Haedar Nashir Sampaikan Apresiasi Tinggi atas Perolehan Verifikasi EMT Muhammadiyah dari WHO

Yogyakarta, Pdmsleman.Or.Id Muhammadiyah resmi mencatatkan sejarah baru sebaga Emergency Medical Team (EMT) pertama di Indonesia yang terverifikasi secara internasional oleh World Health Organization (WHO). Ketua Umum mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan penuh kebanggaan menyampaikan selamat kepada MDMC dan semua lembaga terkait seperti Lazismu, Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU), Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang), Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI), serta Muhammadiyah Aid atas pencapaian prestasi terverifikasi di tingkat global tersebut. “Terimakasih pada semua penggerak dari pimpinan sampai para relawan atas pengkhidmatannya sehingga Muhammadiyah memperoleh EMT,”jelas Haedar pada Senin (20/10). Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menyampaikan terimakasih kepada pihak WHO khususnya Dr. Tamara Curtin Niemi, Team Leader Health Emergency, WHO Indonesia, atas pemberian status EMT tersebut. “Semoga dengan EMT tersebut kiprah Muhammadiyah dalam program kesehatan dan kemanusiaan maupun kerjasama dengan WHO serta lembaga dunia lainnya di level global semakin baik dan meluas,”jelas Haedar. Muhammadiyah dalam gerakan pelayanan kesehatan, resiliansi bencana, dan program-program kemanusiaan baik di tingkat nasional maupun internasional terus mengalami akselerasi. Gerakan tersebut menempatkan Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terdepan yang lahir dari spirit ajaran Al-Ma’un yang bersifat inklusif untuk semua. Haedar menegaskan bahwa praksis Al-Ma’un tersebut diaktualisasikan secara umum dan kelembagaan yang diperankan oleh Lazismu,, MDMC/LRB, MPKU, MPKS, MPM, dan gerakan komunitas dalam melayani berbagai kegiatan sosial kemanusiaan secara tersistem yang mengandung pemecahan masalah, penanganan krisis, pemberdayaan, pembebasan, dan pemajuan. “Jadi bukan program sporadis dan pelayanan karitatif jangka pendek semata. Karenanya sangat tepat jika memperoleh verifikasi EMT di tingkat global. Muhammadiyah dengan gerakan sosial kemanusiaan tersebut memperoleh penguatan melalui program internasionalisasi sehingga menjadi simultan,”imbuh Haedar. Diakhir, Haedar berharap melalui EMT gerakan Muhammadiyah dalam program kemanusiaan yang meluas itu makin mengokohkan posisi dan peranannya sebagai Gerakan Islam Berkemajuan untuk Semua. “Itulah wujud dakwah Islam rahmatan lil-‘alamin di dunia nyata, bukan retorika dan kata-kata,”pungkas Haedar.  Dr. Tamara Curtin Niemi, Team Leader Health Emergency, WHO Indonesia, menyampaikan apresiasi tinggi atas capaian dan kerja keras yang telah di torehkan oleh EMT Muhammadiyah. “WHO turut menyampaikan selamat kepada EMT Muhammadiyah atas pencapaian luar biasa ini sebagai tim medis darurat terverifikasi pertama di Indonesia. Tim ke-18 di kawasan Western Pacific dan urutan ke-63 di dunia,” ujarnya dalam agenda yang berlangsung di Aula Masjid KH Sudja’, PKU Muhammadiyah Gamping, pada Sabtu (19/10). Tamara menegaskan, capaian dan kerja keras ini merupakan suatu cerminan dedikasi, dan kolaborasi panjang berbagai pihak dalam memperkuat kapasitas respon darurat di tingkat nasional dan internasional. Dalam hal ini, ia turut menyebut berbagai mitra global yang senantiasa terlibat dan mendampingi pelatihan teknis EMT Muhammadiyah sebelum mencapai klasifikasi internasionalnya. “Perjalanan ini juga merupakan cerminan kekuatan kolaborasi, mulai dari dukungan awal Emergency Medical Team Initiative bersama kantor pusat WHO dan kantor regional Asia Tenggara,” ujar Tamara. “Kami berterima kasih atas kemitraan yang tak ternilai dengan RKI dan I.S.A.R. Germany yang telah memberikan dukungan teknis dan solidaritas selama proses ini. Tak lupa, kami juga menyampaikan terima kasih kepada Peter Archer dari Australian Medical Assistance (AUSMAT) yang telah mendampingi tim selama sembilan tahun perjalanan ini,” tambah Tamara. Tamara menekankan bahwa verifikasi internasional ini bukanlah akhir, melainkan awal dari kiprah baru EMT Muhammadiyah di kancah global. Kedepan, pihak WHO tentu akan menantikan berbagai kontribusi nyata yang akan ditorehkan kembali oleh EMT Muhammadiyah bukan hanya di kancah domestik, melainkan pada kancah Internasional. “Ini bukanlah sebuah akhir, bahkan ini adalah permulaan. Kami menantikan kontribusi EMT Muhammadiyah dalam memperkuat sistem kesiapsiagaan dan respon darurat, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia,” ucap Tamara.

Loading

Touring dan Kunsiroh PCM Tempel, Eratkan Ukhuwah Silaturahmi ke PCM Kemalang Klaten

Tempel, Pdmsleman.Or.id Dalam rangka mempererat ukhuwah Islamiyah antar cabang, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tempel bersama KOKAM dan unsur ‘Aisyiyah melaksanakan kegiatan Touring dan Kunsiroh ( Kunjungan Silaturohim ) ke PCM Kemalang, Klaten, pada Ahad, 19 Oktober 2025. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang silaturahim dan pembelajaran lapangan bagi kader Muhammadiyah di wilayah Tempel. Sebanyak 105 peserta mengikuti kegiatan ini dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat, lengkap dengan mobil pengaman serta ambulans. Titik kumpul ditetapkan di PP Darul Ulum, dengan pemberangkatan tepat pukul 08.00 WIB. Sebelum berangkat, peserta mendapat pengarahan dari Komandan KOKAM Tempel, disusul sambutan dan pelepasan resmi oleh Ketua PCM Tempel, H. Samsul Alam, M.Si.. Doa pemberangkatan dipimpin oleh Arif Sulistyo, menandai dimulainya perjalanan menuju Kemalang, Klaten. “Touring ini bukan sekadar rekreasi, tetapi bagian dari dakwah bil hal. Kita ingin meneguhkan semangat kebersamaan antar cabang Muhammadiyah, khususnya di wilayah lereng Merapi,” ujar H. Samsul Alam dalam sambutannya sebelum keberangkatan. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam akhirnya rombongan tiba di Gedung Dakwah PCM Kemalang. Kedatangan rombongan disambut hangat oleh jajaran PCM dan PCA Kemalang, serta KOKAM setempat. Acara silaturahim diawali dengan sambutan dari PCM Kemalang yang diwakili oleh Ustadz Saptono, dilanjutkan sambutan balasan dari Ketua PCM Tempel. Dalam suasana penuh keakraban, Arif Sulistyo turut memberikan pesan-pesan persaudaraan dan pentingnya sinergi antar cabang Muhammadiyah di kawasan DIY–Jateng, sebagaimana disampaikan Ahmad Bisron Irfani salah satu peserta kepada Arief Hartanto pada Senin pagi. Sebagai simbol ukhuwah, dilakukan penyerahan cendera mata dari KOKAM Tempel kepada PCM Kemalang, serta sejumlah sumbangan untuk kegiatan dakwah setempat. Selain itu, Komandan KOKAM Tempel, M. Ridwan, menyerahkan seragam KOKAM doreng lengkap kepada Komandan KOKAM Kemalang, Rohmadi, sebagai bentuk dukungan dan solidaritas antar pasukan KOKAM. Setelah acara ramah tamah dan ISHOMA, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Taman Wisata Girpasang yang berjarak sekitar lima kilometer dari Gedung Dakwah PCM Kemalang. Rombongan dikawal langsung oleh anggota KOKAM Kemalang menuju lokasi wisata alam yang ikonik ini. Peserta touring tampak antusias menikmati keindahan Wisata Girpasang, terutama ikon utamanya, jembatan gantung sepanjang lebih dari 100 meter yang menghubungkan dua tebing di kawasan lereng Merapi. Menurut Bisron, kegiatan seperti ini “menjadi media efektif untuk mempererat silaturahmi, memperluas wawasan kader, sekaligus menumbuhkan semangat dakwah yang menggembirakan.” Rep A Bisron Irfan  KOKA Tempel Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Refeksi Pendidikan Muhammadiyah Masa Depan : Tantangan Pendidikan Muhammadiyah Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan

Pamuji Sri Subekti, S.Si. Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan I Refleksi terhadap masa depan Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang dan kontribusi nyatanya di masa lalu dan masa kini. Muhammadiyah memiliki peran besar dalam setiap dinamika kehidupan bangsa Indonesia bahkan dunia. Dengan berpegang teguh pada aqidah yang kuat dan berprinsip pada Islam Berkemajuan, wasathiyah, dan tajdid, Muhammadiyah menorehkan catatan sejarah sebagai sebuah gerakan Islam moderat yang memberi sumbangsih besar dalam perkembangan kemajuan bidang pendidikan. Dilihat dari kiprahnya sepanjang 113 tahun ini, Muhammadiyah dapat dipredeksi memiliki masa depan cerah sebagai gerakan yang kiprah di bidang pendidikan semakin mendunia. Bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi rujukan organisasi-organisasi lain di dunia dalam pengelolaan pendidikan bahkan juga bidang-bidang lain, seperti ekonomi, kesehatan, sosial dan bidang-bidang kehidupan lainnya. Pendidikan Muhammadiyah pada Masa Awal Berdiri Ketika kita menoleh ke masa lalu, Muhammadiyah lahir dari keresahan dalam aspek pendidikan. Tahun 1912, ketika Indonesia masih dikuasai oleh kolonialisme, kemiskinan dan kebodohan menjadi pemandangan yang biasa, hanya orang dari kalangan tertentu yang bisa mengenyam pendidikan. K.H. Ahmad Dahlan yang memandang santri-santrinya dan masyarakat di sekelilingnya miskin akan ilmu pengetahuan, merasa perlu melakukan langkah konkrit dalam menyelamatkan warga dari kebodohan. Pemahaman bahwa Islam harus menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, mendorong perlunya penguasaan yang seimbang pula antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Maka didasari semangat itulah K.H. Ahmad Dahlan mendirikan madrasah yang tidak hanya mengajar ilmu agama namun juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum. K.H. Ahmad Dahlan mengubah ruang tamu menjadi ruang kelas. Pendidikan dengan metode baru yang berbeda dengan pondok-pondok pesantren yang ada pada saat itu menjadi tantangan tersendiri. Kelas dengan menggunakan meja kursi, beberapa pelajaran tentang ilmu pengetahuan termasuk seni diklaim sebagai ajaran kafir karena dianggap meniru budaya barat. Tantangan ini beliau hadapi dengan langkah bijak, dengan terus menerus memberi pengajaran yang benar tentang Islam kepada santri dan masyarakat. Tidak dengan kekerasan ataupun dengan memaksakan kehendak. Dan dapat kita lihat saat ini, sistem kelas yang beliau terapkan menjadi rujukan hampir semua sekolah dan madrasah di negeri ini. Kemudian yang tidak kalah penting untuk dijadikan catatan sejarah bahwa pendidikan menjadi salah satu pilar berdirinya organisasi Muhammadiyah. Salah satu murid K.H. Ahmad Dahlan menyampaikan keresahannya tentang keberlangsungan madrasah, keberlangsungan ajaran-ajaran beliau, sepeninggal beliau nanti. Dari situlah awal muncul keinginan mendirikan organisasi. Hingga kemudian berdirilah Organisasi Muhammadiyah. Dunia Pendidikan Muhammadiyah Masa Kini Saat ini terdapat puluhan ribu sekolah dan madrasah Muhammadiyah, ratusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri tepatnya di Australia terdapat Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Sekolah, madrasah maupun Perguruan Tinggi dengan kategori Unggul juga tersebar di mana-mana. Kepercayaan masyarakat terhadap Lembaga Pendidikan Muhammadiyah sudah tidak perlu diragukan lagi. Semangat tajdid (pembaruan) dan prinsip Islam berkemajuan mendorong Muhammadiyah terus berkomitmen memperbaiki sistem pendidikannya agar tetap relevan dan kompetitif di era global namun tetap berpegang teguh pada dasar tauhid yang benar. Pendidikan Muhammadiyah masa kini telah menunjukkan peran besar dalam membentuk generasi cerdas dan berkarakter, sekaligus menjadi model pendidikan Islam modern di Indonesia. Amal Usaha Bidang Pendidikan tidak hanya sebatas tempat mendapat ilmu, namun amal usaha ini didirikan dalam rangka perluasan dakwah Muhammadiyah. Harapannya, dari AUM pendidikan, Muhammadiyah dapat melahirkan generasi unggul yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia sesuai cita-cita K.H. Ahmad Dahlan. Generasi yang akan menjadi kader-kader Muhammadiyah dan kader bangsa. Tantangan Masa Depan Pendidikan Muhammadiyah “Dadio Islam sik kemajuan, lan ojo kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah”, pesan K.H. Ahmad Dahlan. Sebuah pesan yang memiliki makna besar untuk menggerakkan warga Muhammadiyah untuk memiliki cara pandang Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, yang untuk mewujudkannya harus dengan iman, ilmu dan amal. Sebuah visi yang memandang bahwa Muhammadiyah di masa depan harus maju, mendunia dan menjadi rujukan dunia dalam mewujudkan masyarakat baldatun thoyyibatun warobbun ghofur sebagai manifestasi dari rahmatan lil ‘alamin. Tentu saja banyak tantangan besar yang harus dihadapi oleh Muhammadiyah, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Beberapa tantangan dunia pendidikan di masa depan diantaranya adalah tantangan kemajuan teknologi dan diigitalisasi, degradasi moral, kader-kader penerus gerakan Muhammadiyah, keselarasan kurikulum dengan kebutuhan dunia. Kemajuan teknologi dan digital, menjadi tantangan bagi Muhammadiyah agar terus berinovasi dalm memanfaatkan teknologi dan digital untuk pembelajaran dengan meminimalisir dampak negatif dari teknologi dan digital itu sendiri. Disisi lain pendidikan Muhammadiyah harus memberi benteng aqidah dan akhlak yang kuat ditengah kondisi masyarakat yang mengalami degradasi moral. Sehingga generasi yang dilahirkan dari pendidikan di Muhammadiyah haruslah generasi emas yang memiliki iman yang kuat dan ilmu pengetahuan yang mumpuni. AUM di bidang pendidikan dapat berperan mencetak kader-kader militan untuk meneruskan perjuangan gerakan Muhammadiyah. Untuk itu kurikulum di sekolah-sekolah Muhammadiyah harus disusun dalam rangka mewujudkan tujuan Muhammadiyah, yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yang berkemajuan, yang beramar ma’ruf nahi munkar dan menjadi rahmmat bagi seluruh alam. Dan untuk melaksanakan itu semua perlu kerja keras, tidak merasa lelah sebagaimana dipesankan oleh K.H. Ahmad Dahlan.

Loading

Hak Siswa, PDM Sleman Tak Izinkan Sekolah Menahan Ijazah

 Sleman, Pdmsleman.Or.Id Muhammadiyah berkomitmen kuat untuk berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa membedakan latar belakang. Komitmen ini direalisasikan dengan mengelola ribuan institusi pendidikan, mulai dari tingkat paling dasar hingga perguruan tinggi, yang tersebar di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang memiliki ratusan sekolah Muhammadiyah dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Dasar, hingga Pendidikan Menengah.  Menanggapi berbagai kasus penahanan ijazah yang terjadi di sekolah-sekolah, baik yang dikelola pemerintah maupun masyarakat, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sleman mengadakan sosialisasi terkait peraturan-peraturan yang melarang penahanan ijazah siswa serta tindakan diskriminatif terhadap siswa yang orang tuanya belum melakukan pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Pada Selasa, 14 Oktober 2025 diselenggarakan sosialisasi larangan penahanan ijazah siswa pada forum Badan Koordinasi Sekolah (BKS) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman di SMP Muhammadiyah Turi. Selanjutnya pada Rabu, 15 Oktober 2025 sosialisasi yang sama diselenggarakan pada forum BKS Sekolah Dasar (SD)/ Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman di RTG Gumuk Sikuneng. Kedua forum tersebut dihari oleh Kepala Sekolah.  Adapun sosialisasi disampaikan oleh Ari Wibowo yang merupakan Ketua Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia (MHH) PDM Kabupaten Sleman. Dalam sosialisasinya Ari menyampaikan bahwa larangan penahanan ijazah siswa terdapat dalam beberapa peraturan antara lain Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 58 Tahun 2024 tentang Ijazah Jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Peraturan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2022 tentang Spesifikasi Teknis dan Bentuk, serta Tata Cara Pengisian, Penggantian, dan Pemusnahan Blangko Ijazah Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Tahun Pelajaran 2021/2022, serta Perda DIY Nomor 10 Tahun 2013 tentang Pedoman Pendanaan Pendidikan.  “Menahan ijazah siswa dan membatasi akses fasilitas lainnya seperti ujian atau raport hasil studi, tidak boleh dilakukan terhadap siswa hanya karena orangtuanya belum membayar SPP. Pembayaran SPP itu kewajiban orangtua kepada sekolahan, sehingga tidak bisa dibebankan kepada siswa yang memiliki hak untuk mendapatkan akses pendidikan sebagaimana siswa lainnya,” ujar Ari yang juga merupakan Dosen di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Ia menambahkan, dalam Perda DIY Nomor 10 Tahun 2013 terdapat sanksi administratif dan sanksi pidana yang diancamkan kepada satuan pendidikan dan pengelola satuan pendidikan. Selain itu, ada potensi dikenakan ketentuan Pasal 372 KUHP yang mengatur tindak pidana penggelapan.  “Sekolah yang sekarang masih menyimpan ijazah siswa, sebaiknya segera memanggil orangtua walinya untuk mengambil. Silakan sambil ditagih untuk melunasi SPP, boleh diangsur, tetapi bukan sebagai syarat pengambilan ijazah,” sarannya. Sosialisasi ini sebagai wujud komitmen PDM Kabupaten Sleman untuk memberikan akses pendidikan kepada siswanya tanpa diskriminasi khususnya siswa yang belum mampu membayar SPP. Sosialisasi di BKS SD/MI dibuka oleh Ketua PDM, H. Harjaka, S.Pd., S.Ag., M.A., dan dihadiri Sekretaris PDM, H. Arif Mahfud, S.Ag.,M.S.I. dan Majelis Dikdasmen PDM, Drs. Suyono, M.Pd. Rep : DR.  Ari Wibowo S.H.I., S.H., M.H  Ketua Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia (MHH) PDM Kabupaten Sleman Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

PRM Margokaton Seyegan Sleman Masuk Daftar Finalis CRM Award VI Tahun 2025

Sleman, Pdmsleman.Or.Id PDM Sleman menunjuk PCM Kalasan, PRM Margokaton Seyegan, dan Masjid Al Barokah Pakem untuk mengikuti seleksi Nominasi CRM ( Cabang Ranting Masjid ) Award VI yang digelar LPCR PM PP Muhammadiyah tersebut. Dalam kesempatan Pengajian Hari BerMuhammadiyah PDM Sleman di Masjid Agung Dr. Wahidin Soedirohoesoedo, Sekretaris PDM sleman dalam sambutannya mewakili Ketua PDM Sleman menyampaikan doa dan harapannya, “PDM Sleman mendorong Cabang Kalasan, Ranting Margokaton Seyegan, dan masjid Al Barokah Pakem untuk dapat menyusul prestasi Cabang Prambanan, Cabang Minggir dan Ranting Nogotirto, menjadi juara di ajang CRM Award VI, tanggal 14 – 16 November 2025, di Banjarmasin. Mohon doa dari bapak dan ibu semua”.  Tiga utusan tersebut berikutnya pada hari ahad, 12 Oktober 2025 telah mengikuti seleksi bagi Cabang, Ranting dan masjid Unggul utusan dari Wilayah Jawa Bagian Timur, yaitu Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Pada seleksi tersebut PWM DIY mengirimkan 15 utusan, terdiri dari 5 Cabang, 5 Ranting dan 5 Masjid yang merupakan perwalikan dari 5 PDM di DIY. Selasa 14 Oktober 2025, Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan finalis nasional untuk ajang bergengsi Cabang Ranting Masjid (CRM) Award VI. Dalam surat keputusan yang dirilis LPCR PM PP Muhammadiyah PRM Margokaton sebagai salah satu utusan PDM Sleman berhasil masuk daftar finalis CRM Award VI tahun 2025 dan akan bersaing dengan 14 ranting unggulan dari seluruh Nusantara. PRM Margokaton akan menyusul 3 unggulan lain dari Sleman (PCM Minggir, PCM Prambanan dan Ranting Nogotirto yang tahun sebelumnya berhasil menjadi juara di ajang CRM Award untuk mengikuti CRM Award VI di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan finalis nasional untuk ajang bergengsi Cabang Ranting Masjid (CRM) Award VI. Sebanyak 45 Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), dan Masjid Unggulan berhasil lolos dan akan memperebutkan gelar terbaik. Keputusan finalis ini tertuang resmi dalam Surat Keputusan LPCRPM PP Muhammadiyah Nomor 363/KEP/I.15/B/2025 tentang Finalis PCM, PRM, dan Masjid Unggulan Cabang Ranting Masjid Award VI. Proses penjurian yang ketat telah berlangsung secara bertahap pada tanggal 3, 7, 8, 9, dan 12 Oktober 2025. Hasil dari proses penilaian tersebut kemudian disahkan melalui rapat pleno LPCRPM yang digelar pada 13 Oktober 2025 di Yogyakarta. Penilaian ini berpegangan pada kriteria Cabang, Ranting, dan Masjid unggulan yang sebelumnya telah ditetapkan melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LPCRPM tahun 2023. Berikut adalah daftar lengkap 45 finalis yang terbagi dalam tiga kategori utama: Finalis Kategori PCM Unggulan Finalis Kategori PRM Unggulan Finalis Kategori Masjid Unggulan Semoga PRM Margokaton dapat meraih prestasi sebagaimana 3 unggulan lain dari kabupaten Sleman. Reportase  Enkade PRM Margokaton Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman.

Loading

PCM Kalasan Kukuhkan Korps Mubaligh Muhammadiyah Kalasan

 Kalasan, Pdmsleman.Or.id PCM Kalasan mengukuhkan Korps Mubaligh Muhammadiyah Kalasan pada hari Sabtu pagi, 11 Oktober 2025 bersamaan dengan Pengajian Akbar yang diselenggarakan di Lapangan Bayen, Purwomartani, Kalasan dengan narasumber Prof. Dr. Ir. H. Sukamta, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng. Hadir dalam acara tersebut perwakilan Panewu, Kapolsek, dan Danramil Kapanewon Kalasan, KUA, Lurah Purwomartani, semua pengurus PCM, PRA, dan PRM, serta AUM, UMKM, dan masyarakat sekitar. Acara dimulai dengan membaca ayat suci Alquran oleh para santri TK ABA Duri, Purwomartani dibawah asuhan Ibu Yayuk Sri Wahyuni, berturut-turut melantunkan surat Al-Fil, Al-Ma’un, dan Al-Humazah. Ketua PCM Kalasan, H. Sunandar, S.Psi. dalam sambutannya menyatakan bahwa setelah digagas cukup lama akhirnya PCM Kalasan berhasil menginventarisasi kader Muhammadiyah yang potensial dalam wadah Korps Mubaligh Muhammadiyah Kalasan (KMMK). “Pengukuhan Korps Mubaligh Muhammadiyah Kalasan ini menjadi momen yang tepat untuk menginventarisasi dan mengkoordinasikan mubaligh Muhammadiyah Kalasan untuk mendukung dakwah Muhammadiyah yang mencerahkan dan mensejahterakan di wilayah Kalasan, “tegas Sunandar. Pengukuhan ditandai dengan penyerahan SK PCM kepada Ketua Korps Mubaligh Muhammadiyah Kalasan, Haryadi, S.Ag. Sunandar menegaskan bahwa KMMK ini baru merupakan rintisan awal. Beliau berharap ke depan akan semakin berkembang dan semakin banyak yang bergabung dalam barisan KMMK sehingga mendukung aktivitas dakwah Muhammadiyah di Kalasan. Ketua KMMK, Haryadi, S.Ag., saat dikonfirmasi mengenai tindak lanjut yang akan dilakukan setelah pengukuhan adalah mengadakan rapat koordinasi, terutama dengan pengurus harian untuk memusyawarhkan hal-hal penting, mereinventarisasi anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah Kalasan berbasis ranting, dan selanjutnya mengadakan pelatihan untuk memantabkan dan menyamakan persepsi anggota KMMK. Tahun ini PCM Kalasan dipercaya oleh PDM Sleman dan PWM DIY untuk maju dalam lomba PCM Unggul tingkat nasional. Seleksi tahap pertama akan diselenggarakan pada tanggal 12 Oktober 2025 di UMS Surakarta. “Bismillah, mohon dukungan dan doa restu kepada keluarga besar Muhammadiyah Kalasan semoga dapat menambah pengalaman, wawasan, dan berkah, “ pesan Sunandar. PCM Kalasan akan terus mendorong dakwah yang mencerahkan dan mensejahterakan umat dengan mendorong semua majelis secara dinamis menjalankan fungsinya secara optimal. Prof. Dr. Sukamta dalam uraian pengajiannya mengangkat tema “Mantapkan hati ber-Muhammadiyah untuk meraih kehidupan yang berkah.” Wakil Ketua BPO PP Muhammadiyah ini menyoroti pentingnya segenap warga Muhammadiyah untuk meraih kehidupan yang berkah dengan memastikan bahwa hidupny harus bermakna, bermanfaat bagi kemaslahatan dirinya, keluarga, dan masyarakat sekitarnya sebagaimana tertuang dalam hadist nabi yang diriwayatkan oleh Tabrani yang artinya sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Menurut Sukamta, ber-Muhammadiyah itu memiliki setidaknya mengandung pengertian, mengamalkan Islam dengan pikiran yang maju, rasional, dan berkemjuan; tidak hanya dakwah bilisan, tetapi juga dengan dakwah bil-hal yang mampu memberi solusi secara nyata kebutuhan dan problema umat. Menurut Prof. Dr. Sukamto, yang juga sebagai Ketua PCM Ngaglik ini, tanda-tanda orang yang sudah mantab dalam ber-Muhammadiyah, antara lain: (1) Teguh akidahnya, tidak mudah goyah oleh pengaruh-pengaruh aliran lain; (2) Aktif mengamalkan Islam dalam kehidupan sehari-hari; (3) Disiplin beribadah dan bersosial; (4) Tidak mudah terpana (ora gumunan), tidak mudah terkejut (ora kagetan), dan tidak senang pamer (ora dumeh); dan (5) Mengabdi tanpa pamrih. Dalam hadist nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dijelaskan bahwa sesungguhnya Alloh tidak melihat rupa dan hartamu, tetapi melihat hati dan amalmu. Karena itu, Sukamta mengajak kepada seluruh jamaah untuk senantiasa meneguhkan hati dalm ber-Islam untuk meraih kehidupan yang berkah. Rep : H. Sarno R. Sudibyo, M.Pd./ MPI PCM Kalasan

Loading

Sinergi Hijau Muhammadiyah Ngaglik: Launching Mosa dan Meca untuk GSSMu Ngaglik

Ngaglik, Pdmsleman.Or.Id Ahad pagi, 12 Oktober 2025, halaman Masjid Ahmad Dahlan, PCM Ngaglik tampak lebih ramai dari biasanya. Seusai kajian rutin Ahad pagi, para jamaah tak langsung beranjak pulang. Mereka tetap bertahan di halaman masjid, menyaksikan momen penting bersejarah bagi Gerakan Shadaqah Sampah (GSS) Muhammadiyah Ngaglik: peluncuran Mosa (Motor Sampah), Meca (Mesin Pencacah), serta Drop Box Sampah. Gerakan Shadaqah Sampah (GSS) Muhammadiyah Ngaglik yang berdiri sejak tahun 2023 hadirkan inovasi dan sinergi dalam hal pengelolaan sampah berbasis jamaah dan masjid.  Ketiga sarana baru itu menjadi simbol semangat baru dalam hal pengelolaan sampah yang lebih teratur dan bernilai. Mosa (Motor Sampah) merupakan hibah program aspirasi dari Ir. H Abdul Kadir MH, yang merupakan anggota DPRD Sleman sekaligus tokoh senior Muhammadiyah Ngaglik, sementara Meca (Mesin Pencacah) dan Drop Box Sampah merupakan hibah dari Paste Lab, perusahaan daur ulang yang telah berdiri sejak 2021 yang aktif mendorong ekonomi sirkular bagi masyarakat sekitar. Launching yang dimulai pukul 07.00 WIB itu diawali dengan sambutan dari perwakilan berbagai pihak. Nurul Asfiani sebagai Creative Associate Manager dari Paste Lab, menyampaikan alasan pihaknya memberikan hibah mesin pencacah dan drop box kepada GSS Muhammadiyah Ngaglik. “Program yang dijalankan GSS selaras dengan nilai dan visi kami di Paste Lab. Kami dengan hibah mesin pencacah ini, dapat meningkatkan nilai jual sampah, sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya. Paste Lab, yang selama ini aktif mendampingi komunitas pengelola sampah bagi masyarakat sekitar, melihat GSS Muhammadiyah Ngaglik sebagai salah satu mitra yang konsisten menjalankan gerakan peduli lingkungan dengan pendekatan berbasis jamaah. Dalam kesempatan yang sama, Abdul Kadir mengapresiasi GSS Muhammadiyah Ngaglik yang telah menginisiasi gerakan peduli lingkungan di wilayah Sleman, khususnya di wilayah Kapanewon Ngaglik. Ia menegaskan, persoalan sampah tidak bisa diserahkan hanya kepada pemerintah atau petugas kebersihan. Ia mengatakan, “Setiap individu berpotensi menghasilkan sekitar 0,75 kilogram sampah setiap hari. Maka, tanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan ada di pundak kita semua. Saya berharap Motor Sampah (Mosa) dapat mengoptimalkan GSS memperluas jangkauan pengelolaan sampah di masyarakat” . Abdul Kadir juga berharap gerakan semacam ini dapat menjadi inspirasi bagi cabang-cabang Muhammadiyah lain di Sleman, bahkan di Yogyakarta dan Nasional ujarnya. Sementara Ketua GSS Muhammadiyah Ngaglik, Hidayatul Mabrur, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas dukungan kedua pihak tersebut. Ia menjelaskan bahwa keberadaan mesin pencacah akan meningkatkan nilai ekonomi dari sampah yang dikumpulkan jamaah.“Jika sebelumnya sampah dijual begitu saja hanya sekitar dua ribu rupiah per kilogram, setelah dicacah bisa mencapai delapan ribu sampai sepuluh ribu. Artinya, hasil yang kembali (return) ke jamaah juga meningkat,” jelas Mabrur. Lebih dari sekadar urusan ekonomi, Mabrur menegaskan bahwa gerakan kecil ini berangkat dari semangat dakwah lingkungan, yang bercita-cita untuk membangun kesadaran kolektif di lingkungan masyarakat/jamaah, bahwa menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari amal solih yang bernilai ibadah. Sementara itu, Ketua PCM Ngaglik, Prof. Sukamto, dalam sambutannya mengapresiasi semua pihak yang telah berkontribusi. Ia menegaskan, “atas nama PCM Ngaglik dan seluruh warga Muhammadiyah, kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Kadir dan Paste Lab. Hibah ini menjadi langkah penting untuk memperkuat gerakan lingkungan yang sudah dimulai oleh GSS,” ujarnya. Acara kemudian ditandai dengan pemotongan pita oleh para perwakilan, disambut tepuk tangan hangat dari jamaah yang hadir. Motor Viar tiga roda yang telah dihias sederhana itu kemudian dikendarai mengelilingi halaman masjid, menandai dimulainya babak baru pengelolaan sampah berbasis jamaah di wilayah Ngaglik. Sejak awal dibentuk (tahun 2023), GSS Muhammadiyah Ngaglik terus berupaya menjadikan pengelolaan sampah sebagai sarana dakwah, pemberdayaan, dan pembentukan karakter lingkungan. Kini, dengan tambahan sarana berupa Mosa, Meca, dan Drop Box, gerakan ini harpaannya dapat menebar manfaat uang lebih luas—baik untuk kebersihan lingkungan, perubahan pola pikir, maupun peningkatan kesadaran ekologis warga Muhammadiyah juga masyarakat pada umumnya. Gerakan ini membuktikan, bahwa dari masjid pun bisa lahir inisiatif hijau yang memberi dampak besar. Dari sampah, tumbuh keberkahan; dari kepedulian, lahir peradaban yang berkemajuan. Kontak Media:Hidayatul Mabrur | 085703711762Ketua Gerakan Shadaqah Sampah (GSS) Muhammadiyah Ngaglik.

Loading

Pertemuan Antar Cabang Majelis Pembinaan Kader Aisyiyah Zona Utara Sleman Bahas Penguatan Sistem Perkaderan tingkat Cabang dan Ranting. 

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Majelis Pembinaan Kader (MPK) Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sleman menggelar pertemuan antar cabang (PAC) se-Zona Utara pada Ahad, 12 Oktober 2025, bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Turi, Ngablak, Bangunkerto, Turi.Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pukul 08.30–11.30 WIB ini mengundang seluruh anggota MPK PCA (Pimpinan Cabang Aisyiyah) dan PRA (Pimpinan Ranting Aisyiyah) dari wilayah Turi, Tempel, Pakem, dan Cangkringan.Ketua MPK PDA Sleman Waridil Khotimah, S.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya sinkronisasi dan koordinasi perkaderan lintas jenjang sesuai sistem perkaderan ‘Aisyiyah. “Pertemuan ini diharapkan memperkuat pemahaman dan komitmen kader terhadap visi-misi perjuangan Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan,” ujarnya.Dalam sistem perkaderan yang telah dirumuskan MPK ‘Aisyiyah, perkaderan tidak hanya berfungsi sebagai proses regenerasi kepemimpinan, tetapi juga sebagai upaya membentuk kader yang memiliki kompetensi, integritas, dan semangat juang untuk menggerakkan organisasi, umat, dan bangsa. Pendekatan yang digunakan mencakup perkaderan Utama seperti Baitul Arqam dan pelatihan instruktur, serta perkaderan Fubgsional melalui Kajian, pembinaan keluarga sakinah, dan dakwah jamaah.Sementara itu, berdasarkan kurikulum Baitul Arqam yang digunakan dalam pembinaan kader, materi yang disampaikan tidak hanya menekankan ideologi Muhammadiyah dan Aisyiyah, tetapi juga mencakup kepemimpinan transformatif, manajemen konflik, kewirausahaan, hingga kecakapan digital. Dengan demikian, kader yang terbentuk diharapkan mampu menjawab tantangan zaman secara kontekstual dan progresif. Di zona Sleman Timur yang meliputi Ngemplak, Kalasan, Prambanan, Berbah pada hari yang sama juga diselenggarakan acara serupa.Sekretaris MPK PDA Sleman, Widayatun, S.Ag., M.Psi., menambahkan bahwa pertemuan zona ini juga menjadi sarana silaturahmi dan berbagi praktik baik antar cabang dan ranting, agar kegiatan perkaderan di setiap wilayah berjalan seragam dan berkesinambungan. “Kami ingin memastikan semangat kaderisasi tetap hidup di semua tingkatan, dari daerah hingga ranting,” ujarnya.Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam meneguhkan komitmen kader perempuan ‘Aisyiyah di Sleman untuk terus berdakwah, berjuang, dan berkontribusi bagi masyarakat berkemajuan sesuai nilai-nilai Islam yang mencerahkan.Rep-Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Perjusa SD MUDA, Membangun Karakter Mulia Melalui Kebersamaan dan Kemandirian

Turi, Pdmsleman.Or.Id   SD Muhammadiyah Dadapan Turi guna membentuk karakter peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, dan tangguh, menggelar kegiatan Perkemahan Jumat–Sabtu (Perjusa) pada 10–11 Oktober 2025 di Bumi Perkemahan Pulewulung, Kecamatan Turi, Sleman. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh murid kelas 4 dan 5, didampingi para pembina Hizbul Wathan serta guru SD Muhammadiyah Dadapan. Suasana kemah tampak penuh semangat dan keceriaan sejak para peserta tiba di lokasi. Mereka berbaur dalam suasana kebersamaan, mendirikan tenda, dan menata peralatan kemah secara mandiri. “Tujuan utama kegiatan Perjusa adalah melatih kemandirian, kedisiplinan, dan kerja sama antar murid, sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter Islami yang menjadi ciri khas sekolah Muhammadiyah,” ujar Drs. Sugeng Riyoto, dari Majelis Dikdasmen PCM Turi, saat ditemui di sela kegiatan. Selama dua hari perkemahan, para peserta mengikuti beragam kegiatan edukatif dan rekreatif, seperti upacara api unggun, jelajah alam, lomba yel-yel, serta pentas seni. Setiap kegiatan dirancang untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dan semangat kebersamaan di antara para murid. “Kami ingin anak-anak belajar langsung dari pengalaman. Mereka tidak hanya diajarkan di kelas, tetapi juga melalui aktivitas yang menumbuhkan kepemimpinan dan rasa saling menghargai,” tambah Sugeng Riyoto. Salah satu guru pembina, Ramanda Syafiq, menuturkan bahwa kegiatan semacam ini menjadi sarana efektif untuk mengasah karakter siswa di luar ruang belajar. “Anak-anak sangat antusias. Mereka belajar bekerja sama, membantu teman, dan menyelesaikan tugas bersama. Ini pembelajaran berharga bagi pembentukan karakter mereka,” ujarnya. Kegiatan api unggun menjadi puncak acara, di mana para peserta menampilkan berbagai pentas seni dan yel-yel yang menggambarkan semangat kebersamaan. Sorak gembira dan tawa ceria mengiringi malam penuh keakraban tersebut. Kepala SD Muhammadiyah Dadapan Rahayu S S.Pd, dalam penutupannya, menyampaikan harapan agar kegiatan Perjusa menjadi tradisi tahunan sekolah. “Kami ingin terus menanamkan jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemandirian sejak dini. Melalui kebersamaan di perkemahan ini, anak-anak belajar arti penting kerja sama dan rasa syukur,” katanya. Kegiatan Perjusa SD Muhammadiyah Dadapan tahun ini tidak hanya menjadi ajang rekreasi pendidikan, tetapi juga wahana pembentukan karakter menjadi generasi berakhlak mulia dan siap menghadapi tantangan masa depan. Rep Editor  Arief HArtanto MPI PDM SLeman

Loading