Foto by Gilang Ramadhan
![]()
Foto by Gilang Ramadhan
![]()
Wakil Kepala SMP Muhammadiyah 3 Depok, Ary Gunawan, terpilih sebagai peserta teraktif di kelas dalam Pendidikan Khusus Calon Kepala (Diksuscakep) Sekolah/Madrasah Muhammadiyah se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan tersebut di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan DIY, Selasa hingga Sabtu (28/7–1/8/2026). Ary memperoleh predikat tersebut setelah aktif mengikuti proses pembelajaran, diskusi, dan berbagai kegiatan kelas selama pelaksanaan Diksuscakep. Keaktifannya mencerminkan kesungguhan dalam menyerap materi serta mengembangkan kemampuan kepemimpinan sekolah. Ary mengatakan Diksuscakep memberikan pengalaman dan bekal kepemimpinan yang penting bagi para calon kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah. “Kegiatan Diksuscakep ini memberikan pengalaman dan bekal kepemimpinan bagi calon kepala sekolah. Materi yang diberikan oleh fasilitator sangat sesuai dengan kebutuhan dan dinamika pengelolaan sekolah,” katanya, Sabtu (1/8/2026). Menurut Ary, materi yang disampaikan tidak hanya memperkuat pemahaman mengenai tugas kepala sekolah, tetapi juga membantu peserta menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk meningkatkan kemampuan manajerial, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan. Peserta juga memperoleh kesempatan bertukar pengalaman mengenai pengelolaan sekolah dan madrasah Muhammadiyah. Ary berharap pengalaman selama mengikuti Diksuscakep dapat diterapkan untuk mendukung pengembangan SMP Muhammadiyah 3 Depok. Bekal tersebut juga diharapkan memperkuat kesiapan peserta dalam menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin lembaga pendidikan. Rep (Athiful Depok)
![]()
Delapan Ribuan warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dari berbagai kapanewon di Kabupaten Sleman memadati kawasan Museum Gunung Merapi (MGM), Hargobinangun, Pakem, Sabtu (1/8/2026), untuk mengikuti Hari Ber-Muhammadiyah Kabupaten Sleman Tahun 2026. Mengusung tema “Dakwah Lereng Merapi: Mencerahkan, Memberdayakan, dan Memajukan Peradaban”, kegiatan ini menjadi momentum mempererat ukhuwah sekaligus memperkuat peran Muhammadiyah dalam dakwah, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Sejak pagi buta, ribuan jamaah telah berdatangan menggunakan bus, kendaraan pribadi hingga rombongan dari berbagai Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM). Suasana kawasan Museum Gunung Merapi berubah menjadi lautan warga Muhammadiyah yang memadati arena utama, bazar UMKM, layanan kesehatan, hingga area donor darah. Sebelum acara inti dimulai, panitia menyuguhkan praacara yang dipandu dua pembawa acara dengan mengajak jamaah mengunjungi puluhan stan UMKM binaan PCA Pakem dan masyarakat Hargobinangun. Beragam produk lokal mulai dari olahan salak, jadah khas Kaliurang, bakso, soto, kebab, burger, susu kambing etawa, hingga aneka jajanan tradisional menarik perhatian para pengunjung. Selain bazar UMKM, panitia juga menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah bekerja sama dengan PMI, serta promo khusus tiket masuk Museum Gunung Merapi bagi seluruh peserta kegiatan. Seluruh rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah menggerakkan ekonomi umat sekaligus menghadirkan pelayanan sosial bagi masyarakat. Suasana semakin semarak ketika panggung praacara menampilkan berbagai kreativitas siswa-siswi sekolah Muhammadiyah di Pakem. Penampilan diawali Tari Anugraha Pari dari SMP Muhammadiyah Pakem yang merupakan peraih Juara Harapan II Festival Lomba Seni Nasional Kabupaten Sleman. Tarian yang menggambarkan semangat para petani tersebut berhasil memukau ribuan jamaah. Tepuk tangan panjang mengiringi setiap gerakan para penari yang tampil anggun dengan kostum bernuansa budaya Jawa. Kemeriahan berlanjut melalui penampilan Drum Band TK ABA Boyong bertajuk “Mahaguru Merapi”. Pertunjukan tersebut mengangkat kisah kehidupan masyarakat lereng Merapi, mulai dari suasana damai sebelum erupsi, kepanikan saat bencana, hingga bangkitnya masyarakat membangun kehidupan baru dengan semangat gotong royong. Penampilan itu mendapat apresiasi luar biasa karena dimainkan oleh puluhan anak usia dini dengan penuh percaya diri dan kekompakan. Tak kalah memukau, siswa SD Muhammadiyah 2 Pakem yang merupakan Juara I Angklung Tingkat DIY juga tampil membawakan sejumlah lagu bertema nasionalisme dan kecintaan kepada Tuhan. Harmoni angklung yang dimainkan para siswa membuat suasana pagi di lereng Merapi terasa semakin khidmat. Sementara itu, penyanyi cilik Zaura dari SD Muhammadiyah Pakem membawakan lagu religi “Kebesaran-Mu” yang berhasil menyentuh hati para jamaah. Penampilannya mendapat sambutan meriah dari ribuan peserta yang memenuhi area Museum Gunung Merapi. Acara inti dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan Mars ‘Aisyiyah sebagai simbol perpaduan nilai keislaman, kebangsaan, serta semangat dakwah berkemajuan. Ketua PCM Pakem, H. Raden Agung Nugroho, M.A., dalam laporannya menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan menjadikan Pakem sebagai tuan rumah Hari Ber-Muhammadiyah Kabupaten Sleman tahun ini. Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah Pakem terus berkembang melalui berbagai amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dakwah, dan ekonomi. Mulai dari PAUD hingga SMA/SMK, Klinik Pratama PKU Muhammadiyah Pakem yang sedang berproses menjadi Klinik Utama, Panti Asuhan Putri Muhammadiyah, pengajian Ahad pagi di sembilan titik, koperasi, hingga Muhammadiyah Business Corner. Menurutnya, kegiatan tersebut juga didukung bazar UMKM, layanan kesehatan gratis, donor darah, serta ribuan paket konsumsi hasil gotong royong jamaah dan takmir masjid di wilayah Pakem. “Kami berharap Hari Ber-Muhammadiyah ini semakin menggembirakan dakwah dan memperkuat ukhuwah warga Muhammadiyah Kabupaten Sleman,” ujarnya. Bupati Sleman H. Harda Kiswoyo, S.Si., M.Si. memberikan apresiasi tinggi kepada Muhammadiyah atas kontribusinya dalam pembangunan daerah. Menurutnya, pengajian seperti Hari Ber-Muhammadiyah bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi juga ruang membangun karakter masyarakat yang religius, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial. Ia mengajak seluruh jamaah menjaga persatuan, toleransi, gotong royong, serta terus mendukung pendidikan generasi muda melalui lembaga-lembaga Muhammadiyah. Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menyatakan dukungannya terhadap pengembangan Klinik PKU Muhammadiyah Pakem agar segera meningkat statusnya menjadi Klinik Utama. Ketua PDM Sleman H. Harjaka, S.Pd., S.Ag., M.A. menyampaikan bahwa keberhasilan menghadirkan lebih dari tujuh ribu jamaah menjadi bukti kuatnya semangat warga Muhammadiyah Sleman. Ia mengingatkan lima kekuatan utama warga Muhammadiyah, yakni keimanan sebagai aset terbesar, kejujuran sebagai harta terbaik, kesabaran sebagai senjata utama, doa sebagai alat tercanggih, dan persatuan sebagai modal terbaik untuk membangun organisasi yang semakin berkemajuan. Sementara itu, mewakili PWM DIY, Dr. H. Yayan Suryana, M.Ag. menegaskan bahwa pengajian merupakan jantung gerakan Muhammadiyah sejak didirikan KH Ahmad Dahlan. Menurutnya, hampir seluruh amal usaha Muhammadiyah lahir dari budaya pengajian yang terus melahirkan gagasan dan inovasi bagi kemajuan umat. Ia mengapresiasi antusiasme warga Muhammadiyah Sleman yang mampu menghadirkan ribuan jamaah dalam satu kegiatan besar. Selain pengajian, panitia juga memberikan penghargaan kepada guru-guru TK ABA, para takmir masjid Muhammadiyah, serta menghadirkan penampilan Polisi Cilik SD Muhammadiyah Pakem yang memukau hadirin dengan atraksi baris-berbaris dan seni budaya Nusantara. Selama kegiatan berlangsung, panitia juga menggalang dana melalui Lazismu sebagai bentuk kepedulian sosial warga Muhammadiyah kepada masyarakat yang membutuhkan. Hari Ber-Muhammadiyah Kabupaten Sleman 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar pengajian akbar. Kegiatan ini menunjukkan wajah Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang tidak hanya mengajarkan nilai-nilai keislaman, tetapi juga menghadirkan pendidikan berkualitas, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, kepedulian sosial, pelestarian budaya, hingga penguatan persaudaraan di tengah masyarakat. Dengan semangat “Dakwah Lereng Merapi: Mencerahkan, Memberdayakan, dan Memajukan Peradaban”, ribuan warga Muhammadiyah membuktikan bahwa dakwah dapat diwujudkan melalui aksi nyata yang memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Rep Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
![]()
Foto by Gilang Ramadhan.
![]()
Foto by Gilang Ramadhan.
![]()
MPI Majelis Pustaka Informasi PDM Sleman
![]()
PC MUHAMMADIYAH PAKEM
![]()
Godean, PdmSleman.Or.Id– Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Godean bersama Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar Silaturahmi di Pengajian Rutin Ahad Pagi atau Jihadi serta penyerahan dosen dan tendik UMY yang tinggal di Cabang Muhammadiyah Godean berlangsung di Masjid Al Huda Pandean VII Sidoluhur Godean Sleman Yogyakarta (2/8/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi Muhammadiyah dan persyarikatan dalam mengembangkan dakwah Islam berkemajuan di tengah masyarakat. Dalam sambutannya, Haris Darmawan, S.Pd selaku Ketua PCM Godean menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas kehadiran tim dosen serta civitas akademika UMY yang berkenan menjalin kerja sama dengan Muhammadiyah Godean. Kehadiran UMY diharapkan dapat memberikan penguatan dalam bidang dakwah, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). “Kolaborasi antara perguruan tinggi Muhammadiyah dengan persyarikatan di tingkat cabang merupakan langkah strategis untuk mempercepat kemajuan dakwah dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dengan dukungan keilmuan dan pengalaman akademik yang dimiliki UMY, berbagai program pemberdayaan masyarakat dapat dilaksanakan secara lebih terarah dan berkelanjutan” ungkap Haris Dalam tausiyahnya, Ustadz Gita Danupranata, S.E., M.M. menegaskan bahwa seluruh Amal Usaha Muhammadiyah didirikan bukan semata-mata sebagai lembaga pelayanan, melainkan sebagai instrumen dakwah yang bertujuan menghadirkan kemaslahatan bagi umat. Oleh karena itu, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, maupun lembaga sosial Muhammadiyah harus senantiasa menjaga ruh persyarikatan dan nilai-nilai dakwah dalam setiap aktivitasnya. “Amal usaha Muhammadiyah harus menjadi corong dakwah Persyarikatan. Keberadaannya bukan hanya untuk melayani masyarakat, tetapi juga untuk menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang berkemajuan dan mencerahkan,” papar Ustadz Gita. Selain membahas peran amal usaha, Ustadz Gita Danupranata yang juga Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta juga menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini, termasuk masalah lingkungan, pengelolaan sampah, pendidikan, dan penguatan karakter generasi muda.Muhammadiyah diharapkan mampu hadir sebagai bagian dari solusi melalui gerakan dakwah yang membumi dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Ia menegaskan bahwa tujuan tertinggi dakwah Islam adalah menghadirkan rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, dakwah Muhammadiyah harus diwujudkan dalam bentuk karya nyata yang memberikan manfaat bagi sesama manusia, lingkungan, dan kehidupan secara luas. Pada kesempatan tersebut juga ditekankan pentingnya mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban umat. Masjid tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga harus menjadi pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, konsultasi masyarakat, dan penguatan ukhuwah Islamiyah. “Apabila persoalan masyarakat dapat dibahas dan dicarikan solusi di masjid, maka masjid benar-benar akan menjadi pusat kehidupan umat sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW,” jelasnya. Ustadz Gita Danupranata yang juga aktif di lingkungan Majelis Tabligh Muhammadiyah mengajak seluruh jamaah untuk memberi ruang yang lebih luas kepada generasi muda dalam memakmurkan masjid. Menurutnya, banyak anak muda memiliki potensi besar, namun sering kali belum mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dan mengembangkan kreativitasnya dalam kegiatan masjid. “Anak-anak muda bukan tidak mau ke masjid. Mereka perlu diberikan kepercayaan, kesempatan, dan panggung untuk berkontribusi. Jika itu dilakukan, masjid akan menjadi lebih hidup dan dekat dengan generasi penerus,” tuturnya. Dalam sesi dialog, peserta juga membahas tantangan organisasi Muhammadiyah, khususnya terkait kader yang kurang aktif setelah terpilih menjadi pimpinan. Menanggapi hal tersebut, Ustadz Gita Danupranata menekankan pentingnya pendekatan silaturahmi, komunikasi personal, dan budaya saling menguatkan dalam organisasi. “Jangan mudah meninggalkan kader yang mulai jarang hadir. Datangi, ajak berbicara, dan bangun kembali semangat perjuangannya. Muhammadiyah dibangun dengan ukhuwah dan kebersamaan,” pesannya. Kegiatan yang berlangsung penuh keakraban tersebut ditutup dengan doa bersama untuk kemajuan dakwah Muhammadiyah, keberkahan amal usaha, kesehatan seluruh warga persyarikatan, serta kemajuan bangsa dan umat. Sebagai simbol penguatan kerja sama, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menyerahkan bantuan dan cendera mata secara simbolis oleh Sub Direktorat Dakwah dan Internalisasi AIK, Ustadz Mukhlis Rahmanto, Lc., M.A., Ph.D kepada PCM Godean. Penyerahan tersebut menjadi wujud komitmen bersama dalam memperkuat sinergi dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan program-program Muhammadiyah yang berkemajuan. Melalui kolaborasi yang terus dibangun antara UMY dan PCM Godean, diharapkan lahir berbagai program inovatif yang mampu memperkuat dakwah Islam, memakmurkan masjid, mengembangkan amal usaha, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Kegiatan ini cukup meriah dan dihadiri oleh 400an jamaah termasuk 20 orang dosen dan tendik dari UMY Yogyakarta. Rep H. Wahdan Arifudin SP.d PCM Godean
![]()
Turi, Pdmsleman.Or.Id Memasuki bulan Safar 1448 Hijriah, Masjid Baiturrahim Prapatan Turi, Sleman, kembali menggelar Kajian Sabtu Pagi yang menghadirkan Prof. Dr. Ir. H. Sukamta, S.T., M.T., IPM, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ketua PCM Ngaglik, sekaligus pembina KBIH ‘Aisyiyah. Kajian yang berlangsung pada Sabtu Kliwon, 17 Safar 1448 H atau 1 Agustus 2026 pukul 04.45–05.45 WIB tersebut mengangkat tema “Safar: Momentum Hijrah Menuju Pribadi yang Lebih Baik”, dengan pesan utama menjadikan setiap waktu sebagai kesempatan menambah amal saleh. Di hadapan jamaah yang memenuhi Masjid Baiturrahim, Prof. Sukamta mengawali tausiyah dengan mengajak seluruh kaum muslimin meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Menurutnya, pergantian hari, bulan, maupun tahun bukan sekadar perubahan kalender, melainkan amanah Allah yang harus dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi diri atau muhasabah. Beliau mengutip firman Allah SWT dalam QS. Yunus ayat 6 yang menjelaskan bahwa pergantian malam dan siang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang bertakwa. “Allah menciptakan waktu bukan untuk disia-siakan. Setiap pergantian waktu adalah kesempatan memperbaiki kualitas iman, amal, dan akhlak kita,” ungkapnya. Perjalanan Hidup Menuju Allah Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa kata Safar secara bahasa berarti perjalanan. Makna ini mengingatkan setiap manusia bahwa hidup sesungguhnya merupakan perjalanan panjang, mulai dari lahir menuju kematian, dari kehidupan dunia menuju akhirat, dari dosa menuju ampunan Allah, hingga dari kelemahan menuju kemuliaan di sisi-Nya. Beliau mengutip QS. Al-Insyiqaq ayat 6 yang menegaskan bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Rabb-nya dan kelak akan menemui-Nya. “Setiap hari umur kita berkurang. Semoga setiap hari pula amal kita bertambah,” pesannya kepada jamaah. Hijrah Dimulai dari Perubahan Akhlak Prof. Sukamta menegaskan bahwa hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi perubahan menuju pribadi yang lebih baik. Mengutip sabda Rasulullah ﷺ, beliau menjelaskan bahwa orang yang berhijrah adalah mereka yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah. Beliau mengajak jamaah melakukan introspeksi diri dengan beberapa pertanyaan sederhana. Apakah shalat telah semakin khusyuk, Al-Qur’an telah menjadi bacaan harian, hubungan dengan keluarga semakin harmonis, kepedulian terhadap tetangga meningkat, dan pekerjaan dijalankan dengan penuh amanah. “Hijrah terbaik adalah hijrah akhlak. Ketika karakter kita semakin baik, itulah tanda perjalanan menuju Allah berjalan di jalur yang benar,” tuturnya. Muhasabah Sebelum Perjalanan Berakhir Dalam penyampaiannya, Prof. Sukamta memberikan ilustrasi tentang seorang pengemudi yang selalu memeriksa bahan bakar, rem, ban, dan mesin sebelum melakukan perjalanan jauh. Demikian pula kehidupan manusia. Sebelum perjalanan menuju akhirat berakhir, setiap muslim perlu memeriksa kembali kualitas iman, ibadah, akhlak, amanah, serta hubungan dengan sesama manusia. Beliau juga mengingatkan bahwa Allah tidak menuntut manusia menjadi sempurna secara instan. Yang Allah cintai adalah amal yang dilakukan secara istiqamah meskipun sedikit, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus. “Hari ini harus lebih baik dari kemarin, bulan ini lebih baik dari bulan sebelumnya, dan tahun ini harus lebih baik daripada tahun lalu,” ujarnya. Memperkuat Ukhuwah dan Menjadi Manusia Bermanfaat Pada bagian berikutnya, Prof. Sukamta mengajak jamaah menjadikan bulan Safar sebagai momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah. Mengutip QS. Al-Hujurat ayat 10, beliau menegaskan bahwa sesama mukmin adalah saudara. Menurutnya, masyarakat yang kuat bukan semata karena memiliki banyak orang pandai, melainkan karena warganya saling membantu, saling mendoakan, saling menguatkan, serta saling memaafkan. Beliau juga mengingatkan sabda Rasulullah ﷺ bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Produktif Mengisi Waktu Dalam kajian tersebut, Prof. Sukamta mengajak jamaah meneladani Rasulullah ﷺ yang dikenal sangat produktif dalam mengatur waktu antara ibadah, keluarga, pekerjaan, dan pengabdian kepada masyarakat. Mengutip QS. Asy-Syarh ayat 7–8, beliau mengingatkan bahwa seorang mukmin tidak mengenal waktu kosong karena selalu berusaha mengisinya dengan amal yang bermanfaat. Sebagai penguat pesan, beliau mengajak jamaah merenungkan makna tembang Ilir-Ilir karya Sunan Kalijaga yang mengandung ajakan untuk bangkit dari kelalaian, memperbarui keimanan, dan menyuburkan amal saleh sebagaimana tanaman yang kembali hijau setelah memperoleh air. Muhasabah Menyambut Safar Menjelang penutupan kajian, suasana menjadi semakin khidmat ketika Prof. Sukamta mengajak jamaah melakukan muhasabah. “Jika Allah memanggil kita malam ini, apakah kita sudah siap? Bukan siap karena harta, bukan karena jabatan, tetapi siap karena amal,” ungkapnya. Beliau kemudian menyampaikan sejumlah pesan inspiratif, di antaranya bahwa Safar bukan sekadar nama bulan, tetapi pengingat bahwa hidup adalah perjalanan menuju Allah. Hijrah terbaik bukan berpindah tempat, melainkan berpindah dari kebiasaan buruk menuju amal yang diridhai Allah. Kajian ditutup dengan pembacaan QS. Al-‘Ashr ayat 1–3 sebagai pengingat bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Melalui kajian ini, jamaah diajak menjadikan bulan Safar sebagai titik awal memperbaiki diri, memperkuat keluarga, membangun kepedulian sosial, serta meningkatkan kualitas ibadah. Sebagaimana pesan penutup yang disampaikan, kemuliaan suatu waktu bukan ditentukan oleh nama bulannya, melainkan oleh amal saleh yang mengisinya. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi setiap muslim agar menjadikan setiap detik kehidupan sebagai bekal terbaik menuju perjumpaan dengan Allah SWT. Rep H. Agus Nugroho S Turi
![]()
Foto by Gilang Ramadhan.
![]()