Baitul Arqam ‘Aisyiyah Turi Perkuat Kader Perempuan Berkemajuan

Turi, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Bangunkerto I dan II, Turi, Sleman menyelenggarakan kegiatan Baitul Arqam sebagai upaya memperkuat kaderisasi dan memperdalam pemahaman keislaman bagi anggota ‘Aisyiyah. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Kartopranjanan Ngentak pada 6–7 Maret 2026 ini dihadiri berbagai unsur pimpinan Muhammadiyah serta tokoh masyarakat setempat. Sejumlah tamu undangan yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain perwakilan PCM Turi, PCA Turi, dukuh setempat, PRM Ngentak, serta unsur masyarakat seperti RW, RT, dan takmir masjid. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan gerakan dakwah perempuan Muhammadiyah di tingkat akar rumput. Acara diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan yang dipandu oleh panitia. Rangkaian pembukaan meliputi tilawah Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Sang Surya, serta Mars ‘Aisyiyah, sebelum dilanjutkan dengan sambutan dari para pimpinan organisasi. Ketua PRA Ngentak, Siti Kusniah, S.Pd, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan Baitul Arqam menjadi sarana penting untuk memperkuat ideologi serta komitmen kader dalam menjalankan dakwah Islam. “Melalui kegiatan ini kami berharap para kader ‘Aisyiyah semakin memahami nilai-nilai perjuangan organisasi dan mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat,” ujarnya. Sementara itu Ketua PCA Turi, Sri Winarti, M.Pd, menyampaikan bahwa kaderisasi merupakan ruh gerakan ‘Aisyiyah yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Menurutnya, kader ‘Aisyiyah tidak hanya dituntut aktif dalam organisasi, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat, berilmu, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Kader ‘Aisyiyah harus memiliki iman yang kuat, ikhlas dalam beramal, serta mampu menjadi teladan di tengah masyarakat,” kata Sri Winarti. Kegiatan Baitul Arqam tersebut menghadirkan berbagai materi yang bertujuan memperkaya wawasan peserta, di antaranya dinamika perjuangan ‘Aisyiyah, ibadah praktis, kepemimpinan dalam organisasi, hingga motivasi perempuan inspiratif dan risalah perempuan berkemajuan. Materi-materi tersebut disampaikan oleh sejumlah narasumber dari unsur pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah seperti dengan materi PHIWM / Kepemimpinan, Motifasi Perempuan Inspiratif, Kreatif, Produktif dan Risalah Perempuan Berkemajuan, ke Aisyiyahan dengan pemateri MPK PDA Sleman, Firra Berlinawati, S.Psi.,M.Psi.,Psikolog, PCM TURI Drs. Bambang, Hj. Sri W Mpd. Turi, Pdmsleman.Mu.Or.Id Selain materi kelas, peserta juga mengikuti kegiatan spiritual seperti shalat tahajud, shalat subuh berjamaah, kultum, serta aktivitas kebersamaan berupa senam dan outbound untuk mempererat ukhuwah di antara peserta. Dalam perspektif organisasi, kader ‘Aisyiyah merupakan penerus, pelopor, sekaligus penggerak amal usaha yang memiliki peran strategis dalam menyebarkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini diharapkan lahir kader-kader perempuan Muhammadiyah yang tidak hanya memahami ajaran Islam secara benar, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan, empati sosial, serta semangat berkhidmat bagi umat. Kegiatan Baitul Arqam tersebut ditutup dengan pembagian santunan hari raya kepada 18 Duafa dan 5 anak yatim. Eni S salah satu panitia berpesan kepada para peserta agar terus aktif dalam gerakan dakwah dan kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungan masing-masing. Panitia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan guna memperkuat peran ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam yang berkontribusi dalam membangun masyarakat yang adil, makmur, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Rep : Eni S  PCA Turi Editor  ARief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Ngoding Iman, Bangun Website, Digital Branding PCM Tempel Berbasis WordPress

 Tempel, Pdmsleman.Or.Id Ir. Asroni. MT. M. Eng, ahli IT sekaligus dosen Tehnik Informatika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengabdikan sebagian ilmunya untuk kemajuan Muhammadiyah di Cabang Tempel, Sleman. Asroni membimbing PCM Tempel yang diwakili oleh Angkatan Muda Muhammadiyah nya untuk sigap merespon perkembangan jaman dalam melakukan dakwah. Kegiatan yang bertajuk Ngoding Iman, Bangun Website: Digital Branding PCM Tempel Berbasis WordPress tersebut dilaksanakan di Kompleks SMK Muhammadiyah Tempel dan diikuti oleh Angkatan Muda Muhammadiyah Cabang Tempel. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan oleh tim dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tempel, Sleman. Program dikemas dalam bentuk pelatihan satu hari bertema Ngoding Iman, Bangun Website yang berfokus pada penguatan digital branding dan pengelolaan website organisasi berbasis WordPress untuk menjangkau Generasi Z. “Angkatan Muda Muhammadiyah adalah masa depan persyarikatan, umat, dan bangsa; karena itu harus lahir pemimpin-pemimpin muda dari rahim Muhammadiyah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan mampu mengelola ruang digital secara professional” tegas Asroni. Berangkat dari semangat tersebut, penguatan kapasitas digital menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem dakwah yang relevan dengan karakter Generasi Z. Sementara itu, Ketua AMM Tempel, Ilham Sukron S. IP. mengakui bahwa sejauh ini di level PCM Tempel masih masih belum mengoptimalkan penggunaan web site untuk sarana pengembangan organisasi dan dakwah. Permasalahan tersebut meliputi belum optimalnya pemanfaatan website sebagai pusat informasi resmi, belum tertatanya struktur konten organisasi, serta keterbatasan keterampilan pengurus dalam mengelola platform digital. Pelatihan dirancang berbasis praktik langsung (hands-on), meliputi login dan setup WordPress, pembuatan halaman dasar (Beranda, Profil, Program, Berita, Kontak), penyusunan menu navigasi, publikasi berita dan media, desain halaman menggunakan Elementor atau Block Editor, instalasi plugin penting (SEO, Form Kontak, WhatsApp Button, Social Feed), hingga uji tampilan desktop dan mobile. Syukon menyambut baik kegiatan ini karena akhirnya PCM Tempel website resmi memiliki web site dengan struktur konten yang tertata, serta meningkatnya kompetensi peserta dalam manajemen website dan branding digital. Kegiatan ini diharapkan memperkuat citra organisasi, meningkatkan publikasi dakwah, serta membangun ekosistem dakwah digital yang adaptif dan berkelanjutan di kalangan Generasi Z. Dalam kegiatan ABdimas ini juga diserahkan dana hibah dari UMY kepada PCM Tempel untuk pengembangan ternak domba. Rep Roy Tempel editor Arief hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Optimalkan Wakaf Produktif: LazisMu Berbah Panen Timun Jawa dan Salurkan Santunan ke Panti Asuhan

Berbah ​ Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (LazisMu) Kantor Layanan Berbah menunjukkan langkah nyata dalam kemandirian ekonomi umat. Bertempat di Gedung Dakwah Hj. Amronah Fadil, Jl. Sampaan-Berbah, Tegalturi, Tegaltirto, Berbah Sleman, Lazismu Berbah menggelar aksi ganda, yakni penyaluran santunan bagi anak yatim dan panen perdana mentimun jawa di lahan wakaf produktif, Kamis pagi (5/3/26). ​Dalam agenda tersebut, Lazismu Berbah menyerahkan dana sebesar Rp12.000.000 kepada Panti Asuhan (PA) Ukhuwatul Aitam Berbah. Penyerahan secara simbolis dilakukan oleh Kepala Kantor Lazismu Berbah, Saifu Rijal, kepada Ketua PA Ukhuwatul Aitam, Anas Mahduri. ​”Alhamdulillah, hari ini kami melakukan pentasyarufan ZIS (Zakat, Infaq, Shadaqah) untuk santri PA Ukhuwatul Aitam. Harapan kami, bantuan ini dapat membuat para santri berbahagia menyambut hari yang fitri nanti,” ujar Saifu Rijal. ​Anas Mahduri menyampaikan apresiasi mendalam atas bantuan tersebut. Ia menjelaskan bahwa selain santri yang menetap di panti, dana tersebut juga akan menyasar anak-anak yatim di lingkungan Berbah yang tinggal bersama orang tua mereka. ​”Kami rutin memberikan bantuan sembako, biaya sekolah (SPP), hingga pakaian baru untuk Lebaran. Alhamdulillah, dukungan dari Lazismu hari ini sangat membantu dan akan kami belikan baju buat lebaran nanti dan untuk operasional kami, apalagi pekan ini jadwal santunan cukup padat,” jelas Anas. ​Salah satu daya tarik utama acara ini adalah panen perdana Timun Jawa di lahan seluas 1.000 m² yang berada di belakang Kantor PCM Berbah. Lahan ini merupakan wakaf dari Hj. Amronah Fadil yang baru mulai difungsikan pada November 2025 lalu. ​Kusdiana, petani yang mengelola lahan tersebut, mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 2.000 lubang tanam yang digarap sejak Januari 2026.“Ini adalah panen perdana setelah 43 hari masa tanam. Saat ini kebutuhan pasar untuk Timun Jawa mencapai 2 ton per hari, sehingga potensi ekonominya sangat besar,” ungkap Kusdiana. ​Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Berbah, Akhmad Muhajir Hanifi, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari strategi penguatan pilar ekonomi dakwah. “Selama ini dakwah mengandalkan ZIS, namun ke depan kita harus memperkuat diri melalui wakaf produktif. Komoditas timun ini akan terus kami kembangkan ke tanah wakaf lainnya agar hasilnya bisa menopang kegiatan dakwah secara berkelanjutan,” tegasnya. ​Selain sektor pertanian, Lazismu Berbah juga aktif dalam layanan sosial dan pemberdayaan tenaga kerja. Saifu Rijal menambahkan bahwa saat ini pihaknya mengoperasikan 2 Unit Mobil Ambulans dan 1 Unit Mobil Layanan Umat. Kemudian​ ada unit Usaha Ayam Potong dimana jualnya berlokasi di depan kantor, buka setiap pukul 05.30 hingga 10.00 WIB. Unit usaha ini mampu menjual rata-rata 100 potong ayam per hari dan mempekerjakan warga sekitar dengan gaji standar UMR. ​Dengan sinergi antara pengelolaan zakat yang amanah dan pemanfaatan aset wakaf yang produktif, Lazismu Berbah optimis dapat terus menebar manfaat lebih luas bagi masyarakat Sleman. Kusnadi Berbah

Loading

Saatnya AMM Berperan Dalam Pembangunan Desa

 Tempel, Pdmsleman.Or.Id Sirkulasi kepemimpinan pemerintahan di tingkat desa di wilayah Sleman dan sekitarnya beberapa waktu yang lalu, banyak memunculkan wajah- wajah kaum muda. Banyak Pamong dan Kepala Dukuh yang usianya masih tergolong muda dan belia. Sayangnya dari sekian banyak tokoh muda yang muncul dalam tampuk kepemimpinan desa dan komunitas tersebut, jarang yang menyertakan kader Muhammadiyah. Alasannya utamanya adalah minimnya ketertarikan kader Muhammadiyah untuk berkiprah dalam birokrasi pemerintah di Tingkat desa. Untuk itu Aangkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Tempel menggelar Focus Group Discussiaon (FGD) bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyarta yang sedang mengembangkan program Pengabdian Masyarakat bertajuk “ Penguatan Organisasi Muhammadiyah Di Tingkat Cabang”. Tampil sebagai leader dalam FGD tersebut adalah Zain Maulana, S. IP. M.A., Ph. D., dosen Prodi Hubungan Internasional UMY.  Kader kader Muhammadiyah yang tergabung dalam AMM Tempel sebenarnya sangat potensial tampil sebagai pemimpin desa atau Lembaga dan komunitas setempat. AMM Tempel yang pengurusnya lebih dari 60 orang ini, mempunyai kapasitas yang bagus, karena mereka umumnya terdidik di berbagai universitas, mempunyai pengalaman dalam pengelolaan organisasi, percaya diri dan dididik untuk mempunyai integritas yang baik sebagai warga persyarikatan maupun sebagai warga negara.  “Angkatan Muda Muhammadiyah adalah masa depan persyarikatan,  umat dan bangsa, maka harus muncul pemimpin-pemimpin muda dari rahim muhammadiyah” ungkap Zain di sela sela acara yang diselenggarakan di Kompleks Pondok Pesantre Darul Ulum Tempel itu. Di bagian lain, Ilham Sukron, ketua AMM Tempel, menyambut baik adanya FGD ini, yang mampu menambah motivasi  dan wawasan sebagai calon pemimpin masa depan. Peran serta kader Muhhamadiyah dalam kepemimpinan bangsa akan memperkuat pula keorganisasian Muhammadiyah di level cabang dan ranting. Rep : Roy Tempel Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Aisyiyah Tempel Perlu Optimalkan Peluang Bisnis Exit Tol

Tempel, Pdmsleman.Or.Id Pembangunan Jalan Tol Jogja-Bawen, termasuk Exit Tol Banyurejo di Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel, Sleman, Yogyakarta, merupakan proyek strategis nasional yang meningkatkan konektivitas transportasi antarprovinsi menuju Magelang dan Semarang. Proyek infrastruktur ini merupakan bagian penting dari upaya pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi baru, meningkatkan efisiensi sistem waktu dan logistik, serta daya saing daerah. “Dalam rangkaian jalan tol yang dibangun, dibangun pula pintu jalan keluar atau exit tol. Jalan keluar atau exit tol merupakan kesempatan baik bagi masyarakat sekitar karena mengandung potensi untuk menumbuhkan perekonomian local”. Demikian sebagian dari paparan dosen Ilmu Hubungan Internasional UMY, Dr. Wahyuni Kartikasari, S.T., S.I.P., M.Si, dalam kegiatan diskusi di hadapan para Pimpinan Cabang Aisyiyah Tempel Sleman beberapa waktu lalu. Penjelasan Wahyuni tersebut merupakan rangkaian dari program pengabdian masyarakat Universitas Yogyakarta yang bertemakan penguatan organisasi Muhammadiyah di lingkungan Cabang Tempel. Aisyiyah merupakan bagian dari Muhammadiyah. Dosen HI UMY ini mengamati bahwa dengan dibangunnya jalan tol dan exit tol, maka diperlukan kawasan-kawasan UMKM yang terletak di luar jalan tol. “ Keberadaan exit tol ini merupakan peluang usaha dan bisnis bagi PCA Tempel”. Sebagai Lembaga yang mempunyai bidang garap di wilayah Tempel, kini PCA Tempel melalui Majelis Ekonominya, mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan kebijakan pemerintah untuk membangun Jalan Tol Bawen – Yogyakarta. Karakter pengguna jalan tol yang memerlukan rest area karena menempuh perjalanan jauh ataupun pengguna jalan tol yang bertujuan wisata yang menyukai wilayah-wilayah yang mempunyai keunikan dan kekhasan daerah merupakan celah potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang bisnis ataupun menumbuhkan dan meningkatkan berbagai bentuk perekonomian lokal. Di area Tempel terdapat exit tol yang diperkirakan akan banyak masyarakat pengguna jalan yang ingin beristirahat dan mencari kebutuhan seperti makanan, minuman, atau barang lain yang dibutuhkan. Artinya, ini berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi usaha kecil dan menengah (UMKM) lokal, seperti peningkatan akses pasar dan distribusi barang. Panitian Pelaksana kegiatan Abdimas UMY, Sugeng Riyanto, menambahkan bahwa “kegiatan Abdimas di merupakan bagian dari Skema khusus untuk penguatan Cabang dan Ranting Muhammadiyah”.  Menurutnya, terdapat 10 dosen UMY yang melakukan pengabdian di Muhammadiyah Cabang Tempel, sesuai dengan bidang mereka masing masing. Dalam acara ini diserahkan pula hibah untuk mitra yaitu PCA Tempel berupa modal untuk pembelian bibit indukan ternak domba untuk dapat dikembangbiakkan, sehingga pada akhirnya menjadi salah satu sumber usaha dan pendapatan bagi pendanaan kegiatan yang dilakukan PCA Tempel.  rep Roy Tempel Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Wasiat Luhur Dalam Pendidikan Keluarga Aisyiyah

 Tempel. Pdmsleman.Or.Id Gen Z, sebuah generasi yang penuh dengan warna- warni karakter yanng kadang sangat mengkhawatirkan. Mereka tumbuh Bersama berkembangnya gadget dan tehnologi informasi yang membersamainya. Mereka tumbuh berkembang di dalamnya, belajar darinya, bahkan hidup bersamanya (gadget itu). Akibatnya adalah settingan norma dalam pikirannya adalah setingan gadget,bukan hasil pendidikan moral dan perilaku yang terpola dan terencana. Pola pikiran dan perilaku mereka cenderung mengikuti apa yang ada di gadget. ‘Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan, karena remaja remaja kita terdidik oleh nilai yang entah berasal dari mana, dan banyak sekali betentangan dengan norma keseharian hidup kita. Mereka cenderung menjadi insan insan yang cuek, tak peduli lingkungan sekitar, tak banyak tahu tentang adab, tata krama dan lain sebagainya’.  Padahal, dalam masyarakat kita, banyak wasiat- wasiat yang luhur. Oleh karenanya, sebagai orang tua, apalagi ibu, tidak boleh kecolongan, mengandalkan gadget sebagai sarana edukasi anak. Ii amat berbahaya. Demikianlah disampaikan Dra. Mutia Hariati Hussin, M. Si, dosen senior di Prodi Hubungan Internasional UMY di depan 60 an pimpinan Cabang Aisyiyah se Cabang Tempel pada Ahad 1 Maret 2026, sebagai bagian dari Pengabdian Masyarakat Skema khusus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ber-wasiat bukan hanya mewariskan harta tetapi juga nilai moral, etika, atau filosofi hidup yang dijaga oleh keluarga atau komunitas dan diwariskan dari generasi ke generasi. Wasiat juga bisa berupa pepatah dan peribahasa seperti misalnya, “alon-alon waton kelakon’, “Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit” atau “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Ini adalah bentuk wasiat budaya yang mengajarkan kesabaran, kerja sama, dan solidaritas. Dalam Kehidupan Sehari-Hari, orang tua mewariskan nasihat tentang kejujuran, kerja keras, dan kesederhanaan sebagai wasiat moral. Desa atau masyarakat adat dapat melestarikan pepatah tradisional sebagai wasiat kolektif, yang mengatur hubungan sosial dan menjaga harmoni, dan di level nasional wasiat para pendiri bangsa berupa semboyan atau falsafah hidup, misalnya Bhinneka Tunggal Ika, menjadi pedoman bersama yang harus terus dijaga. Secara Filosofis, wasiat dalam bentuk pepatah/peribahasa adalah penjaga identitas budaya yang menjadi pedoman hidup. Ia berfungsi sebagai jembatan antar generasi, memastikan agar generasi berikutnya tetap berpegang pada nilai luhur sehingga nilai kebijaksanaan tidak hilang ditelan zaman. Berbagi Wasiat menegaskan bahwa berbagi bukan hanya soal harta, tetapi juga soal warisan intelektual dan moral .

Loading

Milad UMY 45, Beri Penguatan Organisasi Muhammadiyah Di Kapanewon Tempel Sleman

 Tempel, Pdmsleman.Or.Id Pada Ahad 1 Maret 2026 bertepatan dengan hari kelahiran (Milad) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang ke 45, sejumlah dosen UMY melakukan pengabdian Masyarakat (Abdimas) di lingkup organisasi Muhammadiyah se Cabang Tempel. Kegiatan Abdimas ini merupakan komitmen UMY dalam memberdayakan masyarakat melalui implementasi dari hasil kajian dan riset pada dosen. Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY, apt. RR. Sabtanti Harimurti M. Sc. Ph. D.  menegaskan bahwa “ UMY sangat komit terhadap pemberdayaan masyarakat tidak hanya di lingkungan Muhammadiyah, tetapi juga kepada masyarakat luas secara umum”. Komitmen tersebut ditunjuukan dengan program pengabdian masyarakat yang terstruktur setiap tahunnya, baik itu melalui program KKN mahasiswa atau program pengabdian masyarakat oleh para dosennya.  Menurut Dr. drg. Laelia Dwi Anggaeni, sp. KGA., program pengabdian masyarakat tahun ini terbagi dalam dua skema besar, yakni skema regular dan skema khusus. “UMY meluncurkan 14 program Abdimas skema khusus, ada skema Desa Binaan Wirokerten, Wirobrajan, ada yang ke Koperasi Merah putih, ada edukasi dan mitigasi bencana alam, ada yang mendampingi teman teman yang menyandang disabilitas, penguatan pada PCM Tempel, Cangkringan, Tamantirto dan lain lain, bahkan ada yang melakukan abdimas di Lapas Wirogunan” tegas dr Lia, sapaan akrabnya. Kick Off Pengabdian masyarakat skema khusus ini juga dihadiri oleh Ketua Badan Pembinan Harian UMY, Dr. H. Agung Danarto M. Ag yang juga menyambut baik Upaya ini, sekaligus menegaskan pentingnya keterlibatan semua dosen UMY dalam perstyarikatan Muhammadiyah dari Pusat, Wilayah, Daerah, Cabang, Ranting, termasuk dalam organisasi otonomnya. Program Abdimas di Kapanewon tempel ini diikuti oleh 10 dosen, yang terbagi dalam 4 kelompok masyarakat yakni pimpinan Cabang Muhammadiyah, Pimpinan Cabang Aisyiyah, Angkatan Muda Muhammadiyah dan satu Pimpinan Ranting Muhammadiyah. Ketua pelaksana, Dr. Sugeng Riyanto, menambahkan bahwa kegiatan yang berlangsung di PP darul Ulum Tempel tersebut berlangsung sangat meriah dan diikuti oleh 150 peserta, perwakilan dari PCM, PCA dan AMM. Sementara kegiatan dengan PRM/PRA Merdikorejo baru akan dilaksanakan setelah lebaran.  Pada kesempatan ini Dr. H. Agung Danarto M.Ag., juga menyerahkan dana bantuan kepada PCM Tempel sebesar Rp. 44.250.000, untuk modal peternakan domba yang hasilnya nanti dapat membatu kegiatan kegiatan Muhammadiyah di lingkup Kapanewon Tempel. Ketua PCM Tempel, Samsul Alam, S. Ag., M. Si. Menyambut baik acara ini. Menurutnya warga Muhammadiyah Tempel telah mendapatkan edukasi yang sangat bermakna dan menggugah semangat warga Muhammadiyah untuk lebih giat lagi mengembangkan Muhammadiyah.  Rep Roy Riyanto Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Kunjungan Majlis Tabligh Muhammadiyah Moyudan Teguhkan Umat Dalam Menjalankan Ajaran Islam

    Moyudan,Pdmsleman.Or.Id Di masa penjajahan Belanda, masyarakat awam termasuk umat Islam tidak diperbolehkan untuk belajar di sekolah, sementara ilmu pengetahuan agama maupun umum sangat dibutuhkan agar warga masyarakat berpengetahuan, dan dapat menjalankan ajaran agama dengan baik dan benar.    Sebelum Islam datang, di Nusantara sudah ada agama Hindu, Budha, animism dan dinamisme.  Hal tersebut berpengaruh pada umat Islam dalam pengamalan agama.  “Melihat kondisi seperti itu, Ahmad Dahlan tergerak agar umat bisa belajar dengan baik.  Beliau kemudian mendirikan Muhammadiyah, sehingga umat bisa belajar, dapat menjalankan ajaran sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad,” terang Ustad Nursalim dari Bagian Tabligh Pimpinan Muhammadiyah Moyudan di depan Jamaah Musholla Al-Ukhuwwah Depok Sombangan XIII Sumbersari Moyudan Sleman, MInggu (1/3/2026), usai Sholat Tarawih. Ustad Nursalim menegaskan Muhammadiyah bukanlah agama, tetapi sebuah organisasi atau persyarikatan umat yang dikelola dengan manajemen professional.  Persyariktan memiliki beberapa bagian seperti Tabligh, Tarjih, Bidang Pendidikan, dan berbagai amal usaha  “Bagian Tarjih misalnya membahas hukum-hukum dan tata cara ibadah, sehingga ummat tidak perlu lagi khawatir dalam menuaikan ajaran agama seperti bagaimana menunaikan sholat, zakat, puasa, haji dan lainnya,” papar Ustad Nursalim.   Muhammadiyah, lanjut Nursalim, memiliki kekayaan lebih dari 450 trilyun yang berasal dari ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) termasuk ribuan sekolah, universitas, poliklinik, rumah sakit.  Selain itu persyarikatan juga memiliki panti asuhan, lembaga sosial hingga institusi keuangan dan investasi, imbuhnya.  “Seluruh kekayaan itu milik persyarikatan Muhammadiyah, dikelola professional.  Jangan ragu menjalankan ibadah dan ber-Muhammadiyah, namun tetap menghormati dan menghargai organisasi keagamaan lain,” pesannya.  Jarak antara saat Nabi Muhammad mengenalkan Islam dengan sekarang terpaut cukup lama, sehingga Muhammadiyah berfungsi menuntun umat beribadah sesuai dengan ajaran nabi, terhindar dari pengaruh budaya, agama, dan kepercayaan yang ada sebelumnya. Muhammadiyah didirikan yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di tahun 1912 itu untuk memurnikan ajaran Islam, memajukan pendidikan dan sosial, papar Ustad Salim.  Ia juga mengajak seluruh jama’ah untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dengan memperbanyak amal, terlebih di bulan suci Ramadhan.  Hubungan sosial kemasyarakatan pun perlu dijaga untuk mewujudkan ketentraman dan kesejahteraan bersama. Berdasar surat Pimpinan Cabang Muhammadiyah Moyudan, pada Ramadhan 1447 H ini Majlis Tabligh menerjunkan 67 pendakwah, terbagi 13 kelompok, masing-masing terdiri dari 4 hingga 7 orang.  Para da’I atau pendakwah sebelumnya diberi pembekalan, kemudian mengunjungi dan memberi ceramah di 39 masjid / musholla yang tersebar se-Kalurahan Sumbersari Moyudan. Rep  Giek Sugiyanto Moyudan Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading