RAKORNAS Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi Publik (LBH AP) PP Muhammadiyah

Yogyakarta,Pdmsleman.Or.Id Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi Publik (LBH AP) PP Muhammadiyah menggelar Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) di SM Tower Yogyakarta pada Jum’at Pada tanggal 8 Agustus 2025. Acara ini mengusung tema “Bersinergi Membangun Hukum yang Berkemajuan dan Berkeadilan; Kontribusi Muhammadiyah dalam Menegakkan hak-hak rakyat.” Tema ini mencerminkan komitmen Muhammadiyah dalam memperjuangkan keadilan dan hak-hak masyarakat di tengah tantangan hukum yang kompleks. Ketua LBH AP, Taufik Nugroho, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran LBH AP sebagai pejuang di balik layar. Ia menyatakan, “LBH AP berperan dalam mengamankan semua gugatan-gugatan dalam menyelesaikan permasalahan, bekerja sama dengan para pimpinan Muhammadiyah.” Taufik juga menyoroti bahwa Muhammadiyah telah eksis selama satu abad karena mampu memberikan manfaat dan solusi bagi masyarakat. Namun, ia mengakui bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam hal sumber daya manusia (SDM) di daerah. “Baru 50% Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) yang memiliki LBH AP,” ungkapnya. Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Ibnu Basuki Widodo,  memberikan   apresiasi mendalam terhadap kiprah Muhammadiyah dalam dunia advokasi. “Saya merasa sangat terhormat berdiri di hadapan para pejuang keadilan”. Dirinya juga mengingatkan pentingnya menghindari konflik kepentingan (conflict of interest) di kalangan advokat, terutama dalam kasus-kasus korupsi yang merupakan kejahatan luar biasa. “Korupsi merusak keadilan dan ekonomi negara,” tegasnya. Sementara itu, Ptof. Haedar Nashir, MSi  Ketua PP Muhammadiyah, dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar RAKORNAS ini dapat menjadi momentum untuk membangun sistem hukum yang lebih adil. “Tema sinergi ini adalah tema yang berat, tetapi kita hidup dalam sistem hukum dan bermasyarakat yang realitasnya kita hadapi bersama,” ujarnya. Haedar menekankan bahwa masalah hukum, terutama terkait tindak pidana korupsi, tidaklah sederhana. Ia mengingatkan bahwa perjalanan Indonesia selama 80 tahun tidak terlepas dari dinamika kehidupan bernegara, hukum, politik, sosial, dan agama. “Untuk membangun hukum yang berkemajuan, kita perlu membangun sistem hukum yang lebih adil dan dirasakan oleh masyarakat Indonesia,” tambahnya. Dalam pandangannya, hukum tidak dapat dipisahkan dari dimensi keagamaan. Ia mengutip Al-Qur’an yang menekankan pentingnya menegakkan keadilan. “”Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” ujarnya, merujuk pada QS Al-Maidah ayat 8.Ayat ini menekankan pentingnya berlaku adil, bahkan kepada mereka yang dibenci, dan mengingatkan bahwa keadilan adalah bagian dari ketakwaan kepada Allah. Haedar juga menjelaskan bahwa Muhammadiyah menggunakan tiga pendekatan dalam menegakkan hukum, dalam memahami ajaran agama, digunakan tiga pendekatan yaitu bayani (menggunakan teks), burhani (menggunakan akal), dan irfani (menggunakan hati). Tiga pendekatan ini turut menjadi manhaj (cara) yang diperlukan untuk memahami dan memaknai ajaran agama (pendekatan tasawuf). “Nabi Muhammad SAW membangun peradaban aqidah, ibadah, dan muamalah secara kuat. Iman kepada Allah tergantung pada cinta kepada sesama,” jelasnya. Dalam konteks ini, Haedar menekankan bahwa menegakkan hukum keadilan memiliki banyak dimensi. “Ekosistem yang baik dalam hukum, politik, dan ekonomi perlu dibangun,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk hidup dengan kesadaran hukum yang lebih baik. Rakornas kali  ini dengan semangat sinergi, Muhammadiyah berkomitmen untuk terus berjuang demi keadilan sosial dan hukum yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Nampak hadir Ketua PP Muhammadiyah DR. H. Busyro Muqoddas MH, Dr. Trisno Raharjo, S.H., M.Hum. Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah dan sejumlah undangan dari ligkungan Muhammadiyah dan Aisyiyah. 100  advokat dengan back grounf Muhammadiyah sekuruh Indonesia berkumpul untuk membahas strategi dan isu krusial dalam bidang hukum di Indonesia .

Loading

Gelar Penguatan GEDSI, ‘Aisyiyah Dukung Media Perkuat Jurnalisme Inklusif

Yogyakarta, pdmsleman.Or.Id-  “Wartawan merupakan pilar keempat dalam membangun negara yang demokratis. Ketika banyak pihak tidak pernah membahas isu disabilitas yang terpinggirkan dan perempuan yang tertindas, jurnalis justru hadir untuk menyuarakan penderitaan tersebut.” Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah dalam kegiatan Mainstreaming GEDSI di Media “Mengembangkan Jurnalisme Inklusif” pada Rabu (6/8/25). Dalam kegiatan yang diikuti oleh 95 jurnalis ini, Tri menyampaikan bahwa ‘Aisyiyah, sebagai organisasi yang memiliki kepedulian yang sama terhadap kelompok rentan dan isu-isu ketidakadilan, menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu disuarakan. “‘Aisyiyah ingin menggandeng teman-teman jurnalis agar bersama-sama membangun tatanan yang lebih setara dan adil bagi semua pihak,” ucapnya Lebih lanjut Tri berharap agar melalui kegiatan ini juga dapat terjalin kerja sama antara ‘Aisyiyah dengan rekan-rekan media dalam mengangkat berbagai isu ketidakadilan gender, disabilitas, dan inklusi sosial. “Suara jurnalis lebih nyaring dan lantang untuk mewakili mereka yang tidak mampu bersuara, menyuarakan kebenaran adalah tugas mulia yang telah diemban oleh teman-teman jurnalis.” Dalam kesempatan tersebut Tri menunjukkan bahwa diskriminasi bisa dialami oleh siapa saja dan dimana saja. “Diskriminasi sangat berkonteks dan tidak tunggal, bisa individu, kelompok, hingga negara terkait kebijakan-kebijakan yang diterapkan, hal ini tergantung pada dimana kita tinggal.”  Oleh karena itu menurut Tri, penting untuk bisa memastikan bagaimana memberikan kesempatan yang sama bagi semua dengan berbagai identitasnya. “Karena sebenarnya kelompok marginal inilah yang masih belum mendapatkan akses, manfaat, dan kontrol terhadap sumberdaya yang ada sehingga harapannya pembangunan kita adil, setara, inklusif, dan berkelanjutan,” tegasnya. Niki Alma Febriana Fauzi dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menyampaikan bahwa realita masih menunjukkan bahwa sebagian umat Islam masih memandang perempuan dan kelompok disabilitas sebagai kelompok marginal sehingga masih terjadi diskriminasi, pelecehan, ketidakadilan sosial yang dialami. Islam sendiri disampaikan oleh Niki adalah agama yang membawa rahmat bagi semua. “Rahmah ini termasuk kepada kelompok difabel, perempuan, kelompok rentan lainnya,” ucap Niki. Hal ini termuat pada berbagai ayat Qur’an maupun hadits-hadits Nabi.  Oleh karena itu menurut Niki, Muhammadiyah ‘Aisyiyah mencoba melakukan ijtihad isu-isu GEDSI agar masyarakat bisa melihat bahwa islam mempunyai pemikiran progressif. Untuk mendukung hal tersebut Niki mengharapkan peran jurnalis untuk dapat memberikan kontribusi dalam isu-isu GEDSI dengan menggaungkan atau menulis reportasi yang menggunakan perspektif GEDSI. Apalagi jika diberikan sentuhan keagamaan karena sebagian masyarakat Indonesia disebut Niki masih mendengarkan isu dengan perspektif keagamaan.  Sonya Hellen, Jurnalis Senior dari KOMPAS menyebut bahwa ada tiga pilar yang menjadi kekuatan jurnalis di lapangan untuk menguatkan jurnalisme inklusif yakni keberagaman perspektif, representasi yang adil, serta menghindari streotip dan bias.  Kemudian Sonya menyampaikan cara praktis dalam implementasi GEDSI dalam jurnalisme yakni pertama, bahasa yang respectful. “Terminologi bahasa yang kita pakai harus sesuai, tepat, dan tidak merendahkan karena kita sering terjebak di situ,” ucapnya. Kedua, Representasi berimbang yang memastikan semua kelompok mendapat porsi yang adil dalam narasi dan kutipan narasumber. Ketiga, dari objek ke subjek, Posisikan kelompok marjinal sebagai aktor bukan sekedar penerima bantuan, mereka juga punya hak untuk bicara. “Karena itu supaya kita tidak terjebak, maka jurnalis perlu persiapan sebelum meliput,” ucapnya. Jurnalis perlu melakukan riset latar belakang dengan mempelajari konteks sosial budaya dan sejarah kelompok yang akan diliput. Siapkan pertanyaan yang respectful, hindari yang sensitif dan tidak menghakimi, pastikan keamanan dan privasi narasumber, terutama kelompok rentan. Sonya juga mengajak rekan jurnalis untuk dapat menyajikan berita yang membuka kebenaran di balik berita. “Jika kita merasa aneh atas suatu kejadian, cari tahu behind the storynya, rumusnya cuma itu, cari tahu peristiwa dan latar belakang orang itu, anda akan tahu kebenaran.”  Menurut Sonya, jika hanya meliput peristiwanya, kita tidak akan tahu kebenarannya termasuk dalam jurnalisme inklusif ini. “Kalian akan temukan kebenarannya kalau kalian mundur satu dua langkah ke belakang, oleh karena itu jika menjadi jurnalis jangan liputan di laptop doang, kerja jurnalis adalah kerja otak dan kaki, kerja otak untuk selalu skeptif, tapi kemudian di balik rasa penasaran itu, disikap skeptif itu harus kita cari kebenarannya.” Menurut Sonya, mencari kebenaran tidak berhenti di balik laptop, perlu berjalan dan mencari orang-orang yang akan memberikan kita kebenaran. Rep (Suri) 

Loading

Majelis Hukum Dan HAM  PCA Moyudan Bersama Majelis Dasmen Gelar Work Shop Bullying, Kekerasan dan Trafficking

 Moyudan. Pdmsleman.Or.id  Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Cabang Aisiyah (PCA) Moyudan bersama Majelis Dasmen PCA menggelar Sosialisasi Bullying, kekerasan, dan trafficing, bagi Guru Paud, TK dan perwakilan orang tua siswa Paud. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (2/8/2025) bertempat di Aula Kalurahan Sumberagung, Moyudan, Sleman.             Pada kesempatan tersebut Ketua Penyelenggara Eni Purwaningsih S.H., S.Pd  yang juga ketua Majelis Hukum dan HAM PCA Moyudan mengutarkan bahwa diselenggarakannya kegiatan tersebut merupakan sebuahn upaya untuk membekali para guru, pengasuh PAUD dan Wali Murid PAUD yang bernaung di bawah bendera Muhammadiyah dalam mengantisipasi terjadinya bullying, kekerasan maupun trafficing terhadap murid. Untuk itu kami mengambil tema’ Bersama Guru Lindungi Anak Dari Bullying, Kekerasan dan Trafficing’.             Karena Guru maupun pengasuh merupakan orang tua ke dua dari peserta didik, maka perlu tahu dan mengerti cara mengatasinya, sehingga jalannya pendidikan sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tua dan seluruh stake holder. “Pada Sosialisasi ini kami menghadirkan Ibu Titi Pratiwi Widyaningsih, S.Psi. sebagai narasumber.” Ungkapnya.              Lebih lanjut Eni menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bekerjasama dengan Puspa Kasengsem ( Keluarga Sejahtera yang Sembada ) Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman. “Kami harapkan peserta untuk bisa mengikuti dengan baik, kalau ada permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan sehari-hari saat menjalankan tugas, nanti bisa untuk berkonsultasi.” Pungkasnya.             Titi Pratiwi Widyaningsih sebagi narasumber memaparkan bahwa bullying adalah tindakan agresif yang biasanya dilakukan seseorang untuk mengintimidasi atau mendominasi orang lain yang dinilai lebih lemah. Perilaku penyimpangan sosial ini dapat terjadi di mana saja, mulai dari lingkungan sekolah hingga lingkungan kerja. Seseorang yang dianggap lemah sering kali menjadi target bully. Dalam kegiatan sehari-hari, orang yang di-bully akan merasa kesulitan dalam mempertahankan dan melindungi dirinya sendiri.             Lebih lanjut Titi Pratiwi mejelaskan bahwa keinginan untuk melakukan bullying tidak muncul dengan sendirinya. Faktor penyebabnya dapat berasal dari lingkungan keluarga, sosial, maupun dari diri sendiri. Adapun beberapa penyebab seseorang melakukan bullying diantaranya anak melihat orang tua sering bertengkar, Pola asuh orang tua yang kurang sehat, merasa brendah diri. “ Faktor lainnya adalah  sulit bersosialisasi, cemburu dengan orang lain, ingin dierima dalam pergaulan, pengaruh dari game atau tontonsn yang tidak sesuai dengan usianya.” Tambahnya.             Terdapat beberapa jenis bullying yang perlu diperhatikan dalam kehidupan sosial anak maupun orang dewasa, seperti bullying secara fisik, lisan, sosial, hingga di internet yang  biasa disebut dengan cyberbullying. Selanjutnya Titi Pratiwi juga menjelaskan cara mencegah bullying yaitu orang tua perlu mengambil peran aktif untuk mengatasi tanda-tanda perlakuan bullying yang ada pada anak. Adapun caranya untuk mencegah terjadinya bullying bagi anak  yang harus  dilakukan yaitu  orang tua harus lebih dekat dengan anak., orang tua harus mengajari anak cara mengendalikan stress. “ Beirkutnya adalah orang tua harus mengawasi penggunaan gawai pada anak dan mendisiplinkan anak tanpa kekerasan.” Pungkasnya. (Sugiyanto PCM Moyudan )

Loading

Ketua PDM Sleman Sampaikan Tausiah Pada Pengajian FK PRM Sumbersari

Moyudan, Pdmsleman.Or.Id             Forum Koordinasi Pimpinan Ranting Muhammadiyah (FK PRM) Sumbersari menggelar pengajian rutin setiap Ahad Pahing. Pada pengajian Ahad Pahing (3/8/2025) bertempat di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman,  menghadirkan H. Harjaka, S.Pd,.S.Ag,. M.A. Ketua PDM Sleman.             Dalam pengajian yang mengambil tema ‘Kebangsaan dan Hikmah Kemerdekaan’ tersebut Harjaka mengawali tausiahnya mengutip penggalan nasehat Raden Ngabehi RanggaWarsita, seorang Pujangga Keraton Kasunanan Surakarta yang hidup pada masa Sunan Pakubuwono V hingga Paku Buwono VII.             Ki Rangga Warsita lahir pada 14 Maret 1802 dan meninggal pada tanggal   24 Desember 1873. Ia merupakan Pujangga besar Tanah Air, beliau mengungkapkan kalimat yang  sangat menyentuh. Kalimat tersebut samai saat ini masih sangat fmilier kita dengar. “Besuk bakal tumeka samijine jaman, Jaman mau wis padha keblinger. Kang bener  dianggep salah, kang salah dianggep bener,. Kepara kang salah dibaleni nganti mati-matian. Jaman mau diarani jaman edan, lamun ora nedan ora bakal keduman. Ananging mangertia sejatine, sak beja bejane wong ngedan isih luwih beja wong kang eling lan waspada. Wong kang jujurbakale makmur. Becik ketitik ala ketara iku bakal dadi kasunyatan.             Apa yang disebutkan Ki Rangga Warsita tersebut menggambarkan situasi kekinina yang menimpa Bangsa Indonesia, banyak orang melakukan kejahatan yang merugikan negara tidak mendapatkan hukuman semestinya. Tetapi sebaliknya orang yang tidak bersalah yang ingin memperbaiki negeri ini malah mendapatkan hukuman.             Selanjutnya Harjoko mengajak kepada Anggota Muhammadiyah untuk tetap dan selalu waspada dalam menghadapi segala situasi tersebut.” Kita jangan ikut larut dan mengikuti arus, tetapi harus bisa menyaring sebagi wujud dari Amar Ma’ruf Nahi Munkar.” Tandasnya             Lebih lanjut Harjaka mengutip Hadist yang diriwayatkan oleh As Dailami dari Ibnu Abbas RA. Dalam hadist itu disebutkan ada 3 macam orang sebagi perusak agama yaitu orang pintar yang jahat, penguasa yang dzalim, dan orang yang berijtihad (berfatwa) tetapi bodoh. : Dari Sabda Nabi tersebut dikettahui bahwa kehancuran agama dimulai dari perilaku buruk ketiga golongan tersebut.:Tandas Harjaka.             Ia Juga menambahkan bahwa orang-orang pandai yang berlaku jahat jika berkolaborasi dengan penguasa yang dzolim akan menghasilkan kepemimpinan yang tidak amanh. Selain itu juga akan menghasilkan produk-produk dan praktik hukum yang merugikan dan menyengsarakan rakyat. “Apalagi jika ditambah ijtihad yang tidak berdasarkan keilmuan yang memadai, makas akan menghasilkan praktik keagamaan yang menyimpang dan mendorong masyarakat jauh dari ajaran agama yang benar.” Imbuhnya.             Ketiga golongan tersebut diuraikan dengan cukup menarik yang dibingkai dengan metode dakwah dengan memadukan anatar materi keagamaan dan penyampaian budaya Jawa melaui tembang Macapat. “ Tembang Macapat seperti mijil, kinanthi, sinom hungga Pocong memiliki makna yang dalam sebagi nasehat bagi manusia, kita harus tetap memperhatikan pakem tembang  sepert guru gatra,guru wilangan, dan guru lagu.” Pungkas Harjaka.             Pada pengajian teesebut dihadiri rausan jamaah selain itu nampak hadir Ketua PCM Moyudan H.Abu Hanifah S.Ag.M.A,Penasehat PCM Moyudan Dr,H. Zainuddin Akhid, dan beberapa pengurus PCm, PCA Moyudan. (Sugiyanto / Anton RW PCM Moyudan )

Loading

1400 Peserta Ikuti Jalan Sehat Milad Ke-62 SD Muhammadiyah Dadapan: Menyemai Akhlak Menuai Prestasi

 Turi, pdmsleman.Or.Id Milad yang ke-62, SD Muhammadiyah Dadapan Wonokerto Turi Sleman diperingati dengan menggelar serangkaian acara   penuh makna. Dengan tema “Menyemai Akhlak Menuai Prestasi, MuDa Berkemajuan”, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat dan prestasi di kalangan siswa. SD Muhammadiyah Dadapan, yang didirikan pada 1 Agustus 1963, telah menjadi salah satu lembaga pendidikan yang berkomitmen untuk mencetak generasi yang berakhlak mulia dan berprestasi. Menurut Kepala Sekolah Rahayu Sulastriningsih S.Pd,  Dalam rangkaian acara Milad kali ini, panitia telah menyiapkan berbagai kegiatan menarik, termasuk lomba mewarnai untuk tingkat TK A dan TK B yang dilaksanakan pada 26 Juli 2025 dimana lomba ini diikuti antusias tinggi oleh murid-murid dari Kapanewon Turi dan sekitarnya. Sebagaiana dituturkan kepada Arief Hartanto pada Ahad siang. Puncak acara Milad berlangsung Ahad 3 Agustus 2025  di Lapangan Dadapan, dihadiri oleh   Sekda Kabupaten Sleman Susmiarto MM, H. Arif Mahpud  Sekretaris PDM Sleman, serta perwakilan dari Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Turi Lanang Tanu Prihantoro, S.Si,, Lurah Wonokerto Riyanto Sulistyo S. E, Ketua PCM Turi Drs Bambang Rahmanto, PCA Turi beserta jajaran menambah semarak acara.  Acara dimulai dengan   dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Sang Surya. Sekda Sleman, Susmiarto MM dalam sambutannya  “Kami berharap acara ini dapat menjadi inspirasi bagi siswa untuk terus berprestasi dan berakhlak  kharimah”   Komite sekolah  Bambang Krismanto, S.Sos, mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama menjaga semangat kebersamaan dan prestasi. “Milad ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebagai refleksi untuk terus berbenah dan berinovasi dalam pendidikan,” ungkapnya. Ketua PCM Turi Drs Bambang Rahmanto berharap “ Dengan milad ke 62, insya Allah SD Muhammadiyah Dadapan semakin maju dan berkembang”. Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan pelepasan balon sebagai simbolis pembukaan jalan sehat. Kegiatan jalan sehat ini diikuti oleh sekitar 1.400 peserta, menunjukkan antusiasme yang luar biasa dari siswa, orang tua, dan masyarakat umum,  tidak hanya untuk kesehatan, tetapi juga untuk mempererat tali silaturahmi antar warga sekolah dan masyarakat. Selain jalan sehat, acara ini juga diisi dengan pembagian hadiah lomba dan doorprize. Hadiah utama berupa seekor kambing dan mesin cuci menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta. Kegiatan Milad SD Muhammadiyah Dadapan ke-62 ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan dan akhlak siswa. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk orang tua dan masyarakat, diharapkan SD Muhammadiyah Dadapan dapat terus berkontribusi dalam mencetak generasi yang berprestasi dan berakhlak mulia. Dengan semangat “Menyemai Akhlak Menuai Prestasi”, SD Muhammadiyah Dadapan siap melangkah lebih maju, menjadikan pendidikan sebagai fondasi untuk masa depan yang lebih baik. Acara ini berlangsung dengan aman dengan back up pengamanan acara dan sepanjang rute jalan sehat dari 12 personil KOKAM Turi. Rep Rahayu S. SPd. SD Muda Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Hari Syiar Ber-Muhammadiyah Turi , Kembali BerMuhammadiyah Dengan Kesungguhan Bersama Ustadz Salahuddin Zuhri

Turi,  Pdmsleman.Or.Id Keluarga besar Muhammadiyah dan Aisyiyah Cabang Turi Sleman kembali menggelar kajian rutin Ahad Kliwon dengan format Hari Syiar Ber-Muhammadiyah Turi pada Ahad 27 Juli 2025 mengambil tempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Turi di Ngablak Bangunkerto. Dalam kesempatan Ketua PCM Turi Bambang Rahmanto juga menyampaikan bahwa PCM Turi akan melakukan peresmian pembangunan Pondok Pesantren yang terletak di Ngentak Bangunkerto Turi pada kajian ke depan. Kajian kali ini yang bertugas adalah dari keluarga SMK Muhammadiyah 1 Turi sehingga acara bisa berjalan dengan lancer. Ustaz Salahuddin Zuhri, SPD, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah DIY, acara ini dihadiri oleh sekitar 500 jamaah berbagai kalangan, termasuk pimpinan cabang Muhammadiyah, Aisyiyah, dan masyarakat umum yang ingin menambah wawasan keagamaan. Dalam ceramahnya, Ustaz Salahuddin menekankan pentingnya kesungguhan dalam beribadah dan berorganisasi. Ia mengutip hadis yang menyatakan bahwa dua orang yang berkumpul karena Allah akan mendapatkan naungan-Nya di hari kiamat. “Jika kita berkumpul untuk tujuan yang baik, insya Allah kita akan mendapatkan keberkahan,” tegasnya. Lebih lanjut, Ustaz Salahuddin menjelaskan bahwa tradisi Muhammadiyah mengajarkan pentingnya ketertiban dan kesungguhan. Ia mengutip Surah Al-Asr yang menekankan bahwa setiap peradaban dimulai dari ketertiban para pelakunya. “Kita harus memiliki kesungguhan dalam setiap langkah kita, karena tanpa itu, kita tidak akan mencapai kesuksesan,” ujarnya. Ustaz Salahuddin juga mengingatkan jamaah bahwa ujian dalam hidup adalah bagian dari proses menuju kesuksesan. “Jangan mengira bahwa kita akan masuk surga tanpa diuji. Ujian adalah tanda bahwa Allah menginginkan kita untuk lebih baik,” jelasnya. Ia mengajak jamaah untuk tidak lari dari ujian, melainkan menghadapinya dengan iman dan kesungguhan. Dalam penutup ceramahnya, Ustaz Salahuddin menekankan pentingnya menjaga iman dan ketauhidan dalam kehidupan sehari-hari. “Kita harus memastikan bahwa keluarga kita hidup dalam keimanan. Mari kita jaga agar generasi kita tidak hanya mengenal agama, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya. Acara ditutup dengan doa dan harapan agar semua yang hadir dapat mengamalkan ilmu yang didapat dan terus berjuang di jalan Allah. Ustaz Salahuddin mengajak jamaah untuk mengikuti akun media sosialnya agar dapat terus mendapatkan ilmu dan inspirasi. “Mari kita terus belajar dan beramal, agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkasnya.

Loading

Gebyar Hari Anak Nasional 2025: 1.700 Siswa PAUD Asiyiyah se Kabupaten Sleman Bersama Bupati dan Senator DIY

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Milad Aisyiyah 108 yang dirangkai dengan Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh setiap tanggal 23 Juli diperingati Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Sleman melalui Majelis PAUD Dasar dan Menengah bersama Pimpinan Daerah Ikatan Guru ‘Asiyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan Pawai Defile bertema “Anak Hebat, Indonesia Kuat, Menuju Indonesia Emas 2045” dan dimeriahkan Senam Massal Guru dan Anak Cinta Indonesia. Acara yang berlangsung di Lapangan Pemda Sleman ini dihadiri oleh sekitar 1.700 anak usia dini dari berbagai lembaga PAUD Aisyiyah se-Kabupaten Sleman pada Rabu 23 Kuli 2025. Hari Anak Nasional merupakan momen penting untuk meningkatkan kesadaran seluruh elemen bangsa bahwa anak-anak adalah generasi penerus yang harus dilindungi dan dibina. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air, semangat kebersamaan, serta memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas dan keceriaan mereka. Tema yang diusung, “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”, mencerminkan harapan untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter mulia. Acara dimulai dengan Pawai Defile yang menampilkan berbagai kostum kreatif dari anak-anak PAUD utusan IGABA perwakilan per kapanewon dengan aksinya yang lucu dan menarik berjalan Bersama dihadapan para juri. Selain senam, acara ini juga diisi dengan pentas kreativitas anak yang menampilkan berbagai bakat, mulai dari penyerahan buket bunga kepada para tamu undangan  dan lantuan ayat al Qur’an dari anak didik PAUD kapanewon Sleman. Hanik Rosyada MA selaku Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Sleman dan Majelis Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah PDA Sleman berharap kegiatan ini dapat menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen semua pihak dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak Indonesia, khususnya anak usia dini. Dalam sambutannya Syauqi Soeratno, MM senator anggota DPD RI dari Yogyakarta menekankan pentingnya peran orang tua dan lembaga pendidikan dalam mendukung tumbuh kembang anak. “Anak-anak adalah harapan kita semua. Kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan mendukung,” ujarnya.  “Kami ingin memastikan bahwa anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang sehat, bahagia, cerdas, dan berkarakter mulia,” ungkap Dalam kesempatan yang sama, Bupati Sleman Harda Kiswaya SE, M.Si juga menekankan pentingnya evaluasi peran pendidikan di semua jenjang, mulai dari PAUD hingga SMP. “Dinas pendidikan diharapkan dapat mengembangkan tema-tema tematik yang dapat menyambungkan agenda kegiatan pembinaan anak dari daerah hingga pusat,” tambahnya. Turut hadir  Anggota DPD RI. Syauqi Soeratno MM, ketua PDM Sleman H. Harjaka S.Pd, S,Ag, MA, PDA Aisyiyah, Kepala Dinas Pendidikan Sleman Mustadi, S.Sos, M.M.. DPRD Sleman H. Banudoyo Manggolo S.Kom, Hasil lomba defile adalah diperoleh kontingen IGABA Mlati sebagai juara 1, Berbah juara 2, Ngaglik juara 3 sedangkan Tempel dan Cangkringan sebagai juara harapan 1 dan 2. Dengan diselenggarakannya kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemenuhan hak dan perlindungan anak, serta menumbuhkan iman , semangat nasionalisme dan karakter anak sejak usia dini. Kegiatan ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebagai langkah konkret untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak-anak di Kabupaten Sleman.

Loading

Ketua LHKP PP Muhammadiyah Soroti Peluang Demokrasi dari Pemisahan Pemilu

Gamping, Pdmsleman.Or.Id Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai pemisahan waktu pelaksanaan pemilu nasional dan pemilu daerah mengundang beragam respons dari berbagai kalangan.  Salah satu tanggapan yang mencerminkan kedalaman refleksi terhadap arah demokrasi Indonesia datang dari Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr.phil. Ridho Al-Hamdi, M.A. Dalam forum Diskusi Publik bertema “Quo Vadis Pemisahan Pemilu Nasional dan Pemilu Lokal: Implikasinya untuk Masyarakat Akar Rumput” yang diselenggarakan di Aula Masjid KH. Sudja, RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, Minggu (20/7/2025), Ridho menyampaikan pemikiran kritis sekaligus harapan besar terhadap putusan MK tersebut. “Ya, saya akui putusan ini bukan tanpa kritik. Tapi kita perlu menyambutnya bukan dengan penolakan emosional, melainkan dengan penalaran strategis,” ujarnya. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini menilai, pemisahan pemilu justru membuka ruang baru bagi revitalisasi demokrasi lokal yang selama ini cenderung tertutup oleh dominasi politik nasional. Ridho memotret dengan cermat bagaimana pemilu serentak selama ini telah menyebabkan seluruh perhatian masyarakat dan partai politik terpusat pada Pemilihan Presiden (Pilpres).  Akibatnya, kontestasi legislatif dan pemilihan kepala daerah seolah menjadi agenda pelengkap semata. “Proporsional terbuka pun menjadi seolah-olah tertutup karena semua energi politik dan pemberitaan publik hanya fokus pada calon presiden. Ini menjadikan panggung politik lokal seperti hilang dari radar,” tegasnya. Bagi Ridho, kondisi tersebut berbahaya bagi kehidupan demokrasi jangka panjang. Sebab, politik nasional yang terlalu dominan dapat melumpuhkan dinamika lokal, memperlemah kaderisasi, serta menjadikan partai politik sekadar kendaraan elektoral lima tahunan. Meskipun keputusan MK dianggap mengejutkan dan penuh risiko dalam pelaksanaannya, Ridho justru melihat sisi lain yang bisa dimaksimalkan.  “Ruang politik lokal punya peluang untuk tumbuh lebih sehat dan mandiri karena tidak lagi tergerus oleh gegap gempita pemilu nasional,” paparnya. Ia meyakini, dengan pemisahan waktu pelaksanaan, distribusi kerja politik partai akan menjadi lebih proporsional. Struktur partai di daerah akan terdorong untuk bekerja lebih serius dan terorganisir, tidak hanya aktif menjelang pemilu. Ridho menyampaikan, selama ini banyak struktur partai di daerah yang pasif dan hanya hidup dalam musim politik.  Jika dikelola dengan baik, momentum ini bisa menjadi titik balik untuk membangun sistem partai yang tidak hanya berorientasi pada kekuasaan, tetapi juga pada keberlanjutan gerakan sosial-politik di akar rumput. Sebagai Ketua LHKP PP Muhammadiyah, Ridho menekankan pentingnya partai politik sebagai aktor yang hadir secara konsisten di tengah masyarakat.  Ia menolak model politik musiman yang hanya muncul setiap lima tahun sekali dan cenderung melupakan rakyat setelah pemilu usai. “Partai politik seharusnya menjadi kekuatan transformasi, bukan sekadar mesin elektoral. Ini saatnya kita merumuskan ulang fungsi partai agar lebih substantif,” tandasnya. Dalam pandangannya, putusan MK dapat menjadi alat dorong untuk membentuk kesadaran baru, bahwa demokrasi tidak boleh hanya berhenti pada angka partisipasi pemilu, tetapi harus menyentuh kualitas representasi dan keberlanjutan pengabdian. Menutup pernyataannya, Ridho menyerukan kepada seluruh elemen bangsa, baik akademisi, pengamat, partai politik, hingga masyarakat sipil, untuk tidak terpaku pada debat pro dan kontra putusan MK semata.  Sebaliknya, ia mengajak untuk menjadikan keputusan tersebut sebagai momentum konsolidasi demokrasi Indonesia ke arah yang lebih substantif. “Mari kita rumuskan bersama sistem pemilu yang tidak hanya adil secara prosedural, tapi juga mampu memperkuat kualitas demokrasi dari pusat hingga daerah,” pungkasnya. Diskusi publik ini tidak hanya menyoroti implikasi teknis pemisahan pemilu, tetapi juga membuka ruang kontemplasi tentang masa depan demokrasi di Indonesia.  Pandangan Ridho Al-Hamdi memberi warna yang mendalam, bahwa di balik setiap kebijakan, terdapat peluang untuk memperbaiki kualitas hidup demokrasi di negeri ini, selama ada keberanian untuk membaca tanda zaman dan bekerja bersama demi masyarakat akar rumput. Rep : Athiful/KIM Depok Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading