Sleman, Pdmsleman.or.Id Penyelenggaraan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) oleh Lazismu Wilayah DI Yogyakarta ini berlangsung di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya, Jalan Kaliurang Km 12,5 Klidon, Kabupaten Sleman pada Jumat-Sabtu (05-06/01) yang diikuti oleh para pengurus Lazismu Wilayah, Daerah, dan Kantor Layanan (KL) se-DI Yogyakarta serta perwakilan majelis, lembaga, dan ortom tingkat wilayah. Rakerwil Lazismu DI Yogyakarta 2024 ini juga dihadiri oleh Ketua Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Ahmad Imam Mujadid Rais serta jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DI Yogyakarta yaitu Wakil Ketua Ariswan dan Sekretaris Arif Jamali Muis. Pada Rakerwil Lazismu ini ada beberapa macam kegiatan untuk penguatan Kerjasama LAZISMU dengan Lembaga maupun majelis di persyarikatan Muhammadiyah, seperti best practice Kolaborasi MLO dan penyampaian Road Map serta kebijakan LAZISMU Nasional 2024 – 2029. Yang tak kalah seru untuk setiap LAZISMU Daerah untuk melaporkan baik itu capaian kinerja, penghimpunan serta bentuk-bentuk usaha atau program yang sedang dilakukan maupun sudah. Kesemarakaan rakerwil ini ditutup dengan pengumuman LAZISMU Award dari beberapa kategori. LAZISMU Sleman dalam kesempatan ini diberi banyak keberkahan dengan mendapat beberapa penghargaan antara lain Kreatifitas Penghimpunan ZISKA terbaik dengan program “Langitkan Doa Untuk Palestina”, Kreatifitas Pendistribusian dan Pendayagunaan Program terbaik program support Muhammadiyah Agribisnis Center, Nominasi program ekonomi berbasis inovasi sosial terbaik dan yang paling utama LAZISMU Daerah terbaik DIY. Dalam Rakerwil ini untuk capaian LAZISMU Sleman untuk tahun 2024 di targetkan naik 25% menjadi 13 Milyar, mengalami peningkatan pada capaian tahun 2023 sebesar 10 Milyar. LAZISMU Sleman harus terus berbenah dengan inovasi dan kreatifitas program yang mengena langsung untuk yang terdampak, dengan 23 KLL se Daerah Sleman sangat memungkin bisa mencapai target, dan bisa sama-sama memaksimalkan pencapaian SDGs salah satu isu yang diangkat dari Rakernas LAZISMU Nasional. Reportase Syinta Brata Lazismu PDM Sleman Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
Sleman, Pdmsleman.Or.Id M. Wildan Wahied, SHI Islam sangat memandang penting masalah kepemimpinan. Pentingnya kepemimpinan itu ditunjukkan lewat peristiwa pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah di Saqifah Bani Saidah, sesaat setelah wafatnya Rasulullah. Saat jasad Nabi belum lagi dimakamkan, para sahabat lebih mendahulukan memilih khalifah pengganti Nabi daripada menyelenggarakan jenazah beliau yang agung dan mulia. Kepemimpinan merupakan hal mutlak yang harus ada, meskipun hanya di tengah sebuah kelompok kecil. Hal ini terlihat dari sabda Rasulullah SAW: إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمَّرُوْا أَحَدَهُمْ “Apabila tiga orang keluar dalam sebuah safar, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antaranya sebagai pemimpin.” (HR. Abu Dawud dari Abi Said al-Khudhri). Jika dalam kelompok kaum Muslimin yang sangat sedikit pun perlu ada orang yang ditunjuk sebagai pemimpin, terlebih dalam kelompok yang jauh lebih besar, seperti sebuah bangsa misalnya. Awas, Pemimpin Yang Menyesatkan Meski keberadaan pemimpin itu mutlak diperlukan, namun Nabi mewanti-wanti umatnya untuk tidak sembarangan mengangkat pemimpin. Salah satu yang dikhawatirkan Nabi atas umatnya adalah salah dalam mengangkat pemimpin. Hal ini terlihat dari hadits riwayat Tsauban RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ “Sesungguhnya, yang paling aku khawatirkan atas dirimu ialah para pemimpin yang menyesatkan”. [HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi]. Salah satu tugas pemimpin adalah membimbing orang yang dipimpinnya menuju kepada arah yang benar. Ia juga dituntut untuk mampu memberi solusi atas persoalan rakyatnya. Dengan demikian, seorang pemimpin harus memiliki kapabilitas yang memadai. Tanpa landasan itu, ia hanya akan menyesatkan rakyatnya. Hal ini ditegaskan Nabi dalam sabda beliau: إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya, Allah tidak mencabut ilmu secara sekaligus dari umat manusia, namun Allah mencabutnya dengan cara mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak lagi tersisa seorang pun ulama, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin. Ketika dimintai pendapat, para pemimpin itu berfatwa ilmu. Akhirnya mereka sesat lagi menyesatkan” [HR. Al Bukhari]. Keengganan orang-orang yang kapabel untuk menjadi pemimpin adalah salah satu sebab bertahtanya para pemimpin bodoh. Selain itu, kekeliruan memilih pemimpin menjadi sebab terbesarnya. Kesalahan itu dapat terjadi karena si pemilih tidak dibimbing oleh petunjuk syariat dalam mengangkat pemimpin, atau karena cara pandang yang salah terhadap kepemimpinan. Fungsi Kepemimpinan Islam mewajibkan adanya kepemimpinan karena pentingnya fungsi kepemimpinan itu. Diantara fungsinya adalah: Pertama, mencegah kezaliman. Imam Ibnu Katsir menjelaskan hal ini dengan merujuk QS. Al-Baqarah 251: وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Terhadap ayat ini Ibnu Katsir menjelaskan: لَوْلَا إِقَامَةُ الْمُلُوكِ حُكَّامًا عَلَى النَّاسِ لَأَكَلَ قَوِيُّ النَّاسِ ضَعِيفَهُمْ Seandainya tidak ada kekuasaan yang ditegakkan oleh para penguasa terhadap manusia, maka orang yang kuat akan menghabisi orang yang lemah (Ibnu Katsir, Qashas al-Anbiya, II/265). Pepatah latin mengatakan bahwa manusia adalah homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi lainnya). Dengan demikian kekuasaan berfungsi untuk membatasi tabiat manusia yang dengan kekuatannya dapat berbuat kezaliman kepada pihak yang lemah. Sehingga, dalam suatu riwayat dari Abu Bakrah disebutkan: اَلسُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ فَمَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَهُ اللَّهُ وَمَنْ أَهَانَهُ أَهَانَهُ اللَّهُ Penguasa adalah naungan Allah di muka bumi. Barangsiapa memuliakannya, Allah pun memuliakannya. Barangsiapa menghinakannya, Allah pun akan menghinakannya pula (Ibnu Atsir, Usud al-Ghabah, h. 929). Kedua, menegakkan hukum Allah. Utsman bin Affan t berkata: إِنَّ اللَّهَ لَيَزِعُ بِالسُّلْطَانِ مَا لَا يَزِعُ بِالْقُرْآنِ “Sesungguhnya Allah mencegah dengan kekuasaan (manusia) apa-apa yang tidak bisa dicegah dengan Al-Qur`an.” (Ibnu Katsir, Qishah al-Anbiya, 265). Lewat Al-Quran Allah mencegah manusia melakukan perbuatan buruk. Orang beriman tentu akan berusaha menjauhi larangan Allah tersebut. Namun banyak dijumpai betapa orang yang mengaku beriman dapat pula melanggar larangan Allah. Sebabnya antara lain karena pelanggaran tersebut tidak mengakibatkan hukuman secara langsung di dunia. Disinilah kekuasaan memiliki fungsi untuk menegakkan hukum Allah agar ditaati. Allah memberi kewenangan pada penguasa untuk membuat hukum ta’zir (hukum yang penerapannya diserahkan kepada punguasa). Ancaman sanksi yang ada dalam hukum ta’zir itu dapat memaksa orang lain agar taat kepada aturan hukum. Ketiga, menyejahterakan rakyat. Rasulullah SAW bersabda: مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ Siapa yang diserahi Allah mengatur kepentingan kaum muslimin, namun kemudian ia bersembunyi dari kebutuhan mereka, kemiskinan mereka, dan kefakiran mereka, maka Allah akan menolak kebutuhannya, kemiskinannya serta kefakirannya (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzy). Hadits ini menyiratkan bahwa diantara fungsi kepemimpinan adalah untuk menyejahterakan rakyat. Jika pemimpin itu tidak bersungguh-sungguh berupaya memenuhi kebutuhan rakyat, maka ia diancam tidak akan masuk surga. Nabi SAW bersabda: مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِي أَمْرَ الْمُسْلِمِينَ ثُمَّ لَا يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنْصَحُ إِلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمْ الْجَنَّةَ Tidaklah seorang pemimpin yang menangani urusan kaum muslimin, tetapi tidak berusaha semaksimal mungkin untuk mengurusi mereka dan memberikan arahan kepada mereka, kecuali dia tidak akan bisa masuk surga bersama kaum muslimin itu (HR. Muslim). Melihat fungsi-fungsi tersebut, maka kepemimpinan dalam Islam bukanlah urusan menikmati kekuasaan belaka, melainkan berfungsi untuk membimbing rakyatnya meraih kemaslahatan di dunia dan akhirat. Semua fungsi kepemimpinan itu kemudian dirangkum oleh Imam Al-Mawardi yang memberi definisi kepemimpinan. Beliau mengatakan: اَلْاِمَامَةُ مَوضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِى حِرَاسَةِ الدِّيْنِ وَسِيَاسِيَةِ الدُّنْيَا Kepemimpinan itu berfungsi untuk menggantikan tugas kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia. (Al-Mawardi, Al-Ahkam as-Sulthaniyah, h. 4). Tugas kenabian yang dilanjutkan itu tentu bukan untuk menerima wahyu, melainkan menjaga keberlangsungan dakwah Islam dan menegakkan hukum-hukum agama. Selain itu, juga untuk mengatur kemaslahatan kaum muslimin dalam urusan keduniaan. Sehingga, ketika seseorang memilih pemimpin hanya dengan pertimbangan material belaka, tentu ia berpotensi besar untuk terjerumus dalam kekeliruan. Karena itulah maka Islam telah memberi petunjuk kepada umatnya dalam masalah kepemimpinan ini. Islam mengatur siapa saja yang tidak boleh dipilih sebagai pemimpin, siapa yang layak untuk dipilih sebagai pemimpin, serta bagaimana kriterianya. Kriteria Pemimpin Dengan adanya fungsi yang kompleks dan tanggung jawab yang berat tersebut, maka tidak setiap orang dapat diangkat sebagai pemimpin. Karena itu para ulama merumuskan mengenai kriteria yang harus ada pada calon pemimpin. Imam Al-Mawardi, dalam kitabnya, …
Sleman, Pdmsleman.Or.id Badan Kerjasama Sekolah (BKS) SMP Muhammadiyah se-Sleman sukses menggelar wisuda akbar BTHQ (Baca Tulis dan Hafal Al Qur’an) angkatan ke-4 hari ini Sabtu, 6 Januari 2024. Bertempat di Gedung Pertunjukan/Performance Stage Universitas Negeri Yogyakarta sebanyak 1.347 siswa yang terdiri dari 1.160 Iqro’ dan 187 Tahfidz dari 25 (duapuluh lima) SMP Muhammadiyah se-Sleman. Penyelenggaraan tahun ini, BKS bekerjasama dengan Fakultas Bahasa, Seni dan Budaya (FBSB) Universitas Negeri Yogyakarta. Wisuda dilakukan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sleman. Acara ini di bagi menjadi 2 sesi yakni sesi pertama mulai jam 07.30 sampai jam 9.30 dan sesi 2 jam 10.30 sampai 12.30 WIB. Dalam sambutannya sebelum prosesi wisuda ketua Majelis Dikdasmen dan PNF, H. Surahmat, S.Pd menyampaikan bahwa wisuda akbar BTHQ (Baca Tulis dan Hafal Al Qur’an) ke-4 sebagai wujud kerja keras dari segenap warga sekolah agar menjadikan Al Qur’an sebagai teman dan mensyiarkan sekolah berkemajuan. “Program BTHQ adalah program utama Ismuba, kita selenggarakan secara bersama-sama dalam rangka untuk saling memotivasi sekolah dan siswa agar keinginan untuk menghafal Al Qur’an itu tinggi,” Bahkan, dipilihnya tempat-tempat mewah, salah satunya Gedung Pertunjukan FBSB UNY juga bagian dari motivasi biar siswa ada keinginan untuk belajar lebih lebih giat lagi. “Meskipun, hanya lulus iqro’, itu bagian dari prestasi dan tentunya akan diberikan apresiasi, termasuk disediakan tempat yang mewah,” tambahnya. Untuk semester depan, Majelis Dikdasmen Sleman mencanangkan semua sekolah harus mengusahakan semua siswanya bisa membaca Al Quran. Dengan demikian, diharapkan siswa akan memahami Islam dengan utuh dengan kesenangan membaca Al Qur’an dan kitab-kitab yang lain. Selanjutnya Bupati Sleman Dra. Hj. Kustini Sri Purnomo menyampaikan selamat dan apresiasi terhadap kegiatan wisuda akbar BTHQ angkatan ke-4 hari ini. “ Khusus bagi pendidik di sekolah Muhammadiyah Sleman, pemerintah Kabupaten Sleman mengucapkan terima kasih yang tak terhingga karena tanpa bantuan bapak ibu untuk mendidik generasi anak-anak kita yang nanti akan membangun Indonesia, pemerintah tidak bisa terjun sendiri, inilah bentuk kolaborasi antara semua pendidikan di Kabupaten Sleman”. Harapan ke depan anak-anak kita dan generasi Z dan Alpha yang akan membangun Indonesia. Dengan potensi apapun anak-anak kita dengan dilandasi iman, bisa membaca Al Qur’an, tahu artinya dan bisa diterapkan dalam kehidupan, insya Allah menjadi generasi penerus dan pemimpin yang memiliki akhlaqul karimah, memiliki suri tauladan dan karakter Qur’ani. Oleh karena itu tugas kita selaku pendidik serta kebijakan agar anak didik kita mencintai Al Qur’an. Setelah prosesi wisuda disampaikan ikrar wisuda dan diikuti seluruh peserta wisuda dengan penuh khidmad. Acara ini dihadiri juga oleh Kepala Dinas Pendidikan Sleman Drs H. Ery Widaryana, MM, Drs. H. Abdul Kasri dan H. Arif Sulistyo, S.E. Wakil Ketua PDM Sleman, Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta yakni Muh. Fatkul Mubin, M.Ag, M.Pd.I yang sekaligus memberikan testimony kepada wisudawan wisudawati BTHQ setelah acara prosesi wisuda serta tamu undangan dari pengawas Pendidikan Agama Islam Kemenag, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Depok serta dari Perwakilan sekolah SD Muhammadiyah se-Sleman dan SD Muhammadiyah terdekat. Acara wisuda akbar juga dimeriahkan penampilan dari perwakilan sekolah dan mendapat aplous meriah baik peserta dan tamu undangan. Harapan dari penyelenggara dan ketua BKS Hendro Sucipto, S.Ag, M.Pd ke depan lebih banyak lagi jumlah dan kualitas peserta wisuda sehingga semakin menguatkan sekolah Muhammadiyah sebagai basis penyiapan generasi Qur’ani dan menjadi sekolah dengan Al Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai ciri khas sebagaimana pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah berbasis agama dan modern atau berkemajuan. Reportase H. Wahdan A KS SMPM 1 Tempel MPI PDM Sleman Editor Arief Hartanto SE MPI PDM Sleman
Mlati, Pdmsleman.Or.Id Ahad, 17 Desember 2023 Pmpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Mlati menyelenggarakan pengukuhan bersama Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah se Mlati di masjid Assaadah Cebongan Mlati dan dalam acara ini juga diadakan pengukuhan Pimpinan Cabang Nasiyatul Aisyiyah Mlati Acara yang dimulai dari jam 09.00 ini dihadiri oleh kurang lebih 250 peserta dan di hadiri pula Arif Mahfudz S.AG sekretaris PDM Sleman dan Raden Rohmad Mustaja (Panewu anom Kapanewon Mlati). PDM Sleman merasa sangat bersyukur bahwa kader NA Mlati sudah mulai terbentuk kembali dan harapan kepada semua kader Muhammadiyah di dorong untuk ikut serta dalam kontestasi politik apapun partainya dan tentu saja jangan lupa untuk tetap mendukung Syauqi Soeratno selaku calon DPD RI. Dalam acara tersebut di lakukan pengukuhan PRM se Mlati oleh PCM Mlati yang dilakukan oleh Drs H. Hasan Zubaidi dan pengukuhan PRA se Mlati oleh PCA Mlati Hj. Puji Astuti dan dilakukan juga pengukuhan PCNA Mlati oleh PDNA Sleman sebagaimana disampaikan Huda Cholis Styawan PCM MLati kepada Arief Hartanto MPI PDM Sleman Dalam sambutannya Panewu Anom Mlati menyampaikan betapa peran Muhammadiyah penting bagi Kapanewon Mlati dan semoga apa yang kita mulai ini akan membawa banyak kemajuan dan berkah bagi masyarakat di kapanewon Mlati. “ Apresiasi kepada pengurus lama yang telah melaksanakan tugas dan bekerjasama dengan kapanewon Mlati dan kedepan juga kerjasamanya untuk pengurus baru dalam memberdayakan masyarakat di bidang keagamaan dan kemasyarakatan sesuai visi Muhammadiyah amar makruf nahi munkar dan tetap menjaga kondusifitas terutama di masa menjelang Pemilu, meski pilihan berbeda tetap harus mengedepankan persatuan”. Ketua PCM Mlati Drs H. Hasan Zubaidi dalam menutup acara pengukuhan ini mengajak segenap pengurus ranting untuk terus berjuang dan berkhidmat di Muhammadiyah. Reportase Huda Cholis Styawan PCM MLati Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman