Baitul Arqam ‘Aisyiyah Turi Perkuat Kader Perempuan Berkemajuan

Turi, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Bangunkerto I dan II, Turi, Sleman menyelenggarakan kegiatan Baitul Arqam sebagai upaya memperkuat kaderisasi dan memperdalam pemahaman keislaman bagi anggota ‘Aisyiyah. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Kartopranjanan Ngentak pada 6–7 Maret 2026 ini dihadiri berbagai unsur pimpinan Muhammadiyah serta tokoh masyarakat setempat. Sejumlah tamu undangan yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain perwakilan PCM Turi, PCA Turi, dukuh setempat, PRM Ngentak, serta unsur masyarakat seperti RW, RT, dan takmir masjid. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan gerakan dakwah perempuan Muhammadiyah di tingkat akar rumput. Acara diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan yang dipandu oleh panitia. Rangkaian pembukaan meliputi tilawah Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Sang Surya, serta Mars ‘Aisyiyah, sebelum dilanjutkan dengan sambutan dari para pimpinan organisasi. Ketua PRA Ngentak, Siti Kusniah, S.Pd, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan Baitul Arqam menjadi sarana penting untuk memperkuat ideologi serta komitmen kader dalam menjalankan dakwah Islam. “Melalui kegiatan ini kami berharap para kader ‘Aisyiyah semakin memahami nilai-nilai perjuangan organisasi dan mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat,” ujarnya. Sementara itu Ketua PCA Turi, Sri Winarti, M.Pd, menyampaikan bahwa kaderisasi merupakan ruh gerakan ‘Aisyiyah yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Menurutnya, kader ‘Aisyiyah tidak hanya dituntut aktif dalam organisasi, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat, berilmu, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Kader ‘Aisyiyah harus memiliki iman yang kuat, ikhlas dalam beramal, serta mampu menjadi teladan di tengah masyarakat,” kata Sri Winarti. Kegiatan Baitul Arqam tersebut menghadirkan berbagai materi yang bertujuan memperkaya wawasan peserta, di antaranya dinamika perjuangan ‘Aisyiyah, ibadah praktis, kepemimpinan dalam organisasi, hingga motivasi perempuan inspiratif dan risalah perempuan berkemajuan. Materi-materi tersebut disampaikan oleh sejumlah narasumber dari unsur pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah seperti dengan materi PHIWM / Kepemimpinan, Motifasi Perempuan Inspiratif, Kreatif, Produktif dan Risalah Perempuan Berkemajuan, ke Aisyiyahan dengan pemateri MPK PDA Sleman, Firra Berlinawati, S.Psi.,M.Psi.,Psikolog, PCM TURI Drs. Bambang, Hj. Sri W Mpd. Turi, Pdmsleman.Mu.Or.Id Selain materi kelas, peserta juga mengikuti kegiatan spiritual seperti shalat tahajud, shalat subuh berjamaah, kultum, serta aktivitas kebersamaan berupa senam dan outbound untuk mempererat ukhuwah di antara peserta. Dalam perspektif organisasi, kader ‘Aisyiyah merupakan penerus, pelopor, sekaligus penggerak amal usaha yang memiliki peran strategis dalam menyebarkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini diharapkan lahir kader-kader perempuan Muhammadiyah yang tidak hanya memahami ajaran Islam secara benar, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan, empati sosial, serta semangat berkhidmat bagi umat. Kegiatan Baitul Arqam tersebut ditutup dengan pembagian santunan hari raya kepada 18 Duafa dan 5 anak yatim. Eni S salah satu panitia berpesan kepada para peserta agar terus aktif dalam gerakan dakwah dan kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungan masing-masing. Panitia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan guna memperkuat peran ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam yang berkontribusi dalam membangun masyarakat yang adil, makmur, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Rep : Eni S  PCA Turi Editor  ARief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Pengajian Ramadhan PDM Sleman Tekankan Penguatan Akidah untuk Kemandirian Ekonomi Umat

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman melalui Hendro Sucipto Ketua MPKSDI selaku menggelar pengajian Ramadhan bertema “Aqidah Islam untuk Penguatan Ekonomi Umat” pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman ini dihadiri Sekda Sleman Drs. Susmiarto MM bersama ratusan warga Muhammadiyah dari berbagai unsur, mulai dari pengurus Daerah, Cabang dan ranting, pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), kepala sekolah, hingga organisasi otonom. Suasana pengajian terasa hangat dan khidmat sejak awal acara. Para peserta tampak memanfaatkan momentum Ramadhan untuk memperkuat keimanan sekaligus memperdalam pemahaman tentang pentingnya kemandirian ekonomi umat yang berlandaskan akidah Islam. Ketua PDM Sleman, H. Harjaka, M.A., membuka kegiatan tersebut. Dalam tausiah singkatnya, ia mengingatkan bahwa Ramadhan bukan hanya momentum memperbanyak ibadah ritual, tetapi juga kesempatan membersihkan hati dan memperteguh komitmen dalam menjalani kehidupan yang lebih bermakna. “Ramadhan mengajarkan kita untuk menata hati, memperkokoh akidah, serta menjaga istiqomah dalam setiap langkah kehidupan,” ujar Harjaka. Menurutnya, kekuatan spiritual menjadi fondasi penting bagi umat Islam untuk membangun kehidupan sosial dan ekonomi yang sehat. Pengajian tersebut juga dihadiri Sekda Sleman Drs. Susmiarto MM, Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sleman Hj. Hanik Rosyada beserta jajaran. Kehadiran unsur Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah menambah semangat kebersamaan dalam kegiatan yang menjadi bagian dari agenda Ramadhan PDM Sleman. Narasumber utama dalam pengajian ini adalah Dr. H. Riduwan, S.E., M.Ag., Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam paparannya, Riduwan menekankan bahwa penguatan akidah harus berjalan seiring dengan penguatan ekonomi umat. Ia mengajak warga Muhammadiyah di Sleman untuk memperkuat koordinasi dalam mengembangkan berbagai potensi ekonomi yang ada di lingkungan persyarikatan. Menurutnya, Muhammadiyah memiliki jaringan besar yang dapat menjadi kekuatan kolektif apabila dikelola dengan baik. “Kita perlu membangun etos kerja yang unggul, mengembangkan usaha yang profesional, tetapi tetap berpegang pada nilai-nilai Islam. Bisnis bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga sarana ibadah dan pemberdayaan umat,” jelas Riduwan. Sementara itu, narasumber lainnya, Nur Aisyah Haifani, S.T. dari Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) DIY, menekankan pentingnya menumbuhkan semangat kewirausahaan di tengah masyarakat. Ia menilai, kemandirian ekonomi umat hanya dapat terwujud apabila semangat usaha terus ditularkan dan dikembangkan. “Semangat ekonomi harus hidup di tengah masyarakat. Jika umat memiliki kemandirian ekonomi, maka kekuatan sosial dan dakwah juga akan semakin kokoh,” ungkapnya. Dalam kesempatan tersebut, panitia juga menyosialisasikan beberapa program, di antaranya program WisataMu serta layanan perjalanan umroh melalui SCM. Program tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari upaya memperluas layanan bagi warga Muhammadiyah sekaligus mendukung penguatan ekonomi berbasis jamaah. Pengajian Ramadhan ini kemudian ditutup dengan buka puasa bersama dan ramah tamah. Suasana kebersamaan tampak terasa hangat ketika para peserta saling berbincang dan bertukar gagasan. Momentum tersebut tidak hanya menjadi ruang menimba ilmu, tetapi juga mempererat ukhuwah di antara warga Muhammadiyah Sleman dalam menyongsong masa depan umat yang lebih mandiri dan berdaya. Rep Totok Yudo Priambodo Sekretariat PDM Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Ngoding Iman, Bangun Website, Digital Branding PCM Tempel Berbasis WordPress

 Tempel, Pdmsleman.Or.Id Ir. Asroni. MT. M. Eng, ahli IT sekaligus dosen Tehnik Informatika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengabdikan sebagian ilmunya untuk kemajuan Muhammadiyah di Cabang Tempel, Sleman. Asroni membimbing PCM Tempel yang diwakili oleh Angkatan Muda Muhammadiyah nya untuk sigap merespon perkembangan jaman dalam melakukan dakwah. Kegiatan yang bertajuk Ngoding Iman, Bangun Website: Digital Branding PCM Tempel Berbasis WordPress tersebut dilaksanakan di Kompleks SMK Muhammadiyah Tempel dan diikuti oleh Angkatan Muda Muhammadiyah Cabang Tempel. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan oleh tim dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tempel, Sleman. Program dikemas dalam bentuk pelatihan satu hari bertema Ngoding Iman, Bangun Website yang berfokus pada penguatan digital branding dan pengelolaan website organisasi berbasis WordPress untuk menjangkau Generasi Z. “Angkatan Muda Muhammadiyah adalah masa depan persyarikatan, umat, dan bangsa; karena itu harus lahir pemimpin-pemimpin muda dari rahim Muhammadiyah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan mampu mengelola ruang digital secara professional” tegas Asroni. Berangkat dari semangat tersebut, penguatan kapasitas digital menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem dakwah yang relevan dengan karakter Generasi Z. Sementara itu, Ketua AMM Tempel, Ilham Sukron S. IP. mengakui bahwa sejauh ini di level PCM Tempel masih masih belum mengoptimalkan penggunaan web site untuk sarana pengembangan organisasi dan dakwah. Permasalahan tersebut meliputi belum optimalnya pemanfaatan website sebagai pusat informasi resmi, belum tertatanya struktur konten organisasi, serta keterbatasan keterampilan pengurus dalam mengelola platform digital. Pelatihan dirancang berbasis praktik langsung (hands-on), meliputi login dan setup WordPress, pembuatan halaman dasar (Beranda, Profil, Program, Berita, Kontak), penyusunan menu navigasi, publikasi berita dan media, desain halaman menggunakan Elementor atau Block Editor, instalasi plugin penting (SEO, Form Kontak, WhatsApp Button, Social Feed), hingga uji tampilan desktop dan mobile. Syukon menyambut baik kegiatan ini karena akhirnya PCM Tempel website resmi memiliki web site dengan struktur konten yang tertata, serta meningkatnya kompetensi peserta dalam manajemen website dan branding digital. Kegiatan ini diharapkan memperkuat citra organisasi, meningkatkan publikasi dakwah, serta membangun ekosistem dakwah digital yang adaptif dan berkelanjutan di kalangan Generasi Z. Dalam kegiatan ABdimas ini juga diserahkan dana hibah dari UMY kepada PCM Tempel untuk pengembangan ternak domba. Rep Roy Tempel editor Arief hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Optimalkan Wakaf Produktif: LazisMu Berbah Panen Timun Jawa dan Salurkan Santunan ke Panti Asuhan

Berbah ​ Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (LazisMu) Kantor Layanan Berbah menunjukkan langkah nyata dalam kemandirian ekonomi umat. Bertempat di Gedung Dakwah Hj. Amronah Fadil, Jl. Sampaan-Berbah, Tegalturi, Tegaltirto, Berbah Sleman, Lazismu Berbah menggelar aksi ganda, yakni penyaluran santunan bagi anak yatim dan panen perdana mentimun jawa di lahan wakaf produktif, Kamis pagi (5/3/26). ​Dalam agenda tersebut, Lazismu Berbah menyerahkan dana sebesar Rp12.000.000 kepada Panti Asuhan (PA) Ukhuwatul Aitam Berbah. Penyerahan secara simbolis dilakukan oleh Kepala Kantor Lazismu Berbah, Saifu Rijal, kepada Ketua PA Ukhuwatul Aitam, Anas Mahduri. ​”Alhamdulillah, hari ini kami melakukan pentasyarufan ZIS (Zakat, Infaq, Shadaqah) untuk santri PA Ukhuwatul Aitam. Harapan kami, bantuan ini dapat membuat para santri berbahagia menyambut hari yang fitri nanti,” ujar Saifu Rijal. ​Anas Mahduri menyampaikan apresiasi mendalam atas bantuan tersebut. Ia menjelaskan bahwa selain santri yang menetap di panti, dana tersebut juga akan menyasar anak-anak yatim di lingkungan Berbah yang tinggal bersama orang tua mereka. ​”Kami rutin memberikan bantuan sembako, biaya sekolah (SPP), hingga pakaian baru untuk Lebaran. Alhamdulillah, dukungan dari Lazismu hari ini sangat membantu dan akan kami belikan baju buat lebaran nanti dan untuk operasional kami, apalagi pekan ini jadwal santunan cukup padat,” jelas Anas. ​Salah satu daya tarik utama acara ini adalah panen perdana Timun Jawa di lahan seluas 1.000 m² yang berada di belakang Kantor PCM Berbah. Lahan ini merupakan wakaf dari Hj. Amronah Fadil yang baru mulai difungsikan pada November 2025 lalu. ​Kusdiana, petani yang mengelola lahan tersebut, mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 2.000 lubang tanam yang digarap sejak Januari 2026.“Ini adalah panen perdana setelah 43 hari masa tanam. Saat ini kebutuhan pasar untuk Timun Jawa mencapai 2 ton per hari, sehingga potensi ekonominya sangat besar,” ungkap Kusdiana. ​Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Berbah, Akhmad Muhajir Hanifi, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari strategi penguatan pilar ekonomi dakwah. “Selama ini dakwah mengandalkan ZIS, namun ke depan kita harus memperkuat diri melalui wakaf produktif. Komoditas timun ini akan terus kami kembangkan ke tanah wakaf lainnya agar hasilnya bisa menopang kegiatan dakwah secara berkelanjutan,” tegasnya. ​Selain sektor pertanian, Lazismu Berbah juga aktif dalam layanan sosial dan pemberdayaan tenaga kerja. Saifu Rijal menambahkan bahwa saat ini pihaknya mengoperasikan 2 Unit Mobil Ambulans dan 1 Unit Mobil Layanan Umat. Kemudian​ ada unit Usaha Ayam Potong dimana jualnya berlokasi di depan kantor, buka setiap pukul 05.30 hingga 10.00 WIB. Unit usaha ini mampu menjual rata-rata 100 potong ayam per hari dan mempekerjakan warga sekitar dengan gaji standar UMR. ​Dengan sinergi antara pengelolaan zakat yang amanah dan pemanfaatan aset wakaf yang produktif, Lazismu Berbah optimis dapat terus menebar manfaat lebih luas bagi masyarakat Sleman. Kusnadi Berbah

Loading

Pancasila  Konsensus Nasional Yang Sah dan Final

Tempel, Pdmsleman.Or.Id Demikian disampaikan oleh Sidiq Ahmadi S.IP. MA, dalam paparannya di depan para pimpinan Cabang Muhammadiyah Tempel (1/3/26) dalam acara pengabdian masyarakat skema khusus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Kompleks SMK Muhammadiyah 1 Tempel.  Kegiatan pengabdian masyarakat ini berfokus pada implementasi prinsip Darul ‘Ahdi wa Syahadah dalam politik Muhammadiyah pada tingkat Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tempel Sleman. Prinsip ini, sebagaimana ditegaskan oleh Muhammadiyah, memandang Negara Pancasila sebagai darul ‘ahdi (hasil konsensus nasional) dan darul syahadah (arena pembuktian amal kebajikan). Tema ini sangat menarik untuk meneguhkan ideologi warga Muhammadiyah dalam berbangsa dan beroganisasi di Tengah dinamika politik nasional yang cair dan mudah berubah. Apalagi warga Muhammadiyah senantiasa dihadapkan pada gelaran 5 tahunan yang berupa pemilu dan pilkada. Warga sering bertanya calon mana yang paling tepat untuk warga Muhammadiyah, dan yang lebih khusus lagi partai mana yang “mewakili” Muhammadiyah. Muhammadiyah sering terjebak antangan yang dihadapi mitra meliputi tekanan politik lokal, potensi keterlibatan dalam politik praktis, dilema afiliasi kader dengan partai politik, serta risiko polarisasi internal akibat perbedaan pilihan politik. Kondisi ini menuntut penguatan pemahaman ideologis dan kapasitas praktis pengurus cabang agar tetap konsisten dengan Khittah perjuangan organisasi. Solusi yang ditawarkan berupa penguatan literasi ideologis, refleksi etis, serta pelatihan aplikatif melalui diskusi partisipatoris dan simulasi kasus. Kegiatan dirancang dalam tiga tahap utama: peningkatan pemahaman konseptual tentang politik nilai dan high politics, penguatan komitmen kolektif dalam menjaga netralitas institusional, serta peningkatan kemampuan praktis dalam merumuskan sikap organisasi terhadap dinamika politik lokal. Luaran yang ditargetkan meliputi meningkatnya pemahaman pengurus, tersusunnya pedoman internal terkait relasi politik, serta terintegrasinya prinsip Darul ‘Ahdi wa Syahadah dalam program kerja PCM. Dengan demikian, PCM Tempel diharapkan mampu menjalankan peran kebangsaan secara berkeadaban dan berkemajuan.Kegiatan yang diikuti oleh lebihkurang 50 orang pimpinan Cabang Muhammadiyah tempel ini berlangsung dengan penuh semangat, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan oleh peserta.

Loading

Pendampingan Guru SD Muhammadiyah 1 Ngaglik, Dr. Sutipyo Ajak Guru Menjadi Hebat dengan Mental yang Sehat

Ngaglik, Pdmsleman.Or.Id Upaya meningkatkan kualitas guru terus dilakukan di lingkungan sekolah Muhammadiyah. Salah satunya melalui kegiatan pendampingan guru yang digelar di SD Muhammadiyah 1 Ngaglik, Sleman, Rabu (4/3/2026). Dalam kegiatan tersebut, Dr. Sutipyo Ru’iya, S.Ag., M.Si., dari Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan (UAD) hadir untuk berbagi pemikiran dan pengalaman melalui materi berjudul “Menjadi Guru Hebat dan Bermental Sehat.” Kegiatan ini diikuti para guru sebagai bagian dari penguatan kapasitas pendidik. Bukan hanya soal cara mengajar di kelas, tetapi juga bagaimana guru mampu menjaga kesehatan mental dan terus mengembangkan dirinya. Dalam suasana yang santai namun tetap penuh makna, Dr. Sutipyo mengajak para guru melihat kembali makna menjadi seorang pendidik. Menurutnya, guru hebat tidak hanya dinilai dari kemampuan akademik atau metode mengajar yang canggih. “Guru hebat itu biasanya dicintai murid-muridnya, karena membuat mereka merasa nyaman dan bahagia saat belajar. Ia juga dihormati karena ilmu dan akhlaknya, dan yang paling penting, dikenang sepanjang hidup karena pernah memberi pencerahan dalam hidup muridnya,” jelasnya. Ia menambahkan, seorang guru sejatinya meninggalkan jejak dalam kehidupan murid. Jejak itulah yang sering kali diingat hingga mereka dewasa. Meski demikian, menjadi guru hebat tentu tidak selalu mudah. Dalam pemaparannya, Dr. Sutipyo juga mengajak peserta melihat berbagai tantangan yang sering dihadapi para guru. Dari sisi pribadi, misalnya, masih ada tantangan seperti kurangnya komitmen jangka panjang, keterbatasan kompetensi, hingga kurang disiplin dalam mengembangkan diri. Belum lagi persoalan pola pikir yang kadang masih “fixed mindset” atau merasa sudah cukup dengan kemampuan yang dimiliki. Di sisi lain, kelelahan kerja atau burnout juga kerap dialami para pendidik. Selain faktor pribadi, ada pula tantangan dari lingkungan keluarga. Tekanan ekonomi, ekspektasi keluarga yang tinggi, hingga persoalan membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga sering kali memengaruhi kondisi guru. Di tingkat yang lebih luas, masyarakat juga memberikan tantangan tersendiri. Beban administrasi yang cukup berat, keterbatasan fasilitas pendidikan, hingga kurangnya penghargaan terhadap profesi guru sering kali menjadi kenyataan yang harus dihadapi. Karena itu, menurut Dr. Sutipyo, hal pertama yang perlu dimiliki seorang guru adalah kesadaran diri atau self consciousness. Guru perlu memahami siapa dirinya, apa perannya, dan bagaimana tanggung jawab yang diemban sebagai pendidik. “Kadang musuh terbesar kita justru diri kita sendiri. Maka penting bagi guru untuk terus belajar, bersyukur, dan meningkatkan kapasitas dirinya,” ungkapnya. Selain kesadaran diri, pengembangan diri juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Ia mengajak para guru untuk memegang empat prinsip utama dalam proses berkembang, yaitu komitmen, kompeten, konsisten, dan konsekuen. Dengan terus bertumbuh, guru tidak hanya memperbaiki kualitas dirinya, tetapi juga memberi dampak positif bagi sekolah dan lingkungan sekitarnya. Di akhir pemaparannya, Dr. Sutipyo menekankan pentingnya kontribusi nyata dari seorang guru. Guru diharapkan mampu memaksimalkan potensi diri, bekerja sama dalam tim, berpikir logis namun tetap penuh empati, serta memberikan kontribusi terbaik bagi lembaga pendidikan tempatnya mengabdi. Ia kemudian menutup materinya dengan sebuah perumpamaan sederhana. Menurutnya, dalam kehidupan seorang guru, ilmu pengetahuan ibarat setir yang mengarahkan perjalanan. Rasa syukur menjadi gas yang mendorong langkah ke depan, sementara kesabaran berfungsi seperti rem yang menjaga agar tetap terkendali. Melalui kegiatan pendampingan ini, para guru diharapkan semakin termotivasi untuk terus berkembang, menjaga kesehatan mental, dan menjalankan profesinya dengan penuh dedikasi dalam mendidik generasi masa depan. Rep editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Saatnya AMM Berperan Dalam Pembangunan Desa

 Tempel, Pdmsleman.Or.Id Sirkulasi kepemimpinan pemerintahan di tingkat desa di wilayah Sleman dan sekitarnya beberapa waktu yang lalu, banyak memunculkan wajah- wajah kaum muda. Banyak Pamong dan Kepala Dukuh yang usianya masih tergolong muda dan belia. Sayangnya dari sekian banyak tokoh muda yang muncul dalam tampuk kepemimpinan desa dan komunitas tersebut, jarang yang menyertakan kader Muhammadiyah. Alasannya utamanya adalah minimnya ketertarikan kader Muhammadiyah untuk berkiprah dalam birokrasi pemerintah di Tingkat desa. Untuk itu Aangkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Tempel menggelar Focus Group Discussiaon (FGD) bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyarta yang sedang mengembangkan program Pengabdian Masyarakat bertajuk “ Penguatan Organisasi Muhammadiyah Di Tingkat Cabang”. Tampil sebagai leader dalam FGD tersebut adalah Zain Maulana, S. IP. M.A., Ph. D., dosen Prodi Hubungan Internasional UMY.  Kader kader Muhammadiyah yang tergabung dalam AMM Tempel sebenarnya sangat potensial tampil sebagai pemimpin desa atau Lembaga dan komunitas setempat. AMM Tempel yang pengurusnya lebih dari 60 orang ini, mempunyai kapasitas yang bagus, karena mereka umumnya terdidik di berbagai universitas, mempunyai pengalaman dalam pengelolaan organisasi, percaya diri dan dididik untuk mempunyai integritas yang baik sebagai warga persyarikatan maupun sebagai warga negara.  “Angkatan Muda Muhammadiyah adalah masa depan persyarikatan,  umat dan bangsa, maka harus muncul pemimpin-pemimpin muda dari rahim muhammadiyah” ungkap Zain di sela sela acara yang diselenggarakan di Kompleks Pondok Pesantre Darul Ulum Tempel itu. Di bagian lain, Ilham Sukron, ketua AMM Tempel, menyambut baik adanya FGD ini, yang mampu menambah motivasi  dan wawasan sebagai calon pemimpin masa depan. Peran serta kader Muhhamadiyah dalam kepemimpinan bangsa akan memperkuat pula keorganisasian Muhammadiyah di level cabang dan ranting. Rep : Roy Tempel Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Aisyiyah Tempel Perlu Optimalkan Peluang Bisnis Exit Tol

Tempel, Pdmsleman.Or.Id Pembangunan Jalan Tol Jogja-Bawen, termasuk Exit Tol Banyurejo di Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel, Sleman, Yogyakarta, merupakan proyek strategis nasional yang meningkatkan konektivitas transportasi antarprovinsi menuju Magelang dan Semarang. Proyek infrastruktur ini merupakan bagian penting dari upaya pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi baru, meningkatkan efisiensi sistem waktu dan logistik, serta daya saing daerah. “Dalam rangkaian jalan tol yang dibangun, dibangun pula pintu jalan keluar atau exit tol. Jalan keluar atau exit tol merupakan kesempatan baik bagi masyarakat sekitar karena mengandung potensi untuk menumbuhkan perekonomian local”. Demikian sebagian dari paparan dosen Ilmu Hubungan Internasional UMY, Dr. Wahyuni Kartikasari, S.T., S.I.P., M.Si, dalam kegiatan diskusi di hadapan para Pimpinan Cabang Aisyiyah Tempel Sleman beberapa waktu lalu. Penjelasan Wahyuni tersebut merupakan rangkaian dari program pengabdian masyarakat Universitas Yogyakarta yang bertemakan penguatan organisasi Muhammadiyah di lingkungan Cabang Tempel. Aisyiyah merupakan bagian dari Muhammadiyah. Dosen HI UMY ini mengamati bahwa dengan dibangunnya jalan tol dan exit tol, maka diperlukan kawasan-kawasan UMKM yang terletak di luar jalan tol. “ Keberadaan exit tol ini merupakan peluang usaha dan bisnis bagi PCA Tempel”. Sebagai Lembaga yang mempunyai bidang garap di wilayah Tempel, kini PCA Tempel melalui Majelis Ekonominya, mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan kebijakan pemerintah untuk membangun Jalan Tol Bawen – Yogyakarta. Karakter pengguna jalan tol yang memerlukan rest area karena menempuh perjalanan jauh ataupun pengguna jalan tol yang bertujuan wisata yang menyukai wilayah-wilayah yang mempunyai keunikan dan kekhasan daerah merupakan celah potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang bisnis ataupun menumbuhkan dan meningkatkan berbagai bentuk perekonomian lokal. Di area Tempel terdapat exit tol yang diperkirakan akan banyak masyarakat pengguna jalan yang ingin beristirahat dan mencari kebutuhan seperti makanan, minuman, atau barang lain yang dibutuhkan. Artinya, ini berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi usaha kecil dan menengah (UMKM) lokal, seperti peningkatan akses pasar dan distribusi barang. Panitian Pelaksana kegiatan Abdimas UMY, Sugeng Riyanto, menambahkan bahwa “kegiatan Abdimas di merupakan bagian dari Skema khusus untuk penguatan Cabang dan Ranting Muhammadiyah”.  Menurutnya, terdapat 10 dosen UMY yang melakukan pengabdian di Muhammadiyah Cabang Tempel, sesuai dengan bidang mereka masing masing. Dalam acara ini diserahkan pula hibah untuk mitra yaitu PCA Tempel berupa modal untuk pembelian bibit indukan ternak domba untuk dapat dikembangbiakkan, sehingga pada akhirnya menjadi salah satu sumber usaha dan pendapatan bagi pendanaan kegiatan yang dilakukan PCA Tempel.  rep Roy Tempel Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Peran Perempuan Era Indonesia Emas

Tempel, Pdmsleman.Or.Id Menuju Indonesia Emas, pemenuhan hak-hak demokrasi seluruh warga negara merupakan fondasi penting bagi pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Namun demikian, hingga saat ini partisipasi dan kepemimpinan perempuan dalam ruang publik, khususnya di tingkat lokal dan desa, masih relatif rendah dibandingkan laki-laki. “ Kondisi ini berdampak pada belum optimalnya pengakomodasian kebutuhan, aspirasi, dan kepentingan perempuan dan anak dalam proses pengambilan kebijakan publik. Rendahnya literasi mengenai hak-hak perempuan, keterbatasan kapasitas kepemimpinan, serta minimnya pendampingan advokasi menjadi permasalahan utama yang dihadapi perempuan dalam mengakses dan memanfaatkan ruang-ruang demokrasi”. Demikian Sebagian dari isi orasi Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional UMY, Prof. Dr. Nur Azizah M.Si, ketika mempresentasikan idenya di hadapan para pimpinan Cabang Aisyiyah Tempel Sleman pada Ahad 1 maret 2026. Dalam rangka meningkatkan spirit peran kaum Perempuan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar kegiatan masyarakat dengan berbagai  tema. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Prof. Dr. Nur Azizah M. SI. Tokoh aktifis Perempuan ini menyoroti masih rendahnya tingkat partisipasi Perempuan dalam masyarakat termasuk dalam tata Kelola birokrasi di Sleman.  Ia mencontohkan betapa peran kaum Perempuan dalam tata Kelola masyarakat telah dicontohkan sejak jaman Nab, misalnya adalah Siti Khadijah dan Aisyah yang punya peran penting dalam dakwah Nabi Muhammad. Ada juga tokoh perempuan yang ikut jihad perang, yakni Nusayba binti Ka’ab yang ikut bertempur dalam perang Uhud. Dalam rekan jejak perjuangan bangsa, ada tokoh Mahalayati yang mampu mengalahkan Cornelis de Houtman di Aceh. Orasi yang bersemangat ini menarik peserta pengabdian masyarakat yang semuanya adalah kaum Perempuan di lingkungan Muhammadiyah Cabang Tempel. Banun Rohyatiningsih, mewakili PCA Tempel, menyampaikan rasa gembira dan terimakasih nya atas penyelenggaraan program Abdimas ini. Menurutnya “ hal ini akan memberikan semangat kepada segenap pimpinan Cabang Aisyiyah Tempel untuk lebih aktif lagi dan mendorong warganya terliat aktif dalam birokrasi kepemerintahan”. Dalam acara ini diserahkan pula hibah untuk mitra (PCA) berupa modal untuk pembelian bibit indukan ternak domba untuk dapat dikembang biakkan, sehingga pada akhirnya menjadi salah satu sumber pendapatan pendanaan kegiatan kegiatan PCA Tempel.   Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading