Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman Rapat Koordinasi dan Capacity Building di Sragen

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Sabtu – Ahad, 25-26 April 2026 dalam rangka menyatukan visi, memperkuat kolaborasi, dan merumuskan langkah nyata dalam memajukan Pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan, Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kabupaten Sleman selenggarakan kegiatan Rapat Koordinasi, Kunjungan Studi Tiru, dan Capacity Building di Sragen dan Sarangan, Magetan. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Jajaran Pimpinan dan Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman dari berbagai Bidang. Melalui paparannya H. Surakhmad, S.Pd. Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman menegaskan kepada seluruh Pimpinan dan Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman ” untuk bersama-sama Mewujudkan Sekolah Muhammadiyah Daerah Sleman sebagai sekolah yang Berkarakter, Berdaya Saing, dan Berdampak bagi Umat dan Bangsa”. Pada kegiatan ini Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman didampingi oleh Jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman dan Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Sleman. Suharno, SP., MSi, (Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kabupaten Sragen) dalam sambutannya mengucapkan terima kasih menyampaikan rasa bangga atas dipilihnya PDM Sragen sebagai tempat untuk belajar bersama oleh rombongan Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman beserta PDM dan PDA Kabupaten Sleman. Dipaparkan juga oleh K.H. Ali Rosyidi, S.Pd.I., M.M Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sragen “melalui kegiatan kunjungan ini tentang bagaimana perjuangan dan upayanya melalui prinsip Gandeng dan Gendong untuk mengokohkan, menguatkan, melanjutkan perjuangan pendahulu di Persyarikatan Muhammadiyah yang mengelola 256 sekolah dari berbagai jenjang; TK ABA PAUD, SD/MI,SMP/MTs, SMA/K serta beberapa Pondok Pesantren Muhammadiyah sehingga muncul kemudian, SD Birul Walidain Muhammadiyah, SMP Al Qolam Muhammadiyah Gemolong, dan SMA Trensains sebagai sekolah unggulan di bawah binaan PDM Kabupaten Sragen”. Setelah selesai menyelesaikan lawatannya ke PDM Kabupaten Sragen, kemudian Majelis Dikdasmen dan PNF Kabupaten Sleman melanjutkan perjalanan ke Sarangan, Magetan untuk melakukan Rapat Koordinasi Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kabupaten Sleman guna Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja dan Penyusunan Program Kerja Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kabupaten Sleman Tahun 2026. Rep Fathan Majelis Dikdasmen

Loading

Strategic Talent Mapping for Transformatif School SMP Muhammadiyah se-Sleman

Pacitan, Pdmsleman.Or.Id Badan Kerjasama Sekolah atau BKS SMP Muhammadiyah se-Sleman mengadakan Empowering Leadership di Pacitan mulai Jum’at 24-25 April 2026 diikuti oleh kepala sekolah SMP Muhammadiyah se Sleman dan didampingi oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman. Dalam sambutan pembuka ketua BKS SMP Muhammadiyah se-Sleman, Hendro Sucipto, M.Pd menyampaikan tujuan adanya penguatan kepemimpinan yakni bagaimana sekolah bisa memetakan kekuatan sekolah, checking program menghadapi SPMB yang akan datang. Selanjutnya ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman, H. Harjaka, S.Pd, S.Ag, M.A., menyampaikan ucapan terima kasih dan sangat mengapresiasi karena BKS melaksanakan kegiatan penguatan terkait strategi mencari bakat-bakat baik kepada guru karyawan, murid dan steakholder terkait.“Juga kepada PDM Pacitan atas partisipasi dalam kegiatan ini, kita bersama-sama memajukan pendidikan Muhammadiyah.” Selanjutnya, Ediyanto, M.Pd, M.H.I, wakil ketua PDM Pacitan menyampaikan khutbah pembuka yang cukup dalam, diantaranya beliau menyampaikan : “Serasa surga bocor karena merasa satu frekuensi kita berada di sini, kita ini mantu nalar, menganyam pikiran.” Disampaikan pula mengutip kata-kata pusaka moral Ahmad Dahlan :“Allah tahu bahwa diriku kuat. Karenanya aku diberikan beban yang berat. Akan kulalui hari-hariku dengan tabah dan ikhlas karena itu pertanda bahwa suksesku sudah dekat.” “lebih baik kekurangan dari pada terlena dalam kemewahan.” tambah Ediyanto “Kita lihat sekolah kita ada yang sehat, setengah sehat, ada yang di ICU, semoga segera sehat,” “Mata boleh basah, badan boleh lelah, jalan boleh tertimbun sampah, luka boleh berdarah, jiwa tak boleh menyerah.” Dunia pendidikan hari ini sangat ngeri, nanti apabila tidak menguasai teknologi akan dikuasai orang lain dan asing. Untuk itu menurut Ediyanto yang juga pernah menjadi kepala sekolah menyampaikan paling tidak ada 4 pelajaran saja yang kita pelajari ; mengenal hitungan, jagongan atau petungan, ketrampilan dan mengenal agama. “Jika bisa menguasai 4 hal ini maka kita akan lebih sukses dan dibutuhkan manfaatnya oleh masyarakat.” Kita menghadapi persoalan pendidikan apabila tidak kita tunaikan akan menjadi hutang pendidikan kita kepada generasi saat ini dan mendatang jika tidak kita maksimalkan kemampuan murid-murid kita. “Hidup ini penuh masalah, tetapi masalah jangan dijadikan alasan utk berbahagia sedangkan kehadiran masalah baru akan mendatangkan kebahagiaan baru” pungkas Ediyanto dengan penuh semangat. Rep H Wahdan Arifudin S.PD

Loading

Perayaan Hari TBC Sedunia: Kolaborasi Lintas Sektor, Perkuat Aksi Eliminasi TB di DIY

Seminar Perayaan Hari TBC Sedunia 2026 dengan tema penguatan kolaborasi lintas sektor dan lintas program dalam eliminasi TBC diselenggarakan di RS PKU Muhammadiyah Gamping secara hybrid, menggabungkan pertemuan luring dan daring. Kegiatan ini diikuti sekitar 170 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia yang terdiri dari tenaga kesehatan di rumah sakit, puskesmas, klinik, akademisi, organisasi masyarakat, serta perwakilan instansi pemerintah seperti dinas kesehatan dan dinas sosial. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan melalui pembaruan kebijakan serta tata laksana TBC, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor dan lintas program dalam percepatan eliminasi TBC di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.PH, menyampaikan bahwa peringatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi. “Perayaan Hari TBC Sedunia ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi lintas sektor. Eliminasi TBC tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus melibatkan semua pihak secara terintegrasi,” ujarnya. Hal senada disampaikan Ketua MPKU PWM DIY, dr. Masykur Rahmat, MARS, yang menegaskan komitmen organisasi dalam mendukung program pemerintah. “MPKU berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan DIY dan seluruh jejaring layanan. Penguatan peran komunitas menjadi kunci agar upaya eliminasi TBC dapat menjangkau masyarakat lebih luas,” katanya. Dalam sesi materi, Kepala Bidang P2P Dinkes DIY, dr. Ari Kurniawati, MPH, mengapresiasi kontribusi Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam percepatan eliminasi TBC. “Keterlibatan Muhammadiyah dan Aisyiyah sebagai bagian dari tim percepatan eliminasi TBC sangat membantu dalam penemuan kasus dan edukasi masyarakat,” jelasnya. Pembaruan tata laksana TBC disampaikan oleh dr. Ardorisye Saptaty Fornia, Sp.P., M.Kes yang menekankan pentingnya pemahaman tenaga kesehatan terhadap perubahan regimen terapi. “Ada pembaruan dalam tata laksana TBC, termasuk perubahan dosis dan regimen terapi yang perlu dipahami tenaga kesehatan agar pengobatan lebih efektif,” ujarnya. Sementara itu, dr. Rina Triasih, M.Med (Paed)., Ph.D., Sp.A(K), menyoroti pentingnya pendekatan komprehensif dalam diagnosis TBC anak. “Diagnosis TBC anak tidak bisa hanya bergantung pada skoring. Pendekatan harus komprehensif agar penanganan lebih tepat,” katanya. Penguatan layanan di tingkat primer juga menjadi perhatian melalui paparan dr. Nadia Nur Azizah yang menekankan peran fasilitas kesehatan tingkat pertama. “Fasilitas kesehatan tingkat pertama memiliki peran penting dalam penemuan dan pengobatan kasus TBC sejak dini untuk memutus rantai penularan,” ungkapnya. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan DIY berkolaborasi dengan MPKU PWM DIY dan RS PKU Muhammadiyah Gamping sebagai bagian dari Perayaan Hari TBC Sedunia 2026. Pelaksanaan kegiatan ini didasarkan pada upaya percepatan eliminasi TBC melalui penguatan kolaborasi lintas sektor dan lintas program, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam implementasi kebijakan dan tata laksana TBC terbaru. Dengan semangat kolaborasi yang kuat, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong langkah nyata menuju eliminasi TBC di DIY dan Indonesia.

Loading

Seminar Kesehatan Reproduksi Remaja Berakhlak dan Sehat: Perspektif Islam dalam Kesehatan Reproduksi

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Majelis Kesehatan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sleman menggelar seminar kesehatan reproduksi bertajuk “Remaja Berakhlak dan Sehat: Perspektif Islam dalam Kesehatan Reproduksi” di Hall Baroroh, Gedung Siti Walidah Lantai 4 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti ratusan pelajar perwakilan SMU/SMK Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman. Seminar tersebut bertujuan memberikan pemahaman komprehensif mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi yang selaras dengan nilai-nilai akhlakul karimah. Penyelenggara menilai, remaja saat ini menghadapi tantangan serius, baik dari sisi kesehatan fisik maupun degradasi moral akibat arus informasi yang tidak terbendung. Dalam sesi pemaparan, Anjarwati, S.SiT., MPH menjelaskan dari perspektif medis bahwa pemahaman terhadap fungsi organ reproduksi menjadi dasar penting bagi remaja. “Edukasi kesehatan reproduksi tidak boleh dianggap tabu. Justru dengan pemahaman yang benar, remaja dapat menjaga diri dari risiko penyakit maupun perilaku yang merugikan,” ujarnya. Sementara itu, Royan Utsany, Lc., M.S.I menyoroti aspek keislaman dalam menjaga kehormatan diri. Ia menegaskan bahwa kesehatan fisik harus berjalan beriringan dengan kekuatan iman. “Remaja harus memiliki benteng akhlak. Menjaga kehormatan diri bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga perintah syariat yang melindungi manusia dari kerusakan,” katanya. Materi edukasi juga diperkuat oleh Bhakti Gusti Walinegoro, S.IP., MPP yang memperkenalkan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta sebagai institusi pendidikan yang mengintegrasikan ilmu kesehatan dengan nilai-nilai Islam. Ia mendorong peserta untuk melanjutkan pendidikan di lingkungan akademik yang mendukung pembentukan karakter. Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Dr. Ismarwati, S.ST., S.KM., M.PH dari Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah DIY, Dr. Yuli Isnaeni, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom dari unsur rektorat UNISA, serta jajaran pimpinan PDA Sleman dan Majelis Dikdasmen. Ketua PDA Sleman, Dra. Hj. Hanik Rosyada, M.Ag dalam sambutannya menegaskan pentingnya pembinaan generasi muda secara menyeluruh. “Melalui seminar ini, kita ingin mencetak remaja Muhammadiyah yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara fisik dan memiliki benteng iman yang kuat,” tuturnya. Ia menambahkan, peran keluarga, sekolah, dan organisasi seperti ‘Aisyiyah sangat strategis dalam membentuk karakter remaja di tengah tantangan globalisasi. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi, termasuk diskusi interaktif yang membahas isu-isu aktual seputar pergaulan remaja dan kesehatan reproduksi. Panitia berharap, ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan terselenggaranya seminar ini, PDA Sleman berharap para pelajar mampu menjadi agen perubahan yang mempromosikan gaya hidup sehat dan berakhlak di lingkungan sebaya. Edukasi berkelanjutan dinilai menjadi kunci dalam menciptakan generasi muda yang tangguh, berintegritas, dan berdaya saing di masa depan. Agustina Suprobowati  Sekretaris Majelis Kesehatan. PDA Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Istiqamah Pasca Ramadhan, Kunci Diterimanya Amal, Kajian PRM-PRA Girikerto di Masjid Aisyah Turi

Turi, Pdmsleman.Or.Id Semangat menuntut ilmu dan menjaga konsistensi ibadah pasca Ramadhan menjadi penekanan utama dalam Kajian Ahad Legi yang diselenggarakan PRM dan PRA Girikerto di Masjid Aisyah, Ponosaran, Girikerto, Turi, Ahad (19/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan Ustadz H. Wildan Wahid, SHI dari PDM Sleman yang menyampaikan pentingnya istiqamah dalam beramal sebagai tanda diterimanya ibadah selama bulan suci Ramadhan. Dalam tausiyahnya, Ustadz Wildan menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa berjalan menuju majelis ilmu, maka dimudahkan jalannya menuju surga” (HR Muslim). Selain itu, ia juga mengingatkan hadits lain, “Barangsiapa dikehendaki Allah menjadi orang baik, Allah akan memahamkannya terhadap ilmu.” Menurutnya, kemudahan melangkah menuju majelis ilmu merupakan salah satu tanda kebaikan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Lebih lanjut, Ustadz Wildan mengaitkan momentum pasca Ramadhan dengan kualitas ketakwaan seorang muslim. Ia menyampaikan pandangan ulama, Ibnu Rajab Al-Hambali, bahwa tanda diterimanya amal adalah dengan terus melanjutkan amal tersebut setelah Ramadhan. “Ketika Ramadhan, kita merasa ringan beribadah karena suasana yang mendukung. Namun setelah Ramadhan berlalu, di situlah ujian sesungguhnya, apakah kita tetap istiqamah atau justru menurun,” ujarnya. Ia mengajak jamaah untuk melakukan evaluasi diri dengan membandingkan kualitas ibadah sebelum Ramadhan (bulan Sya’ban) dan setelahnya (bulan Syawwal). “Jika ibadah kita di bulan Syawwal lebih baik dibanding Sya’ban, maka itu tanda adanya peningkatan ketakwaan,” imbuhnya. Dalam kajian tersebut, Ustadz Wildan juga menyoroti pentingnya amal yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW ketika ditanya tentang amal yang paling dicintai Allah, yakni amal yang dikerjakan terus-menerus walaupun kecil. “Tidak harus semua amalan kita lakukan sekaligus. Pilih yang mampu kita jaga kontinuitasnya,” jelasnya. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah shalat rawatib. Menurutnya, shalat merupakan amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat, sehingga perlu disempurnakan dengan shalat sunnah rawatib. “Shalat wajib sering kali belum sempurna karena kurang khusyuk atau gerakan yang belum sesuai sunnah. Maka shalat rawatib berfungsi menutup kekurangan tersebut,” terang Ustadz Wildan. Ia menjelaskan bahwa jumlah rakaat shalat rawatib muakkadah berkisar antara 10 hingga 12 rakaat, dan jika ditambah dengan yang ghairu muakkadah bisa mencapai 20 rakaat. Dari sekian banyak amalan sunnah, Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan shalat qabliyah Subuh (shalat fajar). “Keutamaannya luar biasa, lebih baik dari dunia dan seisinya,” tegasnya. Ustadz Wildan juga memberikan solusi bagi yang tertinggal shalat fajar, yakni dapat menggantinya setelah matahari terbit (syuruk), namun tidak dilakukan secara rutin. Hal ini menunjukkan fleksibilitas dalam syariat sekaligus pentingnya menjaga amalan tersebut. Kajian yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh jamaah dengan antusias, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas keimanan dan keilmuan masyarakat Girikerto. Kegiatan ini turut meriahkan dengan Kegiatan pendukung: Pemeriksaan kesehatan dan bazar UMKM jamaah. Reportase H. Dr. Ir. Agus Nugroho Setiawan PCM Turi editor   Arief Hartanto MPI PDM Sleman.

Loading

Kajian Sabtu Pagi Masjid Baiturrahim Turi, Menguatkan Ibadah Pasca Ramadhan di Tengah Fenomena Syawalan

Turi, Pdmsleman.Or.Id Masjid Baiturrahim Turi kembali menggelar Kajian Sabtu Pagi pada Sabtu (18/4/2026) dengan menghadirkan Ustadz Drs. H. Sigit Warsito, MA. Kajian yang diikuti jamaah dari berbagai kalangan ini mengangkat tema “Hikmah Ibadah Pasca Ramadhan”, menyoroti pentingnya menjaga konsistensi ibadah setelah bulan suci berakhir. Menurut Takmir Masjid, DR. H. Agus Nugroho S, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembinaan umat agar tidak mengalami penurunan kualitas ibadah setelah Ramadhan. “Kajian ini menjadi pengingat bagi kita semua agar semangat ibadah yang telah dibangun selama Ramadhan tidak hilang begitu saja, tetapi justru terus ditingkatkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Dalam pemaparannya, Ustadz Sigit Warsito menyoroti fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini, yakni maraknya kegiatan syawalan yang masih berlangsung meskipun sudah memasuki bulan Dzulqa’dah. Ia menegaskan bahwa tradisi syawalan tidaklah dilarang, namun perlu disikapi secara proporsional. “Syawalan itu hukumnya mubah, boleh dilakukan. Namun yang menjadi masalah adalah ketika sesuatu yang mubah justru mengalahkan amalan sunnah yang dianjurkan, seperti puasa Syawal,” jelasnya. Ia menambahkan, banyaknya agenda syawalan seringkali membuat umat Islam lalai dalam menjalankan ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar. Kondisi ini, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Dalam kajian tersebut, Ustadz Sigit juga mengangkat fenomena “futur” atau melemahnya semangat ibadah pasca Ramadhan. Ia mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yang menjelaskan bahwa setiap amal memiliki masa semangat dan masa penurunan. “Rasulullah mengingatkan bahwa siapa yang ketika semangat tetap berada dalam sunnah-Nya, maka ia termasuk orang yang beruntung. Sebaliknya, yang meninggalkan sunnah saat futur, maka ia termasuk orang yang merugi,” tuturnya. Lebih lanjut, ia menyampaikan pesan dari Umar bin Khattab terkait pentingnya menjaga keseimbangan ibadah. Ketika dalam kondisi semangat, umat dianjurkan memperbanyak amalan sunnah. Namun saat kondisi melemah, setidaknya tetap menjaga amalan wajib. Tak hanya itu, kajian juga mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah diri. Ustadz Sigit mengingatkan bahwa Allah telah menjanjikan berbagai keutamaan bagi orang yang bertakwa, di antaranya diberikan jalan keluar dari kesulitan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. “Jika kita merasa belum mendapatkan apa yang dijanjikan Allah, maka perlu kita introspeksi diri. Jangan-jangan ibadah puasa kita belum benar-benar mengantarkan kita menjadi pribadi yang bertakwa,” ungkapnya. Kajian yang berlangsung khidmat ini diharapkan mampu menjadi motivasi bagi jamaah untuk terus menjaga kualitas ibadah, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, semangat beribadah tetap terjaga dan memberikan dampak positif bagi kehidupan pribadi maupun sosial masyarakat.

Loading

Halal Bihalal BKS SMP/MTs Muhammadiyah DIY: Perkuat Sinergi dan Kepemimpinan Visioner

Kulon Progo — Badan Kerja Sama (BKS) SMP/MTs Muhammadiyah se-Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan Halal Bihalal pada Kamis, 16 April 2026 di Nanggulan, Kulon Progo. Kegiatan ini mengusung tema “Silaturahmi yang Menggembirakan, Bersinergi, dan Berkemajuan.” Ketua BKS SMP/MTs Muhammadiyah DIY, Hasanuddin, S.Pd.I., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan ucapan taqabbalallahu minna wa minkum di penghujung bulan Syawal. Ia juga mengapresiasi BKS SMP/MTs Muhammadiyah Kulon Progo atas kesiapan tempat dan penyelenggaraan acara ini. Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya pembaruan dan modernisasi pendidikan di sekolah Muhammadiyah sebagai bagian dari jati diri gerakan yang sejak awal menjadi pelopor pendidikan modern, bukan sekadar bernostalgia pada masa lalu. Sementara itu, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kulon Progo, Drs. H. Fauzan, menyampaikan doa bagi dua kepala sekolah dari Kulon Progo, yakni Sarwidi dan Supriyono, yang akan menunaikan ibadah haji 1447 H agar memperoleh predikat haji mabrur. Ia juga menekankan pentingnya sinergi dalam pengelolaan sekolah. “Kepala sekolah bisa menjadi ‘kepolo’ jika tidak membangun sinergi,” ujarnya mengingatkan. Dalam sambutannya, ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Achmad Muhammad, M.Ag. mengajak seluruh peserta untuk memaknai Syawal tidak hanya sebagai kembali ke fitrah, tetapi juga sebagai momentum menghadirkan kegembiraan tanpa melupakan nikmat Allah. Ia menegaskan bahwa kemajuan sekolah tidak bisa berdiri sendiri, melainkan lahir dari kolaborasi guru yang mengajar dengan hati, kepemimpinan kepala sekolah yang visioner, serta dukungan seluruh warga sekolah. Pengajian inti disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Ustadz H. Gita Danupranata, S.E., M.M. Ia menyoroti pentingnya kepemimpinan berbasis visi yang jelas sebagai peta jalan pengembangan sekolah. Menurutnya, kepala sekolah perlu adaptif dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang penuh perubahan cepat dan ketidakpastian. Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang demokratis dan egaliter, dengan mengedepankan apresiasi terhadap kompetensi guru dan tenaga kependidikan. Pendekatan kolektif-kolegial dinilai menjadi kunci dalam membangun budaya kerja yang sehat. Dalam menghadapi era digital, Gita mengingatkan agar transformasi tidak hanya pada alat, tetapi juga pada metode. “Kita harus beralih dari sekadar menggunakan digital menuju pembelajaran digital yang total,” ungkapnya. Selain itu, ia menegaskan pentingnya menjaga identitas keislaman dan kemuhammadiyahan serta mengembangkan pendidikan berbasis kearifan lokal. Menutup tausiyahnya, Gita menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dan jejaring sebagai fondasi pengembangan amal usaha Muhammadiyah dengan growth mindset. “Keunggulan tidak lahir dengan sendirinya. Sekolah maju karena sinergi, guru mengajar dengan hati, dan kepala sekolah memimpin dengan visi,” pungkasnya. Kontributor: Wahdan Arifudin, S.Pd, SMP Muhammadiyah 2 Godean

Loading

Silaturrahmi Idul Fitri 1447 H, “Aisyiyah Sleman Bergerak Untuk Mencerdaskan Generasi Unggul danPeduli Semesta

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Selasa, 14 April 2026 Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Sleman menggelar acara Syawalan di Pendopo Bupati Sleman dengan tajuk Silaturrahmi Idul Fitri 1447 H, “Aisyiyah bergerak untuk mencerdaskan generasi unggul dan peduli semesta”. Acara ini diikuti oleh jajaran PDA, PCA dan PRA se kabupaten Sleman. Acara diawali dengan doa pembuka, pembacaan ayat suci Al Quran, menyanyikan lagu Indonesua Raya dan Mars Aisyiyah. Dilanjut dengan sambutan-sambutan.  Sambutan yang pertama disampaikan oleh Ketua PDA Kabupaten Sleman, Dra. Hj. Hanik Rosyadah, M.Ag. “Tugas berat bagi Aisyiyah yang harus mencerdaskan generasi unggul namun juga sekaligus harus menjaga semesta dengan peduli kepada semesta, tegas beliau mengingatkan warga Aisyiyah. Selanjutnya sambutan dari Bunda Hj. Zulaiha, Pimpinan Wilayah Aisyiyah DIY,  beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada warga Aisyiyah yang telah melaksanakan agenda-agenda persyarikatan termasuk juga bantuan bencana ke Aceh yang Aisyiyah Kabupaten Sleman menjadi donatur terbanyak di DIY. Aisyiyah harus berdaya, bergerak dan berdampak.  Kemudian Danang Maharsa S.E., Wakil Bupati Sleman menyampaikan sambutan  menyampaikan pesan dari Bupati Sleman untuk Aisyiyah sebagai organisasi yang kontribusinya dapat dilihat nyata dalam kegiatan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi. Aisyiyah diharapkan menjadi mitra pemerintah dalam bergerak, bermanfaat, dan menjadi teladan dalam kehidupan masyarakat.  Setelah itu, dibacakan ikrar syawalan yang dipandu oleh Sunarti, S. Pd. dan pembacaan doa  yang dipimpin H. Harjaka, S.Pd., S.Ag., M.A., ketua PDM Kabupaten Sleman. Pada hikmah syawalan, Dra. Hj. Eny Harjanti memberikan tausiah bahwa ibu mengemban amanah besar dalam menyiapkan generasi yang unggul. Maka ibu diminta bersungguh-sungguh dalam mengemban amanah tersebut, sebagaimana lirik Mars Aisyiyah yang menekankan “ditanganmulah nasib bangsa”. Rep  Pamuji Subekti SSi PCA Tempel MPI PDM Sleman

Loading