MALAM SERIBU KISAH

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 13). Sore sudah berganti malam. Adzan Isya sudah lewat beberapa saat. Kami masih fokus di Posko Wisma Ngloji. Tetap dengan kekuatan penuh. Tiba-tiba, di group saksi SQ Minggir ada barita masuk. “Kalau mau nyerahkan hasil salinan C1 kemana ya ?”, tanya seorang saksi. Saya segera menjawab : “Ke Posko Ngloji. Serahkan ke kordesnya masing masing. Setelah menerima salinan C1 hasil, kordes akan menyerahkan uang transport saksi”. Tiba tiba, Mas Fathan memberitahu saya : “Pak Dwi, nyuwun sewu. Mohon sekalian disampaikan ke saksi. Bahwa salinan C1 hasilnya, sebelum diserahkan ke Ngloji harus sudah ditandatangani oleh KPPS serta seluruh saksi DPD di TPS yang bersangkutan”. “Oke. Mas. Makasih”, jawab saya. “Satu lagi Pak. Bahwa salinan C1 yang ditanda tangani itu jumlahnya 3 lembar”, sambung Mas Fathan. Maka, buru buru, saya segera memberikan pengumuman di Group saksi SQ Minggir, terkait dengan hal tersebut. Waktu terus merangkak. Tim IT dan kordes Sendangarum nampak sudah mulai melakukan pengecekkan ulang. Tanda bahwa di tim mereka, pekerjaannya sudah hampir rampung. Tapi, masih ada beberapa tim di ranting lain yang masih sibuk. Salah satunya justru di ranting Sendangmulyo. Yang adalah tim bagian saya dan Raihan. “Ada kendala apa Mas ?”, tanya saya ke Mas Fathan. “Ini masih ada 3 orang saksi yang sama sekali belum kirim data dan foto C Plano Pak”, jelasnya. “Saksinya sudah dihubungi kah ?”, tanya saya. “Mas Raihan sudah beberapa kali WA dan nelpon saksinya. Tapi tidak terhubung”, jelasnya. Di Tim Sendangmulyo inilah satu satunya tim yang merupakan tim dengan kerjasama antara guru dan murid. Mas Fathan adalah guru TI di SMAN Seyegan. Dan Raihan adalah muridnya. Raihan sudah lulus tahun lalu. “Apakah opsi terakhir sudah ditempuh ?”,:tanya saya. “Wah maaf Pak. Kayaknya saya tidak ada teman yang menjadi KPPS di TPS tersebut”, jelasnya. “Oke… Oke… Kalau gitu, kita akan turun ke TPS tersebut”, kata saya. Maka, saya dan Raihan, terpaksa turun. Meluncur ke TPS yang bermasalah tersebut. Tak butuh waktu lama, kami sampai lokasi. Raihan menemui saksi Syauqi di TPS. Mereka terlibat perbincangan. Saya berada di kejauhan. Nampak, Raihan agak kewalahan. Sayapun mendekat. Ikut dalam pembicaraan. Ternyata, si saksi tidak membawa HP. “Nembe kula chas Pak !”, katanya. Saya langsung jelaskan ke bapak saksi : “Njenengan mangkih, langsung kondur mawon. Mendhet HP ne. Lajeng, nika lembaran C1 Plano nika sing ditempel teng ngajeng nika, mang foto. Terus mang kirim teng nggene HP ne Mas Raihan niki nggih”. “O nggih Pak. Matur nuwun. Mangkih kula pendhete”, sambungnya. “Sak estu lho Pak nggih ! Kula tengga !”, tegas saya. Kamipun meluncur pulang. Balik ke posko Ngloji. Waktu terus merambat. Tak bisa dihadang, walaupun sesaat. Semakin malam. Tiba tiba, di Group saksi SQ Minggir,“Mohon info. Ini ternyata salinan C1 hasilnya belum bisa kami dapatkan. Kata panitia, nanti diberikan ke saksi, menunggu penghitungan suara selesai semua”, kata seorang saksi. Dan, setelah itu, Group Saksi SQ Minggir bertambah riuh. Banyak saksi yang memberikan komentar senada. “Pak Dwi, mohon kebijakannya. Kalau seperti itu, kami bisa nunggu sampai tengah malam ini”, sela seorang saksi. “Sampai Subuh, bisa bisa belum selesai ini Pak !”, kata yang lain lagi. Saya segera tanggap. Saya berikan pengumuman di Group saksi SQ : “Terkait dengan pengumpulan salinan C1, Posko Ngloji akan buka 24 jam. Nanti akan ada petugas yang berjaga”. Tiba tiba, kordes Sendangrejo, Mas Nur Sahid menghampiri saya. “Pak, ini ada beberapa saksi kami, yang sampai dengan saat ini masih nunggu salinan C1. Kasusnya sama dengan yang lain. Mereka belum dikasih salinannya”, katanya. “Maksud saya begini Pak. Berhubung beberapa saksi kami, terutama yang ibu ibu dan yang sepuh sepuh itu, mereka kalau nunggu sampai tengah malam atau bahkan pagi besok, kan kasihan”. “Ini kami hanya menyampaikan usulan yang datang dari mereka. Apakah boleh, misalnya mereka malam ini pulang dulu. Dan salinan C1 nya baru akan diambil besok pagi. Lalu, akan diserahkan ke Ngloji besok pagi juga”. Setelah mendengarkan usulan Mas Nur Sahid itu, saya lalu berdiri. Berjalan menyeberang ke ruang sayap Utara. Tempat para senior kordes dan ketua TPC berada. Saya sampaikan masukan dari mas Nur Sahid itu. Semua senior kordes mendukung. Dan menyepakati. Bahwa : Berbekal hasil kesepakatan dengan senior kordes dan ketua TPC tersebut, sayapun segera menelpon Mas EnKa. Panjang lebar saya ceritakan kepadanya. Mas EnKa juga menyetujui kesepakatan itu. Saya sempat membaca suasana Group Saksi SQ Minggir. Nadanya tetap sama. Mereka menginginkan ada kebijakan. Berbekal tambahan informasi itu, maka saya segera putuskan untuk mengumumkan kesepakatan antara semua tim TPC SQ. “Mohon maaf nggih Bapak Ibu, Mas Mbak saksi SQ. Kami tidak bisa memberikan kebijakan, seperti yang Anda semua harapkan. Sampai saat ini, kami masih berpegang pada kebijakan TPD. Bahwa salinan C1 nya harus ditandantangani dulu. Baru kemudian diserahkan ke Posko”. “Berdasarkan usulan dari beberapa saksi sendiri serta kesepakatan dengan seluruh anggota TPC SQ Minggir, maka kami putuskan : Posko Ngloji akan ditutup pada pukul 24.00. Sehingga penyerahan salinan C1 maksimal akan dilayani sampai jam 24.00”. “Selanjutnya, Ngloji akan dibuka kembali besok pagi”.(*) Minggir, 25 Feb. 2024Selepas pulang dari sawah. Uwik DS.

Loading

BAKU ATUR

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 12).Sedikit lega. Tapi, belum sempurna. Itu baru permulaan. Pertempuran sebenarnya justru baru akan dimulai. Sebentar lagi. Setelah Sholat Dzuhur, dengan seijin Pak Ketua TPC, saya mencoba mengumpulkan para punggawa TPC SQ Minggir. Mereka adalah tim IT dan kordes masing masing ranting. Susunan Formasi terakhirnya adalah sbb : SQ Sendangagung :Kordes : 1. Drs. H. Sardji2. Attin Nur HalimahTim IT. : 1. Fayrus Chalisa Nadya Ulya2. Azmi Adil SQ Sendangmulyo :Kordes : 1. Drs. H. Nur Hidayat2. FathanTim IT. : 1. Dwi Sumartono2. Raihan Widya Ahmad SQ Sendangrejo :Kordes : 1. Drs. Agus Santoso2. Nur SahidTim IT. : 1. Ari Patriani2. Muh. Ali Akbar Musa SQ Sendangarum :Kordes : 1. Satidjo, B.A.2. Irfan NugrohoTim IT. : 1. Fajarudin SQ Sendangsari :Kordes : 1. Wagiyo, S Pd.2. Nur FaizunTim IT. : 1. Hilma Tsani Amanati Hampir semua personil tim TPC di atas adalah orang baru. Rata rata masih sangat belia. Saya yakin di antara mereka banyak yang masih asing. Dalam kesempatan itu, saya mencoba mengenalkan satu per satu semua person. Pak Ketua TPC pada kesempatan itu memberikan dorongan dan semangat kepada mereka. Saya menambahkan : “Justru kerja berat Anda semua adalah selepas ini. Saya harap, tim IT dan kordes masing masing ranting harus saling kerjasama”. “Dalam prakteknya nanti, fungsi dan peran antara tim IT dan kordes, hampir tidak ada bedanya. Saya berharap personil tim IT dan kordes masing masing ranting nanti harus berbagi peran. Tapi juga harus luwes. Jangan kaku”. “Tujuan akhir tugas Anda nanti adalah memastikan bahwa data yang ada di lembaran C1 hasil di TPS bisa diinput dengan cepat, tepat dan akurat”, tegas saya. “Kalau seandainya sampai batas waktu tertentu, Anda menganggap data dari TPS belum masuk, maka Anda wajib melakukan kontak kepada saksi di TPS itu. Bisa melalui WA atau langsung di telpon”. “Tapi kalau seandainya dengan kedua cara tersebut, masih juga belum teratasi, maka silakan Anda atur sendiri. Anda harus pergi menemui saksi di lokasi TPS”, jelas saya. Maka, ruang tengah Wisma Ngloji setelah itu seperti berubah menjadi ruang istimewa. Seperti sebuah ruang canggih. Yang ditempati oleh anak anak muda cekatan dan visioner. Beberapa saat setelah Dzuhur, praktis mereka masih bisa duduk duduk santai. Tapi menjelang Ashar, barulah mereka mulai mendapat kiriman data dari saksi. Semua anggota tim IT dan kordesnya berpasang pasangan. Sesuai ranting masing masing. Mereka duduk menghadap lap top. Sesekali sebelah tangannya lincah memainkan HP nya. Sebentar kemudian pandangannya beralih memelototi layar lap topnya. Mereka mulai memantau data yang masuk melalui aplikasi Relawan Syauqi. Beruntung bagi tim IT dan kordes, yang saksi saksinya sudah menguasai aplikasi Rekawan Syauqi. Tim tersebut cukup memantaunya saja di lap top. Datanya apakah sudah benar atau belum. Cepat sekali dan sangat efisien. Sebenarnya, ada satu hal yang masih saya takutkan. Yakni : “Bagaimana dengan saksi yang sampai dengan bimtek terakhirpun, masih saja belum paham dengan aplikasi Relawan Syauqi itu ?”. “Atau, bagaimana dengan saksi yang tiba tiba mengalami kendala yang tidak bisa terelakkan. Misalnya : kehabisan kuota, tidak ada sinyal atau kendala yang lain ?”. Rupanya, ketakutan saya itu tidak terbukti. Sepanjang pemantauan saya, ternyata anak anak muda itu tak kekurangan akal. Di antara teman satu timnya, mereka itu sudah saling “baku atur”. Dari aplikasi Relawan Syauqi, mereka sudah bisa memantau. Mana saksi yang sudah bergerak. Dan mana pula saksi yang tetap diam “njekengkeng”. Jika ditemukan ada saksi yang diam tak bergerak, salah seorang dari mereka langsung menghubungi saksi. Via WA atau langsung menelponnya. Jika sangat terpaksa mereka hanya menyuruh saksi tersebut untuk mengirimkan foto C1 hasilnya. Lalu di WA kan ke kordesnya. Begitu simple nya. Lalu, bagaimana dengan ketakutan saya di atas ? Mereka juga tidak kekurangan akal. Mereka ternyata juga sudah punya radar dimana mana. Mereka sudah punya data, siapa teman temannya atau kenalannya yang menjadi KPPS di TPS yang bersangkutan. Kepada temannya tersebut, mereka meminta tolong untuk mengirimkan foto C1 hasilnya. Kepada mereka saya menyampaikan : “Pastikan bahwa data yang diinput adalah benar dan akurat. Untuk itu Anda harus perlu cross cek kembali”. Al hasil, setelah Isya, sebetulnya tim kordes dan Tim IT sudah hampir rampung menyelesaikan hasil inputan datanya. Mungkin, hanya tinggal beberapa saksi saja yang belum selesai. Lalu, bagaimana dengan para senior kordesnya ? Sesuai kesepakatan ketika rakor, maka bapak bapak senior kordes itu juga sudah bersiap diri. Tugas mereka menerima salinan C1 hasil suara DPD yang diserahkan oleh para saksi. Untuk kemudian memberikan uang transport masing masing. Rupanya, bapak bapak itu tidak ingin “menggangu” kerja para juniornya. Mereka duduk tidak satu ruangan dengan para juniornya. Mereka menempati ruang tersendiri. Ruang di sayap Utara Wisma Ngloji. Hmmmm …… Enak juga ternyata kalau dalam bekerja, semuanya bisa saling “baku atur” seperti ini.(*) Minggir, 25 Feb. 2024.Bada Subuh. Uwik DS.

Loading

KONSUMSI SAKSI

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 11).Malam, sebelum ke Wisma Ngloji, saya menyempatkan berkirim pesan kepada Tim TPC SQ, melalui Group SQ Minggir : “Mengingatkan kembali, besok Rabu, 14 Februari 2024, semua personil tim TPC SQ Minggir, ketua PRM, kordes, tim IT dan relawan SQ harap sudah berada di Posko Ngloji pada jam 10.00 WIB. Untuk itu harap bisa mengkondisikan diri”. “Untuk teman teman tim IT dan kordes junior, jangan lupa membawa lap top dan perlengkapan alat tulis seperlunya”, sambung saya. Dan, keesokan harinya : 14 Februari 2024. Pukul 09.30. Saya sudah merapat di Ngloji. Rupanya, paketan konsumsi untuk saksi dan semua petugas yang terlibat dalam TPC SQ, sudah datang. Semuanya didrop di ruang LazisMu. Beberapa person LazisMu, sekoci Aisyiyah dan beberapa relawan sudah nampak sibuk. Mereka menyiapkan dan memasukkan makanan dan minuman itu dalam sebuah wadah. Paketan konsumsinya adalah :2 box snack, untuk pagi dan sore1 box nasi, untuk makan siang2 botol air mineral. Satu per satu, semua anggota Tim TPC hadir. Tak lama berselang, pada pukul 10.15, semua person sudah komplit. Sesuai dengan hasil kesepakatan di rakor, bahwa konsumsi saksi akan didistribusikan oleh relawan. Tetapi, nampaknya person relawan yang datang belum cukup. Hanya ada Mas Gunardi saja, seorang. Selebihnya adalah ibu ibu Sekoci Aisyiyah. Saya terpaksa meminta bantuan driver AmbulanMu yang stand by. Hanya ada satu orang yang sanggup : Mas Akhid Klodran. Tiba-tiba, di group saksi Syauqi Minggir, ada seorang saksi yang bertanya : “Konsumsi untuk saksi kapan dikirim ya ?”. “Ini masih disiapkan. Mohon sabar menunggu. Bentar lagi didrop”, jawab saya. Hari semakin meninggi, relawan terbatas dan armada juga terbatas. Sudah hampir pukul 10.30. Group saksi SQ Minggir kembali riuh. “Hauuus..!. Konsumsi kok belum datang ?”, komentar salah seorang saksi. Beruntung, Pak Sardi tanggap ing sasmita. Rupanya, beliau sudah mempersiapkan diri. Jatah konsumsi untuk saksi Sendangagung, dibawanya sendiri. Dimasukkannya ke dalam armada. Didistribudikan sendiri. Dibantu oleh Bu Erlani dan Bu Watini. Sendangagung teratasi. Tinggal yang lain. Jatah untuk Sendangrejo, Sendangsari dan Sendangarum dijadikan satu armada. Mas Gun dan Mas Akhid yang mengawalnya. Sejurus kemudian, mereka meluncur ke lokasi. Sesuai kesepakatan, konsumsi akan didrop di masing masing ketua ranting. Nanti, ketua ranting yang akan mengirim ke TPS masing masing. Matahari semakin meninggi. Ternyata, istri saya, yang juga saksi Syauqi di TPS 02 Jetis Depok, Sendangsari, ikutan komentar. Dia njapri saya : “Konsumsine kok durung teka ?. Selak luwe. Isuk mau berangkat nyang TPS jam 06.30. Durung sarapan”. “Sik … Sik … Lagi diatur distribusinya”, kata saya. “Kok suwe men ?. Iki saksi DPD PKS wis dikirim jatah. Syauqi kok lambat ?, sambungnya. “Waduh …. Yo wis tunggu ..!”. Tiba tiba, saya kebayang sama Pak Wagiyo. Saya tahu persis, bahwa beliau tidak punya relawan tambahan untuk dropping konsumsi di Sendangsari. Sepersekian detik, otak saya berputar. Lalu, saya putuskan untuk ikut terjun membantu drop makanan. Saya ajak anak saya, Raihan. Berdua kami meluncur ke tempat Pak Wagiyo. Beruntung, makanan baru saja sampai. Lalu, kami “baku atur”. TPS Sendangsari ada 16. Saya bawa separoh, untuk wilayah Sendangsari Selatan. Selebihnya, Pak Wagiyo, untuk wilayah Utara. Alhamdulillah, akhirnya Sendangsari selesai. Demikian juga dengan Sendangrejo dan Sendangarum. Kamipun, meluncur. Kembali ke Posko Ngloji. Di group saksi SQ Minggir, masih ada yang komentar : “Konsumsi untuk Sendangmulyo kok belum sampai nggih ?”. “Yaa Allah. Masih ada satu yang belum”, batin saya. Matahari semakin menyengat. Sudah lewat pukul 11.00. Sekelebatan, saya nampak Pak Nano dan Mas Sunu. Rupanya mereka berdua “baku atur”. Awalnya, oleh karena kekurangan relawan, konsumsi untuk Sendangmulyo akan dibawa oleh Mas Sunu. Semua bahan sudah dimasukkan ke dalam mobilnya. Tapi ternyata, Mas Sunu terbentur “kahanan”. Ia belum nyoblos. Padahal, waktu itu sudah pukul 11.15. Akhirnya, kami sepakat. Konsumsi untuk Sendangmulyo dibagi distribusinya. Yang mendistribusikan 3 orang sekaligus. Biar cepat. Yakni : Pak Nano, saya dan satu lagi, Bu Watini bersama siapa ya : Mbak Ajun ataukah Mbak Endri ? Saya lupa. Kembali, saya mengajak Raihan untuk membawa konsumsi ke beberapa TPS di Sendangmulyo. Akhirnya, paketan konsumsi terakhir bisa kami antarkan ke TPS. Tepat bersamaan dengan kumandangnya Adzan Dzuhur. Urusan konsumsi saksi, pelik juga ternyata.(*)Minggir, 24 Feb.2024. Uwik DS.

Loading

Edukasi Literasi Digital: Menyiapkan Santri TPA Masjid Al-Islam Menyambut Era Society 5.0

Turi, Pdmsleman.Or.Id Tim PKM Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta memberi edukasi literasi digital pada santri di Taman Pendidikan Al-Qur’an Masjid Al-Islam pada tanggal 24 Februari 2024. Bertempat di Gedung Dahwah Al-Islam Randusongo, Donokerto, Turi Sleman, acara ini dihadiri oleh 28 santriwan dan santriwati TPA Masid Al-Islam. Edukasi literasi digital ini juga dihadiri oleh delapan orangtua santri dan 3 orang ustdzah. Sebagai pembicara adalah Sutipyo Ru’iya, mengatakan anak merupakan calon penerus di masa yang akan datang, dengan kondisi dan problem yang berbeda dengan saat ini. Karena itu anak harus mempunyai kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi kondisi pada zamannya. Saat ini sering disebut dengan zaman digital, dimana semua platform kehidupan disuguhkan dengan digitalisasi. Menghadapi era digital ini, Sutipyo Ru’iya mengatakan bahwa “ di tengah perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat dengan berbagai kecanggihannya sangat mempengaruhi bagaimana sebaran informasi menghantam kehidupan ini”. Kecepatan informasi dan jangkauan penyebarannya sangat sulit untuk di kendalikan Pada saat inilah pendidikan mempunyai peran penting untuk mengarahkan, meluruskan, dan menguatkan kemampuan masyarakat (anak-anak) dalam menghadapi kenyataan tersebut.  Anak-anak sebagai aset bangsa harus diselamatkan dari kuatnya arus teknologi informasi yang membawa berbagai dampak  baik positif ataupun negatif. Materi edukasi literasi digital ini menitik beratkan pada bagaimana menggunakan handphone yang benar, “ Handphone ibarat pisau bermata dua, pada satu sisi mempunyai banyak manfaat namun di sisi yang lain dapat menjadi pembunuh”. Oleh karena itu handphone harus digunakan secara bijak.  Cara menggunakan handphone yang bijak antara lain: menggunakannya untuk komunikasi dengan memperhatikan adab-adab berkomunikasi, mencari informasi yang harus hati-hati dengan informasi hoax, untuk belajar, serta jangan lalai sehingga menggunakan HP tanpa batas. Menggunakan HP harus dibatasi, karena para santri harus belajar ilmu pengetahuan. Reportase Sutipyo Ru’iya M.SI MPI PDM Sleman

Loading

HILIRISASI BIMTEK

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 10). Estimasi saya meleset. Saya kira kejadian di “injuri time” itu sudah selesai. Ternyata, masih berlanjut. Menghangatnya group saksi SQ Minggir itu terus membawa “korban”. Tiba tiba, Mas Yoga japri saya. “Mas Dwi, iki Mas Irfan menyatakan mundur”, katanya. “Welah. Kok metu keneng apa ?”‘ tanya saya. “Wah, embuh ora cetha e”, katanya lagi. “Waduh. Lha piye kuwi ?. Padahal waktune kari mengko bengi je”, sambung saya. “Wah. Tulung golekke pengganti Mas !”, imbuh saya. “Waduh. Piye ya ? Waktune mepit banget iki. Tapi oke, coba tak golekke Mas”, “Kudu entuk ya !”, tegas saya. Waktupun berjalan. Detik berganti menit. Menit berubah jam. Dan sorepun menjelang malam. Sudah hampir jam 21.00 malam. Belum ada tanda tanda dari Mas Yoga. Saya semakin dag dig dug. Detik detik terakhir di “injury time” itu begitu menyiksa. Tiba – tiba, suara motor berhenti di pekarangan rumah. Suara seorang laki laki muda menyapa : “Assalamualaikum, Pak Dwi”. “Wa alaikum salam …” Sayapun keluar rumah. Nampak seorang pemuda yang saya kenal. Anaknya sahabat saya, Mas Harto bengkel. Namanya : Fuad. “Wah, dengaren. Ana apa Mas ?”, tanya saya. “Ini saya disuruh Om Yoga. Untuk menemui njenengan. Diminta untuk jadi saksi Syauqi. Menggantikan Om Irfan”, katanya. Alhamdulillah. “O ya siap. Wis nggawa KTP Mas ?”, tanya saya. “Mbeta Pak !”. Akhirnya, di malam itu, saya sendiri yang membimtek Fuad. Ia adalah saksi yang ketiga, yang saya bimtek di masa injury time. QSaya jelaskan rinci dan runtut. Apa yang menjadi fungsi dan tugas saksi. Lalu, bagaimana cara menginstal Aplikasi Relawan Syauqi. Disambung kemudian cara mengisi dan mengoperasikannya. Belum lagi selesai membimtek Fuad, HP saya bergetar. Ada WA masuk. Dari Mas Sunu. “Ayo. Segera merapat ke Ngloji. Sudah ditunggu relawan lain. Menyiapkan tempat untuk besok pagi. Nata meja kursi dan lain lain”, katanya. “Bentar lagi. Nyusul. Lagi mbimtek”, jawab saya. “Sapa sing dibimtek?”, sambungnya. “Ya saksi Syauqi”. “Jare wis komplit ?”. “Ana beberapa sing metu. Dadi iki golek penggantine”. “Welah. Nek ngono kuwi terus jenenge bimtek apa ?”, tanyanya. “Hilirisasi bimtek !”, kata saya. “Weh. Artine apa kuwi ?”. “Halah … Mbuh … !. 👃😃😄(*) Minggir, 24 Feb. 2024.Sambil ngopi pagi. Uwik DS

Loading

214 Atlet Tapak Suci Se DIY Ikuti Muhiminggir Cup Competition #2, Ajang Pembinaan Prestasi di SMP Muhammadiyah 1 Minggir

Minggir, Pdmsleman.Or.Id SMP Muhammadiyah 1 Minggir, Sleman, menjadi pusat perhatian dengan terselenggaranya Muhiminggir Cup Competition #2, kejuaraan Pencak Silat Tapak Suci yang berlangsung di Hall Darrusalam Singojayan pada tanggal 23-25 Februari. Acara ini tidak hanya menjadi ajang pencarian bakat olahraga, tetapi juga sebagai wujud nyata pengembangan prestasi siswa dan pengenalan sekolah kepada masyarakat. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman, Agung Armawanta, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kejuaraan ini. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya tentang mencari bibit olahraga, tetapi juga menekankan pentingnya pembentukan karakter siswa. “Jika semuanya disusun dengan ahlak yang baik maka, power, spirit, dan fisik akan menjadi bagus,” ungkapnya. Sementara Ayahanda Eko Sumardiyanto ST selaku pimpinan PDM Sleman dalam sambutannya menyapaikan “ apresiasi terselenggaranya kompetisi ini sebagai ajang peningkatan prestasi dan pencarian bibit-bibit atlet Tapak Suci dan pencak silat sejak dini”. Ketua Panitia, Oktavia Kurnia Astusi, menyatakan bahwa kegiatan ini telah menjadi tradisi dengan terselenggaranya Muhiminggir Cup Competition #2 untuk kedua kalinya. Jumlah peserta yang terus meningkat dari tahun sebelumnya menunjukkan antusiasme yang besar dari masyarakat, dengan melibatkan peserta dari tingkat TK, SD, dan SMP se-DIY. “Tahun lalu jumlah peserta dalam Muhiminggir cup Competition hanya 150 peserta, dan saat ini peseta pencak silat tapak melonjak menjadi 214 peserta, yang diikuti tingkat TK, SD, dan SMP Se-DIY. Di mana kita melibatkan wasit juri dari Pimpinan Wilayah DIY,” tambahnya. Sementara itu, Kepala SMP Muhammadiyah 1 Minggir, Widayatun, S.Ag, mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta atas partisipasinya, Kami berharap agar peserta dapat menampilkan sikap sportifitas, disiplin, dan mandiri sesuai dengan karakter Pelajar Pancasila, serta dapat lebih mengenal SMP Muhammadiyah 1 Minggir ke depannya”. Reportase Widayatun, S.Ag, & Wahdan Arifudin S.Pd

Loading

INJURY TIME

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 9)Tiga hari sebelum hari H, tepatnya di Hari Ahad, Kang Darojad memberi undangan. Mengumpulkan perwakilan kordes dan Tim IT se TPC di Sleman Barat. Tempatnya di SMK Muhammadiyah 1 Moyudan. Saya mengutus 9 orang perwakilan tim IT dan kordes ke acara itu. Saya sendiri tidak bisa hadir. Pada waktu yang sama, ada undangan ke Aula PWM DIY. Saya membersamai Ketua PCM Minggir. Acara penerimaan hadiah pemenang Stand terbaik di ajang MJE 3. Dimana, PCM Minggir dinobatkan sebagai juara 2 Stand terbaik tingkat DIY. Acara di Moyudan itu khusus tentang bimtek IT. Terutama terkait dengan strategi penggunaan aplikasi Relawan Syauqi ketika nanti akan digunakan di hari H. Saya bisa membayangkan betapa pentingnya penguasaan aplkasi Relawan Syauqi itu. “Mas, bagaimana sebetulnya strategi penggunaan aplikasi Relawan Syauqi tersebut ?”, tanya saya ke Mas Fathan, salah seorang kordes dan sekaligus pakar IT di PCM Minggir. Mas Fathan menerangkan dengan rinci dan runtut. Alhamdulillah, saya sedikit lega. Paling tidak, tentang aplikasi Relawan Syauqi kita sudah bisa kuasai. Sehari sebelumnya, saya dapat undangan ke PDM Sleman. Mengambil dana amunisi untuk saksi Syauqi. Alhamdulillah. 50 % amunisi untuk saksi sudah di tangan. “Bagaimana dengan sisanya yang 50% lagi ?”, batin saya. Pak Ketua TPC SQ lalu berinisiatif. Kami maraton. Setelah dari PWM DIY, maka diundanglah semua ketua PRM, ketua PCA, perwakilan RRA, kordes dan relawan. Membalas hal yang sangat penting. Yakni : mencari solusi mendapatkan sisa 50% lagi dana untuk saksi. Pun, bagaimana menyiapkan konsumsi ketika hari H serta mendistribusikannya sampai ke saksi di semua TPS. Sekakigus juga konsumsi untuk petugas yang berjaga di Posko Ngloji. Alhamdulillah, rapat koordinasi itu menghasilkan point point yang sangat positif. Nampaknya, semuanya sudah terkondisi dengan baik. Hari terus berganti. Tibalah saat hari H – 1. Entah mengapa. Semakin mendekati hari H, saya masih saja khawatir. Padahal, sepertinya, semuanya sudah “in line’. Bergerak senada seirama. Berjalan searah dan segaris. Formasi komplit. Pekerjaan sudah terbagi dan terdelegasikan dengan cukup matang. Satu lagi, sayapun sudah bisa menguasai aplikasi Relawan Syauqi itu. Sepertinya masih ada satu hal yang mengganjal. Tapi entah apa ? Ketika itu, kami sekeluarga baru saja “nderekke” Budhe nya anak anak. Mengantar ke Stasiun Tugu. Budhe nya anak anak “nglegakke” berkunjung ke rumah Jogja. Sekalian ngantar Fadhli, anak mbarep saya, mudik ke Jogja. Ia mudik sekalian mau nyoblos. Di sela perjalanan pulang, tiba tiba HP saya bergetar. Ada WA masuk. “Assalamualaikum wrwb. Pak Dwi, nyuwun pangapunten sanget. Niki kula badhe mundur saking saksi Syauqi nggih Pak ?”, isi WA nya. “Wa alaikum slm wrwb. O nggih pak. Niki sinten nggih ?”, tanya saya. “Kula Pak Fauzan. Saksi TPS 07. Sembuhan Kudul. Nyuwun ngapunten estu nggih Pak. Niki ndilalah omten acara mendadak sing mboten saget diwakilkan”, jelasnya. Saya seperti tersentak. “Mungkin inilah jawaban kegelisahan saya”, saya sedikit berbisik. Rupanya, Mas Antok mengerti dengan perubahan saya. Sambil pegang kemudi, ia bertanya : “Ana apa e Cak ?”. “Wah iki lho. Ana saksi sing tiba tiba mundur. Padahal ming kari sedina iki je”, kata saya. “Sapa sing mundur ?”, tanyanya. “Pak Fauzan. TPS 07. Sembuhkan Kidul”. Suasana hening. Tapi tidak lama kemudian, “Ngene wae. Anak lanang kuwi dikon ngganteni dadi saksi. Piye ? Eh, Fadhli, kamu mau jadi saksi kah ?”, tanya Mas Antok. “Saksi apa, om ?”, jawab Fadhli. “Saksi DPD Syauqi. Kamu cuma duduk dan memantau di TPS saja. Lumayan dapat uang transport. Akhirnya, Fadhlipun bersedia. Bimtek pun dilakukan di dalam mobil. Yang membimtek : ibunya. Sampai di rumah, saya sengaja memberi info lewat Group Saksi SQ Minggir. Saya sebutkan bahwa uang transport Saksi Sauqi akan dicairkan besok. Setelah saksi menyerahkan berkas C1 Hasil suara DPD Syauqi. Tiba – tiba, Group WA itu langsung ramai. Banjir komentar. Saya sempat membaca beberapa komentar. “Alhamdulillah. Terima kasih pak”, tulis seorang saksi. Tapi, ada juga yang berkomentar bernada unik. “Wah, seandainya separoh bisa cair malam ini kan lumayan. Bisa untuk nyicil kebutuhan lain lain”, katanya. Pun, ada juga komentar lain. Yang senada. Setelah membaca beberapa komentar, HP saya letakkan. Saya mengalihkan perhatian ke lain aktivitas. Selama hampir satu jam saya mencuci tumpukan pakaian menggunung. Yang sudah beberapa hari tertunda. Rupanya, selama saya tinggal, suasana di group “sempat menghangat”. Beberapa komentar tidak sempat saya baca. Rupanya beberapa chat yang “hangat” itu sudah dihapus. Ada dua komentar yang mendominasi. Salah satunya komentar Mas Yoga dan salah seorang saksi. Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang njapri saya : “Nyuwun sewu Mas Dwi. Wah, niki wau group e rada panas Pak. Nanging, sak niki sampun adem kok”, “Wah nggih e. Niki wau kula tinggal umbah umbah. Jebul kathah komentar sing mpun dihapus. Onten napa e Mas ?”, “Mboten onten napa napa kok Mas. Sing jelas niki wau mpun adem”, jelasnya. “O nggih. Alhamdulillah”, sambung saya. Tiba-tiba, ia melanjutkan komentar : “Mas, nyuwun sewu. Mas Yoga itu di Tim SQ posisine dados napa nggih ?” Saya sempat tercekat beberapa saat. Tapi kemudian : “Mas Yoga itu relawan senior”, tegss saya. Akhirnya, kegelisahan saya terjawab sudah. Justru di saat saat akhir menjelang hari H. Saat “injury time” seringkali menjadi masa masa mendebarkan.(*) Minggir, 23 Feb. 2024.Bada Maghrib, Uwik DS.

Loading

FORMASI KOMPLIT

Catatan kecil. (Spesial SQ bagian 8) Satu hari setelah bimtek di SMP Muhammadiyah 1 Minggir, saya sengaja ingin menjajagi seberapa jauh pemahaman para saksi terhadap bimtek tersebut. Saya lalu menanyakannya lewat group saksi SQ Minggir. “Bapak Ibu, Mas Mbak saksi SQ, bagaimana apakah sudah paham mengenai tugas dan peran saksi SQ besok itu ?”. “Wah, belum e Pak !”, jawab salah seorang Ibu. “Saya kemarin tidak ikut bimtek pak. Saya masih masuk kerja”, sela seorang Mbak. “Pak, kapan ada bimtek lagi ? Saya mau ikut!”, tanya seorang Bapak. Bagi saya, cukup sudah keterangan beberapa saksi tersebut. Tambahan lagi, masih ada saksi yang memang pada bimtek pertama tidak bisa hadir. Oleh karena bersamaan ikut acara Hari Aisyiyah di UMY. Setelah berkoordinasi dengan tim TPC, maka kami putuskan untuk mengadakan bimtek susulan. Acara bimtek kedua bisa terlaksana di kediaman salah seorang kordes. Acara berjalan lancar. Dihadiri oleh Mas Afif dan Mas EnKa dari TPD SQ. Setelah bimtek kedua, saya mencoba untuk melakukan kros cek di daftar hadir bimtek. Saya menemukan beberapa fakta. Ternyata, masih ada sekitar belasan saksi yang belum mengikuti bimtek. Baik bimtek pertama maupun kedua. Ini terus terang membuat saya khawatir. Akhirnya, kami memutuskan untuk melakukan bimtek pungkasan. Alias bimtek terakhir. Tempat di Wisma Ngloji. Waktunya : 2 hari sebelum hari H. Acaranya : selain pemantapan terakhir, juga penyerahan surat tugas dari TPW Syauqi untuk para saksi SQ. Acara tersebut begitu penting bagi kami. Pun bagi saksi dan juga bagi PCM dan PCA Minggir. Oleh karena itu, acara bimtek terakhir itu kami bagi menjadi 3 sesi. Sesi 1 (08.00 – 09.00) : rakor bersama antara kordes, PCM, PCA dan relawan. Sesi 2 (09.00 – 11.00), bimtek IT saksi Sendangarum, Sendangsari dan Sendangrejo. Sesi 3 (13.00 – 15.00), bimtek IT saksi Sendangagung dan Sendangmulyo. Ada satu hal yang membuat saya dag dig dug. Jujur, sampai titik terakhir, saya sebetulnya belum bisa menggunakan aplikasi Relawan Sauqi itu. Padahal, target saya adalah sebelum acara bimtek pamungkas, semua saksi harus punya akun sendiri sendiri. Sehingga pada saat bimtek terakhir itu nanti, semua saksi sudah bisa mengisi data data dan mengirimkan foto foto, seolah olah adalah data dan foto perolehan suara Syauqi. Beberapa saat, saya memutar otak. Akhirnya ketemu. Saya harus minta bantuan anak muda yang paham IT. Maka, malam harinya, saya meminta salah seorang saksi Syauqi untuk ke rumah saya. Namanya Nadya. Siswa kelas 3 SMAN Seyegan. Saya minta dia untuk mendaftarkan akunnya para saksi itu. Nadya datang bersama seorang cowok kecil. Yang ternyata adalah adiknya. Siswa kelas 3 SMPN 1 Minggir. Cowok kecil itu namanya Azmi Adil. Di tangan mereka berdua, akhirnya semua akun saksi bisa didaftarkan. Tiba – tiba, sebuah ide muncul dari otak liar saya. “Kenapa tidak sekalian saja kakak beradik itu saya jadikan tim IT. Toh mereka sudah teruji ?”, batin saya. Kedua anak itu saya jadikan tim IT di Sendangagung. Mendukung tugas Mbak Atiin sebagai kordes di sana. Belakangan, akhirnya saya putuskan juga tim IT untuk yang lain. Untuk Sendangsari, saya mendapatkan Mbak Hilma Tsani sebagai tim IT. Mendukung Mbak Nur Faizun sebagai kordes. Sendangrejo, saya mendapatkan Mas Ali Akbar sebagai tim IT. Yang nanti akan bertandem dengan Mas Nur Sahid sebagai kordes. Sendangarum, saya mendapatkan Mas Fajarudin sebagai tim IT. Tandem dengan Mas Irfan Nugroho sebagai kordes. Dan terakhir, saya dan anak saya, Raihan menjadi tim IT Sendangmulyo. Yang nanti akan bahu membahu dengan Mas Fathan sebagai kordes. Alhamdulillah, akhirnya saya telah mendapatkan formasi Tim TPC SQ yang komplit. Tinggal mengujinya di hari ketika bimtek pamungkas. Dan, hari ketika bimtek terakhir itupun datang. Saya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran. Perkiraan saya meleset. Acara molor lebih satu jam. Padahal, Mas Afif dari Tim IT TPD sudah on time. Datang sebelum jam 08.00. Padahal, Mas Afif pada hari itu juga, jam 09.00 harus memberikan bimtek di Godean. Kepadanya, saya sampaikan permintaan maaf sebesar besarnya. Sudah mengurangi jatah waktunya untuk teman teman di TPC Godean. Kekhawatiran saya bertambah lagi. Ternyata pada acara sesi ke 3, tidak ada tenaga tim IT yang muncul. Semuanya sudah pulang. Tinggal saya dan Nadya. Akhirnya, dengan mengerahkan segenap kemampuan, sayalah yang menyampaikan bimtek IT untuk saksi Sendangagung dan Sendangmulyo. Tentu, dengan baju yang basah kuyub. Gemrobyos peluh dan keringat. Lha apa tumon, gak paham IT kok ngasih bimtek IT. Untung ada mbak Nadya. Yang bisa sedikit membantu. Mengurangi rasa malu saya.(*) Minggir, 23 Feb. 2024.Bada Jumatan. Uwik DS.

Loading

Pelatihan Administrasi Organisasi Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Sleman

sleman, Pdmsleman.Or,Id Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Sleman mengadakan Pelatihan Administrasi Organisasi yang diadakan pada hari Sabtu, 4 Sya’ban 1445H yang bertepatan pada tanggal 24 Februari 2024M bertempat di SD Muhammadiyah Sleman, jln. Kenari, Srimulyo, Triharjo, Sleman Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan Majelis dan Lembaga serta pimpinan ranting se-cabang Sleman yang terdiri ketua, sekretaris dan bendahara. Pelatihan Administrasi Organisasi ini merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh sekretaris Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Sleman berupa pemaparan materi terkait administrasi kesekretariatan dan keuangan. Melibatkan pimpinan ditingkat cabang hingga ranting. Sehingga diharapkan pimpinan khususnya sekretaris dan bendahara ‘Aisyiyah se-Cabang Sleman memiliki pengetahuan dan keterampilan administrasi sesuai dengan buku pedoman administrasi yang telah dikeluarkan oleh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Diawali dengan serangkaian kegiatan pembukaan. Pembacaan kalam illahi, menyanyikan mars Aisyiyah, sambutan ketua PCA Sleman dan penutup,  kemudian dilanjutkan acara inti. “Kunci organisasi adalah tertib administrasinya. Kegiatan pelatihan ini penting dilaksanakan pada awal periode sehingga roda organisasi dapat berjalan dengan lancar”, kata   Musabikhah, M. Pd., selaku ketua PCA Sleman dalam memberikan sambutan. Kegiatan pelatihan administrasi organisasi ini menghadirkan   Dwi Putri Yanti selaku Bendahara 1 PDA kabupaten Sleman. Selain menyampaikan materi adminstrasi keuangan, beliau juga memberikan contoh-contoh berkas keuangan yang harus disusun utk ketertiban administrasi keuangan. Dilanjutkan materi kedua yaitu kesekretariatan yang disampaikan oleh   Dra. Retno Endah Sawitri, M. Ag. selaku sekretaris PDA kabupaten Sleman. Materi diberikan dengan lugas dan tuntas sehingga banyak peserta yang aktif bertanya. Selain memberikan materi kesekretariatan, beliau juga memberikan motivasi kepada seluruh peserta untuk tetap melanggengkan organisasi besar ini salahsatunya dengan tertib administrasi. Diharapkan Pelatihan Administrasi Organisasi ini memiliki rencana tindak lanjut (RTL) untuk tertib organisasi dimulai dari tingkat ranting. by Dewi Novita PCA Sleman

Loading