Pengajian Ramadhan PDM Sleman Tekankan Penguatan Akidah untuk Kemandirian Ekonomi Umat

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman melalui Hendro Sucipto Ketua MPKSDI selaku menggelar pengajian Ramadhan bertema “Aqidah Islam untuk Penguatan Ekonomi Umat” pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman ini dihadiri Sekda Sleman Drs. Susmiarto MM bersama ratusan warga Muhammadiyah dari berbagai unsur, mulai dari pengurus Daerah, Cabang dan ranting, pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), kepala sekolah, hingga organisasi otonom. Suasana pengajian terasa hangat dan khidmat sejak awal acara. Para peserta tampak memanfaatkan momentum Ramadhan untuk memperkuat keimanan sekaligus memperdalam pemahaman tentang pentingnya kemandirian ekonomi umat yang berlandaskan akidah Islam. Ketua PDM Sleman, H. Harjaka, M.A., membuka kegiatan tersebut. Dalam tausiah singkatnya, ia mengingatkan bahwa Ramadhan bukan hanya momentum memperbanyak ibadah ritual, tetapi juga kesempatan membersihkan hati dan memperteguh komitmen dalam menjalani kehidupan yang lebih bermakna. “Ramadhan mengajarkan kita untuk menata hati, memperkokoh akidah, serta menjaga istiqomah dalam setiap langkah kehidupan,” ujar Harjaka. Menurutnya, kekuatan spiritual menjadi fondasi penting bagi umat Islam untuk membangun kehidupan sosial dan ekonomi yang sehat. Pengajian tersebut juga dihadiri Sekda Sleman Drs. Susmiarto MM, Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sleman Hj. Hanik Rosyada beserta jajaran. Kehadiran unsur Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah menambah semangat kebersamaan dalam kegiatan yang menjadi bagian dari agenda Ramadhan PDM Sleman. Narasumber utama dalam pengajian ini adalah Dr. H. Riduwan, S.E., M.Ag., Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam paparannya, Riduwan menekankan bahwa penguatan akidah harus berjalan seiring dengan penguatan ekonomi umat. Ia mengajak warga Muhammadiyah di Sleman untuk memperkuat koordinasi dalam mengembangkan berbagai potensi ekonomi yang ada di lingkungan persyarikatan. Menurutnya, Muhammadiyah memiliki jaringan besar yang dapat menjadi kekuatan kolektif apabila dikelola dengan baik. “Kita perlu membangun etos kerja yang unggul, mengembangkan usaha yang profesional, tetapi tetap berpegang pada nilai-nilai Islam. Bisnis bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga sarana ibadah dan pemberdayaan umat,” jelas Riduwan. Sementara itu, narasumber lainnya, Nur Aisyah Haifani, S.T. dari Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) DIY, menekankan pentingnya menumbuhkan semangat kewirausahaan di tengah masyarakat. Ia menilai, kemandirian ekonomi umat hanya dapat terwujud apabila semangat usaha terus ditularkan dan dikembangkan. “Semangat ekonomi harus hidup di tengah masyarakat. Jika umat memiliki kemandirian ekonomi, maka kekuatan sosial dan dakwah juga akan semakin kokoh,” ungkapnya. Dalam kesempatan tersebut, panitia juga menyosialisasikan beberapa program, di antaranya program WisataMu serta layanan perjalanan umroh melalui SCM. Program tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari upaya memperluas layanan bagi warga Muhammadiyah sekaligus mendukung penguatan ekonomi berbasis jamaah. Pengajian Ramadhan ini kemudian ditutup dengan buka puasa bersama dan ramah tamah. Suasana kebersamaan tampak terasa hangat ketika para peserta saling berbincang dan bertukar gagasan. Momentum tersebut tidak hanya menjadi ruang menimba ilmu, tetapi juga mempererat ukhuwah di antara warga Muhammadiyah Sleman dalam menyongsong masa depan umat yang lebih mandiri dan berdaya. Rep Totok Yudo Priambodo Sekretariat PDM Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Optimalkan Wakaf Produktif: LazisMu Berbah Panen Timun Jawa dan Salurkan Santunan ke Panti Asuhan

Berbah ​ Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (LazisMu) Kantor Layanan Berbah menunjukkan langkah nyata dalam kemandirian ekonomi umat. Bertempat di Gedung Dakwah Hj. Amronah Fadil, Jl. Sampaan-Berbah, Tegalturi, Tegaltirto, Berbah Sleman, Lazismu Berbah menggelar aksi ganda, yakni penyaluran santunan bagi anak yatim dan panen perdana mentimun jawa di lahan wakaf produktif, Kamis pagi (5/3/26). ​Dalam agenda tersebut, Lazismu Berbah menyerahkan dana sebesar Rp12.000.000 kepada Panti Asuhan (PA) Ukhuwatul Aitam Berbah. Penyerahan secara simbolis dilakukan oleh Kepala Kantor Lazismu Berbah, Saifu Rijal, kepada Ketua PA Ukhuwatul Aitam, Anas Mahduri. ​”Alhamdulillah, hari ini kami melakukan pentasyarufan ZIS (Zakat, Infaq, Shadaqah) untuk santri PA Ukhuwatul Aitam. Harapan kami, bantuan ini dapat membuat para santri berbahagia menyambut hari yang fitri nanti,” ujar Saifu Rijal. ​Anas Mahduri menyampaikan apresiasi mendalam atas bantuan tersebut. Ia menjelaskan bahwa selain santri yang menetap di panti, dana tersebut juga akan menyasar anak-anak yatim di lingkungan Berbah yang tinggal bersama orang tua mereka. ​”Kami rutin memberikan bantuan sembako, biaya sekolah (SPP), hingga pakaian baru untuk Lebaran. Alhamdulillah, dukungan dari Lazismu hari ini sangat membantu dan akan kami belikan baju buat lebaran nanti dan untuk operasional kami, apalagi pekan ini jadwal santunan cukup padat,” jelas Anas. ​Salah satu daya tarik utama acara ini adalah panen perdana Timun Jawa di lahan seluas 1.000 m² yang berada di belakang Kantor PCM Berbah. Lahan ini merupakan wakaf dari Hj. Amronah Fadil yang baru mulai difungsikan pada November 2025 lalu. ​Kusdiana, petani yang mengelola lahan tersebut, mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 2.000 lubang tanam yang digarap sejak Januari 2026.“Ini adalah panen perdana setelah 43 hari masa tanam. Saat ini kebutuhan pasar untuk Timun Jawa mencapai 2 ton per hari, sehingga potensi ekonominya sangat besar,” ungkap Kusdiana. ​Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Berbah, Akhmad Muhajir Hanifi, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari strategi penguatan pilar ekonomi dakwah. “Selama ini dakwah mengandalkan ZIS, namun ke depan kita harus memperkuat diri melalui wakaf produktif. Komoditas timun ini akan terus kami kembangkan ke tanah wakaf lainnya agar hasilnya bisa menopang kegiatan dakwah secara berkelanjutan,” tegasnya. ​Selain sektor pertanian, Lazismu Berbah juga aktif dalam layanan sosial dan pemberdayaan tenaga kerja. Saifu Rijal menambahkan bahwa saat ini pihaknya mengoperasikan 2 Unit Mobil Ambulans dan 1 Unit Mobil Layanan Umat. Kemudian​ ada unit Usaha Ayam Potong dimana jualnya berlokasi di depan kantor, buka setiap pukul 05.30 hingga 10.00 WIB. Unit usaha ini mampu menjual rata-rata 100 potong ayam per hari dan mempekerjakan warga sekitar dengan gaji standar UMR. ​Dengan sinergi antara pengelolaan zakat yang amanah dan pemanfaatan aset wakaf yang produktif, Lazismu Berbah optimis dapat terus menebar manfaat lebih luas bagi masyarakat Sleman. Kusnadi Berbah

Loading

Pendampingan Guru SD Muhammadiyah 1 Ngaglik, Dr. Sutipyo Ajak Guru Menjadi Hebat dengan Mental yang Sehat

Ngaglik, Pdmsleman.Or.Id Upaya meningkatkan kualitas guru terus dilakukan di lingkungan sekolah Muhammadiyah. Salah satunya melalui kegiatan pendampingan guru yang digelar di SD Muhammadiyah 1 Ngaglik, Sleman, Rabu (4/3/2026). Dalam kegiatan tersebut, Dr. Sutipyo Ru’iya, S.Ag., M.Si., dari Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan (UAD) hadir untuk berbagi pemikiran dan pengalaman melalui materi berjudul “Menjadi Guru Hebat dan Bermental Sehat.” Kegiatan ini diikuti para guru sebagai bagian dari penguatan kapasitas pendidik. Bukan hanya soal cara mengajar di kelas, tetapi juga bagaimana guru mampu menjaga kesehatan mental dan terus mengembangkan dirinya. Dalam suasana yang santai namun tetap penuh makna, Dr. Sutipyo mengajak para guru melihat kembali makna menjadi seorang pendidik. Menurutnya, guru hebat tidak hanya dinilai dari kemampuan akademik atau metode mengajar yang canggih. “Guru hebat itu biasanya dicintai murid-muridnya, karena membuat mereka merasa nyaman dan bahagia saat belajar. Ia juga dihormati karena ilmu dan akhlaknya, dan yang paling penting, dikenang sepanjang hidup karena pernah memberi pencerahan dalam hidup muridnya,” jelasnya. Ia menambahkan, seorang guru sejatinya meninggalkan jejak dalam kehidupan murid. Jejak itulah yang sering kali diingat hingga mereka dewasa. Meski demikian, menjadi guru hebat tentu tidak selalu mudah. Dalam pemaparannya, Dr. Sutipyo juga mengajak peserta melihat berbagai tantangan yang sering dihadapi para guru. Dari sisi pribadi, misalnya, masih ada tantangan seperti kurangnya komitmen jangka panjang, keterbatasan kompetensi, hingga kurang disiplin dalam mengembangkan diri. Belum lagi persoalan pola pikir yang kadang masih “fixed mindset” atau merasa sudah cukup dengan kemampuan yang dimiliki. Di sisi lain, kelelahan kerja atau burnout juga kerap dialami para pendidik. Selain faktor pribadi, ada pula tantangan dari lingkungan keluarga. Tekanan ekonomi, ekspektasi keluarga yang tinggi, hingga persoalan membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga sering kali memengaruhi kondisi guru. Di tingkat yang lebih luas, masyarakat juga memberikan tantangan tersendiri. Beban administrasi yang cukup berat, keterbatasan fasilitas pendidikan, hingga kurangnya penghargaan terhadap profesi guru sering kali menjadi kenyataan yang harus dihadapi. Karena itu, menurut Dr. Sutipyo, hal pertama yang perlu dimiliki seorang guru adalah kesadaran diri atau self consciousness. Guru perlu memahami siapa dirinya, apa perannya, dan bagaimana tanggung jawab yang diemban sebagai pendidik. “Kadang musuh terbesar kita justru diri kita sendiri. Maka penting bagi guru untuk terus belajar, bersyukur, dan meningkatkan kapasitas dirinya,” ungkapnya. Selain kesadaran diri, pengembangan diri juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Ia mengajak para guru untuk memegang empat prinsip utama dalam proses berkembang, yaitu komitmen, kompeten, konsisten, dan konsekuen. Dengan terus bertumbuh, guru tidak hanya memperbaiki kualitas dirinya, tetapi juga memberi dampak positif bagi sekolah dan lingkungan sekitarnya. Di akhir pemaparannya, Dr. Sutipyo menekankan pentingnya kontribusi nyata dari seorang guru. Guru diharapkan mampu memaksimalkan potensi diri, bekerja sama dalam tim, berpikir logis namun tetap penuh empati, serta memberikan kontribusi terbaik bagi lembaga pendidikan tempatnya mengabdi. Ia kemudian menutup materinya dengan sebuah perumpamaan sederhana. Menurutnya, dalam kehidupan seorang guru, ilmu pengetahuan ibarat setir yang mengarahkan perjalanan. Rasa syukur menjadi gas yang mendorong langkah ke depan, sementara kesabaran berfungsi seperti rem yang menjaga agar tetap terkendali. Melalui kegiatan pendampingan ini, para guru diharapkan semakin termotivasi untuk terus berkembang, menjaga kesehatan mental, dan menjalankan profesinya dengan penuh dedikasi dalam mendidik generasi masa depan. Rep editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Saatnya AMM Berperan Dalam Pembangunan Desa

 Tempel, Pdmsleman.Or.Id Sirkulasi kepemimpinan pemerintahan di tingkat desa di wilayah Sleman dan sekitarnya beberapa waktu yang lalu, banyak memunculkan wajah- wajah kaum muda. Banyak Pamong dan Kepala Dukuh yang usianya masih tergolong muda dan belia. Sayangnya dari sekian banyak tokoh muda yang muncul dalam tampuk kepemimpinan desa dan komunitas tersebut, jarang yang menyertakan kader Muhammadiyah. Alasannya utamanya adalah minimnya ketertarikan kader Muhammadiyah untuk berkiprah dalam birokrasi pemerintah di Tingkat desa. Untuk itu Aangkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Tempel menggelar Focus Group Discussiaon (FGD) bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyarta yang sedang mengembangkan program Pengabdian Masyarakat bertajuk “ Penguatan Organisasi Muhammadiyah Di Tingkat Cabang”. Tampil sebagai leader dalam FGD tersebut adalah Zain Maulana, S. IP. M.A., Ph. D., dosen Prodi Hubungan Internasional UMY.  Kader kader Muhammadiyah yang tergabung dalam AMM Tempel sebenarnya sangat potensial tampil sebagai pemimpin desa atau Lembaga dan komunitas setempat. AMM Tempel yang pengurusnya lebih dari 60 orang ini, mempunyai kapasitas yang bagus, karena mereka umumnya terdidik di berbagai universitas, mempunyai pengalaman dalam pengelolaan organisasi, percaya diri dan dididik untuk mempunyai integritas yang baik sebagai warga persyarikatan maupun sebagai warga negara.  “Angkatan Muda Muhammadiyah adalah masa depan persyarikatan,  umat dan bangsa, maka harus muncul pemimpin-pemimpin muda dari rahim muhammadiyah” ungkap Zain di sela sela acara yang diselenggarakan di Kompleks Pondok Pesantre Darul Ulum Tempel itu. Di bagian lain, Ilham Sukron, ketua AMM Tempel, menyambut baik adanya FGD ini, yang mampu menambah motivasi  dan wawasan sebagai calon pemimpin masa depan. Peran serta kader Muhhamadiyah dalam kepemimpinan bangsa akan memperkuat pula keorganisasian Muhammadiyah di level cabang dan ranting. Rep : Roy Tempel Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Peran Perempuan Era Indonesia Emas

Tempel, Pdmsleman.Or.Id Menuju Indonesia Emas, pemenuhan hak-hak demokrasi seluruh warga negara merupakan fondasi penting bagi pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Namun demikian, hingga saat ini partisipasi dan kepemimpinan perempuan dalam ruang publik, khususnya di tingkat lokal dan desa, masih relatif rendah dibandingkan laki-laki. “ Kondisi ini berdampak pada belum optimalnya pengakomodasian kebutuhan, aspirasi, dan kepentingan perempuan dan anak dalam proses pengambilan kebijakan publik. Rendahnya literasi mengenai hak-hak perempuan, keterbatasan kapasitas kepemimpinan, serta minimnya pendampingan advokasi menjadi permasalahan utama yang dihadapi perempuan dalam mengakses dan memanfaatkan ruang-ruang demokrasi”. Demikian Sebagian dari isi orasi Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional UMY, Prof. Dr. Nur Azizah M.Si, ketika mempresentasikan idenya di hadapan para pimpinan Cabang Aisyiyah Tempel Sleman pada Ahad 1 maret 2026. Dalam rangka meningkatkan spirit peran kaum Perempuan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar kegiatan masyarakat dengan berbagai  tema. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Prof. Dr. Nur Azizah M. SI. Tokoh aktifis Perempuan ini menyoroti masih rendahnya tingkat partisipasi Perempuan dalam masyarakat termasuk dalam tata Kelola birokrasi di Sleman.  Ia mencontohkan betapa peran kaum Perempuan dalam tata Kelola masyarakat telah dicontohkan sejak jaman Nab, misalnya adalah Siti Khadijah dan Aisyah yang punya peran penting dalam dakwah Nabi Muhammad. Ada juga tokoh perempuan yang ikut jihad perang, yakni Nusayba binti Ka’ab yang ikut bertempur dalam perang Uhud. Dalam rekan jejak perjuangan bangsa, ada tokoh Mahalayati yang mampu mengalahkan Cornelis de Houtman di Aceh. Orasi yang bersemangat ini menarik peserta pengabdian masyarakat yang semuanya adalah kaum Perempuan di lingkungan Muhammadiyah Cabang Tempel. Banun Rohyatiningsih, mewakili PCA Tempel, menyampaikan rasa gembira dan terimakasih nya atas penyelenggaraan program Abdimas ini. Menurutnya “ hal ini akan memberikan semangat kepada segenap pimpinan Cabang Aisyiyah Tempel untuk lebih aktif lagi dan mendorong warganya terliat aktif dalam birokrasi kepemerintahan”. Dalam acara ini diserahkan pula hibah untuk mitra (PCA) berupa modal untuk pembelian bibit indukan ternak domba untuk dapat dikembang biakkan, sehingga pada akhirnya menjadi salah satu sumber pendapatan pendanaan kegiatan kegiatan PCA Tempel.   Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Wasiat Luhur Dalam Pendidikan Keluarga Aisyiyah

 Tempel. Pdmsleman.Or.Id Gen Z, sebuah generasi yang penuh dengan warna- warni karakter yanng kadang sangat mengkhawatirkan. Mereka tumbuh Bersama berkembangnya gadget dan tehnologi informasi yang membersamainya. Mereka tumbuh berkembang di dalamnya, belajar darinya, bahkan hidup bersamanya (gadget itu). Akibatnya adalah settingan norma dalam pikirannya adalah setingan gadget,bukan hasil pendidikan moral dan perilaku yang terpola dan terencana. Pola pikiran dan perilaku mereka cenderung mengikuti apa yang ada di gadget. ‘Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan, karena remaja remaja kita terdidik oleh nilai yang entah berasal dari mana, dan banyak sekali betentangan dengan norma keseharian hidup kita. Mereka cenderung menjadi insan insan yang cuek, tak peduli lingkungan sekitar, tak banyak tahu tentang adab, tata krama dan lain sebagainya’.  Padahal, dalam masyarakat kita, banyak wasiat- wasiat yang luhur. Oleh karenanya, sebagai orang tua, apalagi ibu, tidak boleh kecolongan, mengandalkan gadget sebagai sarana edukasi anak. Ii amat berbahaya. Demikianlah disampaikan Dra. Mutia Hariati Hussin, M. Si, dosen senior di Prodi Hubungan Internasional UMY di depan 60 an pimpinan Cabang Aisyiyah se Cabang Tempel pada Ahad 1 Maret 2026, sebagai bagian dari Pengabdian Masyarakat Skema khusus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ber-wasiat bukan hanya mewariskan harta tetapi juga nilai moral, etika, atau filosofi hidup yang dijaga oleh keluarga atau komunitas dan diwariskan dari generasi ke generasi. Wasiat juga bisa berupa pepatah dan peribahasa seperti misalnya, “alon-alon waton kelakon’, “Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit” atau “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Ini adalah bentuk wasiat budaya yang mengajarkan kesabaran, kerja sama, dan solidaritas. Dalam Kehidupan Sehari-Hari, orang tua mewariskan nasihat tentang kejujuran, kerja keras, dan kesederhanaan sebagai wasiat moral. Desa atau masyarakat adat dapat melestarikan pepatah tradisional sebagai wasiat kolektif, yang mengatur hubungan sosial dan menjaga harmoni, dan di level nasional wasiat para pendiri bangsa berupa semboyan atau falsafah hidup, misalnya Bhinneka Tunggal Ika, menjadi pedoman bersama yang harus terus dijaga. Secara Filosofis, wasiat dalam bentuk pepatah/peribahasa adalah penjaga identitas budaya yang menjadi pedoman hidup. Ia berfungsi sebagai jembatan antar generasi, memastikan agar generasi berikutnya tetap berpegang pada nilai luhur sehingga nilai kebijaksanaan tidak hilang ditelan zaman. Berbagi Wasiat menegaskan bahwa berbagi bukan hanya soal harta, tetapi juga soal warisan intelektual dan moral .

Loading

Milad UMY 45, Beri Penguatan Organisasi Muhammadiyah Di Kapanewon Tempel Sleman

 Tempel, Pdmsleman.Or.Id Pada Ahad 1 Maret 2026 bertepatan dengan hari kelahiran (Milad) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang ke 45, sejumlah dosen UMY melakukan pengabdian Masyarakat (Abdimas) di lingkup organisasi Muhammadiyah se Cabang Tempel. Kegiatan Abdimas ini merupakan komitmen UMY dalam memberdayakan masyarakat melalui implementasi dari hasil kajian dan riset pada dosen. Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY, apt. RR. Sabtanti Harimurti M. Sc. Ph. D.  menegaskan bahwa “ UMY sangat komit terhadap pemberdayaan masyarakat tidak hanya di lingkungan Muhammadiyah, tetapi juga kepada masyarakat luas secara umum”. Komitmen tersebut ditunjuukan dengan program pengabdian masyarakat yang terstruktur setiap tahunnya, baik itu melalui program KKN mahasiswa atau program pengabdian masyarakat oleh para dosennya.  Menurut Dr. drg. Laelia Dwi Anggaeni, sp. KGA., program pengabdian masyarakat tahun ini terbagi dalam dua skema besar, yakni skema regular dan skema khusus. “UMY meluncurkan 14 program Abdimas skema khusus, ada skema Desa Binaan Wirokerten, Wirobrajan, ada yang ke Koperasi Merah putih, ada edukasi dan mitigasi bencana alam, ada yang mendampingi teman teman yang menyandang disabilitas, penguatan pada PCM Tempel, Cangkringan, Tamantirto dan lain lain, bahkan ada yang melakukan abdimas di Lapas Wirogunan” tegas dr Lia, sapaan akrabnya. Kick Off Pengabdian masyarakat skema khusus ini juga dihadiri oleh Ketua Badan Pembinan Harian UMY, Dr. H. Agung Danarto M. Ag yang juga menyambut baik Upaya ini, sekaligus menegaskan pentingnya keterlibatan semua dosen UMY dalam perstyarikatan Muhammadiyah dari Pusat, Wilayah, Daerah, Cabang, Ranting, termasuk dalam organisasi otonomnya. Program Abdimas di Kapanewon tempel ini diikuti oleh 10 dosen, yang terbagi dalam 4 kelompok masyarakat yakni pimpinan Cabang Muhammadiyah, Pimpinan Cabang Aisyiyah, Angkatan Muda Muhammadiyah dan satu Pimpinan Ranting Muhammadiyah. Ketua pelaksana, Dr. Sugeng Riyanto, menambahkan bahwa kegiatan yang berlangsung di PP darul Ulum Tempel tersebut berlangsung sangat meriah dan diikuti oleh 150 peserta, perwakilan dari PCM, PCA dan AMM. Sementara kegiatan dengan PRM/PRA Merdikorejo baru akan dilaksanakan setelah lebaran.  Pada kesempatan ini Dr. H. Agung Danarto M.Ag., juga menyerahkan dana bantuan kepada PCM Tempel sebesar Rp. 44.250.000, untuk modal peternakan domba yang hasilnya nanti dapat membatu kegiatan kegiatan Muhammadiyah di lingkup Kapanewon Tempel. Ketua PCM Tempel, Samsul Alam, S. Ag., M. Si. Menyambut baik acara ini. Menurutnya warga Muhammadiyah Tempel telah mendapatkan edukasi yang sangat bermakna dan menggugah semangat warga Muhammadiyah untuk lebih giat lagi mengembangkan Muhammadiyah.  Rep Roy Riyanto Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Wasiat Luhur Dalam Pendidikan Keluarga Aisyiyah

 Tempel, Pdmsleman.Or.Id Gen Z, sebuah generasi yang penuh dengan warna- warni karakter yang kadang sangat mengkhawatirkan. Mereka tumbuh Bersama berkembangnya gadget dan tehnologi inforn=masi yang membersaianya. Mereka tumbuh berkembang di dalamnya, belajar darinya, bahkan hidup bersamanya (gadget itu). Akibatnya adalah settingan norma dalam pikirannya adalah setingan gad get,bukan hasil pendidikan moral dan perilaku yang terpola dan terencana. Pola pikiran dan perilaku mereka cenderung mengikuti apa yang ada di gadget. Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan, karena remaja remaja kita terdidik oleh nilai yang entah berasal dari mana dan banyak sekali bertentangan dengan norma keseharian hidup kita. Mereka cenderung menjadi insan insan yang cuek, tak peduli lingkungan sekitar, tak banyak tahu tentang adab, tata krama dan lain sebagainya. Padahal, dalam masyarakat kita banyak wasiat wasiat yang luhur. Oleh karenanya, sebagai orang tua apalagi ibu, tidak boleh kecolongan mengandalkan gadget sebagai sarana edukasi anak dan hal ini amat berbahaya. “ Anak anak Gen Z dewasa ini tampaknya kering akan siraman warisan nilai luhur bangsa. Berbagi wasiat bukanlah sekedar harta, tetapi juga persoalan warisan inteletual dan moral”. Sebagaimana disampaikan Dra. Mutia Hariati Hussin, M. Si, dosen senior di Prodi Hubungan Internasional UMY di depan 60-an pimpinan Cabang Aisyiyah se Cabang Tempel, sebagai bagian dari Pengabdian Masyarakat Skema khusus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada ahad 1 Maret 2026. “Ayo ibu-ibu, sebagai madrasah pertama dan garda depan pendidikan bagi generasi muda penerus bangsa, kita gunakan lagi pepatah dan peribahasa sebagai wasiat yang berguna untuk menjadi pedoman hidup. Ingat, bumi tempat kita hidup adalah ‘pinjaman’ dari anak cucu kita. Mari hidupkan pepatah, hijaukan desa, kembalikan bumi kepada anak cucu kita dalam kondisi yang nyaman untuk hidup dimasa depan”, tegas Bu Mutia. Ber-wasiat bukan hanya mewariskan harta tetapi juga nilai moral, etika, atau filosofi hidup yang dijaga oleh keluarga atau komunitas dan diwariskan dari generasi ke generasi. Wasiat juga bisa berupa pepatah dan peribahasa seperti misalnya, “alon-alon waton kelakon’, “Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit” atau “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Ini adalah bentuk wasiat budaya yang mengajarkan kesabaran, kerja sama, dan solidaritas. Dalam Kehidupan Sehari-Hari, orang tua mewariskan nasihat tentang kejujuran, kerja keras, dan kesederhanaan sebagai wasiat moral. Desa atau masyarakat adat dapat melestarikan pepatah tradisional sebagai wasiat kolektif, yang mengatur hubungan sosial dan menjaga harmoni, dan di level nasional wasiat para pendiri bangsa berupa semboyan atau falsafah hidup, misalnya Bhinneka Tunggal Ika, menjadi pedoman bersama yang harus terus dijaga. Secara Filosofis, wasiat dalam bentuk pepatah/peribahasa adalah penjaga identitas budaya yang menjadi pedoman hidup. Ia berfungsi sebagai jembatan antar generasi, memastikan agar generasi berikutnya tetap berpegang pada nilai luhur sehingga nilai kebijaksanaan tidak hilang ditelan zaman. Berbagi Wasiat menegaskan bahwa berbagi bukan hanya soal harta, tetapi juga soal warisan intelektual dan moral . Rep Roy PCM Tempel Editor  arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Kunjungan Majlis Tabligh Muhammadiyah Moyudan Teguhkan Umat Dalam Menjalankan Ajaran Islam

    Moyudan,Pdmsleman.Or.Id Di masa penjajahan Belanda, masyarakat awam termasuk umat Islam tidak diperbolehkan untuk belajar di sekolah, sementara ilmu pengetahuan agama maupun umum sangat dibutuhkan agar warga masyarakat berpengetahuan, dan dapat menjalankan ajaran agama dengan baik dan benar.    Sebelum Islam datang, di Nusantara sudah ada agama Hindu, Budha, animism dan dinamisme.  Hal tersebut berpengaruh pada umat Islam dalam pengamalan agama.  “Melihat kondisi seperti itu, Ahmad Dahlan tergerak agar umat bisa belajar dengan baik.  Beliau kemudian mendirikan Muhammadiyah, sehingga umat bisa belajar, dapat menjalankan ajaran sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad,” terang Ustad Nursalim dari Bagian Tabligh Pimpinan Muhammadiyah Moyudan di depan Jamaah Musholla Al-Ukhuwwah Depok Sombangan XIII Sumbersari Moyudan Sleman, MInggu (1/3/2026), usai Sholat Tarawih. Ustad Nursalim menegaskan Muhammadiyah bukanlah agama, tetapi sebuah organisasi atau persyarikatan umat yang dikelola dengan manajemen professional.  Persyariktan memiliki beberapa bagian seperti Tabligh, Tarjih, Bidang Pendidikan, dan berbagai amal usaha  “Bagian Tarjih misalnya membahas hukum-hukum dan tata cara ibadah, sehingga ummat tidak perlu lagi khawatir dalam menuaikan ajaran agama seperti bagaimana menunaikan sholat, zakat, puasa, haji dan lainnya,” papar Ustad Nursalim.   Muhammadiyah, lanjut Nursalim, memiliki kekayaan lebih dari 450 trilyun yang berasal dari ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) termasuk ribuan sekolah, universitas, poliklinik, rumah sakit.  Selain itu persyarikatan juga memiliki panti asuhan, lembaga sosial hingga institusi keuangan dan investasi, imbuhnya.  “Seluruh kekayaan itu milik persyarikatan Muhammadiyah, dikelola professional.  Jangan ragu menjalankan ibadah dan ber-Muhammadiyah, namun tetap menghormati dan menghargai organisasi keagamaan lain,” pesannya.  Jarak antara saat Nabi Muhammad mengenalkan Islam dengan sekarang terpaut cukup lama, sehingga Muhammadiyah berfungsi menuntun umat beribadah sesuai dengan ajaran nabi, terhindar dari pengaruh budaya, agama, dan kepercayaan yang ada sebelumnya. Muhammadiyah didirikan yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di tahun 1912 itu untuk memurnikan ajaran Islam, memajukan pendidikan dan sosial, papar Ustad Salim.  Ia juga mengajak seluruh jama’ah untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dengan memperbanyak amal, terlebih di bulan suci Ramadhan.  Hubungan sosial kemasyarakatan pun perlu dijaga untuk mewujudkan ketentraman dan kesejahteraan bersama. Berdasar surat Pimpinan Cabang Muhammadiyah Moyudan, pada Ramadhan 1447 H ini Majlis Tabligh menerjunkan 67 pendakwah, terbagi 13 kelompok, masing-masing terdiri dari 4 hingga 7 orang.  Para da’I atau pendakwah sebelumnya diberi pembekalan, kemudian mengunjungi dan memberi ceramah di 39 masjid / musholla yang tersebar se-Kalurahan Sumbersari Moyudan. Rep  Giek Sugiyanto Moyudan Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading