncul dan membuat sekolah, rumah sakit dan lain-lain”. “Mari kita wujudkan yang belum kita lakukan” tegasnya. “Program di daerah apa yang inovatif yang akan dilakukan, pungkasnya. Acara ini dihadiri oleh kepala sekolah SMP/MTs Muhammadiyah se – D.I. Yogyakarta di awal tahun ajaran baru untuk terus kolaborasi, sosial emosi dan inovasi bagi sekolah menjadi unggul berkemajuan. Rep H. Wahdan A  SMPM KS Godean  MPI PDM Sleman Editor   Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading