BAKU ATUR

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 12).Sedikit lega. Tapi, belum sempurna. Itu baru permulaan. Pertempuran sebenarnya justru baru akan dimulai. Sebentar lagi. Setelah Sholat Dzuhur, dengan seijin Pak Ketua TPC, saya mencoba mengumpulkan para punggawa TPC SQ Minggir. Mereka adalah tim IT dan kordes masing masing ranting. Susunan Formasi terakhirnya adalah sbb : SQ Sendangagung :Kordes : 1. Drs. H. Sardji2. Attin Nur HalimahTim IT. : 1. Fayrus Chalisa Nadya Ulya2. Azmi Adil SQ Sendangmulyo :Kordes : 1. Drs. H. Nur Hidayat2. FathanTim IT. : 1. Dwi Sumartono2. Raihan Widya Ahmad SQ Sendangrejo :Kordes : 1. Drs. Agus Santoso2. Nur SahidTim IT. : 1. Ari Patriani2. Muh. Ali Akbar Musa SQ Sendangarum :Kordes : 1. Satidjo, B.A.2. Irfan NugrohoTim IT. : 1. Fajarudin SQ Sendangsari :Kordes : 1. Wagiyo, S Pd.2. Nur FaizunTim IT. : 1. Hilma Tsani Amanati Hampir semua personil tim TPC di atas adalah orang baru. Rata rata masih sangat belia. Saya yakin di antara mereka banyak yang masih asing. Dalam kesempatan itu, saya mencoba mengenalkan satu per satu semua person. Pak Ketua TPC pada kesempatan itu memberikan dorongan dan semangat kepada mereka. Saya menambahkan : “Justru kerja berat Anda semua adalah selepas ini. Saya harap, tim IT dan kordes masing masing ranting harus saling kerjasama”. “Dalam prakteknya nanti, fungsi dan peran antara tim IT dan kordes, hampir tidak ada bedanya. Saya berharap personil tim IT dan kordes masing masing ranting nanti harus berbagi peran. Tapi juga harus luwes. Jangan kaku”. “Tujuan akhir tugas Anda nanti adalah memastikan bahwa data yang ada di lembaran C1 hasil di TPS bisa diinput dengan cepat, tepat dan akurat”, tegas saya. “Kalau seandainya sampai batas waktu tertentu, Anda menganggap data dari TPS belum masuk, maka Anda wajib melakukan kontak kepada saksi di TPS itu. Bisa melalui WA atau langsung di telpon”. “Tapi kalau seandainya dengan kedua cara tersebut, masih juga belum teratasi, maka silakan Anda atur sendiri. Anda harus pergi menemui saksi di lokasi TPS”, jelas saya. Maka, ruang tengah Wisma Ngloji setelah itu seperti berubah menjadi ruang istimewa. Seperti sebuah ruang canggih. Yang ditempati oleh anak anak muda cekatan dan visioner. Beberapa saat setelah Dzuhur, praktis mereka masih bisa duduk duduk santai. Tapi menjelang Ashar, barulah mereka mulai mendapat kiriman data dari saksi. Semua anggota tim IT dan kordesnya berpasang pasangan. Sesuai ranting masing masing. Mereka duduk menghadap lap top. Sesekali sebelah tangannya lincah memainkan HP nya. Sebentar kemudian pandangannya beralih memelototi layar lap topnya. Mereka mulai memantau data yang masuk melalui aplikasi Relawan Syauqi. Beruntung bagi tim IT dan kordes, yang saksi saksinya sudah menguasai aplikasi Rekawan Syauqi. Tim tersebut cukup memantaunya saja di lap top. Datanya apakah sudah benar atau belum. Cepat sekali dan sangat efisien. Sebenarnya, ada satu hal yang masih saya takutkan. Yakni : “Bagaimana dengan saksi yang sampai dengan bimtek terakhirpun, masih saja belum paham dengan aplikasi Relawan Syauqi itu ?”. “Atau, bagaimana dengan saksi yang tiba tiba mengalami kendala yang tidak bisa terelakkan. Misalnya : kehabisan kuota, tidak ada sinyal atau kendala yang lain ?”. Rupanya, ketakutan saya itu tidak terbukti. Sepanjang pemantauan saya, ternyata anak anak muda itu tak kekurangan akal. Di antara teman satu timnya, mereka itu sudah saling “baku atur”. Dari aplikasi Relawan Syauqi, mereka sudah bisa memantau. Mana saksi yang sudah bergerak. Dan mana pula saksi yang tetap diam “njekengkeng”. Jika ditemukan ada saksi yang diam tak bergerak, salah seorang dari mereka langsung menghubungi saksi. Via WA atau langsung menelponnya. Jika sangat terpaksa mereka hanya menyuruh saksi tersebut untuk mengirimkan foto C1 hasilnya. Lalu di WA kan ke kordesnya. Begitu simple nya. Lalu, bagaimana dengan ketakutan saya di atas ? Mereka juga tidak kekurangan akal. Mereka ternyata juga sudah punya radar dimana mana. Mereka sudah punya data, siapa teman temannya atau kenalannya yang menjadi KPPS di TPS yang bersangkutan. Kepada temannya tersebut, mereka meminta tolong untuk mengirimkan foto C1 hasilnya. Kepada mereka saya menyampaikan : “Pastikan bahwa data yang diinput adalah benar dan akurat. Untuk itu Anda harus perlu cross cek kembali”. Al hasil, setelah Isya, sebetulnya tim kordes dan Tim IT sudah hampir rampung menyelesaikan hasil inputan datanya. Mungkin, hanya tinggal beberapa saksi saja yang belum selesai. Lalu, bagaimana dengan para senior kordesnya ? Sesuai kesepakatan ketika rakor, maka bapak bapak senior kordes itu juga sudah bersiap diri. Tugas mereka menerima salinan C1 hasil suara DPD yang diserahkan oleh para saksi. Untuk kemudian memberikan uang transport masing masing. Rupanya, bapak bapak itu tidak ingin “menggangu” kerja para juniornya. Mereka duduk tidak satu ruangan dengan para juniornya. Mereka menempati ruang tersendiri. Ruang di sayap Utara Wisma Ngloji. Hmmmm …… Enak juga ternyata kalau dalam bekerja, semuanya bisa saling “baku atur” seperti ini.(*) Minggir, 25 Feb. 2024.Bada Subuh. Uwik DS.

Loading

KONSUMSI SAKSI

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 11).Malam, sebelum ke Wisma Ngloji, saya menyempatkan berkirim pesan kepada Tim TPC SQ, melalui Group SQ Minggir : “Mengingatkan kembali, besok Rabu, 14 Februari 2024, semua personil tim TPC SQ Minggir, ketua PRM, kordes, tim IT dan relawan SQ harap sudah berada di Posko Ngloji pada jam 10.00 WIB. Untuk itu harap bisa mengkondisikan diri”. “Untuk teman teman tim IT dan kordes junior, jangan lupa membawa lap top dan perlengkapan alat tulis seperlunya”, sambung saya. Dan, keesokan harinya : 14 Februari 2024. Pukul 09.30. Saya sudah merapat di Ngloji. Rupanya, paketan konsumsi untuk saksi dan semua petugas yang terlibat dalam TPC SQ, sudah datang. Semuanya didrop di ruang LazisMu. Beberapa person LazisMu, sekoci Aisyiyah dan beberapa relawan sudah nampak sibuk. Mereka menyiapkan dan memasukkan makanan dan minuman itu dalam sebuah wadah. Paketan konsumsinya adalah :2 box snack, untuk pagi dan sore1 box nasi, untuk makan siang2 botol air mineral. Satu per satu, semua anggota Tim TPC hadir. Tak lama berselang, pada pukul 10.15, semua person sudah komplit. Sesuai dengan hasil kesepakatan di rakor, bahwa konsumsi saksi akan didistribusikan oleh relawan. Tetapi, nampaknya person relawan yang datang belum cukup. Hanya ada Mas Gunardi saja, seorang. Selebihnya adalah ibu ibu Sekoci Aisyiyah. Saya terpaksa meminta bantuan driver AmbulanMu yang stand by. Hanya ada satu orang yang sanggup : Mas Akhid Klodran. Tiba-tiba, di group saksi Syauqi Minggir, ada seorang saksi yang bertanya : “Konsumsi untuk saksi kapan dikirim ya ?”. “Ini masih disiapkan. Mohon sabar menunggu. Bentar lagi didrop”, jawab saya. Hari semakin meninggi, relawan terbatas dan armada juga terbatas. Sudah hampir pukul 10.30. Group saksi SQ Minggir kembali riuh. “Hauuus..!. Konsumsi kok belum datang ?”, komentar salah seorang saksi. Beruntung, Pak Sardi tanggap ing sasmita. Rupanya, beliau sudah mempersiapkan diri. Jatah konsumsi untuk saksi Sendangagung, dibawanya sendiri. Dimasukkannya ke dalam armada. Didistribudikan sendiri. Dibantu oleh Bu Erlani dan Bu Watini. Sendangagung teratasi. Tinggal yang lain. Jatah untuk Sendangrejo, Sendangsari dan Sendangarum dijadikan satu armada. Mas Gun dan Mas Akhid yang mengawalnya. Sejurus kemudian, mereka meluncur ke lokasi. Sesuai kesepakatan, konsumsi akan didrop di masing masing ketua ranting. Nanti, ketua ranting yang akan mengirim ke TPS masing masing. Matahari semakin meninggi. Ternyata, istri saya, yang juga saksi Syauqi di TPS 02 Jetis Depok, Sendangsari, ikutan komentar. Dia njapri saya : “Konsumsine kok durung teka ?. Selak luwe. Isuk mau berangkat nyang TPS jam 06.30. Durung sarapan”. “Sik … Sik … Lagi diatur distribusinya”, kata saya. “Kok suwe men ?. Iki saksi DPD PKS wis dikirim jatah. Syauqi kok lambat ?, sambungnya. “Waduh …. Yo wis tunggu ..!”. Tiba tiba, saya kebayang sama Pak Wagiyo. Saya tahu persis, bahwa beliau tidak punya relawan tambahan untuk dropping konsumsi di Sendangsari. Sepersekian detik, otak saya berputar. Lalu, saya putuskan untuk ikut terjun membantu drop makanan. Saya ajak anak saya, Raihan. Berdua kami meluncur ke tempat Pak Wagiyo. Beruntung, makanan baru saja sampai. Lalu, kami “baku atur”. TPS Sendangsari ada 16. Saya bawa separoh, untuk wilayah Sendangsari Selatan. Selebihnya, Pak Wagiyo, untuk wilayah Utara. Alhamdulillah, akhirnya Sendangsari selesai. Demikian juga dengan Sendangrejo dan Sendangarum. Kamipun, meluncur. Kembali ke Posko Ngloji. Di group saksi SQ Minggir, masih ada yang komentar : “Konsumsi untuk Sendangmulyo kok belum sampai nggih ?”. “Yaa Allah. Masih ada satu yang belum”, batin saya. Matahari semakin menyengat. Sudah lewat pukul 11.00. Sekelebatan, saya nampak Pak Nano dan Mas Sunu. Rupanya mereka berdua “baku atur”. Awalnya, oleh karena kekurangan relawan, konsumsi untuk Sendangmulyo akan dibawa oleh Mas Sunu. Semua bahan sudah dimasukkan ke dalam mobilnya. Tapi ternyata, Mas Sunu terbentur “kahanan”. Ia belum nyoblos. Padahal, waktu itu sudah pukul 11.15. Akhirnya, kami sepakat. Konsumsi untuk Sendangmulyo dibagi distribusinya. Yang mendistribusikan 3 orang sekaligus. Biar cepat. Yakni : Pak Nano, saya dan satu lagi, Bu Watini bersama siapa ya : Mbak Ajun ataukah Mbak Endri ? Saya lupa. Kembali, saya mengajak Raihan untuk membawa konsumsi ke beberapa TPS di Sendangmulyo. Akhirnya, paketan konsumsi terakhir bisa kami antarkan ke TPS. Tepat bersamaan dengan kumandangnya Adzan Dzuhur. Urusan konsumsi saksi, pelik juga ternyata.(*)Minggir, 24 Feb.2024. Uwik DS.

Loading

HILIRISASI BIMTEK

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 10). Estimasi saya meleset. Saya kira kejadian di “injuri time” itu sudah selesai. Ternyata, masih berlanjut. Menghangatnya group saksi SQ Minggir itu terus membawa “korban”. Tiba tiba, Mas Yoga japri saya. “Mas Dwi, iki Mas Irfan menyatakan mundur”, katanya. “Welah. Kok metu keneng apa ?”‘ tanya saya. “Wah, embuh ora cetha e”, katanya lagi. “Waduh. Lha piye kuwi ?. Padahal waktune kari mengko bengi je”, sambung saya. “Wah. Tulung golekke pengganti Mas !”, imbuh saya. “Waduh. Piye ya ? Waktune mepit banget iki. Tapi oke, coba tak golekke Mas”, “Kudu entuk ya !”, tegas saya. Waktupun berjalan. Detik berganti menit. Menit berubah jam. Dan sorepun menjelang malam. Sudah hampir jam 21.00 malam. Belum ada tanda tanda dari Mas Yoga. Saya semakin dag dig dug. Detik detik terakhir di “injury time” itu begitu menyiksa. Tiba – tiba, suara motor berhenti di pekarangan rumah. Suara seorang laki laki muda menyapa : “Assalamualaikum, Pak Dwi”. “Wa alaikum salam …” Sayapun keluar rumah. Nampak seorang pemuda yang saya kenal. Anaknya sahabat saya, Mas Harto bengkel. Namanya : Fuad. “Wah, dengaren. Ana apa Mas ?”, tanya saya. “Ini saya disuruh Om Yoga. Untuk menemui njenengan. Diminta untuk jadi saksi Syauqi. Menggantikan Om Irfan”, katanya. Alhamdulillah. “O ya siap. Wis nggawa KTP Mas ?”, tanya saya. “Mbeta Pak !”. Akhirnya, di malam itu, saya sendiri yang membimtek Fuad. Ia adalah saksi yang ketiga, yang saya bimtek di masa injury time. QSaya jelaskan rinci dan runtut. Apa yang menjadi fungsi dan tugas saksi. Lalu, bagaimana cara menginstal Aplikasi Relawan Syauqi. Disambung kemudian cara mengisi dan mengoperasikannya. Belum lagi selesai membimtek Fuad, HP saya bergetar. Ada WA masuk. Dari Mas Sunu. “Ayo. Segera merapat ke Ngloji. Sudah ditunggu relawan lain. Menyiapkan tempat untuk besok pagi. Nata meja kursi dan lain lain”, katanya. “Bentar lagi. Nyusul. Lagi mbimtek”, jawab saya. “Sapa sing dibimtek?”, sambungnya. “Ya saksi Syauqi”. “Jare wis komplit ?”. “Ana beberapa sing metu. Dadi iki golek penggantine”. “Welah. Nek ngono kuwi terus jenenge bimtek apa ?”, tanyanya. “Hilirisasi bimtek !”, kata saya. “Weh. Artine apa kuwi ?”. “Halah … Mbuh … !. 👃😃😄(*) Minggir, 24 Feb. 2024.Sambil ngopi pagi. Uwik DS

Loading

INJURY TIME

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 9)Tiga hari sebelum hari H, tepatnya di Hari Ahad, Kang Darojad memberi undangan. Mengumpulkan perwakilan kordes dan Tim IT se TPC di Sleman Barat. Tempatnya di SMK Muhammadiyah 1 Moyudan. Saya mengutus 9 orang perwakilan tim IT dan kordes ke acara itu. Saya sendiri tidak bisa hadir. Pada waktu yang sama, ada undangan ke Aula PWM DIY. Saya membersamai Ketua PCM Minggir. Acara penerimaan hadiah pemenang Stand terbaik di ajang MJE 3. Dimana, PCM Minggir dinobatkan sebagai juara 2 Stand terbaik tingkat DIY. Acara di Moyudan itu khusus tentang bimtek IT. Terutama terkait dengan strategi penggunaan aplikasi Relawan Syauqi ketika nanti akan digunakan di hari H. Saya bisa membayangkan betapa pentingnya penguasaan aplkasi Relawan Syauqi itu. “Mas, bagaimana sebetulnya strategi penggunaan aplikasi Relawan Syauqi tersebut ?”, tanya saya ke Mas Fathan, salah seorang kordes dan sekaligus pakar IT di PCM Minggir. Mas Fathan menerangkan dengan rinci dan runtut. Alhamdulillah, saya sedikit lega. Paling tidak, tentang aplikasi Relawan Syauqi kita sudah bisa kuasai. Sehari sebelumnya, saya dapat undangan ke PDM Sleman. Mengambil dana amunisi untuk saksi Syauqi. Alhamdulillah. 50 % amunisi untuk saksi sudah di tangan. “Bagaimana dengan sisanya yang 50% lagi ?”, batin saya. Pak Ketua TPC SQ lalu berinisiatif. Kami maraton. Setelah dari PWM DIY, maka diundanglah semua ketua PRM, ketua PCA, perwakilan RRA, kordes dan relawan. Membalas hal yang sangat penting. Yakni : mencari solusi mendapatkan sisa 50% lagi dana untuk saksi. Pun, bagaimana menyiapkan konsumsi ketika hari H serta mendistribusikannya sampai ke saksi di semua TPS. Sekakigus juga konsumsi untuk petugas yang berjaga di Posko Ngloji. Alhamdulillah, rapat koordinasi itu menghasilkan point point yang sangat positif. Nampaknya, semuanya sudah terkondisi dengan baik. Hari terus berganti. Tibalah saat hari H – 1. Entah mengapa. Semakin mendekati hari H, saya masih saja khawatir. Padahal, sepertinya, semuanya sudah “in line’. Bergerak senada seirama. Berjalan searah dan segaris. Formasi komplit. Pekerjaan sudah terbagi dan terdelegasikan dengan cukup matang. Satu lagi, sayapun sudah bisa menguasai aplikasi Relawan Syauqi itu. Sepertinya masih ada satu hal yang mengganjal. Tapi entah apa ? Ketika itu, kami sekeluarga baru saja “nderekke” Budhe nya anak anak. Mengantar ke Stasiun Tugu. Budhe nya anak anak “nglegakke” berkunjung ke rumah Jogja. Sekalian ngantar Fadhli, anak mbarep saya, mudik ke Jogja. Ia mudik sekalian mau nyoblos. Di sela perjalanan pulang, tiba tiba HP saya bergetar. Ada WA masuk. “Assalamualaikum wrwb. Pak Dwi, nyuwun pangapunten sanget. Niki kula badhe mundur saking saksi Syauqi nggih Pak ?”, isi WA nya. “Wa alaikum slm wrwb. O nggih pak. Niki sinten nggih ?”, tanya saya. “Kula Pak Fauzan. Saksi TPS 07. Sembuhan Kudul. Nyuwun ngapunten estu nggih Pak. Niki ndilalah omten acara mendadak sing mboten saget diwakilkan”, jelasnya. Saya seperti tersentak. “Mungkin inilah jawaban kegelisahan saya”, saya sedikit berbisik. Rupanya, Mas Antok mengerti dengan perubahan saya. Sambil pegang kemudi, ia bertanya : “Ana apa e Cak ?”. “Wah iki lho. Ana saksi sing tiba tiba mundur. Padahal ming kari sedina iki je”, kata saya. “Sapa sing mundur ?”, tanyanya. “Pak Fauzan. TPS 07. Sembuhkan Kidul”. Suasana hening. Tapi tidak lama kemudian, “Ngene wae. Anak lanang kuwi dikon ngganteni dadi saksi. Piye ? Eh, Fadhli, kamu mau jadi saksi kah ?”, tanya Mas Antok. “Saksi apa, om ?”, jawab Fadhli. “Saksi DPD Syauqi. Kamu cuma duduk dan memantau di TPS saja. Lumayan dapat uang transport. Akhirnya, Fadhlipun bersedia. Bimtek pun dilakukan di dalam mobil. Yang membimtek : ibunya. Sampai di rumah, saya sengaja memberi info lewat Group Saksi SQ Minggir. Saya sebutkan bahwa uang transport Saksi Sauqi akan dicairkan besok. Setelah saksi menyerahkan berkas C1 Hasil suara DPD Syauqi. Tiba – tiba, Group WA itu langsung ramai. Banjir komentar. Saya sempat membaca beberapa komentar. “Alhamdulillah. Terima kasih pak”, tulis seorang saksi. Tapi, ada juga yang berkomentar bernada unik. “Wah, seandainya separoh bisa cair malam ini kan lumayan. Bisa untuk nyicil kebutuhan lain lain”, katanya. Pun, ada juga komentar lain. Yang senada. Setelah membaca beberapa komentar, HP saya letakkan. Saya mengalihkan perhatian ke lain aktivitas. Selama hampir satu jam saya mencuci tumpukan pakaian menggunung. Yang sudah beberapa hari tertunda. Rupanya, selama saya tinggal, suasana di group “sempat menghangat”. Beberapa komentar tidak sempat saya baca. Rupanya beberapa chat yang “hangat” itu sudah dihapus. Ada dua komentar yang mendominasi. Salah satunya komentar Mas Yoga dan salah seorang saksi. Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang njapri saya : “Nyuwun sewu Mas Dwi. Wah, niki wau group e rada panas Pak. Nanging, sak niki sampun adem kok”, “Wah nggih e. Niki wau kula tinggal umbah umbah. Jebul kathah komentar sing mpun dihapus. Onten napa e Mas ?”, “Mboten onten napa napa kok Mas. Sing jelas niki wau mpun adem”, jelasnya. “O nggih. Alhamdulillah”, sambung saya. Tiba-tiba, ia melanjutkan komentar : “Mas, nyuwun sewu. Mas Yoga itu di Tim SQ posisine dados napa nggih ?” Saya sempat tercekat beberapa saat. Tapi kemudian : “Mas Yoga itu relawan senior”, tegss saya. Akhirnya, kegelisahan saya terjawab sudah. Justru di saat saat akhir menjelang hari H. Saat “injury time” seringkali menjadi masa masa mendebarkan.(*) Minggir, 23 Feb. 2024.Bada Maghrib, Uwik DS.

Loading

FORMASI KOMPLIT

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 8) Satu hari setelah bimtek di SMP Muhammadiyah 1 Minggir, saya sengaja ingin menjajagi seberapa jauh pemahaman para saksi terhadap bimtek tersebut. Saya lalu menanyakannya lewat group saksi SQ Minggir. “Bapak Ibu, Mas Mbak saksi SQ, bagaimana apakah sudah paham mengenai tugas dan peran saksi SQ besok itu ?”. “Wah, belum e Pak !”, jawab salah seorang Ibu. “Saya kemarin tidak ikut bimtek pak. Saya masih masuk kerja”, sela seorang Mbak. “Pak, kapan ada bimtek lagi ? Saya mau ikut!”, tanya seorang Bapak. Bagi saya, cukup sudah keterangan beberapa saksi tersebut. Tambahan lagi, masih ada saksi yang memang pada bimtek pertama tidak bisa hadir. Oleh karena bersamaan ikut acara Hari Aisyiyah di UMY. Setelah berkoordinasi dengan tim TPC, maka kami putuskan untuk mengadakan bimtek susulan. Acara bimtek kedua bisa terlaksana di kediaman salah seorang kordes. Acara berjalan lancar. Dihadiri oleh Mas Afif dan Mas EnKa dari TPD SQ. Setelah bimtek kedua, saya mencoba untuk melakukan kros cek di daftar hadir bimtek. Saya menemukan beberapa fakta. Ternyata, masih ada sekitar belasan saksi yang belum mengikuti bimtek. Baik bimtek pertama maupun kedua. Ini terus terang membuat saya khawatir. Akhirnya, kami memutuskan untuk melakukan bimtek pungkasan. Alias bimtek terakhir. Tempat di Wisma Ngloji. Waktunya : 2 hari sebelum hari H. Acaranya : selain pemantapan terakhir, juga penyerahan surat tugas dari TPW Syauqi untuk para saksi SQ. Acara tersebut begitu penting bagi kami. Pun bagi saksi dan juga bagi PCM dan PCA Minggir. Oleh karena itu, acara bimtek terakhir itu kami bagi menjadi 3 sesi. Sesi 1 (08.00 – 09.00) : rakor bersama antara kordes, PCM, PCA dan relawan. Sesi 2 (09.00 – 11.00), bimtek IT saksi Sendangarum, Sendangsari dan Sendangrejo. Sesi 3 (13.00 – 15.00), bimtek IT saksi Sendangagung dan Sendangmulyo. Ada satu hal yang membuat saya dag dig dug. Jujur, sampai titik terakhir, saya sebetulnya belum bisa menggunakan aplikasi Relawan Sauqi itu. Padahal, target saya adalah sebelum acara bimtek pamungkas, semua saksi harus punya akun sendiri sendiri. Sehingga pada saat bimtek terakhir itu nanti, semua saksi sudah bisa mengisi data data dan mengirimkan foto foto, seolah olah adalah data dan foto perolehan suara Syauqi. Beberapa saat, saya memutar otak. Akhirnya ketemu. Saya harus minta bantuan anak muda yang paham IT. Maka, malam harinya, saya meminta salah seorang saksi Syauqi untuk ke rumah saya. Namanya Nadya. Siswa kelas 3 SMAN Seyegan. Saya minta dia untuk mendaftarkan akunnya para saksi itu. Nadya datang bersama seorang cowok kecil. Yang ternyata adalah adiknya. Siswa kelas 3 SMPN 1 Minggir. Cowok kecil itu namanya Azmi Adil. Di tangan mereka berdua, akhirnya semua akun saksi bisa didaftarkan. Tiba – tiba, sebuah ide muncul dari otak liar saya. “Kenapa tidak sekalian saja kakak beradik itu saya jadikan tim IT. Toh mereka sudah teruji ?”, batin saya. Kedua anak itu saya jadikan tim IT di Sendangagung. Mendukung tugas Mbak Atiin sebagai kordes di sana. Belakangan, akhirnya saya putuskan juga tim IT untuk yang lain. Untuk Sendangsari, saya mendapatkan Mbak Hilma Tsani sebagai tim IT. Mendukung Mbak Nur Faizun sebagai kordes. Sendangrejo, saya mendapatkan Mas Ali Akbar sebagai tim IT. Yang nanti akan bertandem dengan Mas Nur Sahid sebagai kordes. Sendangarum, saya mendapatkan Mas Fajarudin sebagai tim IT. Tandem dengan Mas Irfan Nugroho sebagai kordes. Dan terakhir, saya dan anak saya, Raihan menjadi tim IT Sendangmulyo. Yang nanti akan bahu membahu dengan Mas Fathan sebagai kordes. Alhamdulillah, akhirnya saya telah mendapatkan formasi Tim TPC SQ yang komplit. Tinggal mengujinya di hari ketika bimtek pamungkas. Dan, hari ketika bimtek terakhir itupun datang. Saya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran. Perkiraan saya meleset. Acara molor lebih satu jam. Padahal, Mas Afif dari Tim IT TPD sudah on time. Datang sebelum jam 08.00. Padahal, Mas Afif pada hari itu juga, jam 09.00 harus memberikan bimtek di Godean. Kepadanya, saya sampaikan permintaan maaf sebesar besarnya. Sudah mengurangi jatah waktunya untuk teman teman di TPC Godean. Kekhawatiran saya bertambah lagi. Ternyata pada acara sesi ke 3, tidak ada tenaga tim IT yang muncul. Semuanya sudah pulang. Tinggal saya dan Nadya. Akhirnya, dengan mengerahkan segenap kemampuan, sayalah yang menyampaikan bimtek IT untuk saksi Sendangagung dan Sendangmulyo. Tentu, dengan baju yang basah kuyub. Gemrobyos peluh dan keringat. Lha apa tumon, gak paham IT kok ngasih bimtek IT. Untung ada mbak Nadya. Yang bisa sedikit membantu. Mengurangi rasa malu saya.(*) Minggir, 23 Feb. 2024.Bada Jumatan. Uwik DS.

Loading

KORDES

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 7)Akhirnya, sayapun harus mengulangi pekerjaan. Yakni meminta saksi Syauqi untuk melengkapi data NIK dan sekaligus alamatnya. “Lhoh kok dimintai data lagi Pak. Tempo hari kan sudah ?”, bantah salah seorang saksi. ‘Oh ya. Memang sudah. Tapi ini ada yang kurang. NIK nya belum ada”, jelas saya. “Kalau tidak ada NIK nya, nnti njenengan gak bisa dibuatkan akun. Kalau gak ada akun, njenegan nanti tidak bisa mengisi aplikasi relawan Syauqi”, terang saya. “O nggih pak. Siap. Segera saya kirim foto KTP saya saja sekalian”, jawabnya. Awalnya, saya japri satu per satu. Tapi kemudian saya ingat pesan Mas EnKa. Bahwa di struktur tim pemenangan Cabang itu ada yang namanya kordes (koordinator desa). “Itu bisa dimintai bantuan”, jelasnya. Maka, saya jadi ingat kordes. Tapi, saya juga bingung. Kira kira siapa yang patut dan layak menyandang predikat kordes itu. Tentu juga nanti akan terlibat lebih jauh dalam lanjutan rangkaian pengamanan suara Syauqi ini ? Maka, saya putuskan :Kordes Sendangrejo : Pak Agus SantosaKordes Sendangarum : Pak SatidjoKordes Sendangsari : Pak WagiyoKordes Sendangmulyo : Pak Nur HidayatKordes Sendangagung : Pak Sardi Tapi, belakangan, saya malah tidak enak hati. “Mosok saya nanti arep nyuruh nyuruh bapak bapak senior PRM itu. Apa nggak kuwalat saya nanti ?”, pikir saya. He he he. Saya tidak kurang akal. Supaya tidak “kuwalat”, maka saya carikan tenaga muda yang lebih lincah untuk mendampingi bapak bapak senior itu. Maka, saya angkat Mas Roman Taufan sebagai kordes Sendangrejo. Mas Muhammad Afif, kordes Sendangarum, Mbak Atiin Nur Halimah, kordes Sendangagung. Mbak Nur Faizun, kordes Sendangsari. Dan Mas Fathan, sebagai kordes Sendangmulyo. Belakangan, posisi kordes Sendangarum dan Sendangrejo harus dikoreksi. Karena, saksi Syauqi tidak boleh merangkap jadi kordes. Dikawatirkan nanti akan kewalahan. Mas Roman Taufan adalah saksi TPS 30 di Sendangrejo, merangkap kordes Sendangrejo. Sedangkan Muhammad Afif adakah saksi di TPS 13 di Sendangarum, juga merangkap kordes Sendangarum. Maka, Mas Roman Taufan dicabut. Dan digantikan oleh Mas Nur Sahid. Sedangkan Mas Muhammad ‘Afif digantikan Mas Irfan Nugroho. Sendangsari, saya carikan kordes baru. Yakni : Mbak Nur Faizun. Sehingga lengkaplah sudah, posisi kordes di Minggir, yakni : Sendangrejo :Bp. Agus Santoso*Nur Sahid Sendangarum :Bp. Satidjo*Irfan Nugroho Sendangsari :Bp. Wagiyo*Nur Faizun Sendangagung :Bp. Sardi*Atiin Nur Halimah Sendangmulyo :Bp. Nur Hidayat*Fathan Dalam prakteknya, ternyata ada banyak kejadian unik dan menarik, selama proses revisi nama saksi dan NIK nya tersebut. Berikut adalah beberapa contoh : “Assalammu ‘alaikum wrwb. Pak Dwi”, tanya seorang saksi. “Wa alaikum slm wrwb”. “Pak, yang di group saksi SQ Minggir itu nama saya keliru pak”, sambungnya. “Yang mana Mbak ?. Saya mendapatkan datanya dari kordes Mbak” kata saya. “Sugianti, Pak”, katanya. “Kalau gak salah kemarin sudah ada revisi dari pak Kordes. Jadinya Sugiyanti”, jelas saya. “Justru itu Pak. Sebetulnya yang awal sudah betul. Terus direvisi oleh kordes. Malah jadi salah”, “Baik. Baiklah. Jadi, yang benar yang mana ini ?”, tanya saya. “Sugianti. Gak pakai “y” pak !”. Ada yang memberi komentar kepada saya, begini : “Nyuwun pangapunten Pak Dwi, menawi nama kula dipun ralat kados pundi pak? Kirang apostrof. kedahipun : Muhammad ‘Afif”, “Oh ya Maaf. Nanti segera saya ralat Mas ‘Afif”, balas saya. “Matur nuwun Pak Dwi”, sambungnya. Ada pula yang protes karena gelarnya keliru. Ada yang alamatnya keliru. Dan lain lain. Setelah saya cek satu persatu. Ternyata yang paling banyak belum ada NIK nya adalah saksi dari Sendangrejo. Anda pasti paham. Siapa nama kordesnya ?😃😃👃👃(*) Minggir, 22 Feb. 2024Uwik DS.

Loading

BANYAK BOLONG

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 6)Saya terus memonitor group TPD DPD SQ. Bahkan, bila mana diperlukan, saya sesekali mengubungi tim TPD SQ. Kalau tidak ke Mas EnKa, ya Kang Darojad. Setelah dirasa sudah cukup, maka tahap berikutnya, kami merencanakan acara Bimtek Saksi SQ. Jadwal sudah kami tetapkan. Yakni, Hari Ahad, 28 Januari 2024. Bertempat di SMP Muhammadiyah 1 Minggir. Alhamdulillah, acaranya berlangsung antusias. Jumlah saksi yang datang lebih dari 75%. Ada sebagian saksi yang tidak datang. Itupun karena mereka mengikuti acara Hari Aisyiyah di Sportorium UMY. Yang waktunya bersamaan. Nampak juga beberapa person dari TPD SQ. Ada Kang Darojad, Mas EnKa, mas Azis dan Mas Afif (dua nama terakhir adalah yang mewakili Tim IT TPD). Awalnya saya pede. Tapi akhirnya berubah jadi sedikit kecewa. Perkiraan saya meleset. Ternyata, masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Itu karena keterbatasan saya mengenai teknis dan tahapan dalam urusan persiapan proses pemungutan suara itu. Saya sama sekali buta tentang hal itu. Bimtek Saksi Syauqi dibagi 2 (dua) tahapan.Tahap pertama, bimbingan dan pemantapan tentang fungsi dan tugas saksi Syauqi. Tahap kedua, bimbingan teknis IT (bimtek IT). Yakni bimbingan kepada saksi terkait dengan cara dan penggunaan Aplikasi Relawan Syauqi. Yang fokusnya adalah cara pengisian dan pengamanan jumlah suara Syauqi melalui aplikasi yang tersambung ke web. Di saat awal, acara tersebut berjalan biasa saja. Namun ketika memasuki sesi bimtek IT, barulah suasana jadi heboh. Muncullah berbagai komentar dan pertanyaan dari para saksi. Berikut hanya sebagian kecil saja komentarnya : “Mas, HP kula kok mboten saget ?”. “Mas, nggen kula kok ming mubeng mubeng terus ?” “Mas, ngajarinnya jangan cepet cepet. Diulangi dari awal Mas ?”. Dan ada beberapa lagi. Di sisi lain, ketika bimtek IT berlangsung, barulah ketahuan bolongnya. “Pertama :”, yang jelas, setiap saksi harus punya dan membawa HP yang mendukung. Pun, sudah terisi kuota yang cukup. Nyatanya, ketika bimtek berlangsung, ada banyak HP yang kuotanya tidak mencukupi. Ada juga HP yang fasilitasnya terbatas Bahkan ada juga saksi yang tidak membawa HP. Saya mendekati seorang bapak. Yang sedari tadi nampak diam. Atau malah bingung. Kebetulan saya kenal dengannya. “Pripun Pak Sanijo ? Kok mendel mawon ? HP ne pundi ?”, tanya saya. “HP kula rusak Pak Dwi. Tapi mangkih pas Hari H, kula ajeng tumbas HP”, katanya. “Lha njenengan paham dereng kalih bimtek e niki wau ?”, sambung saya. “Nggih dereng pak. Tapi tenang mawon Pak Dwi. Mangkih nek mpun gadhah HP, kula yakin. Ngoten niku saget kula pelajari”, jelas Pak Sanijo. “Tenane Pak ?”, balas saya. “Lho estu Pak. Tenang mawon”, katanya. “O nggih. Nggih …”. “Kedua :”, setelah memastikan kelengkapan HP, tahap berikutnya, saksi harus bisa menginstal “aplikasi Relawan Syauqi”. Lalu, diajari cara menggunakannya. Untuk bisa menggunakan aplikasi ini, saksi harus punya nomer akun sendiri sendiri. Data dari setiap akun akan menerangkan nama saksi, nomer TPS dan alamat TPS di mana saksi akan bertugas. Ternyata, untuk mendapatkan atau mendaftarkan nomer akun, maka data dari masing masing saksi haruslah lengkap. Nama lengkap, NIK dan alamat domisili saksi. Di sinilah saya baru paham. Kenapa waktu itu mas EnKa bilang : data saksinya harus lengkap, termasuk NIK nya sekalian. Saya baru sadar. Data saksi hampir semua tanpa NIK. Bahkan beberapa nama saksi ternyata hanya nama panggilan. “Wah, berarti data saksi belum beres ini. Masih jadi PR”, batin saya. Akhirnya, tim IT TPD memberikan jalan keluar. Proses pengisian aplikasi Relawan Syauqi dengan melalui akunnya koordinator TPC. Salah satunya akun saya. Dan, proses uji coba penggunaan aplikasi Relawan Syauqi mulai dicoba oleh para saksi. Hasilnya : lha wong saya saja, sebagai koordinator juga bingung, apalagi saksi !(*) Klaten, 22 Februari 2024.Di sela sela makan siang. Uwik DS.

Loading

JAWABAN SAKSI

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 5)__ Saya sedikit lega. Paling tidak, target pertama sudah tercapai. Beberapa saat kemudian, Kang Darojat (salah satu punggawa TPD SQ mengirim pesan : “Perwakilan Tim IT TPC SQ yang berada di Sleman Barat supaya merapat ke Sego Welut Godean. Keperluan rapat koordinasi progress perkembangan TPC SQ di wilayah Sleman Barat”. Malam itu, saya mengajak anak saya : Raihan ke Godean. Beberapa TPC juga nampak hadir. Dari Godean, Gamping, Seyegan, Moyudan, Tempel dan Minggir. Selain Kang Darojad, hadir pula Mas EnKa, pak Ari dari TPW dan beberapa orang lagi, yang saya masih belum kenal. Pak Ari dari TPW menegaskan beberapa hal terkait strategi pemenangan. Antara lain pentingnya saksi di TPS, peran Tim IT, kordes dan koordinator TPC SQ. Dari rakor terbatas itu saya juga bisa mengetahui tentang progres masing masing TPC. Alhamdulillah, Minggir termasuk salah satu TPC yang sudah terpenuhi 100% rekruitmen saksi TPS nya. Dari hasil diskusi panjang lebar itu, saya mendapat tambahan keterangan tentang beberapa nama nama petugas dalam struktur pemenangan DPD Syauqi. Di samping “saksi”, ada juga “kordes”, “tim IT”, “admin IT, “koordinator TPC”, “saksi PPK”, dll. Saya berusaha menanyakan apa tugas dan tanggung jawab dari masing masing nama petugas itu. “Langkah pertama : setelah rekruitmen saksi TPS, maka njenengan harus membuatkan Group WA untuk semua saksi TPS tersebut. Ini semata mata untuk memudahkan koordinasi ke depan”, jelas Mas EnKa. Berbekal materi dari Sego Welut Godean itu, saya lalu membuatkan group untuk menampung saksi saksi yang 117 orang itu. Saya harus memastikan bahwa nama nama saksi yang sudah disodorkan, benar benar memang siap dan bersedia menjadi saksi Sauqi. Setelah itupun, saya harus mengelompokkan nama saksi itu ke kelompok rantingnya masing masing. Setelah nama yang bersangkutan memang betul betul bersedia, maka saya segera mendata kelanjutannya. Menuliskannya ke dalam format seperti di bawah ini : Format redaksinya saya buat sangat sederhana, tapi harapannya bisa efektif. Nama : …NIK. : …Alamat : …No TPS : …Alamat TPS : … Ternyata, bukan perkara mudah untuk memastikan kesiapan mereka. Berbekal nomer WA dan namanya, maka nomer nomer itu saya japri satu per satu. Ada kalanya lancar. Ada kalanya direspon dengan semangat. Ada kalanya juga bikin senyum dan ketawa. Di bawah ini sekedar contoh, yang responnya sangat positif.* Saya : “Assalamualaikum wrwb.Mas Roman Taufan, njenengan diusulkan oleh PRM Sendangrejo utk jadi saksi DPD Syauqi Suratno. Bersedia ya Mas?”, Roman : “Wa alaikum salam, nggih Insha Allah Pak. Saya : “Nuwun Mas Roman”.👍🏾👍🏾🙏🏻* Atau yang berikut ini : Saya : “Assalammu’ alaikum wrwb. Mbak Nadia. Saya dapat info dari Sekretaris Cabang. Katanya Mbak Nadia mau jadi saksi Syauqi ?” Nadia : “Ya pak. Boleh ya Pak ?”. Saya : “Sangat boleh !”. Nadia : “Sekalian mau cari pengalaman baru Pak”. Saya : “Wah cocok itu. Pas sekali”.* Namun, ada juga yang responnya seperti di bawah ini : Saya : “Assalammu ‘alaikum wrwb. Mas Yusuf”. Yusuf : “Wa alaikum slm wrwb”. Saya : “Saya dapat info dari ketua PRM. Katanya Mas Yusuf bersedia untuk jadi saksi Syauqi ?”. Yusuf : “Maaf Pak. Syauqi itu apa ya Pak ?”.* Bahkan ada juga jawaban yang modelnya seperti ini : Saya : “Assalammu ‘alaikum wrwb. Mas Suroso”. Suroso : “Wa alaikum slm wrwb. Nggih pak !”, Saya : “Mas, nenengan kula usulke dados Saksi Syauqi nggih ? Kersa mboten ?”. Suroso : “Wah mboten pak. Liyane mawon”, Saya : “Lho… tek na pripun ?”. Suroso : “Kula tak ngarit mawon !”.* Pertanyaan saya :“Kira kira, kalau misalkan Anda direkrut menjadi saksi, jawaban type yang mana, yang Anda akan berikan ?”.(*) Minggir, 21 Februari 2024.Menjelang sore. Uwik DS.

Loading

117 SAKSI

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 4.Berbekal intensnya berkomunikasi dengan Mas EnKa, saya mulai paham bagaimana strategi tim Pemenangan Syauqi. Saya jadi paham. Betapa pentingnya peran saksi pada setiap TPS. Bukan hanya untuk membantu meringankan dan memudahkan salah satu tahap dari sekian tahap dalam rangkaian strategi pemenangan. Melainkan juga dalam rangka untuk memastikan dan mengamankan suara Syauqi. Maka, saya putuskan bahwa target pertama harus terpenuhi. Yakni : mencari 117 nama calon saksi Syauqi. Saya betul betul berharap kepada bapak bapak Ketua PRM se Minggir itu. Yakni : Belakangan, Ketua PRM Sendangmulyo mendelegasikan tugas kepada Pak H. Nur Hidayat. Sedangkan Ketua PRM Sendangarum mengutus Bapak Satidjo, BA sebagai wakilnya. Sementara itu, Pak Ketua PRM Sendangagung mengirimkan data nama nama calon ke Mas Antok Bekelan. Untuk kemudian dikirim ke saya. Sedangkan untuk PRM Sendangsari dan Sendangrejo, terpaksa berjibaku. Gerilya sendiri mencari nama calon saksinya. Ternyata, bukan perkara mudah untuk mencari 117 nama calon saksi itu. Kendala utamanya adalah, pasti calon saksi tersebut akan bertanya : “Ana amplope ora ?”. “Duite pira ?”. “Benar benar sebuah tantangan”, pikir saya. Yang paling awal menyetor nama calon saksi adalah Pak Satidjo. Maklumlah, Sendangarum hanya ada 13 TPS. Saya bisa membayangkan Pak H. Sardi pasti sedikit kesulitan untuk mencari nama calon saksi. Selain luasnya areal, pun karena jumlah TPS nya paling banyak : 33 TPS. Pak Agus Santosa nampak terlalu pede. Beliau mengirimkan datanya diurutan kedua. Salah satu datanya adalah ini : Coba Anda lihat redaksi kalimatnya. Lengkap dan jelas. Cerita dari Pak Wagiyo agak beda. Saya juga bisa membayangkan bagaimana pak Wagiyo merekruit calon saksi. Pastilah ia akan ditanya tentang amplop itu. Beberapa kali, Pak Wagiyo kontak saya. “Wah, iki piye Pak Dwi. Aku dha ditakoni amplope pira e?”, katanya. Sayapun berdiplomasi : “Pokoke mangkih angsal uang transport Pak !’. “Isine pira ?”, sambungnya. “Pokokmen ana !”, jelas saya. Selepas membalas WAnya, saya menunggu respon Pak Wagiyo. Beberapa saat tidak ada balasan. Mudah mudahan Pak Wagiyo paham. Atau malah tambah mumet. Wk wk wk. Dua hari kemudian, Pak Wagiyo kirim data nama saksi. “Itu dua nama untuk saksi TPS pak”, tulisnya. “Oke. Nuwun Pak. Tapi masih kurang 4 nama lho !”, jawab saya. “Cukup itu saja Pak !”, jawabnya. “Maksudnya gimana ?”. “Untuk Sendangsari cukup itu saja namanya. Ini sudah mumet saya”, tambahnya. “Kita mumet sama sama Pak !”, sambung saya. Sebetulnya, saya juga tidak tega. Dalam hati, saya berketetapan, bagaimanapun, untuk Sendangsari, saya harus ikut andil. Sebagai sama sama dari Sendangsari. Saya harus putar otak. Akhirnya ketemu juga. Tiba tiba, saya melihat istri saya yang sedang duduk, selepas Sholat Maghrib. Saya dekati dia. “Sampeyan tak dadekno Saksi Syauqi ya ?”, bujuk saya. Diluar dugaan, ternyata pertanyaannya sama : “Amplope pira ?”, katanya. Saya kaget. Tapi juga malah ketawa. “Lha kok malah ngguyui lho !”, jelasnya. “Aku ngerti arah pertanyaane sampeyan. Wis, pokoke onok amplope. Tak jamin wis”, jelas saya. “Aku gelem. Tapi aku njaluk nang TPS kene. Nek adoh, aku emoh !”, jelasnya. “Wah berat iki. Ya wis. Sampeyan ndik TPS kene wae. TPS 02. Jetis Depok”, sergah saya. Akhirnya, melalui perjalanan berliku, 117 nama calon saksi Syauqi itu sudah ada di tangan saya. Alhamdulillah.(*) Minggir, 20 Feb. 2024. Uwik DS.

Loading

Serah Terima Jabatan Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah Gamping, Semangat Maju dan Adaptasi

Gamping, Pdmsleman.Or.Id Serah terima jabatan Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah Gamping dilaksanakan hari ini Kamis, 22 Februari 2024 bertempat di ruang pertemuan sekolah setempat.   Sardi, S.Pd, M.M. kepala sekolah SMK Muhammadiyah Gamping periode 2018 hingga 2024 di pindah tugaskan di SMK Muhammadiyah Turi 1, selanjutnya Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta menunjuk   Harimawan, S.Pd.T untuk menjadi Pelaksana Tugas Kepala Sekolah di SMK Muhammadiyah Gamping. Sardi, S.Pd, M.M. dalam sambutannya menyampaikan ” semoga kedepan SMK Muhammadiyah Gamping dan SMK Muhammadiyah Turi 1, bisa berjalan beriringan maju bersama untuk menjadi sekolah yang lebih baik lagi”. Sementara itu   Harimawan, S.Pd.T dalam sambutannya berharap ” SMK Muhammadiyah Gamping semakin maju dan mampu beradaptasi dengan dunia industri agar para lulusan dari SMK Muhammadiyah Gamping semakin beradaptasi dengan kemajuan teknologi dunia industri dan dapat terserap ke dunia industri”. Dra. Nur Farida Wijayanti, M.Pd selaku Pengawas di SMK Muhammadiyah Gamping mengapresiasi pencapaian luar biasa yang dilakukan oleh Pak Sardi selama menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMK Muhammadiyah Gamping, serta menitip pesan kepada   Harimawan untuk bisa Menanamkan, Menumbuhkan dan Mengembangkan SMK Muhammadiyah Gamping. Dalam kesempatan serah terima jabatan kali ini juga dihadiri dari perwakilan dari, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gamping, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Mitra Sekolah dari Dunia Industri dan Kepala Sekolah SMP disekitar wilayah SMK Muhammadiyah Gamping. Kontributor Dwi Noviyantoro SMKM Gamping, Peserta Diklat Penulisan Berkemajuan MPI PDM Sleman Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading