Sleman, Pdmsleman.Or.Id Bertempat di Rumah Dinas Bupati Sleman pada hari Ahad, 20 April 2025 Pimpinan Daerah Aisyiyah Sleman gelar Syawalan seluruh anggota pimpinan. Hadir bupati Sleman yang diwakili sekda Drs. Sumiarto., MM membuka secara resmi hajat ini. Dalam kata sambutan beliau sampaikan tentang 5 program unggulan pemda Sleman periode 2025 – 2030. Satu hal yang sangat utama dalam bidang pendidikan. Pemda memberi peluang kepada anak- anak Sleman untuk bisa mengambil kesempatan beasiswa pemda di UNISA atau AMIKOM dimana 2 PTS ini telah menjalin MoU dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman. Dihadiri Pimpinan Wilayah Aisyiyah DIY ibu Dr. Widiastuti, S.Ag. MM menyampaikan tentang “ program Aisyiyah pasca Tanwir, bidang pendidikan dan Makesos, Kesehatan, Ekonomi dan Dakwah berjalan bersama kolaborati”f. Dalam laporan panitia pelaksana Hanik Rosyada selaku panitia pelaksana acara ini menyampaikan dasar hukum kegiatan ini, Silaturahmi Syawal dan Peringatan Hari Kartini. “ Kartini adalah tokoh perempuan Indonesia yang mempelopori perempuan untuk belajar sebagaimana tercantum dalam Q.S. Al Baqoroh 257, mengeluarkan manusia dari zaman kegelapan menuju pencerahan, Habis Gelap Terbitlah Terang”. Tausiyah Syawal disampaikan oleh Ustadz Dr. Yusuf A. Hasan., M.Ag. dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dalam tausiyahnya menyampaikan uraian tentang Q.S. Al Muthofifin, “ Ibu-bu Aisyiyah supaya benar-benar mencermati ayat ini, jangan mengurangi, menyimpang, tetap pada jalan yang lurus , dimulai dari hati yang lurus, istiqomah sehingga terwujud insan yang tattaquun”. Hj, Hanik Rosyada. M.Pd, Ketua PDA Sleman Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
Komite mendukung penuh semua kompetisi yang diikuti siswa-siswi, bahkan kompetisi yang diikuti oleh guru-guru sekolah tersebut. “Keikutsertaan dalam berbagai kompetisi merupakan wahana untuk mengasah prestasi, menguatkan mental dan karakter serta membentuk pribadi juara sesuai bidang yang ditekuni,” pungkas Eny Purwaningsih kepala SD Muhammadiyah Semingin. Rep Edy – KIM Moyudan)
Kalasan, Pdmsleman.Or.IdDi Sabtu pagi yang cerah, terlihat ratusan orang berbaju muslim berwajah ceria memadati Lapangan Bayen, Purwomartani, Kalasan untuk mengikuti pengajian akbar rutin yang diadakan oleh PCM Kalasan.Acara yang digelar pada tanggal 12 April 2025 dihadiri jajaran pimpinan Kapanewon Kalasan, pimpinan MWC NU Kalasan, pimpinan LDII Kalasan, pimpinan MTA Kalasan, pimpinan IPHI Kalasan, Pimpinan DMI Kalasan, pimpinan MUI Kalasan, AUM, AUA, Ortom, PRM PRA dan simpatisan Muhammadiyah di Wilayah Kapanewon Kalasan.H. Sunandar, S.Psi., Ketua PCM Kalasan, dalam sambutannya menginformasikan bahwa ” PCM Kalasan saat ini sedang menggalang dana untuk pengadaan AmbulanMU senilai 255.000.000 rupiah. AmbulanMU ini akan sangat membantu kegiatan sosial di wilayah Kapanewon Kalasan sehingga Ketua PCM Kalasan mengajak jama’ah sekalian untuk bisa berkolaborasi bersama dalam mewujudkan AmbulanMU ini”. Saat ini dana yang terkumpul masih kurang 200.825.000 rupiah. Jama’ah yang akan bersodaqoh dapat menghubungi bapak Aswino (0856 0037 2558) atau bapak Catur (W. 0895 2268 6633).Dalam acara tersebut, Panewu Kalasan, Joko Susilo, SP, M.Si. mengajak jama’ah sekalian untuk mempererat silaturahmi antar umat Islam di Kalasan. Pak Panewu juga mengajak jama’ah untuk menjaga nilai toleransi supaya umat Islam yang ada di Kalasan menjadi umat yg rohmatan lil alamin. Acara selanjutnya diisi oleh Ustadz Ikhwanu Shofa dari PWM Jawa Tengah.Ustadz Ikhwanu Shofa menyampaikan bahwa menurut catatan Mbah Hadjid, salah satu murid KH Ahmad Dahlan, KH Ahmad Dahlan selama hidup hanya mengajarkan sekitar 50 – 60 ayat Al Qur’an. Padahal ayat Al Qur’an ada 6.200 ayat. Meskipun yang KH. Ahmad Dahlan ajarkan cuman sedikit, tapi ternyata membuat Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sebesar ini. Kenapa bisa demikian ? Itu semua salah satunya karena dalam mengajarkan Al Qur’an KH. Ahmad Dahlan mempunyai 2 syarat pengajaran. Pertama adalah belum ganti ayat lain sampai sebelum jama’ahnya paham. KH. Ahmad Dahlan mengajarkan surat Al Maun pada murid-muridnya sampai dengan 3 bulan lamanya. Yang kedua adalah belum ganti ayat lain sebelum ayat yang diajarkan saat ini diamalkan. Prinsip ini yang akhirnya membuat murid-murid KH. Ahmad Dahlan menjadi santri amalan, bukan santri hafalan.Ustadz Ikhwanu Shofa juga menggaris bawahi penerapan rukun Islam yang tidak berurutan. Seperti kita ketahui, secara urutan Rukun Islam adalah Syahadat, Salat, Zakat, Puasa, dan Haji. Data Balitbang Kementerian Agama menunjukkan tingkat penunaian Rukun Islam berupa shalat di Indonesia di tahun 2024 adalah 38,9% dan tingkat penunaian puasa Ramadhan adalah 62,9%. Ini menunjukkan ada orang-orang yang berpuasa tetapi tidak melaksanakan shalat 5 waktu padahal secara urutan Rukun Islam sholat lebih dahulu daripada zakat.Menurut data Kementerian Agama, waiting list haji sebesar 5% dari jumlah umat Islam di Indonesia sedangkan tingkat penunaian zakat mal tidak pernah lebih dari 1% saja. Hal ini menunjukkan adanya umat Islam yang secara finansial mampu melaksanakan ibadah haji, tetapi tidak melaksanakan rukun islam yang lebih utama yang posisi sebelumnya yaitu zakat wabil khusus zakat mal. Oleh karena itu, penceramah mengajak umat Islam yang hartanya sudah memenuhi syarat zakat mal untuk mengeluarkan zakatnya. Penceramah juga mengajak pada ustadz dan da’i – da’i untuk mensosialisasikan masalah zakat ini agar makin tumbuh kesadaran masyarakat untuk berzakat yang mana zakat ini akan sangat bermanfaat untuk umat dan ini selaras dengan Gerakan Al Ma’un yang dirintis KH. Ahmad Dahlan. Kenapa surat Al Maun ? karena dengan A Maun ini kita membuktikan agama kita ini beneran atau cuma pura-pura, bukan masalah sholatnya, bukan masalah haknya saja, tapi bagamana sikap kita terhadap isu pengentasan kemiskinan, penanganan anak-anak yatim piatu, dan pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Penceramah juga memberikan tips untuk kita agar gemar bershadaqah dengan menargetkan minimal shadaqah yang dikeluarkan sebesar uang jajan yang dikeluarkan.Rep Hanif Rahmawan / MPI PCM Kapanewon Kalasan.Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
Turi, Pdmsleman.Or.Id Ahad Kliwon 14 Syawal 1446 H / 13 April 2025 silaturahmi dan pengajian bersama Keluarga Besar Muhammadiyah Turi bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Turi di Ngablak Bangunkerto sekaligus halal bil halal dan pamitan jama’ah Haji Muhammadiyah Turi 2025. Dalam kesempatan ini tausyiah disampaikan oleh Ustadz Talqis Nurdianto, Lc., M.A., Ph.D. dari PBA UMY Yogyakarta yang dalam ceramahnya menekankan pentingnya silaturahmi dalam kehidupan sehari-hari serta bagaimana menjaga kebersamaan dalam lingkungan dakwah persyarikatan. “ Qur’an Surat al Maidah ayat 2 mengenalkan prinsip at-ta’awun yakni perasaan dan tindakan yang dilakukan bersama-sama, melibatkan orang lain, dan merasakan dampaknya bersama dengan goal berupa kerja sama, saling membantu, saling mendukung, dan saling berkorban, harmonis, melatih kekompakan, dan menghargai perbedaan”. Demikian pula halnya dalam ber-Muhammadiyah yang dalam berorganisasi dengan memprioritaskan kepentingan bersama, menghargai perbedaan, dan tidak egois. Dalam berkeluarga diwujudkan dengan saling menguatkan, mendukung, dan berbagi tanggung jawab dan secara lebih luas di masyarakat, dengan saling membantu, memahami, dan mengerjakan sesuatu bersama-sama. Sekitar 450 jama’ah Nampak memenuhi Gedung Dakwah yang pagi itu penuh dengan kehangatan dan dalam acara ikrar halal bil halal yang dipimpin Ketua PCM ( Pimpinan CAbang Muhammadiyah ) Turi serta diikuti segenap hadirin jama’ah Muhammadiyah dan Aisyiyah yang saling berikrar untuk saling memaafkan antar sesama. Nampak hadir pula dalam kesempatan tersebut PLT Panewu Turi Agung Indarto SE, MM dan jajaran MuspimKap, Cabang dan Ranting Muhammadiyah Aisyiyah Turi beserta Amal Usahanya serta jama’ah, Ortom PCNA, PCPM , KOKAM, Lurah Desa Bangunkerto, IPHI Turi dan segenap undangan. Suasana semakin meriah dengan acara sarapan pagi bersama yakni 400 porsi soto yang hangat segar dinikmati oleh segenap peserta acara dan tak lupa juga dibagikan sejumlah door prize dari panitia. Reportase Editor Arief HArtanto MPI PDM Sleman
Moyudan, Pdmsleman.or.Id Setiap orang tua tentu mendambakan putra-putrinya menjadi cerdas, pintar sholih-sholihah berbudi pekerti luhur. Menjadikan anak pintar berkarakter diperlukan proses dan dilakukan dengan kesungguhan. Ada 3 pilar utama pendidikan, yakni sekolah, keluarga, dan lingkungan. “Beri kesempatan anak untuk belajar Al-Qur’an, biarkan anak aktif berkegiatan di masjid. Orang tua pun harus memberi contoh dengan aktif di majlis taklim,” papar Prof Drh Agung Budiyanto,M.P.,P.hD saat menyampaikan tausiah Syawalan Keluarga Besar SD Muhammadiyah Semingin Sumbersari Moyudan Kamis (10/4/2025) di Ruang KH Ahmad Dahlan. Ustad Agung menegaskan penting bagi anak-anak untuk mengikuti pendidikan di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), karena mereka akan memperoleh banyak penguatan pendidikan keislaman. Waktu belajar di sekolah yang terbatas dilanjutkan di TPA, di keluarga serta lingkungan sekitar, tambahnya. Dengan demikian terjadi kerja sama sinegis 3 pilar pendidikan tersebut untuk mengantar anak meraih sukses berkepribadian luhur, tegasnya. Mencari orang anak pintar itu mudah, tetapi yang dirahmati Allah itu dibutuhkan proses pembiasaan anak untuk aktif di masjid dengan dukungan keluarga. “Dua puluh empat jam diberikan oleh Allah, sehingga ada banyak kesempatan untuk menunaikan ibadah, Sholat, membaca Qur’an, dan mendidik anak.”Dalam kesempatan tersebut, Ustad Agung juga melontarkan kerja sama dengan SD Muhammadiyah Semingin, berupa program akademik, penelitian oleh para siswa dengan pendampingan mahasiswa. “Kita bisa mengajak anak-anak untuk melakukan penelitian, dari hal-hal sederhana hingga laporan, melalui program pengabdian masyarakat, mahasiswa kami siap mendampingi,” tegas Agung di depan jajaran pengurus komite, para siswa beserta orang tua, serta tokoh masyarakat.Kepala sekolah Eny Purwaningsih menyampaikan terima kasih dan menyambut baik jalinan kerja sama yang ditawarkan. “Sungguh menarik untuk program penelitian, insya allah akan kami jadikan program unggulan sekolah kami,” ujar Eny Purwaningsih.Eny bersama para guru terus berupaya meningkatkan layanan pendidikan dan selama ini telah menggandeng komite, berbagai Lembaga pemerintah maupun swasta hingga jalinan dengan perguruan tinggi. Rep Edy S – KIM Moyudan Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
Selasa, 8 April 2025, PRM Sariharjo Tengah, Sleman – Dalam suasana Syawal yang penuh berkah, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sariharjo Tengah menggelar pengajian Syawalan yang inspiratif dan penuh makna. Bertempat di Balai Pertemuan PRM setempat, acara ini menghadirkan Ustadz Prof. H. Ir. Sukamta sebagai pemateri utama. Puluhan jamaah dari lingkungan sekitar tampak antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang tersebut. Dalam ceramahnya, Prof. Sukamta mengangkat tema yang menyentuh hati: Amalan yang Dicintai Allah adalah yang Sedikit namun Kontinyu. Beliau menekankan pentingnya menjaga kontinuitas dalam beribadah, meskipun dalam skala kecil. “Allah lebih menyukai amal yang dilakukan secara konsisten daripada yang banyak namun terputus-putus,” ujar beliau dengan penuh semangat, mengutip salah satu hadits Rasulullah SAW. Beliau juga mengajak para jamaah untuk memperkuat niat dalam beribadah selepas Ramadan. “Syawal adalah momentum untuk menguji sejauh mana kita bisa mempertahankan semangat ibadah yang telah terbina selama bulan puasa. Jangan sampai ibadah hanya menjadi ritual musiman,” lanjutnya. Ketua PRM Sariharjo Tengah, Drs. H. Dodo Suparjiyoto, dalam sambutannya mengapresiasi antusiasme warga yang hadir. Ia berharap pengajian seperti ini bisa menjadi agenda rutin dan menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah antarwarga. “Semangat Syawalan adalah semangat memperkuat tali silaturahmi dan memperbarui komitmen keislaman kita,” tuturnya. Acara ini dipandu dengan hangat oleh Ibu Rukmiyati, S.Pd.I, yang bertindak sebagai moderator. Dengan gaya komunikatif dan tenang, ia mampu menghidupkan suasana pengajian sehingga diskusi berjalan dinamis. Beberapa peserta bahkan diberi kesempatan untuk bertanya langsung kepada narasumber, yang dijawab dengan bijak dan penuh wawasan. “Alhamdulillah, semua berjalan lancar berkat dukungan banyak pihak, termasuk ibu-ibu Aisyiyah yang turut membantu konsumsi dan para pemuda yang menyiapkan tempat,” kata Panitia dengan penuh rasa syukur. Pengajian Syawalan PRM Sariharjo Tengah bukan sekadar agenda seremonial, tetapi juga menjadi momen refleksi spiritual bagi warga. Kehadiran tokoh-tokoh inspiratif, tema yang relevan, dan kebersamaan yang hangat menjadi bukti bahwa kegiatan keagamaan masih menjadi magnet kuat dalam membangun karakter umat. Dengan semangat Syawal, warga PRM Sariharjo Tengah berkomitmen untuk terus menghidupkan tradisi pengajian sebagai bagian dari dakwah berkelanjutan. Seperti pesan yang disampaikan Prof. Sukamta, “Sedikit, tapi kontinyu. Itulah kunci ibadah yang dicintai Allah.” Reupload https://dmikabsleman.wordpress.com/2025/04/08/pengajian-syawalan-prm-sariharjo-tengah-merajut-spirit-kontinuitas-dalam-ibadah/
Pada Selasa, 8 April 2025, Sleman City Hall menjadi saksi perayaan Syawalan Akbar yang diadakan oleh Tapak Suci Pimda 03 Sleman. Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk syukur atas selesainya bulan suci Ramadan dan menyambut datangnya bulan Syawal, yang merupakan waktu untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Dengan tema “Menyambut Syawal dengan Hati yang Bersih”, acara ini dihadiri oleh ratusan kader dan pendekar Tapak Suci dari berbagai kalangan. Acara dimulai pada pukul 13.00 WIB dan berlangsung meriah hingga sore hari. Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan terlihat jelas di antara para peserta yang datang dengan semangat tinggi. Dalam sambutannya, Ketua Tapak Suci Pimda 03 Sleman, Bapak Ahmad Zainuri, mengungkapkan pentingnya menjaga silaturahmi dan memperkuat ukhuwah di antara anggota. “Syawalan bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga momen untuk saling memaafkan dan mempererat tali persaudaraan,” ujarnya. Salah satu agenda utama dalam acara ini adalah tausiyah yang disampaikan oleh Ustadzah Fatimah, seorang penceramah yang dikenal luas di kalangan masyarakat Sleman. Dalam tausiyahnya, Ustadzah Fatimah mengajak semua yang hadir untuk merenungkan makna Idul Fitri sebagai hari kemenangan. “Kemenangan bukan hanya dalam konteks fisik, tetapi juga kemenangan spiritual. Mari kita jadikan momen ini sebagai titik awal untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah kita,” katanya.