Pengajian Akbar Jum’at Legi ‘Aisyiyah Cabang Seyegan Dihadiri 1200 Jama’ah, Angkat Tema  Peran Aktif Perempuan Dalam Mengisi Kemerdekaan

Seyegan, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Seyegan menggelar Pengajian Akbar Jumat Legi pada hari Jumat, 2 Agustus 2024 di Kompleks Masjid Darul Falah Susukan Margokaton Seyegan dihadiri 1200 orang jamaah ‘Aisyiyah se-kapanewon Seyegan Pengajian Jumat Legi merupakan program rutin lapanan dari Majelis Tabligh dan Ketarjihan. Namun pengajian pada bulan Agustus ini sangat istimewa  dengan nuansa nasionalisme menyongsong HUT Kemerdekaan RI ke-79  mengangkat tema “Peran Aktif Perempuan dalam Mengisi Kemerdekaan”. Dra.Hj. Misma Kasim,MA dari Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah hadir sebagai pembicara. Dlam kesempatan ini memaparkan bahwa “ peran perempuan sangat besar bagi  kemajuan bangsa, bahkan ‘Aisyiyah yang didirikan oleh Nyai Ahmad Dahlan telah berjuang dan berkontribusi untuk bangsa Indonesia sejak sebelum kemerdekaan serta antara laki-laki dan perempuan memiliki peran yang seimbang dalam perjuangan memajukan bangsa”. Turut hadir dalam Pengajian Akbar ini Bupati Sleman, Dra. Hj. Kustini Sri Purnomo didampingi Panewu Seyegan Samino, S.IP.,Mc.Dev. Dalam sambutannya, Bupati Sleman menyampaikan bahwa “ Kabupaten Sleman meraih peringkat satu SDM paling maju se-Indonesia tak lepas dari peranan aktif perempuan Sleman  yang selalu  meningkatkan kualitas diri dan produktivitasnya. Perempuan harus bisa mendidik anak anak, harus tahu cara menjaga kesehatan keluarga, dan  ikut membangun dalam era kemerdekaan”. Di awal acara, dimeriahkan  dengan penampilan murid TK ABA Margokaton I, Kelompok Bermain ‘Aisyiyah Darul Falah dan TPA Darul Falah. Dilanjutkan Penyerahan Apresiasi bagi Guru Senior non ASN di TK/Paud ‘Aisyiyah di Seyegan yang merupakan program Majelis Paud Dasmen Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Seyegan. Apresiasi tersebut diserahkan oleh Bupati Sleman kepada 14 guru senior TK/Paud ‘Aisyiyah non ASN yang memiliki masa kerja di atas 10 tahun. Acara ini juga didukung oleh Majelis Kesehatan yang menghadirkan Tim Medis RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan AmbulanMu Seyegan untuk memberikan fasilitas pemeriksaan gratis bagi jamaah. Acara juga semakin semarak dengan adanya Bazaar UMKM di bawah naungan Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Seyegan. Reportase Dhian Navitri S.Pd, PCA Seyegan Editor   Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Penyerahan Mahasiswa PLP di SMK Muhammadiyah Cangkringan

Cangkringan, Pdmsleman.Or.Id Jum’at, 2-8-2024. Kepala SMK Muhammadiyah Cangkringan yaitu Ibu Titik Sunarti, S.Pd. bersama dengan empat orang guru, yaitu waka kurikulum, Waka Humas, dan koordinator guru Ismuba serta Koordinator Guru BK menerima mahasiswa UAD yang akan melaksanakan Program Pengenalan Lapangan Pendidikan (PLP) II. Mahasiswa yang akan melaksanakan PLP II di SMK Muhammadiyah Cangkringan berjumlah 11 orang yang terdiri dari sembilan orang dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan dua orang dari Program Studi Bimbingan dan Konseling. Acara ini berlangsung di musholla SMK Muhammadiyah Cangkringan, karena ruangan yang biasanya digunakan untuk acara-acara seperti ini sedang renovasi. Dalam sambutannya, Titik Sunarti mengharapkan agar mahasiswa praktikkan dapat beradaptasi dengan budaya sekolah yang telah ditanamkan di SMK Muhammadiyah Cangkringan. Kedisiplinan, ketekunan, dan keuletan merupakan karakter yang sangat ditekankan sehingga mahasiswa praktikkan juga harus mengikuti irama tersebut. Karakter dan nilai-nilai Ke-Islaman sejak beberapa tahun ini sangat ditekankan dan dikuatkan implementasinya bagi seluruh warga sekolah. Bahkan Bu Titik juga mengingatkan agar mahasiswa praktikkan juga disiplin dalam berkendara, karena SMK Muhammadiyah Cangkringan bekerja sama dengan kepolisian setempat untuk meningkatkan kedisiplinan ini. “Mas dan Mbak jangan sampai kejaring razia kendaraan ya……” imbuhnya. Sementara itu Sutipyo R., S.Ag., M.Si., sebagai Dosen Koordinator Lapangan menyatakan bahwa melalui program PLP II ini semoga mahasiswa akan dapat mengambil pelajaran secara langsung bagaimana mereka akan menjalani profesi guru setelah lulus nanti. Bapak Ngatiman, sebagai koordinator guru Ismuba menyampaikan bahwa di SMK Muhammadiyah Cangkringan juga ditekankan dalam kedisiplinan ibadah. Shalat Dzuhur berjamaah wajib dilaksanakan oleh semua siswa dan semua civitas akademika. Kedisiplinan ini memang menjadi hal yang sangat ditekankan agar nanti menjadi karakter yang dibawa anak setelah mereka lulus dan bekerja. Reportase DR. Sutipyo R, MPI PDM Sleman

Loading

Khotbah Jumat, MENCEGAH PEREDARAN MIRAS ADALAH WAJIB

Sleman, Pdmsleman.Or.Id الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ثُمَّ الَّذِي حَرَّمَ عَلَيْنَا الخَمْرَ، وَجَعَلَهُ رِجْسًا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ، لِمَا فِيهِ مِنْ أَضْرَارٍ عَظِيمَةٍ تُفْسِدُ العَقْلَ وَتُدَمِّرُ النَّفْسَ وَالمجْتَمَعَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ. أَيُّهَا المؤْمِنُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ فَوْزٌ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ هِيَ رَأْسُ كُلِّ خَيْرٍ. عِبَادَ اللَّهِ، يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ التَّنْزِيلِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون–  المائدة: 90 Ma’asyiral hadlirin yang dirahmati Allah! Peredaran minuman keras—atau yang biasa disebut miras—khususnya di Yogyakarta belakangan makin menjamur dan memprihatinkan banyak kalangan. Miras merupakan minuman mengandung alkohol yang ternyata telah menjadi gaya hidup sebagian masyarakat di provinsi yang Islami dan terpelajar seperti Yogyakarta ini. Tentu peredaran dan penjualan minuman beralkohol ini perlu mendapatkan perhatian serius semua pihak, terutama sekali aparat pemerintah, karena sangat membahayakan generasi umat. Kesehatan jasmani maupun rohani terancam. Konsumsi miras juga bertentangan dengan nilai-nilai sosial, moral, agama, dan seluruh aspek perikehidupan masyarakat. Allah SWT tegas melarang umat Islam mengonsumsi miras dalam surah Al-Maidah: 90, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” Miras jelas masuk kategori khamar. Dalam hadis, Rasulullah SAW memperingatkan kita tentang bahaya miras. Beliau bersabda: كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ، وَمَا أَسْكَرَ مِنْ كُلِّ شَرَابٍ فَحَرَامٌ (رواه مسلم) “Setiap yang memabukkan adalah haram, dan setiap minuman yang dapat memabukkan adalah haram.” (HR. Muslim) Kaidah fikih juga menyatakan: مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ “Apa yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun haram.” Ma’asyiral mustami’in yang diberkahi Allah! Miras diharamkan karena mudaratnya sangat besar. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman telah menyatakan sikap tegas terhadap maraknya peredaran dan penjualan miras. Meski Kabupaten Sleman sudah memiliki peraturan daerah terkait miras, kenyataannya banyak pelanggaran terjadi yang dilakukan oleh penjual/pengedar miras. PDM Sleman mendesak Bupati Sleman untuk serius melakukan pengendalian terhadap peredaran dan penjualan miras di Sleman. Juga mendesak DPRD Sleman untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol serta Pelarangan Minuman Oplosan. Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum terhadap peredaran miras membuat para pengusaha merasa leluasa untuk membuka outlet tanpa khawatir akan sanksi yang tegas. Selain itu, kurangnya sosialisasi dan edukasi tentang bahaya mengonsumsi miras di masyarakat juga turut berkontribusi pada meningkatnya jumlah outlet tersebut. Ma’asyiral muslimin yang dibagahiakan Allah! Kita wajib menentang maraknya outlet-outlet miras melalui berbagai cara. Menentang kemungkaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kemungkaran membawa dampak buruk tidak hanya bagi individu tetapi juga bagi masyarakat. Dalam Islam, setiap Muslim diperintahkan untuk melakukan amar makruf nahi mungkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ — آل عمران: 104 “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran 104). Mengonfirmasi ayat di atas, Rasulullah SAW bersabda dalam hadis shahih: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ (رواه مسلم) “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan (mengingkari dengan hati) itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim). Mencegah peredaran dan penjualan miras harus dilakukan sejak sekarang. Jangan menunggu nanti. Dalam kaidah fikih disebutkan: الدَّرْءُ أَسْهَلُ مِنَ الرَّفْعِ “Menghindari kerusakan lebih mudah daripada memperbaikinya.” “Lebih baik mencegah daripada mengobati”. Dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengar, “Sedia payung sebelum hujan.” Outlet miras di Yogyakarta bukan satu atau dua. Dengan demikian, penolakan harus lebih kuat disuarakan. Muslim yang tidak menentang kemungkaran atau mendiamkannya berarti ikut serta dalam kemungkaran tersebut. Hal ini ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW: إِذَا عُمِلَتِ الخَطِيئَةُ فِي الأَرْضِ كَانَ مَنْ شَهِدَهَا فَكَرِهَهَا كَمَنْ غَابَ عَنْهَا وَمَنْ غَابَ عَنْهَا فَرَضِيَهَا كَمَنْ شَهِدَهَا (رواه أبو داود) “Jika suatu kesalahan dilakukan di muka bumi, maka siapa saja yang menyaksikannya dan membencinya adalah seperti orang yang tidak hadir menyaksikannya; dan siapa saja yang tidak hadir menyaksikannya tetapi meridainya, maka dia seperti orang yang hadir menyaksikannya.” (HR. Abu Dawud). Dalam kaitan itu, ulama kemudian merumuskan kaidah yang sangat bagus: الرَّاضِي بِالْمَعْصِيَةِ شَرِيكٌ فِي الْمَعْصِيَةِ “Orang yang meridhai kemaksiatan adalah bagian dari kemaksiatan itu.” Kaidah lain yang senada dengan itu adalah: السَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ “Orang yang diam dari kebenaran adalah setan bisu.” Sekali lagi, mencegah peredaran miras adalah wajib, karena peredaran miras itu termasuk kemungkaran. Mendiamkan kemungkaran sama dengan menyetujuinya. Padahal kemungkaran akan merusak tatanan moral dan spiritual masyarakat. أَكْتَفِي بِهَذِهِ الْكَلِمَةِ, وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ، وَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ KHOTBAH KEDUA الحمدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، والصَّلاةُ والسَّلامُ عَلَى مُحَمَّدٍ أَشْرَفِ الْخَلْقِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.  أيُّهَا المُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ، فَقَالَ جَلَّ وَعَلا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاجْعَلْ هَذَا البَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى، وَالعَفَافَ وَالغِنَى. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ العَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ. أَقِيمُوا الصَّلَاةَ! Sleman, 28 Juli 2024 / 22 Muharram 1446 M. Husnaini, S.Pd.I., M.Pd.I., Ph.D. Dosen Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Daerah Istimewa Yogyakarta

Loading

UMKM ‘Aisyiyah Sleman Siap Bersaing di Era Digital

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Rabu 31 Juli 2024  puluhan perempuan berkemajuan Pelaku UMKM ‘Aisyiyah se Kabupaten Sleman menghadiri acara konsultasi digital yang diselenggarakan oleh Disperindag Kabupaten Sleman. Acara yang berlangsung di Ruang Paramadhana Lt 3, Kantor Disperindag Kabupaten Sleman ini dihadiri oleh Ketua PDA Sleman, Kadisperindag, dan Konsultan Digital UKM, Normalita Eka Susanti Sukirno. Dalam sambutannya, Ketua PDA Sleman Dra. Hj. Hanik Rosyada M.Ag menekankan pentingnya pengembangan UMKM warga ‘Aisyiyah dengan memanfaatkan media sosial, terutama WhatsApp (WA) marketing. “Kami ingin UMKM ‘Aisyiyah Sleman dapat bersaing di era digital ini. Oleh karena itu, kami menyediakan konsultasi digital gratis untuk membantu mereka meningkatkan penjualan dan memperluas jaringan,” ujarnya. Kadisperindag Sleman yang diwakili Andi ST juga menyampaikan dukungannya terhadap UMKM ‘Aisyiyah. “Kami sangat bangga dengan kemajuan UMKM ‘Aisyiyah Sleman. Kami juga mempromosikan sertifikasi halal gratis untuk membantu mereka meningkatkan kualitas produk dan meningkatkan kepercayaan konsumen,” katanya. Normalita Eka Susanti Sukirno, Konsultan Digital UKM, menambahkan bahwa penggunaan media sosial sangat penting bagi UMKM. “Media sosial seperti WA dapat membantu UMKM meningkatkan penjualan, memperluas jaringan, dan meningkatkan kesadaran merek. Oleh karena itu, kami menyediakan konsultasi digital gratis untuk membantu UMKM ‘Aisyiyah Sleman meningkatkan kemampuan digital mereka,” ujarnya. Dalam acara ini, peserta juga mendapatkan benefit berupa ringkasan materi, konsultasi WA Business gratis, dan pendampingan gratis. Dengan demikian, UMKM ‘Aisyiyah Sleman dapat meningkatkan kemampuan digital mereka dan bersaing di era digital ini.   Sebagaimana disampaikan Ani P peserta dari Ngino kepada Arief Hartanto pada Rabu sore. Semoga program ini berkelanjutan, perempuan Aisyiyah makin bersaing dalam perdagangan.

Loading

MASJID GEDHE KAUMAN YOGYAKARTA

Masjid Raya Yogyakarta, atau lebih dikenal sebagai Kagungan Dalem Masjid Gedhe Kauman, merupakan bagian tak terpisahkan dari Kesultanan Yogyakarta. Keberadaan Masjid Gedhe menegaskan keberadaan Yogyakarta sebagai kerajaan Islam. Masjid Gedhe dibangun di sisi barat Alun-Alun Utara dan barat daya Pasar Beringharjo, tidak jauh dari bangunan keraton. Tata ruang ibu kota kerajaan yang menempatkan keraton sebagai pusat pemerintahan, pasar sebagai pusat ekonomi, dan tempat peribadatan sebagai pusat agama dalam posisi seperti ini, telah dilakukan oleh kerajaan-kerajaan Jawa semenjak era Majapahit. Masjid Gedhe didirikan pada hari Ahad Wage 29 Mei 1773 Masehi, atau 6 Rabi’ul Akhir 1187 Hijriah/Alip 1699 Jawa. Pendirian tersebut ditandai dengan candra sengkala yang berbunyi Gapura Trus Winayang Jalma, sengkalan tersebut tertulis pada prasasti di serambi masjid. Masjid Gedhe didirikan atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kiai Fakih Ibrahim Diponingrat selaku penghulu keraton. Adapun rancang bangunnya dikerjakan oleh Kiai Wiryokusumo. Gaya arsitektur Masjid Gedhe mewarisi gaya Masjid Demak. Karakteristik dari masjid ini adalah keberadaan empat pilar utama atau dikenal dengan saka guru dengan atap berbentuk tajug lambang teplok. Tajug lambang teplok adalah bentuk atap bersusun tiga. Secara filosofis, tiga tingkatan pada atap menggambarkan tahapan dalam menekuni ilmu tasawuf, yaitu syari’at, thareqat, ma’rifat. Tiga tingkat pada atap tersebut juga dapat dimaknai sebagai iman, islam, dan ikhsan. Terdapat 48 (empat puluh delapan) pilar di dalam bangunan masjid ini, sementara atapnya terdiri dari 16 (enam belas) sisi dengan tiga tingkat. Bagian-bagian masjid terdiri dari mi’rab atau tempat pengimaman, liwan yaitu ruangan luas untuk jamaah, serambi yang merupakan bagian luar bangunan, dan tempat wudhu. Di dalam Masjid Gedhe terdapat ruangan khusus bagi raja ketika hadir di masjid, berada di baris (shaf) terdepan, dikenal dengan nama maksura. Sebagai ciri bahwa masjid ini milik Sultan, maka di puncak atap dipasang hiasan mahkota berbentuk bunga. Hiasan pada puncak atap semacam ini disebut sebagai mustaka. Mustaka pada puncak-puncak masjid milik Sultan merupakan stilirisasi dari bentuk gada, daun kluwih, dan bunga gambir. Gada melambangkan keesaan Allah. Daun kluwih mengarah pada kata ‘linuwih’ atau lebih, yaitu manusia akan memiliki kelebihan jika telah melewati tiga tahapan ilmu tasawuf. Sedang bunga gambir melambangkan arum angambar atau keharuman yang menebar. Bangunan Masjid Gedhe diperluas karena jamaah yang bertambah banyak, hanya dua tahun sejak didirikan. Perluasan ini berbentuk pembangunan serambi dengan bentuk limasan dua tingkat, ditandai dengan candra sengkala yang berbunyi Tunggal Windu Pandhita Ratu (1701 J). Pembangunan serambi tersebut bersamaan dengan pembangunan dua bangunan tambahan yang disebut sebagai pagongan. Dua bangunan tersebut dipergunakan sebagai tempat dua rangkaian gamelan pusaka, yakni Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga. Kedua gamelan ini dimainkan selama berlangsungnya upacara Sekaten. Pada masa awal Kesultanan Yogyakarta, masjid ini juga dipergunakan sebagai tempat untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan hukum Islam, terutama masalah perkara perdata. Pimpinan pengurus masjid adalah penghulu keraton yang berada di dalam struktur Abdi Dalem Pamethakan. Salah satu Abdi Dalem penghulu keraton yang pernah bertugas di masjid ini bernama Raden Ngabei Ngabdul Darwis, kelak dikenal sebagai Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Sebagai Khatib Amin, ia memiliki tiga tugas utama. Memberikan khotbah Jumat bergantian dengan delapan khatib yang lain, piket di serambi masjid, dan menjadi anggota Raad Agama Islam Hukum Keraton. Prosesi penyelesaian permasalahan hukum dilaksanakan di serambi masjid yang juga disebut sebagai Al Mahkamah Al Kabirah. Selain sebagai tempat pengadilan agama, juga berfungsi sebagai tempat pertemuan para alim ulama, pengajian dakwah islamiyah, dan peringatan hari besar. Pada tahun 1840, dibangun regol atau pintu gerbang masjid. Regol masjid yang berbentuk Semar Tinandhu ini diberi nama Gapuro. Gapuro berasal dari kata ghofuro yang berarti ampunan dari dosa. Sedang bentuk Semar Tinandhu melambangkan sosok teladan yang mengasuh para ksatria dan raja, sehingga layak mendapat penghargaan setinggi-tingginya. Pada tahun 1867, terjadi gempa besar yang memporak-porandakan Yogyakarta. Regol dan serambi Masjid Gedhe runtuh menimpa Kiai Penghulu hingga meninggal. Kala itu Sri Sultan Hamengku Buwono VI lalu memberikan Kagungan Dalem Surambi Munara Agung, yaitu material yang sedianya dipergunakan untuk membangun Pagelaran Keraton dialihkan untuk membangun kembali serambi Masjid Gedhe. Pembangunan kembali ini sekaligus memperluas serambi menjadi dua kali luas semula. …. Sumber Deskripsi : Kratonjogja.id , Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY Sumber Foto : KITLV, Google, Komunitas Ohol

Loading

Musyker PCM Tempel di SMP Muhammadiyah 1 Tempel, Bersama Menuju Masyarakat Tempel Berkemajuan

Tempel, Pdmsleman.Or.Id Dengan mengambil tema, “Bersama menuju masyarakat Tempel berkemajuan”,  Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tempel menggelar acara Musyawarah Kerja Cabang/Musykercab pada Ahad, 28 Juli 2024 di SMP Muhammadiyah 1 Tempel Jalan Tempel-Seyegan KM 5,5 Gendol, Sumberrejo, Tempel, Sleman.  Acara dihadiri oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sleman, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tempel, seluruh majelis PCM Tempel, PCA Tempel, PM dan NA Tempel, PRM dan PRA Sumberrejo, Kokam Tempel serta Kepala sekolah dan Guru karyawan SMP Muhammadiyah 1 Tempel. Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tempel, H. Samsul Alam, M.Si menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran segenap hadirin bahwa kita harus terus mendukung AUM/Amal Usaha Muhammadiyah di Tempel diantaranya SMP Muhammadiyah 1 Tempel yang kita gunakan untuk Musykercab ini. Semoga semaikin maju dan berkembang. Aamiin. Dalam sambutan dan pembukaan oleh ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman, H. Harjaka, S.Pd, S.Ag, MA menyampaikan bahwa  “Musykercab yang dilaksanakan PCM Tempel ini kita apresiasi sebaik-baiknya kenapa? Sesungguhnya yang kita tulis itu yang kita kerjakan dan apa yang kita kerjakan harus kita tulis. Mudah-mudahan dalam musykercab ini dapat berjalan baik, berkemajuan dan mencerahkan. Muhammadiyah berkemajuan itu adalah memiliki 5 ciri pokok.” Pertama, Muhammadiyah tetap bertauhid dengan benar yakni tauhid ada tiga Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wasifat. Rububiyah, artinya yakin tidak ada Rabb yang disembah kecuali Allah, Uluhiyah, yaitu tauhid yang benar-benar tidak ada ilah selain Allah, Allah adalah mengesakan seluruh bentuk ibadah kepada Allah, Asma wasifat, bahwa Allah itu mempunyai nama-nama dan sifat yang sangat baik perlu kita manifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ciri Kedua, Wasathiyah, maknanya jangan sampai bermakna harus ikut beribadah dengan agama lain tapi wasathiyah sesuai tuntunan Islam. Ciri ketiga melaksanakan agama yang rahmatan lil alamiin, kita harus menjaga kelestarian dan kekompakan dengan warganya. Ciri keempat, Muhammadiyah berkeyakinan bahwa dalam Islam harus ada gerakan ijtihad dan tajdid/pembaharuan dalam metodologi. Ciri kelima, Muhammadiyah tetap berpegang teguh pada Al Qur’an dan Sunah. Sementara itu Sekretaris PCM Tempel H. Supardi, M.Pd menyampaikan pokok-pokok hasil Musykercab Muhammadiyah Tempel yang berlangsung dari pagi sampai jelang Ashar sebagai berikut: 1. Pendataan dan optimalisasi pemanfaatan tanah wakaf 2. Intensifikasi iuran organisasi 4. Optimalisasi penggalangan  LAZISMU dan peremajaan AmbulanMu 5. Intensifikasi kajian Islam warga Muhammadiyah dan pengembangan masjid 6. Revitalisasi pondok pesantren 7. Pendirian  BUMM Tempel 8. Peningkatan mutu pendidikan dasar Muhammadiyah di Tempel Semoga dengan berpegang teguh pada hasil-hasil Musykercab Muhammadiyah Tempel dapat menjadikan Muhammadiyah di Tempel lebih berkemajuan dan selalu mendapat ridho Allah SWT. Aamiin. Bravo PCM Tempel !!! Reportase H. Wahdan Arifudin S.Pd, KS SMPM 1 Tempel, MPI PDM Sleman Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Forum Pengelola Ambulans Muhammadiyah Sleman Laporkan Oknum Penganiaya Ambulanmu Godean

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Forum Pengelola Ambulans Muhammadiyah Sleman menanggapi terjadinya kejadian penganiayaan terhadap relawan Ambulanmu Godean, Sleman, terjadi pada Ahad, 21 Juli 2024, sekitar pukul 17.30 WIB di Gancahan, Godean, Sleman. Tindakan ini dilakukan oleh tiga oknum berinisial HI, AP, dan NT terhadap relawan berinisial FW. Berikut kronologi dan tindak lanjut kejadian tersebut: Kronologi Kejadian: Insiden bermula ketika unit Ambulanmu Godean yang dikendarai FW sedang dalam perjalanan pulang dari RS PKU Muhammadiyah Gamping setelah melaksanakan layanan respon kecelakaan. Saat melintasi simpang 4 Gancahan, Sidokarto, Godean, unit ambulans diberhentikan oleh HI, AP, dan NT. Mereka merasa tersinggung atas sikap FW yang dinilai kurang sopan. FW telah meminta maaf dan mencoba menjelaskan situasi yang dianggap tidak sopan tersebut. Namun, diduga karena oknum-oknum tersebut berada dalam pengaruh minuman beralkohol, mereka tidak dapat berpikir jernih dan melakukan penganiayaan terhadap FW. Penganiayaan ini menyebabkan kerugian fisik bagi FW dan kerusakan pada unit Ambulanmu Godean. Upaya mediasi di Polsek Godean belum membuahkan hasil maksimal. Tindak Lanjut dari peristiwa ini Pengelola Ambulanmu Godean, didampingi oleh Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MHH PWM) D.I. Yogyakarta, memutuskan untuk menempuh jalur hukum. Pada Senin, 29 Juli 2024 pukul 10.00 WIB, mereka melaporkan HI, AP, dan NT ke Kepolisian Resort Kota (Polresta) Sleman. Harapan Pengelola Ambulanmu GodeanPengelola Ambulanmu Godean berharap kasus ini dapat diselesaikan oleh Polresta Sleman dengan sebaik-baiknya sesuai dengan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). H. Darojat Noor Akhmad selaku Ndan FORPAM Daerah Sleman Narahubung 085811592939  dalam press releasenya yang diterima redaksi pada Senin ini berharap ” agar kejadian ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua agar tidak terjadi lagi ke depan tindakan seperti ini dan komitmen kami tetap Ambulanmu~Peduli dan  Melayani”.

Loading

Majelis Pemberdayaan Masyarakat PCM Prambanan Luncurkan Pelatihan Menjahit

Prambanan, Pdmsleman.Or.Id Ahad 28 Juli 2024  Majelis Pemberdayaan Masyarakat PCM Prambanan meluncurkan program pelatihan menjahit sebagai upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat di Prambanan. Kegiatan ini dihadiri oleh 9 peserta yang dipilih sebagai tahap awal program ini. Dalam sambutannya, Ketua PCM Prambanan, dr. H. Omar Indroyono, menyampaikan bahwa program pelatihan menjahit ini merupakan salah satu upaya PCM dalam meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat di Prambanan. “Kami berharap program ini dapat membantu meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan mereka,” kata dr. H. Omar Indroyono. Pelatihan menjahit ini diharapkan dapat memberikan kemampuan kepada peserta untuk membuat produk-produk tekstil yang dapat dijual dan meningkatkan pendapatan mereka.   Sebagai tahap awal, program pelatihan menjahit ini hanya menerima 9 peserta. Namun, PCM Prambanan berharap dapat melanjutkan program ini dengan tahap selanjutnya dan menerima lebih banyak peserta. “Kami berharap dapat melanjutkan program ini dengan tahap selanjutnya dan menerima lebih banyak peserta, sehingga lebih banyak masyarakat yang dapat dijangkau dan dibantu,” kata dr. H. Omar Indroyono. Dengan demikian, program pelatihan menjahit yang diluncurkan oleh PCM Prambanan diharapkan dapat membantu meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat di Prambanan dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Loading

Peneguhan Ideologi Muhammadiyah Untuk Wujudkan PCM Kalasan Berkemajuan

Kalasan, Pdmsleman.or.Id Bertempat di Kaliurang 2024 PCM Kalasan menyelenggarakan Baitul Arqam yang diikuti oleh jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kalasan, perwakilan unsur Majelis, Kantor Layanan Lazismu, perwakilan Ortom, dan perwakilan PRM. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Hotel Wijaya 2 Kaliurang pada tanggal 27 s.d. 28 Juli 2024, bertepatan dengan tanggal 21 s.d. 22 Muharam 1446 H. Baitul Arqam yang dihandle langsung oleh Majelis Pembinaan Kader Sumber Daya Insani PDM Sleman ini juga menghadirkan narasumber utama Dr. H. Untung Cahyono, M.Hum., dan H.M. Isnawan, S.E., M.PH.   Ketua PCM Kalasan, H. Sunandar, S.Psi. berharap “ kegiatan Baitul Arqam ini bisa menumbuhkan kecanduan/kecintaan kader Muhammadiyah Kalasan dalam gerakan dakwah Muhammadiyah sehingga mereka ikhlas beramal, berinfak, sedekah, dan berdakwah”. Baitul Arqam yang mengangkat tema “Peneguhan Ideologi Muhammadiyah sebagai dasar gerakan dakwah Muhammadiyah Kalasan Berkemajuan,” ini dibuka oleh Drs. H. Irfan Haris, mewakili Ketua PDM Sleman yang berhalangan hadir. Dalam sambutannya, Irfan Haris menyampaikan “ perlunya redefinisi, reorientasi, dan reaktualisasi gerakan Muhammadiyah agar bisa mewujudkan risalah Islam berkemajuan sebagaimana diamanatkan oleh hasil Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta”. Menurutnya, baitul arqam merupakan media penggemblengan kader Muhammadiyah militan agar mampu mengemban amanah dakwah amar makruf nahi munkar di tengah-tengah kondisi umat yang semakin dinamis. Narasumber dari tingkat wilayah DIY, Dr. H. Untung Cahyono, M.Hum.,memberikan penguatan materi tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Untung Cahyono menjelaskan bahwa kader Muhammadiyah harus bersama-sama dalam upaya memberantas praktik-praktik yang menyimpang dari ketauhidan yang masih menggejala di masyarakat, seperti tahayul, bid’ah, dan khurafat dalam segala bidang kehidupan. Sedangkan, HM Isnawan, S.E., M.P.H., memfokuskan pada materi MKCH (Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup) bagi warga Muhammadiyah. Isnawan yang merupakan kader Muhammadiyah militan kelahiran Kauman asli, dididik dan dibesarkan oleh keluarga Muhammadiyah tulen, sejak dari anak-anak hingga kini, dan insya Alloh, selama hidupnya, berkhidmat pada Muhammadiyah. Sepanjang ceramahnya Isnawan membombardir audien dengan suaranya yang keras, meledak-ledak hingga terkadang membuat jantung berdetak kencang, terkadang takjub dengan kisah kehidupan keluarga yang beliau contohkan. Isnawan menegaskan bahwa matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah tidak hanya cukup diyakini, tetapi harus diamalkan dalam perbuatan dan sikap sehari-hari bagi kader Muhammadiyah. Menurutnya, kader Muhammadiyah harus memiliki ketegasan dalam bersikap, berdakwah, dan beribadah, berkomitmen tinggi sebagai warga Muhammadiyah. Islam adalah risalah yang sudah sempurna, menambah-nambah dalam ibadah berarti bid’ah, mengurangi dalam beribadah berarti kurang ajar. Mantan Direktur Keuangan PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta ini memang dikenal sebagai pribadi yang keras dan tegas, tidak imbas-imbis, teguh pendirian dalam ber-Muhammadiyah. Materi lain dalam Baitul Arqam tersebut diantaranya, Tuntunan Ibadah sesuai HPT, Risalah Islam Berkemajuan, dan FGD Pengelolaan Cabang dan Ranting oleh narasumber, yakni Hendro Sucipto, S.Th.I.,M.Pd., dan Achmad Afandi, S.Ag., M.Si. dibantu oleh Master of Training dari MPK SDI PDM Sleman. Untuk menjaga kebugaran peserta, para peserta Baitul Arqam juga diajak out bond dengan game-game menggembirakan. Baitul Arqam ditutup pada hari Ahad, 22 Muharam 1446 H pukul 14.00 di Aula Hotel Wijaya 2 Kaliurang. Reportase : DR. Sarno R Sudibyo, M.Pd., MPI PCM Kalasan, https://pcmkalasan.or.id ) Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading